Episode 2

Bab 2

Pesta Ulang Tahun

Sore harinya, Naomi masih membawa bayangan kantong doa itu sampai ke depan gerbang Emerald Ville.

Rumah Felicia dan Patrick di Bintaro tampak terang dari luar. Lampu taman sudah menyala, memantul di kaca besar ruang keluarga. Dari halaman belakang terdengar tawa beberapa orang, suara gelas beradu, dan musik jazz pelan yang jelas dipilih Felicia karena Patrick tidak mungkin serajin itu memikirkan suasana pesta.

Naomi turun dari mobil sambil merapikan ujung blusnya.

"Na!"

Felicia muncul dari pintu samping sebelum Naomi sempat menekan bel. Rambutnya digulung rapi, gaun satin warna champagne membuatnya terlihat seperti tuan rumah pesta hotel, bukan pesta ulang tahun suami sendiri di rumah.

"Akhirnya datang juga." Felicia langsung menarik tangan Naomi. "Gue udah hampir kirim sopir buat culik lo."

Naomi tertawa. "Aku bilang datang, kan?"

"Lo dokter. Jadwal lo bisa berubah dalam tiga detik."

"Hari ini aman."

"Aman buat kerja, belum tentu aman buat hidup percintaan."

Langkah Naomi berhenti setengah detik. "Fel."

Felicia memasang wajah paling polos. "Apa?"

Naomi menatap sahabatnya curiga. "Kong Kong ngomong apa ke lo?"

"Nggak banyak." Felicia menariknya masuk melewati koridor menuju halaman belakang. "Cuma bilang belakangan ini beliau sering ngobrol sama Kong Tai Wijaya."

Nama Wijaya membuat dada Naomi bergerak kecil.

Pagi tadi, nama itu masih berdiri di bawah pohon kamboja dengan kantong doa di tangan. Sekarang, nama yang sama muncul di rumah Felicia, di tengah aroma steak panggang dan kue ulang tahun.

"Kong Tai?" Naomi mencoba terdengar biasa. "Mereka memang kenal lama."

"Iya. Tapi kali ini konteksnya menarik." Felicia merendahkan suara, matanya berkilat. "Kong Kong lo lagi cari calon buat lo, kan?"

Naomi menarik napas pelan. "Kong Kong cuma bilang kalau aku harus mulai serius memikirkan pernikahan."

"Itu bahasa kakek-kakek untuk, cucuku akan dijodohkan."

"Felicia."

"Apa? Di keluarga kita hal begitu masih normal. Lagipula lo sudah dua puluh enam, dokter, cantik, tidak punya pacar, dan punya Kong Kong yang terlalu sayang untuk membiarkan sembarang laki-laki mendekat."

Naomi tidak bisa membantah bagian terakhir. Kong Kong lembut, tetapi jika menyangkut hidup Naomi, beliau bisa berubah menjadi tembok batu.

"Jadi menurut lo siapa?" tanya Naomi, akhirnya ikut terbawa.

Felicia tersenyum menang. "Kalau dari keluarga Wijaya, pilihan paling masuk akal ya Daniel."

Naomi langsung membayangkan wajah Daniel Wijaya. Beberapa kali bertemu di acara keluarga, dokter bedah itu selalu ramah, tidak terlalu banyak bicara, dan jelas lebih mudah didekati dibandingkan kakaknya.

"Daniel dokter juga," lanjut Felicia. "Umurnya juga nggak jauh dari lo. Cocok, kan? Dokter sama dokter."

"Cocok di atas kertas belum tentu cocok di hidup nyata."

"Wah." Felicia menyipitkan mata. "Jawaban orang yang pernah kepikiran menikah."

"Jawaban orang yang terlalu sering melihat pasien menangis karena keluarga ikut campur."

Felicia tertawa sambil menggandeng Naomi ke halaman belakang. "Tenang, malam ini gue nggak akan jual lo. Ini ulang tahun Patrick, bukan bursa jodoh."

Halaman belakang sudah dipenuhi tamu. Kebanyakan teman bisnis Patrick dan Felicia, beberapa wajah keluarga, beberapa lagi orang yang Naomi hanya kenal dari media sosial. Patrick berdiri dekat meja minuman, tertawa bersama dua pria. Saat melihat Naomi, dia mengangkat tangan.

"Dokter Naomi akhirnya datang!" serunya.

Beberapa kepala menoleh.

Naomi tersenyum sopan. "Selamat ulang tahun, Patrick."

"Terima kasih. Hadiahnya mana?"

"Titip di Felicia."

"Berarti aman. Kalau titip di gue, bisa hilang."

"Memang," Felicia menyahut cepat. "Makanya gue yang urus semua."

Patrick menaruh tangan di dada seolah tertusuk. "Di hari ulang tahun sendiri pun tetap dihina istri."

Tawa kecil menyebar. Naomi ikut tertawa, merasa suasana pelan-pelan menariknya keluar dari pikiran pagi tadi.

Sampai matanya menangkap Reynard.

Pria itu berdiri tidak jauh dari pintu kaca ruang makan, berbicara dengan Daniel. Jasnya sudah dilepas, kemeja putihnya digulung sampai siku. Ia tampak berbeda dari pagi tadi, tetapi tetap memiliki ketenangan yang sama. Di tengah orang-orang yang tertawa dan bergerak, Reynard seperti titik diam yang tidak perlu berusaha menarik perhatian.

Daniel yang lebih dulu melihat Naomi. Dia tersenyum ramah dan mengangguk.

Naomi membalas anggukan itu.

Reynard menoleh setelahnya.

Pandangan mereka bertemu.

Hanya sebentar. Terlalu singkat untuk disebut percakapan. Namun cukup lama untuk membuat Naomi tiba-tiba ingat lantai batu dingin di vihara dan kantong merah tua di tangan pria itu.

Reynard tidak menunjukkan tanda terkejut. Ia hanya mengangkat dagu sedikit, sopan, seperti orang yang menyapa kenalan keluarga.

Naomi melakukan hal yang sama.

Tidak dekat, katanya lagi dalam hati.

"Nah, itu Daniel." Felicia berbisik di telinganya. "Lumayan, kan?"

"Fel, jangan mulai."

"Gue cuma observasi."

"Observasi lo selalu berujung gosip."

"Namanya juga sahabat."

Mereka baru mengambil minuman ketika seorang pria dengan kemeja biru muda mendekat. Naomi mengenal wajah itu samar dari beberapa acara keluarga besar, tetapi butuh beberapa detik untuk mengingat namanya.

Ferry Gunawan.

"Naomi Liem, ya?" Ferry tersenyum terlalu lebar. "Lama nggak kelihatan. Makin cantik saja."

Naomi tersenyum singkat. "Halo."

"Sekarang kerja di rumah sakit mana?"

"RS Permata Harapan."

"Oh, dokter sungguhan." Ferry tertawa, seolah profesi Naomi barusan adalah lelucon kecil yang lucu. "Hebat. Tapi pasti sibuk banget. Kapan ada waktu buat pacaran?"

Felicia yang berdiri di samping Naomi langsung mengangkat alis. "Ferry, baru datang sudah wawancara?"

"Santai, Fel. Cuma ngobrol." Ferry mengangkat kedua tangan, tetapi matanya tetap pada Naomi. "Aku dengar kamu baru balik Jakarta. Kalau butuh teman jalan, bilang saja. Aku tahu tempat bagus."

"Terima kasih, tapi saya jarang punya waktu."

"Justru itu. Orang sibuk perlu refreshing."

Naomi mundur setengah langkah, berniat mengambil piring kecil di meja sebelah. Ferry malah ikut bergerak dan, dengan gerakan yang tampak seolah akrab, meletakkan tangannya di bahu Naomi.

Tubuh Naomi langsung menegang.

Sentuhan itu tidak kasar, tetapi terlalu tiba-tiba dan terlalu dekat. Aroma parfum Ferry yang tajam menabrak hidungnya. Naomi menahan napas, tangan kanannya mencengkeram gelas es teh sampai dinding gelas terasa licin oleh embun.

"Ferry," Felicia berkata dingin. "Tangannya."

Ferry tertawa. "Aduh, Fel, jangan galak. Naomi kan teman lama."

"Saya tidak ingat kita sedekat itu," kata Naomi.

Suaranya tenang, tetapi bahunya sudah kaku. Dia baru hendak menyingkir ketika sebuah tangan lain muncul, menahan pergelangan Ferry tanpa terlihat terburu-buru.

"Kalau tidak dekat, jangan menyentuh."

Suara Reynard rendah. Tidak keras. Justru karena itu, beberapa orang di sekitar mereka langsung diam.

Ferry menoleh, senyumnya berubah canggung. "Rey. Gue cuma bercanda."

Reynard tidak tersenyum. "Bercanda harus membuat dua orang merasa lucu."

Tangan Ferry perlahan terlepas dari bahu Naomi.

Naomi menarik napas yang tanpa sadar ia tahan. Bahunya masih menyimpan sisa tekanan telapak tangan Ferry, tetapi keberadaan Reynard di sampingnya seperti dinding yang tiba-tiba muncul. Bukan ramai. Bukan dramatis. Cukup ada, dan ruang di sekitarnya langsung berubah.

Felicia menatap Ferry dengan wajah yang jelas menahan marah. "Cari minum sana."

Ferry mengangkat tangan lagi, kali ini tanpa tawa. "Oke, oke. Sensitif banget."

"Ferry." Reynard memanggil namanya sebelum pria itu benar-benar pergi.

Ferry berhenti.

"Minta maaf."

Udara di halaman belakang terasa turun satu derajat.

Ferry menelan ludah. Mungkin karena di dekat mereka ada Patrick, Daniel, dan beberapa tamu lain yang sudah memperhatikan. Mungkin juga karena tidak ada orang waras yang ingin menantang Reynard Wijaya di hadapan publik.

"Maaf, Naomi," katanya akhirnya. "Gue nggak bermaksud bikin nggak nyaman."

Naomi menatapnya dua detik. "Saya terima. Tolong jangan ulangi."

Ferry mengangguk cepat, lalu pergi.

Felicia langsung menyentuh lengan Naomi. "Lo nggak apa-apa?"

"Nggak apa-apa." Naomi meletakkan gelasnya di meja, baru sadar telapak tangannya sedikit gemetar. "Cuma kaget."

Reynard berdiri di sisi lain, jaraknya sopan, matanya turun sebentar ke tangan Naomi sebelum kembali ke wajahnya.

"Kalau mau pulang, saya bisa panggilkan mobil," katanya.

Naomi terdiam. Nada suaranya tidak memaksa. Tidak seperti orang yang ingin terlihat sebagai pahlawan. Lebih seperti seseorang yang sudah menimbang kemungkinan paling praktis.

"Tidak perlu," jawab Naomi. "Saya datang untuk ulang tahun Patrick."

Mata Reynard bergerak sedikit. "Baik."

Hanya itu. Tidak ada pertanyaan berlebihan. Tidak ada nasihat. Tidak ada komentar tentang Ferry yang bisa membuat Naomi semakin malu.

Anehnya, sikap itu justru membuat tenggorokan Naomi terasa lebih lega.

Patrick datang beberapa saat kemudian, wajahnya campuran marah dan bersalah. "Naomi, sorry. Gue nggak tahu Ferry bakal kurang ajar begitu. Dia teman bisnis sepupu gue, bukan tamu inti."

"Sudah selesai," kata Naomi.

"Tetap saja. Kalau lo nggak nyaman, Fel bisa temani di dalam."

"Aku baik-baik saja."

Felicia menatap Naomi seperti ingin memastikan, lalu menghela napas. "Oke. Tapi lo duduk dekat gue nanti."

"Iya, Bu Felicia."

"Jangan bercanda. Gue masih emosi."

Suasana pesta perlahan kembali bergerak. Musik terdengar lagi, orang-orang mulai bicara, tetapi Naomi tahu sebagian tamu masih melirik ke arah mereka. Dia mencoba tidak peduli. Dalam keluarga besar dan lingkaran bisnis seperti ini, kejadian kecil bisa menjadi bahan percakapan panjang, tetapi sikap terbaik selalu sama: berdiri tegak, jangan terlihat goyah.

Naomi mengambil piring kecil berisi buah, lalu duduk sebentar di kursi dekat kolam. Felicia menemaninya, sesekali mengumpat pelan soal Ferry. Daniel datang membawa air mineral.

"Ci Naomi, minum dulu," katanya.

Panggilan itu membuat Naomi tersenyum lebih mudah. "Terima kasih, Daniel."

"Ferry memang sering kebanyakan gaya. Jangan dipikirkan."

"Aku tidak memikirkannya."

Felicia langsung menyahut, "Dia bohong. Tapi kita hargai usahanya."

Daniel tertawa kecil. Dari sudut mata, Naomi melihat Reynard kembali berbicara dengan Patrick. Wajahnya tetap tenang, tetapi Patrick mengangguk beberapa kali dengan ekspresi serius. Entah apa yang mereka bicarakan.

Tidak lama kemudian, makan malam dimulai.

Meja panjang di ruang makan sudah disusun dengan rapi. Patrick, sebagai tuan rumah yang terlalu senang mengatur orang, berdiri di ujung meja sambil menunjuk kursi satu per satu.

"Fel di sini. Naomi, lo sebelah sini."

Naomi baru hendak duduk ketika Patrick menahan kursi di sampingnya.

"Kebetulan," kata Patrick sambil tersenyum seolah tidak menyadari apa pun, "tempat di sebelah Rey masih kosong."

Naomi melihat kursi itu.

Lalu melihat Reynard yang sudah berdiri di sisi lain meja, satu tangan di sandaran kursi, menunggu dengan sabar.

Jantung Naomi berdetak sekali, sedikit lebih keras dari seharusnya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!