Episode 3

Bab 3

Bukan Urusanku

Naomi akhirnya duduk di kursi yang ditunjuk Patrick.

Reynard menarik kursi di sebelahnya dengan gerakan tenang. Tidak terlalu dekat, tidak juga terlalu jauh. Jarak di antara mereka cukup sopan untuk makan malam keluarga, tetapi setelah insiden Ferry, keberadaan pria itu membuat sisi kanan tubuh Naomi terasa terlalu sadar.

"Minum?" Reynard bertanya pelan.

Di depan Naomi sudah ada gelas kosong. Sebelum dia sempat menjawab, Reynard menuangkan air putih dari botol kaca ke gelasnya. Gerakannya biasa saja, seperti sesuatu yang memang pantas dilakukan orang di meja makan.

"Terima kasih," kata Naomi.

"Sama-sama."

Hanya dua kata. Setelah itu Reynard kembali diam.

Naomi seharusnya merasa lega. Dia tidak perlu berbasa-basi panjang. Tidak perlu menjelaskan kenapa tangannya sempat gemetar. Tidak perlu menerima tatapan kasihan yang membuat peristiwa kecil menjadi besar.

Tetapi justru karena Reynard tidak bertanya apa pun, Naomi menjadi lebih sulit mengabaikan kehadirannya.

Patrick meniup lilin dengan gaya berlebihan, Felicia memotong kue sambil mengomel karena suaminya hampir menjatuhkan pisau, Daniel bercerita pendek tentang pasien yang menelan tusuk gigi tanpa sengaja, dan tawa kembali memenuhi ruang makan.

Naomi ikut tertawa di saat yang tepat.

Sesekali, dia menangkap Reynard mendengarkan percakapan tanpa banyak ikut campur. Ketika Patrick meledek Daniel soal jodoh, Reynard hanya mengangkat gelas. Ketika Felicia sengaja menyebut nama Kong Kong dan Kong Tai dalam satu kalimat, Reynard tetap terlihat tenang, tetapi Naomi merasa ujung matanya sempat bergerak ke arah dirinya.

Naomi pura-pura tidak melihat.

Pesta berakhir mendekati pukul sepuluh. Beberapa tamu sudah pulang lebih dulu. Ferry tidak terlihat lagi sejak makan malam dimulai, dan Naomi tidak berniat mencari tahu ke mana pria itu pergi.

Di teras depan, Felicia memeluk Naomi erat. "Besok kabarin gue kalau sudah sampai rumah, ya."

"Fel, apartemenku cuma Kelapa Gading, bukan luar kota."

"Tetap kabarin. Gue masih kesel soal Ferry."

Patrick berdiri di samping istrinya dengan wajah bersalah. "Gue sudah minta orang cek. Dia pulang dari tadi. Tapi tetap, gue minta maaf lagi."

"Sudah, Pat. Aku baik-baik saja."

"Kamu pulang naik apa?" tanya Felicia.

"Aku pesan Grab saja."

"Jam segini?"

"Masih ramai."

Felicia baru membuka mulut untuk membantah ketika suara rendah terdengar dari belakang Naomi.

"Saya antar."

Naomi menoleh.

Reynard berdiri dua langkah di belakangnya. Kunci mobil ada di tangannya. Kemejanya masih rapi, tetapi lengan yang digulung membuatnya terlihat lebih santai daripada saat pertama kali Naomi melihatnya di pesta.

"Tidak perlu," kata Naomi cepat. "Saya bisa pesan mobil."

"Ferry tahu kamu belum pulang."

Kalimat itu membuat semua orang diam sesaat.

Felicia langsung menunjuk Reynard. "Nah, ini. Gue setuju sama Rey."

Naomi menatap sahabatnya. "Lo terlalu cepat setuju."

"Untuk urusan keselamatan lo, gue akan setuju sama siapa pun yang masuk akal."

Patrick ikut mengangguk. "Rey lebih aman. Minimal kalau Ferry tiba-tiba balik, dia mikir dua puluh kali."

Naomi ingin berkata bahwa Ferry tidak sebodoh itu. Namun dia juga tahu, mempertahankan argumen hanya akan membuat Felicia semakin sulit.

Dia melihat Reynard. "Merepotkan."

"Tidak."

"Rumahmu tidak searah."

"Malam ini jalanan tidak terlalu padat."

"Pak Reynard," Naomi mulai memakai nada formal, berharap jarak itu bisa menyelamatkannya, "saya benar-benar bisa pulang sendiri."

Reynard menatapnya sebentar. "Kalau kamu tetap ingin pesan mobil, saya tunggu sampai mobilnya datang dan kamu masuk."

Naomi terdiam.

Felicia langsung tersenyum menang. "Nah. Pilih, Na. Diantar Rey atau ditungguin Rey di depan rumah gue kayak satpam mahal."

"Felicia."

"Aku serius."

Patrick tertawa kecil, lalu pura-pura batuk saat Naomi meliriknya.

Akhirnya Naomi menyerah. "Baik. Terima kasih."

Reynard tidak terlihat puas atau menang. Dia hanya mengangguk sekali, lalu berjalan ke arah mobil hitam yang sudah menunggu di depan pagar.

Porsche Cayenne itu tampak mengilap di bawah lampu jalan. Naomi sempat berhenti setengah detik. Mobil itu sama dengan yang tadi pagi berhenti di halaman Vihara Padma Suci.

Kantong doa merah tua kembali muncul di kepalanya.

"Na," panggil Felicia pelan.

Naomi tersadar. "Iya. Aku pulang dulu."

Reynard membukakan pintu penumpang untuknya. Naomi mengucapkan terima kasih lalu masuk. Aroma interior mobil itu bersih, campuran kulit, kayu, dan wangi mint yang samar. Tidak ada musik. Hanya suara pintu tertutup pelan dan mesin yang menyala halus.

Beberapa menit pertama mereka diam.

Jakarta malam bergerak di luar jendela. Lampu ruko, motor yang menyelip, gerobak martabak di pinggir jalan, semuanya lewat seperti potongan gambar. Naomi menaruh tas di pangkuan, kedua tangannya saling menggenggam di atasnya.

"Alamat Apartemen Green Palace, Kelapa Gading?" tanya Reynard.

Naomi menoleh. "Kamu tahu?"

"Felicia pernah menyebut."

Jawaban itu masuk akal, tetapi Naomi tetap merasa ada sesuatu yang terlalu rapi. "Felicia menyebut banyak hal."

"Aku mengingat yang perlu."

Naomi tidak tahu harus menanggapi apa.

Mobil berhenti sebentar di lampu merah. Di kaca depan, warna merah lampu lalu lintas jatuh di sisi wajah Reynard, membuat garis rahangnya terlihat lebih tegas.

"Tadi," kata Naomi akhirnya, "terima kasih."

"Untuk Ferry?"

"Iya."

"Dia melewati batas."

"Aku bisa mengurusnya."

"Aku tahu."

Naomi menoleh lagi. "Kalau tahu, kenapa tetap ikut campur?"

Reynard memandang jalan saat lampu berubah hijau. "Karena kamu tidak seharusnya mengurus hal seperti itu sendirian kalau ada orang lain yang bisa membantu."

Kalimat itu terlalu sederhana. Tidak ada nada menggurui. Tidak ada kesan menganggap Naomi lemah. Namun justru karena itu, bantahan yang sudah disiapkan Naomi kehilangan tempat.

Dia menatap jari-jarinya di atas tas. "Kita kan nggak dekat."

Kata-kata itu keluar pelan, hampir seperti peringatan untuk dirinya sendiri.

Reynard diam.

Naomi menunggu jawaban. Mungkin iya. Mungkin benar. Mungkin permintaan maaf karena terlalu jauh masuk ke urusannya.

Namun yang terdengar hanya napas pendek, lalu dari sudut matanya Naomi melihat Reynard tersenyum tipis.

"Menurutmu begitu?"

Naomi berkedip. "Memang begitu, kan?"

"Kalau begitu, anggap saja aku kebetulan lewat."

"Dua kali dalam sehari?"

Kali ini Reynard benar-benar menoleh sekilas. "Dua kali?"

Naomi langsung menyesal.

Dia tidak berencana menyebut vihara. Tidak ada alasan untuk mengaku bahwa sejak pagi tadi dia memikirkan hal yang sama berulang-ulang. Namun kalimat itu sudah terlanjur keluar.

"Aku melihatmu di Vihara Padma Suci pagi tadi," katanya akhirnya.

Ekspresi Reynard tidak berubah, tetapi tangan kirinya di setir diam setengah detik sebelum kembali bergerak.

"Kamu juga ke sana?"

"Iya. Aku sering ke sana dengan Kong Kong dulu." Naomi berhenti sebentar. "Aku cuma agak kaget melihatmu."

"Kenapa?"

"Entahlah. Kamu tidak terlihat seperti orang yang pergi ke vihara pagi-pagi."

"Aku harus terlihat seperti apa?"

Naomi hampir tersenyum. "Seperti orang yang percaya pada jadwal rapat dan laporan keuangan."

Reynard mengeluarkan tawa kecil. Sangat singkat, hampir hilang di suara mesin, tetapi cukup membuat suasana mobil berubah.

"Itu penilaian yang cukup akurat."

"Jadi tadi pagi untuk apa?"

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka.

Naomi menyadari ia sudah melewati batas begitu melihat Reynard kembali diam. Dia segera menambahkan, "Maaf. Bukan urusanku."

"Tidak apa-apa."

"Tidak perlu dijawab."

"Suatu hari mungkin aku jawab."

Naomi menoleh, tetapi Reynard sudah kembali menatap jalan. Kalimat itu terdengar seperti janji yang tidak sengaja diberikan.

Untuk beberapa saat, mereka tidak bicara lagi.

Mobil memasuki area Kelapa Gading. Jalanan lebih ramai, tetapi tidak semacet siang hari. Naomi mulai merasa kantuk datang, mungkin karena terlalu pagi ke Bogor, terlalu lama berpesta, dan terlalu banyak menahan canggung. Dia menahan satu kali menguap, gagal pada yang kedua.

Reynard melihatnya dari ekor mata. "Tidur saja. Nanti aku bangunkan."

"Tidak usah. Sudah dekat."

"Masih dua puluh menit."

"Aku tidak enak."

"Tidur tidak merepotkan siapa pun."

Naomi ingin membantah, tetapi kelopak matanya terasa berat. Kursi mobil terlalu nyaman, suhu AC pas, dan suara mesin halus seperti dengung jauh. Dia hanya bermaksud memejamkan mata sebentar.

Dalam keadaan setengah sadar, dia merasakan mobil melambat di satu belokan. Ada suara klik pelan, mungkin Reynard mengecilkan AC. Lalu sesuatu yang hangat dan ringan jatuh di atas lengannya. Jas pria itu.

Naomi ingin membuka mata, tetapi tubuhnya sudah terlalu lelah.

Samar-samar, dia mendengar suara Reynard. Rendah, hampir seperti gumaman yang ditujukan bukan untuknya.

"Kalau kamu tahu sudah berapa lama..."

Kalimat itu terputus oleh suara motor yang lewat di samping mobil.

Naomi berusaha menangkap lanjutannya, tetapi kantuk menariknya lebih dalam. Yang tersisa hanya wangi mint samar, hangat jas di lengannya, dan perasaan aneh bahwa ada sesuatu yang seharusnya ia dengar malam itu, tetapi lewat begitu saja sebelum sempat sampai ke hatinya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!