Episode 4

Bab 4

Paparazzi

"Naomi."

Suara itu terdengar dekat, tetapi tidak memaksa.

Naomi membuka mata pelan. Beberapa detik pertama, dia tidak tahu dirinya berada di mana. Langit-langit mobil, lampu basement apartemen yang kuning pucat, wangi mint samar, dan jas hitam yang menutupi lengannya masuk ke kesadaran satu per satu.

Dia langsung duduk tegak.

"Maaf." Suaranya serak karena baru bangun. "Aku ketiduran."

Reynard sudah mematikan mesin. Mobil berhenti di area drop-off Apartemen Green Palace. Di luar kaca, satpam malam berdiri di pos kecil, sesekali menoleh ke arah kendaraan mewah yang jelas tidak biasa berhenti di sana.

"Tidak apa-apa," kata Reynard.

Naomi baru menyadari jas di tubuhnya. Dia melepasnya cepat, melipat seadanya, lalu menyerahkannya kembali. "Ini juga. Terima kasih."

Reynard menerima jas itu, tetapi matanya sebentar turun ke wajah Naomi. "Masih mengantuk?"

"Sedikit."

"Aku tunggu sampai kamu masuk lobi."

"Tidak perlu. Ini apartemenku sendiri."

"Aku tahu."

Jawaban itu membuat Naomi kembali tidak punya alasan untuk membantah. Dia mengambil ponsel dari pangkuan, membuka pintu, lalu keluar dari mobil. Udara malam Kelapa Gading terasa lebih panas daripada interior mobil. Rasa kantuknya langsung menipis.

"Terima kasih sudah mengantar," katanya sambil menunduk sedikit dari luar pintu.

Reynard mengangguk. "Istirahat."

Naomi menutup pintu, berjalan beberapa langkah menuju lobi, lalu berhenti.

Tangannya kosong.

Tasnya.

Dia menoleh cepat. Tas kulit kecil yang sejak tadi dia peluk di mobil ternyata masih ada di kursi penumpang. Naomi baru hendak kembali ketika pintu mobil sisi pengemudi terbuka lebih dulu.

Reynard turun dengan tas itu di tangan.

"Kamu lupa."

Wajah Naomi memanas. "Aku benar-benar masih setengah tidur."

"Tidak apa-apa."

Reynard berjalan mendekat dan menyerahkan tasnya. Gerakannya sederhana, tetapi karena ia turun dari mobil dan berdiri di bawah lampu apartemen, sosoknya menjadi terlalu jelas. Kemeja putih, jas di lengan, wajah tenang yang membuat satpam di pos kecil tanpa sadar memperbaiki posisi duduk.

Naomi menerima tas itu. "Terima kasih."

Di saat yang sama, dari arah tanaman hias dekat pagar samping, ada kilatan cahaya kecil.

Cepat. Hampir tidak terdengar.

Naomi menoleh.

Tidak ada apa-apa selain bayangan dua orang yang bergerak terlalu tergesa di balik pagar. Salah satunya memakai topi hitam dan membawa kamera dengan lensa panjang.

Dada Naomi langsung menegang.

Reynard juga melihatnya. Dalam satu detik, wajahnya berubah lebih dingin.

"Masuk," katanya pelan.

"Mereka..."

"Masuk dulu."

Naomi tahu nada itu bukan perintah kasar. Itu nada seseorang yang sudah menilai risiko. Dia segera melangkah ke lobi. Reynard tidak menyentuhnya, tetapi berjalan setengah langkah di belakang, cukup dekat untuk menutup pandangan dari arah pagar.

Satpam langsung berdiri. "Malam, Bu Naomi."

"Malam, Pak. Tadi ada orang di dekat pagar?"

Satpam tampak kaget. "Orang? Saya cek, Bu."

Reynard menoleh pada satpam itu. "Tolong cek rekaman CCTV area drop-off dan pagar samping. Kalau ada orang tanpa izin, laporkan ke pengelola."

Nada suaranya datar, tetapi satpam langsung mengangguk cepat. "Baik, Pak."

Naomi memegang tali tasnya lebih erat. "Mungkin paparazzi."

Reynard menatapnya. "Michelle tinggal di sini?"

Naomi terkejut. "Kamu tahu Michelle?"

"Aktris. Apartemen ini beberapa kali muncul di berita hiburan."

Masuk akal. Michelle memang tidak pernah bisa benar-benar menyembunyikan tempat tinggalnya, walau dia sudah berusaha. Beberapa penggemar fanatik pernah menunggu di bawah, dan manajernya sampai beberapa kali meminta pengelola memperketat akses.

"Mereka mungkin menunggu dia," kata Naomi.

"Foto tadi tetap bisa dipakai untuk apa pun."

Kalimat itu membuat perut Naomi terasa tidak nyaman. Dia bukan selebritas. Reynard pun bukan artis, tetapi namanya jauh lebih mahal untuk dijadikan bahan gosip. Satu foto pria konglomerat mengantar perempuan malam-malam di apartemen aktris bisa berubah menjadi cerita yang sama sekali lain.

"Aku akan minta Aldo urus," kata Reynard.

"Tidak perlu merepotkan. Mungkin fotonya buram."

Reynard menatapnya seolah Naomi baru saja mengatakan hujan tidak membuat basah.

Naomi menghela napas. "Baik. Kalau memang muncul, nanti kita lihat."

Ponsel Naomi bergetar sebelum Reynard sempat menjawab.

Nama Michelle muncul di layar.

Naomi langsung mengangkat. "Chel?"

Yang terdengar bukan suara Michelle, melainkan isak napas yang kacau.

"Na..." Michelle memanggilnya dengan suara serak. "Lo udah pulang belum?"

Naomi menegakkan tubuh. "Aku di lobi. Lo kenapa?"

Tidak ada jawaban jelas. Hanya suara benda jatuh, lalu tawa pendek yang pecah menjadi tangis.

"Chel, lo di unit?"

"Iya."

"Aku naik sekarang."

Naomi menutup telepon dan langsung berjalan ke lift.

Reynard mengikuti sampai depan lift. "Ada masalah?"

"Michelle. Sepertinya dia mabuk."

"Perlu bantuan?"

Naomi menekan tombol lift. "Tidak. Ini urusan perempuan."

Kalimat itu keluar lebih tegas daripada yang dia maksudkan. Mungkin karena rasa cemas pada Michelle membuatnya ingin memegang sesuatu yang bisa ia kendalikan.

Reynard tidak tersinggung. Dia hanya mengangguk. "Kalau butuh apa pun, telepon."

Naomi hampir berkata bahwa mereka tidak sedekat itu. Namun kalimat tadi malam di mobil kembali berkelebat. Juga cara Reynard berdiri menutup pandangan dari kamera.

Akhirnya dia hanya berkata, "Iya."

Pintu lift terbuka. Naomi masuk. Ketika pintu menutup, ia masih melihat Reynard berdiri di lobi, satu tangan memegang jas, wajahnya dingin ke arah pintu kaca apartemen.

Unit Michelle berada dua lantai di atas unit Naomi. Begitu pintu terbuka, bau wine langsung menyambutnya.

"Chel?"

Ruang tamu berantakan. Sepatu hak tinggi tergeletak di dekat sofa, tas desainer terbuka dengan isi tumpah, beberapa lembar naskah berserakan di lantai. Michelle duduk di karpet, punggung bersandar pada sofa, rambut panjangnya acak-acakan. Maskar luntur di bawah mata, gaun pestanya kusut.

Di meja rendah, ada botol wine yang hampir kosong.

Naomi langsung berlutut di depannya. "Chel, lo minum berapa banyak?"

Michelle tertawa kecil. "Nggak banyak. Cuma cukup buat nggak ngerasa bego."

"Lo bukan bego."

"Bego, Na." Michelle menepuk dadanya sendiri, lalu meringis seperti gerakan itu menyakitkan. "Gue pacaran sama orang yang dari awal nggak pernah niat milih gue."

Naomi mengambil gelas dari meja dan menjauhkannya. "Steven?"

Nama itu membuat wajah Michelle berubah.

Tadi sore di grup WA, Michelle masih mengirim stiker lucu dan bilang dia tidak bisa datang ke ulang tahun Patrick karena ada meeting dengan tim produksi. Naomi tidak menyangka malamnya akan menemukan sahabatnya seperti ini.

Michelle menutup wajah dengan kedua tangan. "Keluarga Surya mau kerja sama sama keluarga Gunawan. Mereka mau tunanganin Steven sama anak perempuan keluarga itu. Semuanya sudah diatur."

Naomi merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggung. "Steven bilang sendiri?"

Michelle mengangguk. Air mata merembes di sela jarinya. "Dia datang ke sini tadi. Katanya dia nggak bisa melawan keluarga. Katanya hubungan kami dari awal memang nggak bisa dibawa ke mana-mana."

"Kurang ajar."

"Tunggu, bagian terbaiknya belum." Michelle menurunkan tangannya. Bibirnya tersenyum, tetapi matanya hancur. "Dia bilang gue nggak perlu pergi jauh. Dia masih bisa jagain gue. Apartemen, mobil, proyek film, semua bisa dia bantu."

Naomi menahan napas.

Michelle menatapnya. Suaranya turun menjadi bisikan yang pecah.

"Dia bilang aku bisa jadi simpanannya."

Jari-jari Naomi mengepal di sisi tubuhnya.

Untuk pertama kalinya malam itu, rasa canggung karena foto paparazzi dan Reynard hilang seluruhnya. Yang tersisa hanya wajah Michelle yang basah oleh air mata, dan kemarahan yang naik begitu cepat sampai kuku Naomi menekan telapak tangannya sendiri.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!