Tuan Wijaya, Selamat Menikah

Tuan Wijaya, Selamat Menikah

Episode 1

Bab 1

Vihara di Pagi Hari

Udara Bogor pagi itu dingin sampai ujung jari Naomi Liem terasa kaku.

Dia berdiri di halaman Vihara Padma Suci dengan kedua tangan memegang beberapa batang dupa. Asap tipis naik di depannya, berputar pelan sebelum larut ke udara yang masih basah oleh embun. Dari aula utama terdengar suara lonceng kecil, satu ketukan bening yang membuat dadanya ikut tenang.

Naomi memejamkan mata sebentar.

Sudah hampir tiga bulan dia tidak datang ke sini. Urusan pindah dari Surabaya ke Jakarta, berkas administrasi RS Permata Harapan, dan persiapan hari pertama resminya besok membuat kepalanya penuh. Di Surabaya dulu, dia juga sering menunda istirahat, tetapi jarak antara rumah sakit dan rumah kontrakannya tidak pernah terasa seberat Jakarta.

Pagi ini dia sengaja berangkat sebelum matahari tinggi. Kong Kong masih di Bandung, jadi tidak ada yang menahannya sarapan lebih dulu atau menyuruhnya membawa sup hangat.

"Naomi?"

Suara lembut itu membuat Naomi membuka mata.

Bhante Dharmaputra berdiri beberapa langkah dari tangga aula. Jubah cokelat tuanya bergerak sedikit tertiup angin. Wajah beliau tetap sama seperti dalam ingatan Naomi, teduh, seolah tidak pernah terburu-buru oleh apa pun.

Naomi menunduk hormat. "Selamat pagi, Bhante."

"Pagi sekali datangnya."

"Takut macet kalau agak siang." Naomi tersenyum kecil. "Besok sudah mulai resmi di rumah sakit, jadi hari ini saya mau tenang sebentar."

"Dokter muda biasanya memakai libur untuk tidur."

"Biasanya begitu." Naomi melihat dupa di tangannya, lalu menancapkannya pelan di tempat dupa. "Tapi hari ini rasanya ingin ke sini."

Bhante Dharmaputra tidak bertanya lebih jauh. Beliau hanya mengangguk, seakan jawaban sesederhana itu sudah cukup.

Naomi masuk ke aula utama. Lantai batu di bawah telapak kakinya terasa dingin. Dia berlutut di bantalan tipis, menyatukan kedua telapak tangan, lalu membiarkan kepalanya menunduk. Tidak ada permintaan yang terlalu jelas pagi itu. Dia hanya ingin ibunya tenang di alam sana, Kong Kong sehat, dan pekerjaannya di Jakarta berjalan baik.

Untuk dirinya sendiri, Naomi tidak tahu harus meminta apa.

Dia hidup cukup baik. Pekerjaan ada. Apartemen ada. Sahabat-sahabatnya ramai dan menyebalkan dengan cara yang menghangatkan. Kong Kong masih sehat walau sering membuatnya cemas karena keras kepala.

Kalau ada yang kurang, Naomi tidak ingin menamainya.

Selesai berdoa, dia duduk di salah satu meja panjang di samping aula untuk menyalin paritta. Kertas putih di depannya kosong, kuas kecil sudah disiapkan oleh penjaga vihara. Aroma dupa melekat pada rambut dan lengan bajunya. Di luar, beberapa pengunjung lanjut usia berjalan pelan, sebagian membawa kantong kecil berisi kertas doa.

Naomi baru menulis beberapa baris ketika suara mobil berhenti di halaman terdengar samar.

Tidak ada yang aneh. Vihara ini cukup terkenal di kalangan keluarga Tionghoa-Indonesia Jakarta. Banyak orang datang dari kota hanya untuk berdoa, bertemu Bhante, atau sekadar mencari suasana tenang.

Namun beberapa detik kemudian, Naomi mengangkat kepala.

Di sisi halaman, di dekat pohon kamboja tua, seorang pria turun dari mobil hitam.

Jarak mereka cukup jauh, tetapi Naomi mengenali postur tubuh itu sebelum wajahnya terlihat jelas. Kemeja putih, celana gelap, langkah tenang yang tidak pernah terlihat ragu. Sopirnya berdiri di dekat mobil, sementara pria itu mengambil sesuatu dari kursi belakang.

Sebuah kantong kain kecil berwarna merah tua.

Naomi menahan gerakan kuasnya.

Reynard Wijaya.

Nama itu muncul di kepalanya dengan terlalu jelas.

Dia bukan orang asing. Bukan juga orang dekat.

Keluarga Wijaya dan keluarga Liem sudah saling mengenal sejak lama. Kong Tai Wijaya beberapa kali datang ke rumah Kong Kong. Saat Naomi kecil, dia pernah melihat Reynard berdiri di ruang tamu, tinggi, rapi, terlalu pendiam untuk anak laki-laki seusianya. Waktu itu Naomi hanya tahu dia cucu Kong Tai yang sekolahnya bagus dan wajahnya selalu serius.

Beberapa tahun setelah itu, mereka bertemu lagi saat liburan kuliah di rumah Kong Kong.

Naomi masih ingat sore itu. Hujan baru berhenti. Taman belakang rumah Kong Kong basah, bau tanah naik dari pot-pot anggrek. Naomi duduk di bangku kayu sambil membaca buku tentang kisah kelahiran kembali dalam tradisi Buddhis. Dia baru masuk tahun kedua kuliah kedokteran dan sedang dalam fase merasa semua hal bisa dijelaskan, kecuali kehilangan ibunya.

Reynard datang membawa payung lipat yang sudah tertutup.

"Kong Kong menyuruhku memanggilmu. Makan malam sudah siap," katanya.

Naomi menutup bukunya. "Kamu percaya reinkarnasi?"

Pertanyaan itu keluar begitu saja, mungkin karena wajah Reynard terlalu tenang sampai Naomi merasa boleh bertanya hal aneh.

Reynard menatapnya sebentar. "Kenapa tanya aku?"

"Kamu kelihatan seperti orang yang nggak percaya hal begitu."

"Menurutmu aku percaya apa?"

Naomi berpikir beberapa detik. "Angka. Kontrak. Sesuatu yang bisa dihitung."

Untuk pertama kalinya sore itu, sudut bibir Reynard bergerak tipis. Bukan senyum penuh, hanya retakan kecil di wajah yang biasanya datar.

"Kalau kamu?"

Naomi memandang taman basah di depan mereka. "Aku ingin percaya. Kalau benar ada kehidupan berikutnya, mungkin Mama bisa bahagia di kehidupan lain."

Reynard tidak menjawab cepat. Lama sekali dia diam sampai Naomi mengira percakapan itu selesai.

Lalu dia berkata, "Kalau itu membuatmu lebih tenang, percaya saja."

Kalimat itu sederhana. Tidak menghibur secara berlebihan. Tidak juga meremehkan. Tapi entah kenapa, Naomi mengingatnya sampai sekarang.

Kuas di tangan Naomi berhenti di atas kertas.

Di halaman vihara, Reynard berjalan ke arah bangunan samping, bukan ke aula utama. Dia tidak melihat ke arah Naomi. Atau mungkin melihat, tetapi terlalu jauh untuk dipastikan. Bhante Dharmaputra muncul dari koridor, menyambutnya seperti menyambut orang yang sudah biasa datang.

Itu yang membuat Naomi semakin heran.

Reynard Wijaya, setahu Naomi, bukan orang yang religius. Dalam pembicaraan keluarga, dia lebih sering disebut bersama kata rapat, ekspansi, saham, dan Wijaya Group. Bahkan Kong Kong pernah berkata sambil tertawa bahwa cucu sulung Kong Tai itu otaknya seperti laporan keuangan, rapi dan sulit dibaca.

Lalu untuk apa dia datang ke Vihara Padma Suci sepagi ini?

Naomi menurunkan pandangannya lagi ke kertas. Tulisan terakhirnya menjadi terlalu tebal karena kuas berhenti terlalu lama di satu titik. Tinta hitam melebar seperti noda kecil.

Dia mengambil napas, berusaha kembali fokus.

Tidak ada urusannya.

Reynard boleh datang ke vihara mana pun. Orang yang terlihat tidak percaya apa-apa tetap boleh punya hal yang disimpan sendiri. Lagipula, mereka tidak dekat. Mereka hanya dua nama yang kadang berada dalam lingkaran keluarga yang sama.

Naomi mengulang kalimat itu dalam hati sambil menyalin baris berikutnya.

Mereka tidak dekat.

Tetapi telinganya tetap menangkap langkah di koridor samping. Matanya, tanpa izin darinya sendiri, beberapa kali bergerak ke arah halaman. Dari sela pilar, dia melihat Reynard berdiri di depan Bhante Dharmaputra. Pria itu menunduk sopan, lalu menyerahkan kantong kain merah tua tadi dengan kedua tangan.

Bhante menerimanya tanpa banyak bicara.

Naomi tidak bisa mendengar isi percakapan mereka. Angin membawa suara lonceng, gesekan daun, dan gumaman pengunjung lain. Reynard hanya berdiri sebentar. Wajahnya tetap tenang, tetapi ada sesuatu pada bahunya yang membuat Naomi merasa pria itu sedang membawa urusan yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Perasaan ingin tahu itu menggelitiknya.

Naomi segera menunduk lagi, malu pada dirinya sendiri. Dia bukan tipe orang yang mencampuri rahasia orang lain. Sebagai dokter, dia sudah terbiasa memegang batas. Ada hal yang boleh ditanya, ada yang harus dibiarkan tertutup sampai pemiliknya sendiri membuka.

Namun pagi itu, batas itu terasa tipis.

"Tulisanmu jadi miring," suara Bhante Dharmaputra terdengar dari samping.

Naomi tersentak kecil. Entah sejak kapan beliau sudah berdiri di dekat meja. Di halaman, Reynard tidak lagi terlihat. Mobil hitamnya juga sudah tidak ada.

Naomi melihat kertasnya. Benar saja, satu baris terakhir turun seperti pasien yang kehilangan tekanan darah.

Wajahnya memanas. "Maaf, Bhante. Saya kurang fokus."

Bhante tersenyum. "Pikiran manusia memang suka berjalan lebih cepat daripada tangan."

Naomi ikut tersenyum, walau dadanya masih menyimpan rasa aneh. "Tadi... Pak Reynard sering datang ke sini?"

Pertanyaan itu keluar sebelum sempat dia tahan.

Bhante Dharmaputra memandangnya sejenak. Tidak menegur, tidak juga langsung menjawab. Senyum beliau tetap lembut, tetapi matanya menyimpan sesuatu yang tidak bisa Naomi baca.

"Beberapa orang datang ke vihara untuk meminta sesuatu," kata beliau pelan. "Beberapa lagi datang karena ingin menjaga sesuatu."

Naomi terdiam.

Jawaban itu tidak menjelaskan apa pun. Justru membuat kepalanya semakin penuh.

"Menjaga apa, Bhante?"

"Kalau suatu hari kamu memang perlu tahu, kamu akan tahu."

Naomi menggenggam kuas lebih erat. Ujung jarinya terkena sedikit tinta.

Bhante Dharmaputra lalu berjalan pergi, meninggalkannya bersama kertas yang belum selesai dan rasa penasaran yang tiba-tiba duduk terlalu dekat di dalam dada.

Naomi memaksa dirinya menulis sampai halaman itu penuh. Setelah itu dia merapikan kuas, mencuci tangan, dan berpamitan. Di gerbang vihara, udara sudah lebih hangat. Matahari menyentuh atap merah bangunan utama, membuat asap dupa tampak seperti benang tipis yang tidak putus-putus.

Di dalam mobil menuju Jakarta, Naomi membuka ponsel. Ada pesan dari Felicia.

Felicia: Na, nanti sore jangan lupa datang ya. Ultah Patrick. Kalau lo batal, gue jemput paksa.

Naomi mengetik balasan singkat.

Naomi: Datang. Tenang aja.

Dia hampir menekan tombol kirim ketika matanya kembali menangkap bayangan kantong kain merah tua dalam ingatan.

Reynard Wijaya di vihara. Bhante yang tidak menjawab. Kalimat tentang menjaga sesuatu.

Naomi menggeleng pelan, lalu mengirim pesan pada Felicia.

Tidak ada urusannya, katanya lagi pada diri sendiri.

Tapi sepanjang perjalanan pulang, setiap kali mobil berhenti di lampu merah atau tersendat di tol Jagorawi, pikirannya selalu kembali pada satu pemandangan yang sama: Reynard berdiri di bawah pohon kamboja, menyerahkan kantong doa seolah benda kecil itu jauh lebih penting daripada seluruh dunia yang biasa ia kendalikan.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
131 Episode 131
132 Episode 132
133 Episode 133
134 Episode 134
135 Episode 135
136 Episode 136
137 Episode 137
138 Episode 138
139 Episode 139
140 Episode 140
Episodes

Updated 140 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130
131
Episode 131
132
Episode 132
133
Episode 133
134
Episode 134
135
Episode 135
136
Episode 136
137
Episode 137
138
Episode 138
139
Episode 139
140
Episode 140

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!