Episode 2

Bab 2 - Teman Sekamar

"Oh," gumamnya. "Anak baru ternyata sekelas."

Naomi berdiri di depan kelas dengan map biru masih dipeluk di dada. Seluruh Kelas 12A mendadak seperti menahan napas bersama. Bahkan suara pendingin ruangan terdengar lebih jelas daripada bisik-bisik yang sempat muncul beberapa detik lalu.

Prof. Fang mengetuk meja satu kali.

"Darren Lim."

Laki-laki di kursi dekat jendela itu mengangkat alis, seolah baru ingat bahwa di kelas ada guru. "Iya, Prof?"

"Itu kursi kosong."

Darren melirik kursi yang ia duduki, lalu melirik Naomi. "Kosong tadi."

Beberapa murid menahan tawa. Naomi menundukkan wajah sedikit, berharap lantai kelas terbuka dan menelannya sebentar saja.

Prof. Fang tidak ikut tertawa. "Bangun."

Darren akhirnya berdiri. Gerakannya malas, tapi anehnya tidak terlihat terburu-buru atau canggung. Ia mengambil tas hitam dari bawah meja, lalu berjalan ke kursi belakang yang masih kosong. Saat melewati Naomi, aroma mint itu kembali menyentuh udara.

"Silakan, anak baru," katanya pelan.

Naomi menatapnya sekilas. "Namaku Naomi."

Senyum Darren muncul lagi. "Gue tahu. Tadi ditulis besar-besar di papan."

Naomi tidak membalas. Ia berjalan ke kursi dekat jendela, meletakkan tas, lalu duduk dengan punggung setegak mungkin. Dari samping, cahaya pagi masuk lembut, tapi ia tetap merasa wajahnya panas.

Pelajaran pertama dimulai. Prof. Fang membahas jadwal ujian bulanan, aturan kelas unggulan, dan target UTBK yang ditempel jelas di papan belakang. Naomi mencatat semuanya dengan rapi, berusaha tidak memikirkan laki-laki yang duduk dua baris di belakangnya.

Usahanya gagal ketika sebuah kertas kecil jatuh di sudut mejanya.

Naomi menoleh pelan.

Gadis berambut sebahu yang tadi tersenyum padanya menunjuk kertas itu sambil mengedip.

Naomi membukanya.

`Halo, aku Chelsea Song. Kalau butuh teman makan siang, angkat alis kanan. Kalau butuh diselamatkan dari cowok ngeselin di belakang, kedip dua kali.`

Naomi hampir tertawa.

Ia menulis balasan singkat.

`Kalau butuh dua-duanya?`

Kertas itu kembali ke tangan Chelsea. Gadis itu membacanya, lalu menutup mulut agar tidak tertawa terlalu keras. Beberapa detik kemudian, balasan datang lagi.

`Fix. Kita cocok.`

Entah kenapa, kalimat pendek itu membuat pundak Naomi yang sejak pagi tegang mulai turun.

Saat istirahat, Chelsea benar-benar menariknya ke kantin. "Lo harus coba pangsit kuah di sini. Mahal, tapi setidaknya nggak menipu. Banyak makanan sekolah elite yang cuma menang piring."

Naomi mengikuti langkah cepat Chelsea sambil menahan senyum. "Kamu selalu ngomong secepat ini?"

"Kalau lapar, iya. Kalau lihat drama, lebih cepat lagi."

"Drama?"

Chelsea menoleh, matanya berbinar. "Beb, lo masuk Kelas 12A di semester akhir. Itu artinya lo masuk akuarium penuh ikan mahal yang suka pura-pura nggak berenang."

Naomi tidak langsung mengerti, tapi nada Chelsea membuatnya tertawa kecil.

Di kantin, Naomi mulai melihat peta sosial SMA NU dengan lebih jelas. Ada meja anak-anak OSIS, meja atlet basket, meja murid yang selalu membuka laptop bahkan saat makan, dan satu meja yang anehnya tidak perlu diberi papan nama karena semua mata sesekali melirik ke sana.

Darren duduk di sana bersama beberapa murid laki-laki. Salah satunya bicara sambil tertawa keras, satu lagi sibuk memainkan botol minum. Darren sendiri bersandar santai, mendengarkan tanpa banyak reaksi.

"Yang rambutnya rapi itu Brandon Seng," bisik Chelsea. "Anak Seng Group. Tenang, baik, tapi kalau sudah bareng Darren, otaknya ikut rusak sedikit."

Naomi menahan tawa.

"Yang berisik itu Jason Yang. Kalau sekolah punya alarm manusia, dia orangnya. Yang kalem pakai kacamata itu Kevin Tjoa. Jangan salah, dia pinter banget."

"Dan Darren?"

Chelsea berhenti mengaduk es tehnya. "Nah. Itu topik berbahaya."

Naomi mengambil sendok. "Aku cuma tanya."

"Semua korban awalnya juga cuma tanya."

Naomi mengangkat mata. "Korban?"

Chelsea mendekat, suaranya turun dramatis. "Darren Lim. Ranking atas, basket jago, muka kriminal karena terlalu ganteng, keluarga Lim Corporation, dan reputasinya..." Ia berhenti sejenak, lalu menghela napas. "Dia ganti pacar lebih cepat daripada orang ganti outfit buat pergi ke PIK."

Sendok Naomi berhenti di udara.

"Oh."

"Iya. Oh." Chelsea menunjuknya dengan sedotan. "Jadi kalau dia mulai senyum miring, ngomong pelan, atau tiba-tiba baik, lo jangan langsung percaya. Itu bukan tanda takdir. Itu tanda bahaya."

Naomi teringat aroma mint di gerbang, suara malas yang meledeknya, dan senyum kecil saat Prof. Fang menyebut namanya. Ia cepat-cepat menunduk, meniup kuah pangsit yang masih panas.

"Aku baru pindah hari ini," katanya. "Nggak ada rencana dekat siapa-siapa."

"Bagus." Chelsea tampak puas. "Fokus belajar, makan enak, berteman sama gue. Hidup lo aman."

Sayangnya, hidup Naomi tidak sepenuhnya aman.

Sore itu, setelah urusan kelas selesai, ia diantar petugas asrama ke gedung putri di belakang kompleks sekolah. Asrama itu bersih dan modern, dengan kartu akses, ruang belajar bersama, dan lorong yang wangi pewangi lantai. Kamar Naomi berada di lantai tiga.

Saat pintu dibuka, Chelsea sudah berdiri di dalam sambil mengangkat dua bantal.

"Surprise! Kita sekamar!"

Naomi terkejut. "Serius?"

"Serius. Ini takdir yang benar, bukan yang model Darren Lim."

Naomi akhirnya tertawa.

Di dekat jendela, seorang gadis lain sedang merapikan buku di rak. Rambutnya panjang, wajahnya tenang, dan gerakannya sangat pelan. Chelsea langsung memperkenalkan.

"Ini Susan Lin. Susan, ini Naomi. Anak baru yang tadi hampir direbut kursinya sama Darren."

Susan menoleh. Senyumnya kecil. "Halo."

"Halo," jawab Naomi.

Susan menatapnya sebentar lebih lama daripada yang diperlukan, lalu kembali menyusun buku. "Kamu dari Semarang, ya?"

"Iya."

"Jauh juga."

Nada Susan tidak kasar, tapi Naomi menangkap sesuatu yang sulit ia beri nama. Mungkin hanya canggung. Mungkin karena mereka baru kenal.

Malamnya, setelah Naomi selesai menata pakaian dan mengirim pesan WA pada Engkong bahwa ia baik-baik saja, Chelsea duduk di ranjang bawah sambil makan keripik. Susan membaca di meja belajar, tapi sesekali matanya bergerak ke arah ponsel yang menyala.

"Nao," panggil Chelsea tiba-tiba.

"Hmm?"

"Gue serius soal Darren tadi."

Naomi yang sedang melipat seragam berhenti. "Kenapa kamu khawatir banget?"

Chelsea mengunyah pelan, lalu menatapnya dengan wajah yang jarang serius. "Karena lo kelihatan baik. Dan anak baik biasanya gampang percaya kalau cowok kayak Darren tiba-tiba kelihatan beda."

Naomi ingin membantah, tapi jendela kamar mereka menghadap lapangan basket samping gedung. Lampu-lampu lapangan sudah menyala. Di bawah sana, beberapa murid laki-laki baru selesai latihan.

Di antara mereka, Darren berdiri dengan satu tangan memegang botol air.

Seolah merasakan tatapan dari lantai tiga, ia mendongak.

Mata mereka bertemu.

Chelsea masih berbicara di belakangnya, "Pokoknya, jauhi Darren Lim. Dia itu masalah."

Tapi Naomi sudah melihatnya.

Darren Lim sedang menatap tepat ke arahnya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!