Episode 3

Bab 3 - Nilai Sempurna

Darren Lim sedang menatap tepat ke arahnya.

Malam itu, Naomi akhirnya menarik tirai kamar dengan gerakan terlalu cepat.

Chelsea yang masih duduk di ranjang langsung menyipitkan mata. "Kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa."

"Nao."

"Aku cuma mau tidur."

"Jam delapan lewat sepuluh."

Naomi pura-pura tidak mendengar. Ia naik ke ranjang, menarik selimut sampai dada, lalu menatap langit-langit kamar dengan mata terbuka. Dari balik tirai, cahaya lapangan basket masih menyelinap tipis. Ia tidak tahu apakah Darren masih di bawah sana atau sudah pergi.

Yang jelas, peringatan Chelsea terus berputar di kepalanya.

Jauhi Darren Lim. Dia itu masalah.

Naomi baru mengenalnya sehari. Tapi masalah yang punya aroma mint, senyum miring, dan cara menatap seolah dunia selalu punya tempat untuknya, ternyata jauh lebih sulit diabaikan daripada yang seharusnya.

Dua minggu kemudian, SMA NU mengadakan ujian bulanan pertama.

Kelas 12A berubah seperti ruang perang yang rapi. Tidak ada lagi tawa keras Jason saat bel berbunyi. Chelsea yang biasanya cerewet pun menempelkan sticky notes di seluruh buku catatannya. Susan belajar diam-diam di sudut kamar sampai lewat tengah malam. Naomi mengikuti ritme itu tanpa banyak bicara.

Baginya, ujian bukan hal baru.

Di Semarang, ia sudah terbiasa belajar setelah membantu Ema mencuci piring, membaca soal sambil mendengar Engkong mengulang latihan kaligrafi, dan menghafal rumus ketika listrik rumah sempat turun. Di SMA NU, perpustakaannya lebih besar, meja belajarnya lebih terang, dan murid-muridnya lebih percaya diri. Tapi angka tetap angka. Soal tetap soal. Kalau dikerjakan pelan-pelan, semuanya bisa dibuka satu per satu.

Pagi ujian matematika, Chelsea memegang lengan Naomi sebelum masuk kelas.

"Kalau gue pingsan setelah lihat soal, bilang ke Brandon gue mati terhormat."

Naomi tertawa kecil. "Kamu belum lihat soalnya."

"Justru itu yang bikin takut."

Dari belakang, Jason menyahut, "Chel, kalau lo mati, titip password akun novel lo. Gue mau tahu ending CEO dingin yang ternyata bucin itu."

"Sentuh akun gue, gue bangkit dari kubur."

Brandon yang berdiri di samping Jason menghela napas. "Jangan ribut. Belum ujian saja sudah bikin Prof. Fang sakit kepala."

Darren datang paling akhir, seperti biasa. Dasi longgar, satu tangan di saku, mata masih terlihat mengantuk. Tapi saat melewati Naomi, langkahnya melambat setengah detik.

"Tali sepatu aman?" tanyanya pelan.

Naomi menunduk spontan. Tali sepatunya rapi.

Ketika ia sadar Darren hanya menggodanya, laki-laki itu sudah berjalan ke bangkunya sambil tersenyum.

Chelsea yang melihat dari samping langsung berbisik, "Masalah."

Naomi pura-pura membuka tempat pensil.

Ujian dimulai tepat pukul delapan. Begitu lembar soal dibagikan, kelas benar-benar sunyi. Naomi membaca seluruh soal sekali, menandai dua soal yang perlu dihitung panjang, lalu mulai menulis. Pensilnya bergerak cepat tapi tidak terburu-buru. Ia suka matematika karena tidak peduli siapa keluargamu, mobil apa yang mengantarmu, atau berapa banyak orang yang mengenal namamu. Jawaban benar tetap benar.

Di tengah ujian, ia merasakan ada yang melirik.

Naomi tidak mengangkat kepala. Ia hanya membalik halaman, menulis turunan jawaban, lalu berhenti sebentar untuk memeriksa satu angka. Dari sudut mata, ia tahu Darren duduk miring, satu siku di meja, seolah soal-soal itu terlalu mudah untuk membuatnya duduk tegak.

Tapi ketika waktu tersisa dua puluh menit, Naomi sudah selesai.

Ia memeriksa ulang dari awal sampai akhir. Satu kali. Dua kali. Lalu meletakkan pensil.

Bel selesai ujian berbunyi.

Jason langsung merosot di kursi. "Gue melihat masa depan, dan masa depan gue suram."

Chelsea menepuk dahinya dengan lembar jawaban. "Soal nomor lima itu manusiawi nggak sih?"

Kevin membereskan alat tulis tanpa ekspresi. "Lumayan."

"Lumayan buat lo artinya gue harus doa tujuh hari tujuh malam," kata Jason.

Naomi hanya tersenyum kecil. Ia tidak ingin terlihat terlalu percaya diri, apalagi di hari-hari awalnya di kelas itu.

Tiga hari kemudian, Prof. Fang masuk kelas dengan setumpuk kertas ujian di tangan.

Suasana langsung berubah tegang.

"Hasil matematika bulan ini cukup menarik," kata Prof. Fang.

Kata `menarik` dari seorang guru jarang berarti sesuatu yang aman. Chelsea menegakkan punggung. Jason menutup mata seperti siap menerima vonis. Darren tetap bersandar di kursinya, tapi kali ini matanya terbuka penuh.

Prof. Fang mulai membagikan kertas dari nilai terendah ke nilai tertinggi. Setiap nama dipanggil, ada napas lega, keluhan kecil, atau gumaman kecewa. Chelsea mendapat nilai yang membuatnya hampir mencium kertas. Jason mengangkat dua tangan saat nilainya masih di atas batas aman. Kevin mendapat angka tinggi, seperti yang semua orang duga.

"Darren Lim."

Darren maju.

"Sembilan puluh delapan."

Kelas bersuara pelan. Nilai itu nyaris sempurna. Bagi banyak orang, itu sudah seperti mustahil.

Darren menerima kertasnya, melihat sebentar, lalu kembali duduk. Wajahnya biasa saja, tapi Jason langsung mencondongkan badan.

"Dua poin hilang di mana, Bos?"

"Malas nulis langkah terakhir," jawab Darren.

"Sombongnya minta ditampar."

Prof. Fang mengetuk meja lagi.

"Naomi Tan."

Naomi berdiri. Untuk alasan yang tidak ia mengerti, kelas terasa lebih sunyi dibanding saat nama Darren dipanggil.

Ia berjalan ke depan.

Prof. Fang menatapnya, lalu menyerahkan kertas itu dengan sudut bibir yang nyaris tersenyum.

"Seratus."

Untuk sesaat, tidak ada suara sama sekali.

Lalu Jason berteriak, "Hah?"

Chelsea berdiri setengah dari kursi. "Nao!"

Naomi menatap angka merah di sudut kertas. 100. Bulat. Bersih. Tidak ada coretan koreksi di halaman mana pun.

Panas naik ke pipinya, tapi kali ini bukan karena malu. Lebih seperti lega yang datang terlalu cepat.

Prof. Fang menghadap kelas. "Saya ingin kalian lihat ini bukan karena Naomi murid baru, tapi karena jawabannya rapi, lengkap, dan efisien. Kelas 12A tidak butuh kebiasaan lama yang merasa posisi tidak bisa digeser. Di sini, siapa pun yang bekerja paling baik akan berdiri paling depan."

Beberapa murid menoleh ke arah Darren.

Naomi juga tanpa sengaja melihat ke sana.

Darren menatap kertas ujiannya, lalu menatap Naomi. Tidak ada kesal di wajahnya. Justru ada sesuatu yang lebih berbahaya dari kesal, ketertarikan yang terang-terangan.

Ia mengangkat kertasnya sedikit, seperti memberi salam kekalahan.

Naomi buru-buru kembali ke kursi.

Sore itu, Chelsea menyeret Naomi ke kantin kecil dekat asrama. "Perayaan. Wajib."

"Ini cuma ujian bulanan."

"Cuma? Lo mengalahkan Darren Lim, Nao. Itu bukan cuma. Itu sejarah."

Brandon datang membawa dua botol teh dingin. Jason menyusul dengan sekantong gorengan. Kevin duduk paling ujung, meletakkan sekotak pangsit kuah di depan Naomi tanpa banyak bicara.

"Kamu belum makan," katanya.

Naomi tertegun. "Terima kasih."

"Wah, Kev perhatian," goda Jason.

Kevin menatapnya datar. "Lo juga belum makan?"

"Kalau gue dikasih, gue terima."

Brandon menyodorkan gorengan ke Jason agar ia diam. Chelsea tertawa sampai bahunya bergetar.

Untuk pertama kalinya sejak pindah, Naomi merasa meja makan itu tidak terlalu asing. Mereka ribut, saling memotong kalimat, bertengkar soal jawaban ujian, lalu tertawa lagi. Darren datang belakangan, membeli boba dari konter minuman, lalu meletakkannya di depan Naomi.

"Hadiah," katanya.

Naomi melihat gelas itu. "Untuk apa?"

"Buat orang yang bikin gue turun peringkat."

Chelsea langsung batuk dramatis. Jason bersiul. Brandon menunduk menyembunyikan senyum. Kevin hanya melihat Darren sebentar, lalu kembali makan.

Naomi menyentuh gelas boba yang dingin. "Kamu nggak marah?"

Darren bersandar di kursi seberangnya. "Gue biasanya nggak suka kalah."

"Biasanya?"

Bel masuk kelas malam untuk sesi belajar berbunyi dari kejauhan. Mereka mulai berdiri. Naomi mengambil kertas ujiannya dari meja, tapi Darren berjalan melewati kursinya lebih dulu.

Ia menunduk sedikit, suaranya rendah, hanya cukup untuk Naomi dengar.

"Tapi kalau kalahnya sama lo, rasanya nggak jelek-jelek amat, Naomi."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!