Mengejar Cahaya di Musim Panas

Mengejar Cahaya di Musim Panas

Episode 1

Bab 1 - Gadis Baru di Sekolah Elite

Mobil Toyota tua milik Engkong berhenti tepat di depan gerbang SMA Nusantara Unggul saat deretan mobil hitam mengilap menurunkan murid-murid berseragam rapi.

Naomi Tan menahan napas sebentar.

Di kaca jendela mobil, wajahnya terlihat lebih pucat daripada biasanya. Rambut panjangnya sudah diikat rapi, pita seragamnya lurus, sepatu hitamnya sudah dipoles sejak semalam. Tapi tetap saja, di antara mobil Alphard, Mercedes, dan sedan mahal yang berbaris seperti pameran kecil, mobil Engkong yang catnya mulai kusam terlihat terlalu jujur.

"Nao," panggil Engkong dari kursi kemudi.

Naomi menoleh. "Iya, Engkong?"

Lelaki tua itu tersenyum, keriput di sudut matanya menghangat. "Sekolah bagus memang penting. Tapi yang paling penting tetap kepala kamu sendiri. Jangan takut sama gedung besar."

Naomi ingin tertawa, tapi tenggorokannya terasa kering. Ia mengangguk pelan. "Aku nggak takut."

Engkong menatapnya sebentar, seperti tahu cucunya sedang berbohong dengan sopan.

"Kalau takut juga nggak apa-apa," katanya. "Yang penting tetap masuk."

Kalimat itu membuat dada Naomi sedikit lega.

Ia mengambil tasnya, lalu turun. Udara Jakarta pagi itu terasa panas meski matahari belum tinggi. Gerbang SMA NU menjulang di depannya dengan huruf logam besar yang memantulkan cahaya. Di balik pagar, halaman sekolah luas, pohon-pohon dipangkas rapi, dan gedung putih berlantai beberapa terlihat seperti kampus kecil, bukan sekolah menengah.

Naomi baru dua hari tinggal di Jakarta. Dua hari lalu, ia masih duduk di teras rumah Ema di Semarang, mendengar suara motor lewat, mencium aroma ikan steam dari dapur, dan membantu Engkong merapikan kuas kaligrafi. Sekarang, ia berdiri di depan sekolah elite yang murid-muridnya berjalan dengan langkah ringan, seolah mereka sudah tahu dunia ini akan selalu memberi tempat terbaik untuk mereka.

"Telepon kalau sudah selesai," pesan Engkong dari dalam mobil.

"Iya. Hati-hati pulangnya."

Engkong mengangkat tangan. Mobil tua itu perlahan menjauh, meninggalkan Naomi bersama suara mesin mahal, tawa asing, dan tatapan-tatapan cepat yang melewati sepatunya, tasnya, lalu wajahnya.

Naomi menggenggam tali tas lebih erat.

Ia baru hendak melangkah ketika tali sepatu kirinya lepas.

"Serius banget sih, hari pertama?" gumamnya pelan.

Ia menepi ke dekat pilar gerbang, berjongkok, lalu mulai mengikat tali sepatu. Di sekelilingnya, sepatu kulit mahal dan sneakers edisi terbatas lewat silih berganti. Naomi menunduk lebih rendah. Jarinya bergerak cepat, tapi ikatan pertama gagal karena tangannya sedikit berkeringat.

Saat itu, aroma mint tipis menyapu udara.

Segar. Dingin. Terlalu bersih untuk pagi Jakarta yang panas.

Sebuah sepatu putih berhenti setengah langkah dari tangannya.

Naomi mengangkat wajah sedikit. Yang pertama ia lihat adalah ujung celana seragam yang tidak sekaku murid lain, lalu tangan panjang yang memegang ponsel, lalu rahang seorang laki-laki yang membungkuk sedikit ke arahnya.

"Tali sepatunya kalah mental?" suara itu terdengar malas, tapi ada tawa kecil di ujungnya.

Naomi mendongak penuh.

Laki-laki itu tinggi. Rambut hitamnya agak berantakan, dasinya longgar, dan seragam SMA NU yang seharusnya membuat semua orang terlihat patuh justru tampak seperti sesuatu yang ia pakai hanya karena disuruh. Matanya gelap, jernih, dan terlalu santai untuk seseorang yang hampir membuat Naomi terjatuh karena terkejut.

Di belakangnya, dua murid laki-laki menunggu sambil menahan senyum.

Naomi kembali menunduk, mengikat tali sepatunya dengan cepat. "Nggak. Cuma kurang kerja sama."

Laki-laki itu tertawa pelan.

"Jawaban bagus."

Naomi berdiri. Saat ia menepuk sedikit debu di roknya, laki-laki itu sudah menyingkir setengah langkah, memberi jalan tanpa terlihat benar-benar sopan. Dari dekat, aroma mint itu makin jelas.

"Murid baru?" tanyanya.

Naomi menatapnya sebentar. "Kelihatan banget?"

"Banget." Ia menunjuk papan petunjuk dengan dagunya. "Ruang administrasi ke sana. Jangan sampai masuk gedung olahraga. Kecuali lo mau langsung ikut ekskul basket."

Salah satu temannya tertawa. "Dar, jangan godain anak baru pagi-pagi."

Dar.

Naomi menyimpan potongan nama itu tanpa sengaja.

Laki-laki itu memasukkan ponsel ke saku. "Gue cuma bantu."

"Bantunya aneh," balas Naomi pelan.

Alis laki-laki itu terangkat. Senyumnya melebar sedikit, bukan senyum ramah, lebih seperti seseorang yang baru menemukan hal menarik.

Naomi sadar ia baru saja bicara terlalu berani pada murid yang jelas-jelas bukan tipe aman untuk diajak saling sindir di hari pertama. Ia menelan ludah, lalu cepat-cepat mengangguk kecil. "Permisi."

Ia berjalan melewati mereka.

Di belakangnya, suara laki-laki itu terdengar lagi, lebih rendah dari sebelumnya. "Tali sepatunya udah aman, anak baru."

Panas langsung naik ke telinga Naomi.

Ia tidak menoleh.

Ruang administrasi berada di lantai satu gedung utama. Seorang staf perempuan menyerahkan map biru berisi jadwal, kartu akses, dan denah sekolah. Setelah memastikan data Naomi, staf itu memintanya menunggu di luar ruang guru.

Di sana, Naomi bertemu Prof. Fang, wali kelas yang wajahnya tegas tapi tidak dingin. Perempuan itu membaca berkas Naomi sambil mengangguk beberapa kali.

"Dari Semarang, ya?"

"Iya, Prof."

"Nilai kamu sangat bagus." Prof. Fang menutup map. "Tapi Kelas 12A bukan cuma soal nilai. Anak-anak di sana cepat, kompetitif, dan sebagian besar sudah bersama sejak kelas sepuluh. Kamu mungkin perlu waktu menyesuaikan diri."

Naomi mengangguk. "Saya mengerti."

"Jangan terlalu tegang." Prof. Fang menatapnya dari balik kacamata. "Kalau kamu memang sampai sini karena kemampuanmu sendiri, kamu berhak duduk di kelas itu."

Kali ini Naomi benar-benar tersenyum kecil. "Terima kasih, Prof."

Perjalanan menuju Kelas 12A terasa lebih panjang dari denah yang ia lihat. Koridornya bersih, papan prestasi memenuhi dinding, dan hampir setiap piala di lemari kaca seolah berkata bahwa sekolah ini tidak pernah terbiasa dengan kekalahan.

Saat Prof. Fang membuka pintu kelas, suara obrolan langsung mengecil.

"Pagi. Hari ini kita punya murid baru."

Puluhan pasang mata menoleh.

Naomi melangkah masuk. Ia merasakan tatapan yang menimbang dari kepala sampai kaki. Ada yang penasaran, ada yang biasa saja, ada juga yang langsung kembali menatap layar ponsel seperti murid baru dari Semarang bukan berita penting.

Prof. Fang menulis namanya di papan.

"Naomi Tan. Pindahan dari Semarang. Mulai hari ini, dia belajar bersama kalian di Kelas 12A."

Naomi membungkuk sedikit. "Halo. Aku Naomi. Mohon bantuannya."

Beberapa murid menjawab singkat. Di barisan tengah, seorang gadis berambut sebahu melambaikan tangan dengan senyum cerah. Naomi belum tahu namanya, tapi senyum itu membuat kelas terasa sedikit kurang asing.

"Naomi, kamu duduk di kursi kosong dekat jendela," kata Prof. Fang.

Naomi mengikuti arah tangan Prof. Fang.

Kursi dekat jendela itu memang kosong dari tas dan buku. Letaknya paling bagus, tidak terlalu depan, tidak terlalu belakang, dengan cahaya pagi yang jatuh lembut di atas meja. Naomi baru saja ingin melangkah ketika seluruh kelas mendadak hening dengan cara yang aneh.

Senyum gadis berambut sebahu tadi membeku sebentar.

Naomi berhenti.

Di kursi yang disebut kosong itu, seorang laki-laki sedang tidur dengan kepala bertumpu pada lengan. Dasi longgarnya jatuh ke samping. Rambut hitamnya menutupi sebagian mata. Satu tangannya menggantung di tepi meja, dan aroma mint yang sama, samar tapi jelas, kembali menyentuh udara.

Jantung Naomi mencelos.

Laki-laki dari gerbang itu membuka mata perlahan, menatapnya, lalu tersenyum miring seolah baru saja menemukan hiburan baru.

"Oh," gumamnya. "Anak baru ternyata sekelas."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!