Episode 4

Bab 4 - Siapa yang Memperhatikan Siapa

"Tapi kalau kalahnya sama lo, rasanya nggak jelek-jelek amat, Naomi."

Naomi baru sadar ia menahan napas setelah Darren sudah berjalan melewati pintu kantin.

Gelas boba di tangannya dingin, tapi telapak tangannya justru menghangat. Ia berdiri terlalu lama di samping meja sampai Chelsea mencondongkan badan dari belakang, menatap wajahnya dengan mata menyala.

"Nao."

Naomi berkedip. "Apa?"

"Lo merah."

"Nggak."

"Beb, pipi lo warnanya kayak strawberry milk."

Jason yang sedang menggigit gorengan langsung menoleh. "Ada apa? Siapa yang strawberry?"

Brandon menarik kerah belakang Jason agar duduk lagi. "Makan saja."

"Kenapa gue selalu dibungkam saat ada gosip penting?"

Kevin menutup kotak pangsit dan berdiri. "Karena suaramu mengganggu satu kantin."

Naomi cepat-cepat memasukkan kertas ujiannya ke map. "Aku mau ke kelas dulu."

Chelsea berdiri juga, senyumnya terlalu lebar untuk disebut ramah. "Tentu. Kita semua tahu orang rajin selalu kabur setelah digombalin."

"Aku nggak kabur."

"Iya. Lo hanya pergi dengan kecepatan tidak wajar."

Naomi memilih berjalan duluan.

Malam itu, ia mencoba belajar seperti biasa. Buku terbuka, pensil di tangan, lampu meja menyala. Tapi setiap kali ia membaca satu paragraf, kalimat Darren muncul lagi di kepalanya, lengkap dengan suara rendah yang terlalu dekat.

Ia kesal pada dirinya sendiri.

Nilai seratus seharusnya membuatnya memikirkan strategi belajar berikutnya, bukan senyum miring seorang laki-laki yang menurut Chelsea adalah masalah.

"Nao," panggil Chelsea dari ranjang atas.

"Hmm?"

"Kalau lo baca halaman yang sama selama dua puluh menit, itu bukan belajar. Itu denial."

Naomi menutup buku. "Kamu nggak tidur?"

"Aku sedang menjaga sahabat baru dari bahaya laten."

Susan yang duduk di meja belajarnya mengangkat kepala sebentar. "Kalian berisik."

Chelsea langsung menutup mulut dengan tangan, tapi matanya masih tertawa. Naomi meminta maaf pelan. Susan tidak menjawab, hanya kembali menatap buku. Namun Naomi melihat layar ponsel Susan menyala dengan foto lapangan basket sebagai wallpaper. Foto itu gelap, jauh, dan samar, tapi sosok tinggi di tengah lapangan terlalu mudah dikenali.

Naomi pura-pura tidak melihat.

Beberapa menit kemudian, ketika Chelsea turun ke pantry untuk mengambil air panas, kamar menjadi terlalu sunyi. Naomi sedang merapikan pensilnya ketika Susan tiba-tiba bertanya tanpa menoleh.

"Kamu sudah kenal Darren sebelum pindah ke sini?"

Naomi berhenti sejenak. "Nggak. Baru ketemu di gerbang waktu hari pertama."

"Oh."

Jawaban Susan pendek, tapi tangannya yang memegang buku tidak bergerak lagi.

Naomi menatap punggungnya dengan hati-hati. "Kenapa?"

"Nggak apa-apa." Susan membalik satu halaman, terlalu pelan. "Cuma kelihatannya dia cepat akrab sama kamu."

Ada sesuatu di balik kalimat itu, tipis seperti jarum. Naomi tidak cukup mengenal Susan untuk menebak apakah itu rasa ingin tahu biasa atau peringatan.

"Dia memang sering bercanda, kan?" Naomi memilih jawaban aman.

Susan akhirnya menoleh. Senyumnya kecil, hampir tidak sampai ke mata. "Iya. Darren memang begitu."

Cara Susan menyebut nama Darren terdengar seperti seseorang yang sudah lama memperhatikan dari tempat yang tidak pernah dilihat siapa pun.

Keesokan paginya, ia datang lebih awal ke kelas. Udara masih sejuk, sebagian kursi kosong, dan cahaya dari jendela jatuh di meja dekat tempatnya duduk. Naomi menaruh buku, lalu membuka catatan matematika.

Sepuluh menit kemudian, aroma mint datang sebelum orangnya.

Darren berhenti di samping mejanya.

"Rajin amat."

Naomi tidak mengangkat kepala. "Selamat pagi juga."

Darren tertawa pelan. "Gue nggak bilang pagi?"

"Belum."

"Pagi, Naomi."

Cara ia menyebut namanya membuat ujung pensil Naomi berhenti. Ia memaksa diri tetap menatap catatan. "Pagi."

Darren tidak langsung pergi. Ia menunduk sedikit, melihat halaman buku Naomi. "Lo selalu nulis serapi ini?"

"Kalau tulisannya nggak rapi, aku sendiri yang susah baca."

"Masuk akal."

"Kamu?"

"Gue mengandalkan kemampuan otak dan keberuntungan."

Naomi akhirnya menatapnya. "Itu bukan strategi belajar."

"Tapi sejauh ini hidup gue baik-baik aja."

"Sampai kalah dua poin."

Mulut Darren terbuka sebentar, lalu ia tertawa. Bukan tawa mengejek seperti di gerbang, tapi tawa yang lebih lepas. Beberapa murid yang baru masuk menoleh.

Naomi langsung merasa ia bicara terlalu nyaman.

Darren meletakkan satu permen mint kecil di sudut meja Naomi. "Buat orang yang berani nyindir gue pagi-pagi."

"Aku nggak minta."

"Gue juga nggak tanya."

Ia berjalan ke kursinya sebelum Naomi sempat mengembalikan permen itu.

Sepanjang pelajaran, Naomi berusaha tidak melihat ke belakang. Namun hal seperti itu menjadi sulit saat seseorang yang ingin dihindari justru terlalu mudah menarik perhatian. Darren menjawab pertanyaan Prof. Fang dengan malas tapi benar. Darren memutar pulpen di antara jari saat bosan. Darren menunduk ketika Brandon menunjukkan sesuatu di buku catatan, lalu tertawa tanpa suara.

Naomi menyadari satu hal yang menyebalkan.

Ia tahu terlalu banyak untuk seseorang yang katanya tidak ingin memperhatikan.

Saat istirahat kedua, Chelsea menariknya ke lorong dekat papan pengumuman.

"Lo lihat dia lagi, kan?"

Naomi hampir tersedak air mineral. "Siapa?"

"Jangan menghina kecerdasanku."

"Aku cuma lihat kelas."

"Darren bukan kelas. Dia manusia tinggi, sombong, dan sangat sadar kalau dirinya diperhatikan."

Naomi menutup botol minum. "Aku nggak memperhatikan."

Chelsea melipat tangan. "Oke. Kalau begitu sebutkan warna pulpen yang dia putar tadi."

Naomi diam.

Chelsea menunjuk wajahnya dengan ekspresi menang. "Nah."

"Hitam," jawab Naomi pelan sebelum bisa menahan diri.

Chelsea memekik tanpa suara. "Astaga, Nao!"

"Jangan keras-keras."

"Gue nggak keras. Gue sedang menyaksikan awal kehancuran."

Naomi hendak membantah ketika bola basket menggelinding dari ujung koridor dan berhenti di dekat kakinya. Ia menunduk, mengambil bola itu, lalu melihat ke arah datangnya.

Darren berdiri beberapa meter dari mereka bersama Brandon dan Jason. Lengan seragamnya digulung sampai siku, rambutnya sedikit berantakan, dan matanya langsung jatuh pada bola di tangan Naomi.

"Makasih," katanya.

Naomi melempar bola itu pelan. Darren menangkapnya dengan satu tangan.

Jason bersiul. "Operannya halus juga. Naomi, ikut tim basket cewek nggak?"

"Nggak," jawab Naomi.

"Sayang. Kalau ikut, Darren punya alasan resmi buat sering latihan."

Brandon memukul lengan Jason. "Mulut."

Chelsea di samping Naomi langsung menegakkan badan. "Jangan bawa-bawa Nao."

Darren hanya menatap Naomi, senyumnya tipis. "Besok ada pertandingan antarkelas. Datang nonton?"

Naomi belum menjawab ketika Chelsea menyahut, "Dia sibuk."

"Aku belum bilang apa-apa," bisik Naomi.

"Aku bantu."

Darren tampak makin terhibur. "Kalau sibuk, nggak apa-apa."

Ia memutar bola di satu tangan, lalu berjalan mundur selangkah. Sebelum berbalik, matanya kembali ke Naomi.

"Tapi kalau lo datang, gue main lebih bagus."

Jason langsung berteriak, "Anjay!"

Chelsea menarik Naomi pergi sebelum wajahnya berubah lebih merah.

Namun saat mereka sampai di tangga, Chelsea berhenti tiba-tiba. Ia menatap Naomi, lalu menatap Darren yang masih berdiri di ujung koridor, jelas-jelas belum masuk lapangan.

Senyum Chelsea perlahan menghilang, diganti ekspresi curiga yang lebih serius.

"Nao," katanya pelan, "kayaknya bukan cuma lo yang memperhatikan."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
118 Episode 118
119 Episode 119
120 Episode 120
121 Episode 121
122 Episode 122
123 Episode 123
124 Episode 124
125 Episode 125
126 Episode 126
127 Episode 127
128 Episode 128
129 Episode 129
130 Episode 130
Episodes

Updated 130 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117
118
Episode 118
119
Episode 119
120
Episode 120
121
Episode 121
122
Episode 122
123
Episode 123
124
Episode 124
125
Episode 125
126
Episode 126
127
Episode 127
128
Episode 128
129
Episode 129
130
Episode 130

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!