Episode 2

Bab 002

Dapur Miliknya

"Kamu belum makan, kan?"

Pertanyaan itu masih menggantung ketika perut Kiara memilih berkhianat.

Bunyinya tidak keras, tapi cukup jelas di antara mereka berdua. Kiara langsung menunduk. Panas naik sampai telinganya, lebih memalukan daripada ketahuan menangis.

Rayhan menatapnya selama dua detik.

Lalu sudut bibirnya bergerak sedikit.

Hanya sedikit. Tapi karena wajah Rayhan biasanya seperti laporan kasus pembunuhan, perubahan kecil itu terasa seperti lampu seluruh rumah tiba-tiba menyala.

"Ganti baju," katanya. "Lima belas menit."

"Aku bisa bikin mi sendiri."

"Aku tidak bilang kamu tidak bisa."

"Terus?"

"Aku bilang aku masak."

Kiara kehabisan kalimat. Dengan sisa harga diri yang tipis, ia berbalik dan naik ke lantai dua. Di kamar, ia bersandar pada pintu sebentar sambil menekan dada.

Ini cuma makan malam.

Rayhan memang begitu. Ia praktis. Ia terbiasa mengurus orang. Ia membayar tagihan Kevin karena Kevin teman satu angkatannya. Ia memasak karena mungkin tidak tega melihat manusia kelaparan berdiri di tangga.

Tidak ada yang spesial.

Ponsel Kiara bergetar di dalam tas.

Cici:

Udah sampai belum, Ki?

Cici:

Tetangga misterius aman?

Cici:

Jangan-jangan duda tajir?

Kiara menggigit bibir agar tidak tertawa keras.

Kiara:

Aman.

Cici:

Jawaban singkat \= mencurigakan.

Kiara:

Besok aku cerita.

Cici:

JANJI. Kalau ganteng, gue harus tahu.

Kiara menatap layar beberapa saat, lalu mengunci ponsel. Kalau Cici tahu tetangga misterius itu bukan hanya ganteng, melainkan suami sah Kiara, mungkin satu kantor bisa mendengar teriakannya.

Ia mengganti blus kantor dengan kaus putih longgar dan celana panjang rumah. Sebelum keluar, matanya jatuh ke cermin. Wajahnya masih terlihat lelah. Di bawah mata ada bayangan tipis. Rambutnya yang tadi diikat asal kini ia biarkan terurai sampai bahu.

Untuk apa rapi-rapi?

Pertanyaan itu muncul tepat ketika tangannya mengambil sisir.

Kiara diam, lalu meletakkan sisir kembali.

Tetap saja, ia merapikan rambut dengan jari.

Aroma bawang putih dan mentega sudah memenuhi lantai bawah ketika Kiara turun. Dapur rumah itu terbuka ke ruang makan, semua permukaannya bersih, putih, dan mahal. Namun di tengah ruangan yang terlalu modern itu, Rayhan berdiri seolah dapur memang wilayah kekuasaannya.

Ia sudah melepas seragam. Kaos hitam polos melekat di bahunya, mempertegas punggung lebar dan lengan yang bergerak tenang saat mengaduk wajan. Rambutnya sedikit basah setelah mandi cepat. Di pergelangan tangannya tidak ada jam, hanya urat halus yang muncul ketika ia memegang spatula.

Kiara berhenti di dekat meja makan.

Rayhan tidak menoleh. "Duduk."

"Aku bisa bantu."

"Duduk, Kiara."

Nada itu bukan marah. Lebih seperti polisi yang terbiasa memberi perintah di TKP. Tubuh Kiara, entah kenapa, lebih cepat patuh daripada pikirannya. Ia menarik kursi dan duduk, lalu menyaksikan Rayhan memecahkan telur dengan satu tangan.

Sial.

Bahkan memecahkan telur pun bisa terlihat berbahaya kalau Rayhan yang melakukan.

"Besok kamu masuk jam berapa?" tanya Rayhan.

"Jam sembilan. Tapi Bu Ratna minta aku datang lebih pagi buat rapat liputan."

"Liputan apa?"

"Belum tahu. Mungkin kasus kriminal kecil atau acara pemerintah kota. Aku masih magang, jadi biasanya kebagian yang orang lain nggak mau."

Rayhan menuang nasi ke wajan. "Kamu suka?"

"Suka apa?"

"Kerjamu."

Kiara terdiam. Tidak banyak orang menanyakan itu. Kebanyakan hanya bertanya berapa gajinya, kapan jadi pegawai tetap, atau kenapa perempuan muda harus repot mengejar berita malam-malam.

"Suka," jawabnya pelan. "Kalau tulisanku naik, rasanya... seperti aku punya suara."

Gerakan tangan Rayhan melambat sepersekian detik.

"Bagus."

Hanya itu.

Satu kata, tetapi dada Kiara terasa hangat dengan cara yang menyebalkan. Ia cepat-cepat mengambil gelas dan menuang air putih untuk dirinya sendiri.

"Kak Rayhan sendiri?" tanya Kiara sebelum keberaniannya habis. "Suka jadi polisi?"

Rayhan mematikan kompor. "Tidak selalu."

Kiara mengangkat wajah.

"Tapi ada orang yang harus ditangkap," lanjutnya. "Ada orang yang harus dipulangkan dengan selamat. Jadi suka atau tidak, aku tetap kerja."

Kalimat itu jatuh sederhana. Tidak dibuat keren. Tidak seperti pidato. Justru karena itu, Kiara mendadak melihatnya dengan cara lain.

Pria ini bukan hanya dingin.

Ia berat.

Seolah ada banyak hal yang ia bawa sendirian dan tidak pernah ia letakkan di meja siapa pun.

Rayhan menyajikan nasi goreng ke piring, menambahkan telur ceplok dengan bagian kuning yang masih setengah matang, lalu meletakkannya di depan Kiara. Di sisi piring ada irisan timun dan kerupuk yang entah kapan ia siapkan.

"Makan."

Kiara menatap piring itu. "Kak Rayhan nggak makan?"

"Nanti."

"Nanti itu kapan?"

"Setelah kamu selesai."

"Kenapa harus nunggu aku?"

Rayhan menarik kursi di seberangnya, duduk, lalu menyandarkan lengan di meja. "Karena kalau aku tidak lihat, kamu cuma makan tiga suap dan bilang kenyang."

Kiara membuka mulut untuk membantah, tapi gagal karena itu benar.

Ia mengambil sendok. Suapan pertama masuk ke mulutnya, hangat, gurih, sedikit pedas. Perutnya langsung mengendur seperti akhirnya berhenti bertengkar dengan tubuhnya sendiri.

Rayhan memperhatikan wajahnya. "Terlalu pedas?"

Kiara menggeleng cepat. "Enak."

"Jangan cuma sopan."

"Beneran enak." Ia menyendok lagi, kali ini lebih banyak. "Aku nggak nyangka Kak Rayhan bisa masak."

"Aku hidup sendiri sejak Akpol."

"Aku pikir anak keluarga Tan tinggal tunjuk, semua datang."

"Di rumah Opa, iya. Di Akpol, kalau cuma bisa tunjuk, yang datang hukuman."

Kiara tertawa kecil sebelum sempat menahan diri.

Rayhan menatapnya.

Tawa Kiara berhenti perlahan. "Apa?"

"Tidak apa-apa."

Tapi tatapan Rayhan tidak segera pergi. Ada sesuatu di sana, sesuatu yang tidak dingin, tidak juga sekadar sopan. Kiara menunduk, pura-pura fokus pada piring.

Ponselnya menyala lagi. Kali ini dari grup magang redaksi.

Cici:

Besok semua wajib datang 08.00. Bu Ratna ngamuk karena draft Dimas typo judul wali kota.

Dimas:

Ci, jangan sebut nama.

Cici:

Udah terlanjur.

Kiara tersenyum sendiri.

"Cici?" tanya Rayhan.

"Iya. Dia selalu heboh."

"Dia tahu kamu tinggal di sini?"

Sendok Kiara berhenti.

"Nggak. Aku bilang tinggal di tempat saudara."

"Bagus."

Kiara mengangkat wajah. "Bagus?"

"Semakin sedikit orang tahu, semakin aman."

Aman. Kata itu seharusnya menenangkan. Tapi entah kenapa, malam itu terdengar seperti dinding. Kokoh, tinggi, dan membuat Kiara berdiri di sisi yang tidak bisa ia pilih sendiri.

"Sampai kapan?" tanyanya.

Rayhan diam.

Kiara menyesal begitu pertanyaan itu keluar. Ia cepat-cepat menyendok nasi lagi, tapi ada sebutir nasi menempel di sudut bibirnya.

Rayhan bergerak sebelum Kiara sadar.

Jari telunjuknya menyentuh sudut bibir Kiara, ringan, hangat, terlalu dekat. Ia mengambil butir nasi itu, tetapi tidak langsung menjauh. Ujung jarinya menyapu bibir bawah Kiara selama satu detik yang terasa terlalu panjang.

Napas Kiara berhenti.

"Maaf," kata Rayhan.

Suaranya datar.

Namun matanya, gelap dan tenang, sama sekali tidak tampak menyesal.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!