Episode 4

Bab 004

Pelukan Pertama

"Siapa," kata Rayhan pelan, satu per satu, "yang berani menyentuhmu?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Brandon Lie masih menempel pada dinding lorong dengan pergelangan tangan terkunci di genggaman Rayhan. Wajahnya memerah, entah karena alkohol, malu, atau marah karena untuk pertama kalinya malam itu ada orang yang tidak mundur saat ia menatap.

"Lepas," geram Brandon. "Kamu tahu siapa aku?"

Rayhan menekan pergelangan Brandon sedikit lebih rendah. Brandon meringis.

"Aku tahu." Suara Rayhan datar. "Brandon Lie. Dua puluh enam tahun. Tiga kali dilaporkan karena kekerasan di klub malam, semua laporan ditarik sebelum BAP."

Lorong yang tadi ramai mendadak semakin diam.

Cici menutup mulut. Dimas menelan ludah. Galih, yang tadi hendak maju, berhenti ketika melihat kartu identitas dinas di dada Rayhan.

"AKP Rayhan Tan," ucap Rayhan tanpa mengalihkan pandangan dari Brandon. "Sekarang jawab. Tanganmu tadi di mana?"

Brandon tertawa pendek, tapi suaranya goyah. "Dia yang menggoda duluan."

"Bohong!" Cici langsung meledak. "Dia dari tadi menghindar!"

Kiara ingin bicara, tetapi tenggorokannya terasa kering. Pergelangan tangannya masih panas bekas cengkeraman Brandon. Di dalam tas, ponselnya masih merekam. Suara kecil dari aplikasi itu seperti denyut yang mengingatkannya untuk tidak jatuh dulu.

Rayhan menoleh padanya. Amarah di wajahnya tidak hilang, tapi suaranya turun ketika memanggil, "Kiara."

Satu kata itu membuat lutut Kiara hampir lemas.

"Ada rekaman," kata Kiara akhirnya. Ia membuka tas dengan jari kaku, mengambil ponsel, lalu menghentikan rekaman. "Dia... dia bicara soal perempuan yang hilang. Dia bilang menutup mulutnya."

Mata Rayhan berubah.

Bukan lagi hanya marah.

Kini ia bekerja.

"Kirim ke nomorku sekarang. Jangan edit apa pun." Lalu kepada Galih, ia berkata, "Pak, tolong pastikan CCTV lorong ini diamankan. Jangan sampai ada yang hapus."

Galih langsung mengangguk. "Siap, Pak."

Brandon menyentak. "Kamu nggak bisa sembarangan menahan aku!"

"Aku belum menahanmu." Rayhan mendekat setengah langkah. "Aku baru mencegahmu menyentuh korban kedua malam ini."

Kata korban kedua membuat beberapa orang berbisik. Brandon pucat.

Rayhan mengambil ponselnya dan menelepon. "Aldi. Bawa dua anggota ke karaoke pusat kota. Sekarang. Hubungi piket Reskrim, minta mereka koordinasi dengan pengelola untuk CCTV. Ada dugaan pengakuan pembunuhan dan pelecehan."

Kiara mendengar semua itu seperti dari balik air.

Cici memeluk bahunya. "Ki, lo nggak apa-apa? Tangan lo merah banget."

Baru saat itu Kiara melihat bekas jari di pergelangan tangannya. Garis merah itu tampak jelas di kulitnya. Aneh, pikirnya. Selama tadi ia tidak merasa sesakit ini.

Rayhan juga melihatnya.

Rahangnya mengeras lagi.

Beberapa menit berikutnya bergerak cepat. Dua anggota Reskrim datang bersama Aldi. Security menyerahkan akses CCTV. Brandon masih banyak bicara, mengancam akan menelepon pengacara, menyebut nama ayahnya, menyebut koneksi keluarga. Tidak ada satu pun yang membuat Rayhan berkedip.

"Masukkan ke mobil," kata Rayhan.

Aldi melirik Kiara sekilas, lalu segera menunduk sopan. "Mbak, nanti kami butuh keterangan. Tapi untuk malam ini, Bapak bisa antar pulang dulu. Besok pagi di kantor saja."

Rayhan menatap Aldi.

Aldi cepat-cepat meralat, "Maksud saya, Pak Rayhan."

Cici, yang masih setengah panik, menoleh ke Kiara. "Pak Rayhan? Lo kenal dia dari mana?"

Kiara membuka mulut.

Tidak ada jawaban yang aman.

Rayhan mengambil alih dengan tenang. "Saya tetangganya. Keluarganya menitipkan dia pada saya."

Tetangga.

Kata itu seharusnya membantu. Tapi entah kenapa terdengar seperti jarak yang sengaja ditarik di depan semua orang.

Cici tampak tidak percaya, tapi ia terlalu khawatir untuk menginterogasi lebih jauh. "Ki, kabarin gue begitu sampai rumah."

Kiara mengangguk. "Iya."

Rayhan tidak menyentuhnya di depan orang-orang. Ia hanya berjalan satu langkah di belakang Kiara, cukup dekat untuk menghalangi pandangan Brandon, cukup jauh agar tidak membuat rekan kerjanya bertanya lebih banyak.

Di dalam mobil, hening jatuh seperti pintu besi.

Kiara duduk dengan kedua tangan di pangkuan. Pergelangan yang merah ia sembunyikan di bawah lengan jaket yang diberikan Rayhan sebelum mereka masuk mobil. Jaket itu berbau sama seperti rumahnya, sabun maskulin, hujan, dan kopi pahit.

Rayhan menyetir tanpa menyalakan radio. Lampu kota lewat di kaca jendela seperti garis panjang yang patah-patah.

"Kak Rayhan..." Kiara memulai.

"Nanti."

Kiara menutup mulut.

"Kamu tidak perlu menjelaskan apa pun sekarang," lanjut Rayhan, masih menatap jalan. "Tarik napas dulu."

Baru setelah ia berkata begitu, Kiara sadar napasnya pendek-pendek.

Ia mencoba menarik napas dalam. Gagal. Dadanya terasa penuh oleh suara Brandon, bau alkohol, tangan di pergelangan, dan kalimat tentang perempuan yang dibuat diam selamanya.

Mobil berhenti di garasi rumah. Rayhan turun lebih dulu, membuka pintu untuk Kiara. Ia tetap tidak menyentuhnya.

Mereka masuk rumah dalam diam.

Begitu pintu tertutup, semua tenaga Kiara habis.

Ia berdiri di foyer, menatap lantai marmer yang bersih, lalu tubuhnya mulai gemetar. Mula-mula hanya jari. Lalu bahu. Lalu seluruh tubuhnya seperti baru menyadari bahwa bahaya sudah lewat.

"Kiara."

Rayhan berada di depannya dalam satu langkah, tetapi ia berhenti sebelum terlalu dekat. Mata tajamnya melembut dengan cara yang membuat dada Kiara sakit.

"Boleh aku lihat tanganmu?"

Kiara mengangkat pergelangan tanpa bicara.

Rayhan menyentuhnya dengan hati-hati, hampir tidak memberi tekanan. Bekas merah itu tampak lebih jelas di bawah lampu foyer. Ia mengambil napas pelan, seperti sedang menahan sesuatu yang jauh lebih kasar daripada kata-kata.

"Aku ambil obat."

Kiara mengangguk.

Tapi ketika Rayhan berbalik, tangan Kiara bergerak sendiri, menarik ujung lengan bajunya.

Rayhan berhenti.

Kiara tidak tahu apa yang ingin ia katakan. Jangan pergi? Aku takut? Kenapa baru sekarang aku gemetar? Semua kalimat itu berkumpul di tenggorokan, terlalu besar untuk keluar.

Rayhan berbalik perlahan.

"Aku di sini," katanya rendah.

Air mata Kiara jatuh begitu saja.

Ia cepat-cepat menunduk, malu pada dirinya sendiri, malu karena tadi ia bisa merekam pengakuan pembunuhan, bisa melawan Brandon, bisa berjalan keluar dengan kepala tegak, tetapi sekarang hanya karena Rayhan berkata ia ada di sini, pertahanannya runtuh.

Rayhan mengangkat tangan, lalu berhenti di udara.

"Kiara," bisiknya, "boleh?"

Kiara tidak menjawab dengan suara.

Ia hanya melangkah maju.

Detik berikutnya, tubuhnya masuk ke dalam pelukan Rayhan.

Hangat.

Kokoh.

Tidak terburu-buru.

Rayhan memeluknya seperti menutup pintu dari dunia luar. Satu tangannya berada di punggung Kiara, satu lagi menahan belakang kepalanya, tidak menekan, hanya menjaga agar ia tahu ke mana harus bersandar.

"Kamu aman," kata Rayhan di atas rambutnya. "Aku di sini."

Tangis Kiara pecah tanpa suara. Ia mencengkeram kaos Rayhan, menghirup aroma tubuhnya yang bercampur hujan dan kopi. Tiba-tiba lorong karaoke, suara Brandon, dan lampu remang terasa jauh.

Yang tersisa hanya dada Rayhan di dekat pipinya.

Dan detak jantungnya sendiri yang berlari terlalu cepat.

Kenapa jantungku...

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!