Episode 3

Bab 003

Pria Berbahaya di Club

Sepanjang rapat pagi, Kiara masih bisa merasakan sentuhan jari Rayhan di sudut bibirnya.

Sialnya, perasaan itu muncul di saat yang paling tidak tepat, yaitu ketika Bu Ratna sedang mengetuk meja dengan pulpen dan menatap seluruh anak magang seperti hendak mengirim mereka ke medan perang.

"Malam ini kalian ikut gathering redaksi," kata Bu Ratna. "Bukan untuk hura-hura. Kalian belajar cara membangun jaringan. Wartawan yang tidak punya sumber berita akan mati pelan-pelan."

Cici menyenggol siku Kiara. "Dengar tuh, Ki. Malam ini kita resmi boleh karaoke atas nama karier."

Kiara menahan senyum. "Kamu dari tadi cuma nunggu bagian karaoke, kan?"

"Jelas. Kalau ada gratisan, jiwa jurnalistik gue bangkit."

Bu Ratna menatap mereka. Cici langsung duduk tegak dengan wajah paling polos yang pernah Kiara lihat.

Gathering itu diadakan di sebuah tempat karaoke kelas atas di pusat Kota Barat. Bukan tipe ruang karaoke yang biasa dipakai mahasiswa untuk melepas stres, melainkan lounge dengan karpet tebal, lorong remang, dan pelayan yang tersenyum terlalu rapi. Dimas dan Galih sudah sibuk memilih lagu. Dewi memotret makanan untuk story. Cici langsung mengambil mikrofon seolah panggung itu warisan keluarganya.

Kiara duduk di ujung sofa, memegang segelas teh lemon. Ia mengirim pesan singkat kepada Rayhan sebelum acara dimulai.

Kiara:

Malam ini ada gathering kantor. Pulang mungkin agak telat.

Balasan Rayhan datang kurang dari satu menit.

Rayhan:

Lokasi.

Kiara menatap layar.

Kiara:

Karaoke pusat kota. Sama orang kantor.

Rayhan:

Share live location.

Tidak ada "hati-hati". Tidak ada "baik". Hanya perintah singkat yang membuat Kiara mendengus pelan, tapi tetap membagikan lokasi.

Cici melirik layar ponselnya. "Tetangga misterius?"

"Bukan."

"Lo makin nggak bisa bohong."

Kiara memasukkan ponsel ke tas. "Nyanyi aja sana."

Satu jam pertama berjalan normal. Terlalu normal, malah. Galih menyanyikan lagu patah hati dengan nada berantakan. Cici tertawa sampai hampir tersedak. Bu Ratna hanya bertahan tiga puluh menit sebelum pamit karena ada rapat daring dengan redaktur nasional.

Setelah Bu Ratna pergi, beberapa orang dari ruangan sebelah mulai masuk. Mereka teman Dimas, katanya. Anak-anak muda berjam tangan mahal, parfum tajam, tawa keras. Salah satunya langsung membuat ruangan terasa lebih sempit.

Brandon Lie.

Kiara mengenal wajah itu dari beberapa berita gaya hidup. Putra salah satu pemilik grup properti, sering muncul di acara amal, sering juga muncul di gosip klub malam. Tubuhnya tinggi, kemejanya terbuka dua kancing, dan matanya terlalu lama berhenti pada kaki perempuan.

"Wah, anak Kota Barat Post ternyata cantik-cantik," ujar Brandon sambil mengambil gelas dari meja tanpa permisi. "Siapa namamu?"

Pertanyaan itu jelas ditujukan pada Kiara.

Cici yang duduk di sebelah Kiara langsung menjawab, "Dia sudah punya pacar."

Kiara hampir tersedak teh.

Brandon tertawa. "Aku cuma tanya nama. Pacarnya polisi?"

Cici membuka mulut, tapi Kiara lebih cepat menahan lengannya.

"Kiara," jawab Kiara singkat.

"Kiara." Brandon mengulang namanya seperti sedang mencicipi sesuatu. "Nama yang manis."

Kiara tersenyum sopan, lalu mengalihkan pandangan ke panggung kecil. "Permisi, aku mau ke toilet."

Cici langsung berdiri. "Gue ikut."

"Nggak usah. Kamu lanjut nyanyi. Aku sebentar."

Keputusan itu terbukti bodoh dalam waktu kurang dari dua menit.

Lorong menuju toilet lebih remang daripada ruang karaoke. Musik dari beberapa ruangan bercampur menjadi suara berat yang berdenyut di dinding. Kiara baru saja mencuci tangan ketika melihat Brandon berdiri di dekat pintu keluar, bersandar dengan senyum malas.

"Sendirian?"

Kiara menjaga jarak. "Teman-teman saya menunggu."

"Santai. Aku tidak gigit."

Orang yang merasa perlu mengatakan itu biasanya justru berbahaya.

Kiara berusaha melewatinya, tapi Brandon menggeser tubuh dan menutup jalan. Bau alkohol dari napasnya menyentuh wajah Kiara.

"Kamu reporter?" tanyanya.

"Magang."

"Bagus. Reporter suka cerita, kan? Aku punya banyak cerita."

Kiara meremas tali tasnya. "Kalau untuk wawancara, bisa lewat kantor."

Brandon tertawa rendah. "Formal sekali. Aku suka yang begini. Kelihatannya baik-baik, tapi kalau dibawa ke ruangan gelap, biasanya lebih menarik."

Darah Kiara mendingin.

Ia menekan tombol ponsel di dalam tas, membuka perekam suara lewat shortcut yang sengaja ia pasang sejak magang di kriminal. Galih pernah berkata, wartawan tidak boleh mencari bahaya, tapi kalau bahaya datang sendiri, pastikan ada bukti.

"Pak Brandon mabuk," kata Kiara, sengaja membuat suaranya stabil. "Sebaiknya kembali ke ruangan."

"Pak?" Brandon mendecak. "Kamu membuatku terasa tua."

Tangannya bergerak, menyentuh ujung rambut Kiara.

Kiara mundur. Punggungnya hampir menabrak dinding.

"Jangan sentuh saya."

Mata Brandon berubah. Senyumnya tetap ada, tapi sesuatu di baliknya retak.

"Perempuan selalu begitu. Awalnya sok suci. Begitu takut, baru menangis. Suaranya juga sama." Ia mendekat satu langkah. "Dulu ada satu yang teriak terus di klub. Berisik sekali."

Jantung Kiara menghantam tulang rusuk.

Ia tetap menatap Brandon, memastikan ponselnya masih merekam.

"Apa maksudnya?"

Brandon tertawa, kali ini lebih pelan. "Aku cuma menutup mulutnya. Salahnya sendiri melawan. Setelah itu semua orang ribut, bilang dia hilang, bilang dia dibunuh." Ia menunduk ke dekat telinga Kiara. "Padahal kalau dia diam, mungkin aku tidak perlu membuatnya diam selamanya."

Mual naik ke tenggorokan Kiara.

Ini bukan sekadar pelecehan.

Ini pengakuan.

Kiara memaksa tangannya tidak gemetar. "Anda membunuh dia?"

Brandon menatapnya dengan mata berkabut alkohol. "Kamu mau menulis itu?"

"Saya mau lewat."

"Belum."

Tangannya mencengkeram pergelangan Kiara.

Rasa sakit menyengat. Kiara menarik tangan, tapi cengkeraman Brandon lebih kuat. Di ujung lorong, seorang pelayan berhenti, ragu-ragu. Musik dari ruangan sebelah melonjak, menelan suara Kiara ketika ia berkata lebih keras, "Lepaskan saya."

Brandon malah tersenyum. "Gadis kecil, kamu pikir siapa yang akan percaya padamu?"

Pintu ruang karaoke terbuka. Cici muncul dengan wajah panik.

"Ki!"

Brandon menoleh sebentar. Kesempatan itu dipakai Kiara untuk menghentakkan lututnya ke kaki Brandon. Cengkeramannya longgar. Kiara mundur, tapi Brandon mengumpat dan menariknya lagi, kali ini ke arah dadanya.

"Jangan sok berani!"

Beberapa orang keluar dari ruangan. Dimas mematung. Galih berlari mendekat. Pelayan tadi akhirnya memanggil security lewat handy talky.

Kiara masih menggenggam ponsel di dalam tas. Rekaman itu harus selamat.

Brandon mengangkat tangan, entah untuk menampar atau menarik rambutnya.

Sebelum tangan itu menyentuh Kiara, seseorang mencengkeram pergelangan Brandon dari belakang.

Gerakannya cepat. Keras. Brandon terhuyung mundur dan membentur dinding.

Lorong yang semula ribut mendadak sunyi.

Kiara mengangkat kepala.

Rayhan berdiri di sana dengan seragam dinas yang belum sempat ia ganti. Bahunya lebar menutup cahaya lorong, rahangnya mengeras, dan matanya tidak lagi dingin.

Matanya seperti pisau.

"Siapa," kata Rayhan pelan, satu per satu, "yang berani menyentuhmu?"

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!