Mawar di Pinggangnya

Mawar di Pinggangnya

Episode 1

Bab 001

Suami yang Tak Kukenal

"Ki, pulang bareng gue aja. Udah malam."

Kiara Song baru saja mematikan komputer kantor ketika Cici muncul dari balik sekat meja dengan ransel menggantung di satu bahu. Ruang redaksi Kota Barat Post tinggal menyisakan lampu putih yang terlalu terang, gelas kopi kosong, dan suara pendingin ruangan yang berdengung seperti orang kelelahan.

"Nggak usah, Ci." Kiara memasukkan notes kecil, pulpen, dan ponsel ke tote bag kanvasnya. "Aku dijemput."

Alis Cici langsung naik.

"Dijemput siapa?"

Pertanyaan itu membuat jari Kiara tersangkut sebentar pada resleting tas. Di layar ponselnya, notifikasi WhatsApp dari nomor yang tidak pernah memakai foto profil muncul singkat.

Rayhan Tan:

Aku di depan.

Hanya tiga kata. Tanpa emotikon. Tanpa panggilan sayang. Bahkan tanpa tanda tanya.

Tiga kata itu tetap membuat dada Kiara seperti diketuk dari dalam.

"Tetangga," jawab Kiara cepat.

Cici memicingkan mata. "Tetangga yang tiap malam bisa muncul tepat waktu kayak sopir pribadi?"

"Kebetulan aja."

"Kebetulan terus selama enam bulan?"

Kiara pura-pura tidak mendengar. Ia mengambil kartu pers magang dari meja, lalu melirik tumpukan tagihan rumah sakit yang tadi sengaja ia lipat kecil dan simpan di sela notes. Nama Kevin Song tercetak jelas di bagian atas. Empat tahun koma, empat tahun angka di kertas itu terus tumbuh, seperti tanaman liar yang tidak pernah mati.

Sebelum Rayhan masuk ke hidupnya, setiap dering telepon dari rumah sakit selalu membuat lutut Kiara lemas. Sebelum Rayhan, setiap suara motor berhenti di depan kontrakan membuatnya takut Pak Song atau penagih utang kembali datang.

Lalu enam bulan lalu, di sebuah ruang kecil di Rumah Besar keluarga Tan, Rayhan berdiri di sampingnya dengan kemeja putih dan wajah sedingin kaca.

Pemberkatan sederhana. Opa Tan sebagai saksi. Kevin terbaring di rumah sakit, hanya namanya yang disebut dengan suara berat oleh pendeta. Setelah itu, Kiara menjadi istri Rayhan Tan.

Istri secara agama.

Rahasia bagi dunia.

Dan orang asing di rumah sendiri.

"Ki?" Cici melambaikan tangan di depan wajahnya. "Lo pucat. Mau gue pesenin Grab?"

Kiara tersenyum kecil. "Beneran nggak apa-apa. Kamu pulang duluan. Besok kan masih harus ikut rapat Bu Ratna."

Cici tampak belum puas, tapi akhirnya menghela napas. "Oke. Tapi kalau tetangga misterius itu nyebelin, chat gue. Gue siap jadi saksi hidup."

Kiara hampir tertawa. "Saksi apa?"

"Saksi kalau lo diculik cowok ganteng."

Panas naik ke pipi Kiara sebelum ia sempat menahannya. Ia cepat-cepat mematikan lampu meja dan berjalan keluar. Di lift, bayangannya di pintu stainless tampak kecil dengan blus krem murah, rok hitam, dan rambut yang diikat asal. Di pinggang kirinya, tersembunyi di balik kain, ada rahasia lama yang kadang terasa lebih panas setiap kali nama Rayhan disebut.

Rahasia yang bahkan suaminya sendiri tidak tahu.

Lobi kantor sudah sepi. Satpam mengangguk ketika Kiara lewat. Di luar, hujan tipis baru saja berhenti, meninggalkan bau aspal basah dan lampu jalan yang memantul di genangan kecil.

Fortuner hitam berhenti tepat di bawah kanopi.

Kiara mengenali mobil itu bahkan sebelum kaca depannya turun. Mobil itu terlalu bersih untuk seseorang yang bekerja di unit reskrim. Terlalu mahal untuk seorang polisi biasa. Tapi Rayhan memang tidak pernah benar-benar bisa disederhanakan hanya dengan satu kata.

Ia polisi.

Ia cucu Opa Tan.

Ia pria yang menandatangani hidup Kiara tanpa pernah menyentuhnya.

Pintu sisi penumpang terbuka dari dalam.

"Masuk," kata Rayhan.

Suara itu rendah. Tidak keras, tapi cukup membuat Kiara otomatis melangkah.

Rayhan masih memakai seragam dinas cokelat. Lengan bajunya digulung sampai siku, memperlihatkan garis otot di bawah kulit sawo matang. Rambutnya sedikit basah, mungkin karena hujan atau karena ia baru pulang dari lapangan. Wajahnya campuran tajam yang selalu membuat orang lain menoleh, rahang tegas, hidung tinggi, mata gelap yang seperti selalu tahu lebih banyak dari yang ia ucapkan.

Kiara duduk, menarik sabuk pengaman, lalu menyadari Rayhan menatap tangannya.

"Kamu gemetar."

"AC kantor dingin."

Rayhan tidak langsung menyalakan mobil. Matanya turun ke tote bag Kiara yang terbuka sedikit, ke sudut kertas tagihan yang menyembul.

Kiara cepat-cepat menutup tasnya.

"Aku sudah transfer ke RS Harapan sore tadi," kata Rayhan.

Jantung Kiara jatuh pelan.

"Kak Rayhan..." Suaranya mengecil. "Aku kan sudah bilang, gaji magangku masuk minggu depan. Tagihan Kak Kevin biar aku cicil."

"Kevin tanggung jawabku juga."

Kiara menoleh. "Kenapa?"

Pertanyaan itu keluar lebih cepat dari pikirannya.

Rayhan menatap jalan di depan mereka. Hujan meninggalkan garis air di kaca. Wiper bergerak sekali, lambat, seperti memotong hening di antara mereka.

"Karena dia teman satu angkatanku."

Jawaban itu masuk akal. Terlalu masuk akal sampai Kiara tidak punya alasan untuk kecewa.

Tentu saja karena Kevin.

Bukan karena dia.

Kiara menunduk, memainkan ujung lengan blusnya. "Terima kasih."

Rayhan akhirnya menjalankan mobil. Sepanjang jalan menuju Perumahan Graha Perwira, mereka hanya ditemani suara ban di atas aspal basah dan siaran radio yang volumenya sangat kecil. Kiara ingin bertanya apakah Rayhan sudah makan. Ingin berkata bahwa ia melihat bekas luka baru di punggung tangan Rayhan. Ingin tahu kenapa pria itu selalu tahu jam pulangnya, tapi hampir tidak pernah bertanya tentang harinya.

Namun seperti biasa, semua pertanyaan itu berhenti di tenggorokan.

Di mata orang lain, Rayhan Tan mungkin suami yang sempurna. Ia menjemput, membayar tagihan, memberi rumah aman di cluster dengan security dua puluh empat jam. Ia tidak pernah membentak. Tidak pernah memaksa. Tidak pernah mempermalukan Kiara.

Tapi di dalam rumah besar mereka yang terlalu rapi, ada dua kamar tidur yang selalu tertutup.

Ada meja makan yang sering hanya dipakai satu orang.

Ada status suami istri yang terasa seperti jas hujan, melindungi dari luar, tetapi dingin menempel di kulit.

Ketika mobil masuk ke garasi rumah, jam di dashboard menunjukkan pukul sepuluh lewat dua puluh. Kiara turun lebih dulu. Udara malam Perumahan Graha Perwira berbau rumput basah dan bunga kamboja dari taman depan. Rumah itu menyala hangat, tetapi setiap kali Kiara berdiri di depannya, ia masih merasa seperti tamu yang terlalu lama menginap.

Rayhan membuka pintu utama dengan kartu akses, lalu menyalakan lampu foyer.

"Aku mandi dulu," kata Kiara.

Ia baru melangkah dua anak tangga ketika suara Rayhan menghentikannya.

"Kiara."

Kiara menoleh. "Iya?"

Rayhan berdiri di bawah tangga, satu tangan masih memegang kunci mobil. Tatapannya naik ke wajah Kiara, lalu turun sebentar ke bibirnya yang tanpa sadar ia gigit sejak tadi.

"Kamu belum makan, kan?"

Kiara membeku.

"Aku makan roti di kantor."

"Jam berapa?"

Kiara diam.

Rayhan melepas jam tangan, meletakkannya di meja dekat pintu, lalu berjalan mendekat. Jarak mereka tinggal dua anak tangga. Posisi itu membuat wajah Kiara hampir sejajar dengan wajahnya. Terlalu dekat. Aroma hujan, sabun maskulin, dan sedikit bau kopi pahit dari tubuh Rayhan membuat napas Kiara tersangkut.

Ia mundur setengah langkah, tetapi tumitnya menyentuh anak tangga berikutnya.

Rayhan mengangkat tangan.

Kiara refleks menahan napas.

Jari Rayhan tidak menyentuh wajahnya. Hanya berhenti di sisi pipinya, mengambil sehelai rambut yang menempel basah di sana, lalu melepaskannya dengan hati-hati.

"Ganti baju," katanya pelan. "Aku masak."

"Kak Rayhan nggak perlu..."

"Perlu."

Satu kata itu jatuh rendah, tegas, dan anehnya hangat.

Kiara menatapnya, lupa bagaimana caranya berkedip.

Rayhan sedikit menunduk. Bayangannya menutup cahaya lampu di belakang Kiara, membuat dunia di sekeliling mereka mengecil hanya menjadi napas dan detak jantung.

"Kamu belum makan, kan?"

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!