Episode 5

Bab 005

Kasus Pembunuhan

Kenapa jantungku...

Kiara tidak sempat menyelesaikan pertanyaan itu, bahkan di dalam kepalanya sendiri.

Rayhan melepaskan pelukan lebih dulu, pelan, seolah takut gerakan mendadak bisa membuatnya pecah lagi. Ia tidak bertanya kenapa Kiara menangis. Tidak menyuruhnya berhenti. Tidak mengatakan kalimat kosong seperti semua sudah lewat.

Ia hanya mengambil kotak P3K dari lemari ruang tamu, lalu duduk di hadapannya.

"Tangan."

Kiara menyerahkan pergelangan tanpa melawan. Bekas cengkeraman Brandon tampak makin merah. Rayhan membersihkannya dengan kapas dingin. Sentuhannya ringan, tetapi wajahnya tetap gelap.

"Sakit?"

"Sedikit."

"Kalau besok lebam, kita visum."

Kata visum membuat perut Kiara mencelos.

Rayhan mengangkat wajah. "Bukan untuk menakutimu. Untuk bukti. Kamu boleh menolak kalau belum siap."

Kiara menatapnya. Di wajah itu, ia tidak menemukan paksaan. Hanya keseriusan yang memberinya ruang untuk bernapas.

"Aku siap," katanya pelan. "Dia bukan cuma menyentuhku. Dia mungkin benar-benar membunuh seseorang."

Rayhan menutup plester di pergelangan Kiara. "Karena itu besok kamu datang ke Polda. BAP akan diambil polwan. Aku tidak akan menekanmu."

"Kak Rayhan yang menangani?"

"Aku pimpin penyelidikan awal." Ia menyimpan kapas bekas ke plastik kecil. "Tapi keteranganmu akan diambil Sari. Aku terlalu dekat dengan saksi."

Terlalu dekat.

Kata itu menempel di dada Kiara lebih lama daripada seharusnya.

Keesokan paginya, Kiara tiba di Polda Kota Barat dengan lingkar mata yang sulit disembunyikan. Rayhan mengantarnya, tetapi begitu masuk gedung, ia berubah menjadi seseorang yang berbeda. Bahunya tegak. Langkahnya cepat. Setiap anggota yang lewat memberi hormat atau menyapa, "Pagi, Pak Rayhan."

Kiara berjalan setengah langkah di belakangnya, merasa kecil di antara dinding abu-abu, papan informasi kasus, dan suara telepon kantor yang tak berhenti berdering.

Di ruang tunggu unit reskrim, seorang polwan berambut pendek mendekat dengan senyum tenang.

"Kiara Song?"

Kiara mengangguk.

"Saya Sari. Nanti saya yang ambil keterangan kamu. Kita pelan-pelan saja, ya. Kalau perlu berhenti, bilang."

Suara Sari membuat bahu Kiara sedikit turun. Ia melirik Rayhan. Pria itu berdiri di samping meja penyidik, membaca laporan sementara dari Aldi.

Aldi, yang kemarin malam masih memanggilnya Mbak, kini langsung menegakkan badan. "Pak, rekaman sudah disalin. CCTV juga sudah diamankan dari pengelola. Ada kamera yang menangkap Brandon mengikuti Mbak Kiara ke lorong."

"Saksi?"

"Pelayan dan security siap datang siang ini. Galih juga bersedia memberi keterangan."

Rayhan mengangguk. "Kirim salinan ke jaksa pendamping setelah lengkap. Dan cek ulang laporan perempuan hilang yang pernah dekat dengan Brandon."

Kiara mendengar semuanya sambil duduk di depan Sari. Ketika rekamannya diputar, suara Brandon memenuhi ruangan kecil.

Aku cuma menutup mulutnya.

Kalau dia diam, mungkin aku tidak perlu membuatnya diam selamanya.

Jari Kiara mengepal di pangkuan.

Sari segera menghentikan audio. "Mau minum dulu?"

Kiara menggeleng. "Lanjut saja, Bu."

"Panggil Sari saja." Sari tersenyum tipis. "Kamu kuat, tapi tidak harus kelihatan kuat setiap detik."

Kalimat itu hampir membuat mata Kiara panas. Ia menunduk, lalu mulai menjawab pertanyaan satu per satu. Jam berapa ia tiba. Siapa saja yang hadir. Kapan Brandon mendekat. Bagaimana ia merekam. Di bagian cengkeraman tangan, Sari memotret bekas merah itu sebagai bukti luka ringan dan menanyakan apakah Kiara bersedia visum.

Kiara menatap pintu kaca. Di luar, Rayhan sedang berbicara dengan seorang anggota. Di dada seragamnya ada papan nama dan angka NRP yang dicetak rapi.

"NRP itu penting, ya?" tanya Kiara tiba-tiba.

Sari mengikuti arah pandangnya, lalu tersenyum kecil. "Itu identitas polisi. Nomor yang melekat seumur karier. Kalau kami menandatangani laporan, bersaksi, atau bertanggung jawab atas tindakan, nomor itu ikut bicara."

Kiara mengingat cara Rayhan semalam berdiri di depannya.

Seolah seluruh identitasnya memang digunakan untuk satu hal, memastikan seseorang tidak bisa menyentuhnya lagi.

Setelah BAP selesai, Kiara keluar dari ruangan dengan kepala sedikit pening. Rayhan langsung berdiri dari kursi tunggu.

"Selesai?"

"Selesai."

"Makan dulu."

Kiara hampir tertawa lemah. "Kak Rayhan, aku baru keluar dari BAP."

"Justru itu."

Sari menyusul dari ruang pemeriksaan sambil membawa map tipis. "Kiara, ini salinan tanda terima barang bukti digital. Rekaman asli tetap di ponsel kamu, tapi salinannya sudah kami buat dan diberi nomor. Jangan hapus file apa pun sampai penyidik bilang boleh."

Kiara menerima kertas itu dengan kedua tangan. Ada nomor perkara sementara, jam pengambilan keterangan, dan tanda tangan Sari di bagian bawah. Hal-hal yang semalam terasa seperti mimpi buruk kini berubah menjadi tinta, stempel, dan prosedur.

"Kalau ada nomor asing menghubungi, jangan balas," tambah Sari. "Screenshot, kirim ke saya atau Pak Rayhan."

Ponsel Kiara bergetar lagi. Kali ini pesan dari Cici.

Cici:

Lo udah selesai BAP? Gue di kantor tapi nggak fokus kerja. Kalau perlu ditemenin, gue cabut sekarang.

Cici:

Dan Ki, serius, lo keren banget semalam. Gue masih gemeter, tapi lo sempat rekam dia.

Kiara menatap pesan itu sampai matanya panas. Untuk pertama kalinya sejak kejadian semalam, ia tidak merasa sendirian di tengah prosedur dingin kantor polisi.

Kiara:

Aku aman. Nanti aku kabari.

Sebelum Kiara menjawab, ponselnya berdering. Nama Bu Ratna muncul di layar.

Kiara mengangkat dengan cemas. "Bu, maaf soal semalam..."

"Kamu tidak perlu minta maaf karena menjadi korban," potong Bu Ratna tegas. "Saya sudah bicara dengan Galih. Kamu merekam pengakuan Brandon?"

"Iya, Bu."

"Kerja jurnalistikmu berisiko, tapi instingmu benar. Untuk sementara jangan tulis apa pun sampai polisi memberi izin. Tapi setelah kasus ini aman, saya mau kamu ikut tim kriminal. Bukan sebagai pembawa kopi."

Kiara membeku. "Maksud Bu Ratna..."

"Maksud saya, kamu punya kepala dingin. Kota Barat Post butuh itu. Istirahat hari ini. Besok kita bicara di kantor."

Telepon terputus.

Kiara menatap layar, masih tidak percaya.

"Apa katanya?" tanya Rayhan.

"Bu Ratna... mau aku ikut tim kriminal."

Untuk pertama kalinya sejak masuk Polda pagi itu, wajah Rayhan sedikit melunak. "Selamat."

Satu kata lagi. Pendek. Tapi kali ini Kiara tidak kecewa. Ia tahu dari cara Rayhan menatapnya, kata itu bukan sekadar sopan.

Aldi muncul dari ujung lorong. "Pak, Brandon dibawa ke ruang pemeriksaan dua. Pengacaranya sudah datang."

Rayhan mengangguk. "Saya ke sana."

Mereka melewati lorong yang sama. Kiara seharusnya menunggu di ruang tamu, tetapi pintu ruang pemeriksaan terbuka tepat ketika Brandon dibawa masuk oleh dua anggota. Wajah pria itu lebih pucat daripada semalam, tapi senyumnya tetap membuat kulit Kiara meremang.

Matanya langsung menemukan Kiara.

"Kau pikir satu rekaman cukup menjatuhkan aku?" Brandon berkata, suaranya serak. "Kau akan menyesal, gadis kecil."

Rayhan berhenti.

Udara di lorong seperti turun beberapa derajat.

Brandon tersenyum lebih lebar, menatap Kiara tanpa berkedip.

"Aku ingat wajahmu sekarang."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!