Episode 2

Bab 002

Tatapan Asing

Ujung malam itu ternyata berkilau seperti pisau.

Mobil Ci Lucy berhenti di depan hotel bintang lima di kawasan SCBD tepat pukul delapan kurang sepuluh. Dari balik kaca, Kiara melihat karpet merah membentang di bawah lampu-lampu kamera. Wartawan infotainment berbaris di sisi pembatas, para tamu turun dari mobil mewah dengan senyum yang sudah dilatih, sementara petugas keamanan berjas hitam berdiri di setiap pintu.

Jakarta di malam hari selalu punya cara untuk terlihat cantik, bahkan saat siap menelan seseorang hidup-hidup.

"Kamu masih bisa berubah pikiran," ucap Ci Lucy dari kursi depan.

Kiara menatap undangan hitam keemasan di pangkuannya. Nama acaranya tercetak rapi, gala apresiasi insan film nasional. Dalam novel, kalimat-kalimat tentang acara ini ia baca sambil setengah mengantuk. Sekarang, bau parfum mahal dan suara kamera membuat semuanya terasa terlalu nyata.

"Kalau aku tidak datang, mereka akan tetap membicarakanku," jawab Kiara pelan.

Ci Lucy menoleh. Wajah manajer itu tidak selembut Lina, tapi matanya jauh lebih jujur.

"Kamu sempat pingsan pagi ini?"

Kiara terdiam.

"Mukamu pucat sekali." Ci Lucy menahan napas, lalu mengambil lipstik dari tas kecilnya. "Oke. Kalau begitu jangan berdiri terlalu lama. Jangan minum apa pun dari orang asing. Kalau ada yang memancing, senyum saja. Kita tidak punya tim PR sebesar Wenny."

Kiara menerima lipstik itu dan mengulas sedikit di bibirnya.

Warna merah muda membuat wajah di cermin kecil tampak lebih hidup.

"Aku tidak akan membuat keributan," katanya.

Ci Lucy memandangnya sejenak. "Itu yang justru membuatku takut. Kiara yang dulu pasti menangis duluan."

Kiara menutup cermin.

"Mungkin aku sudah capek menangis."

Mereka turun dari mobil.

Begitu nama Kiara terdengar dari salah satu wartawan, bisik-bisik langsung merambat seperti api kecil. Beberapa kamera berbalik. Ada yang memanggil namanya, ada yang sengaja menyebut Wenny lebih keras, ada pula yang bertanya soal kontrak endorsement yang katanya direbut.

Kiara berjalan pelan di samping Ci Lucy. Gaun satin warna champagne yang dipinjamkan manajernya terasa dingin di kulit. Tidak terlalu mencolok, tapi cukup anggun untuk membuat orang-orang sadar bahwa ia tidak datang sebagai gadis yang kalah.

"Kiara, benar kamu iri pada Wenny?"

"Apa keluarga Tanuwijaya melarang kamu datang malam ini?"

"Katanya kamu ribut dengan kakakmu sendiri?"

Langkah Kiara berhenti sebentar.

Ci Lucy meremas lengannya, memberi peringatan tanpa suara.

Kiara menoleh ke arah kamera paling dekat. Bibirnya melengkung tipis.

"Malam ini acara film, bukan ruang makan keluarga saya," ucapnya lembut. "Saya datang untuk menghormati para pekerja film."

Beberapa wartawan terdiam sepersekian detik.

Lalu lampu kamera menyala lebih cepat.

Di ambang pintu ballroom, Wenny sudah berdiri bersama Lina. Gaun putihnya berkilau seperti embun, wajahnya tersenyum manis, tangan Lina bertumpu akrab di punggungnya. Keduanya tampak seperti ibu dan putri yang sempurna.

Begitu melihat Kiara, senyum Wenny membeku sesaat.

"Kiara?" Wenny segera mendekat, suaranya cukup keras untuk didengar orang sekitar. "Kamu datang juga? Aku kira kamu sedang kurang sehat."

Kiara menatap tangan Wenny yang seolah ingin menggenggamnya.

Ia mundur setengah langkah.

Gerakan kecil itu membuat Wenny terlihat canggung. Beberapa tamu mulai melirik.

"Aku memang kurang sehat," kata Kiara. "Tapi belum sampai tidak bisa berdiri."

Wenny tertawa kecil, terlalu ringan. "Kamu ini. Aku cuma khawatir."

"Terima kasih."

Hanya dua kata. Sopan, dingin, dan tidak memberi celah.

Wenny tampak ingin mengatakan sesuatu lagi, tetapi suara di pintu utama membuat semua orang menoleh.

Keramaian yang sejak tadi berisik mendadak menipis, seperti ada tangan tak terlihat yang menekan udara.

Seorang pria masuk ke ballroom.

Setelan hitamnya sederhana, tapi justru membuat orang lain terlihat berlebihan. Tinggi, wajah tajam, kulit pucat di bawah cahaya lampu, mata gelap yang tidak perlu mencari perhatian karena perhatian seluruh ruangan sudah jatuh padanya. Di belakangnya, seorang asisten muda berjalan setengah langkah lebih jauh dengan ekspresi tertutup.

Rayhan Purnawan.

Nama itu muncul di kepala Kiara seperti alarm.

Dalam novel, pria ini bukan pangeran penyelamat. Ia adalah lubang hitam. Orang yang tersenyum pada rapat bisnis sambil membuat lawannya kehilangan segalanya sebelum makan malam selesai. Pewaris Purnawan Group yang bahkan para pengusaha senior pun tidak berani panggil dengan nama depan.

Kiara pernah membaca adegan-adegan tentangnya.

Keji. Dingin. Tidak punya belas kasihan.

Tapi saat mata pria itu berhenti pada dirinya, semua kata dalam ingatan Kiara mendadak kehilangan bentuk.

Rayhan tidak melihat Wenny.

Tidak melihat Lina.

Tidak melihat para sosialita yang berusaha tampak tenang.

Ia hanya melihat Kiara.

Tatapannya tidak dingin.

Justru terlalu lembut.

Seperti seseorang yang akhirnya menemukan barang paling berharga setelah kehilangan begitu lama. Seperti ia takut jika berkedip, Kiara akan menghilang dari hadapannya.

Dada Kiara berdenyut nyeri.

Jantungnya berdetak cepat, lebih cepat dari suara kamera, lebih cepat dari langkah Rayhan yang kini mendekat.

"Bos," bisik asisten di belakangnya, nyaris tak terdengar. "Pak Gunawan menunggu di ruang VIP."

Rayhan tidak menjawab.

Ia berhenti tepat di depan Kiara.

Aroma kayu cendana yang samar menyentuh hidungnya. Bersih, dingin, dan entah kenapa membuat lutut Kiara hampir kehilangan tenaga.

Kiara tahu ia harus menunduk sopan. Atau menyapa dengan jarak aman. Atau pura-pura tidak mengenal nama besar di hadapannya.

Tetapi tatapan itu menahan semua geraknya.

Rayhan mengulurkan tangan.

Di telapak tangannya, ada anting kecil milik Kiara yang rupanya terlepas entah sejak kapan.

"Punyamu," katanya.

Suaranya rendah.

Kiara menerima anting itu. Ujung jarinya tanpa sengaja menyentuh kulit Rayhan yang dingin.

Napasnya tersangkut.

"Terima kasih, Pak Rayhan."

Mata Rayhan sedikit berubah saat mendengar panggilan itu. Bukan marah. Lebih seperti terluka oleh jarak yang terlalu jauh.

"Rayhan saja."

Bisik-bisik di sekitar mereka langsung pecah lebih halus. Wenny menatap dengan wajah yang hampir tidak sempat ia rapikan. Lina juga membeku.

Kiara menggenggam anting itu sampai menusuk telapak tangannya.

Pria di depannya adalah villain. Ia harus mengingat itu.

Namun Rayhan menatapnya seolah seluruh ballroom lenyap, seolah tidak ada dunia lain selain dirinya.

"Kamu datang," ucapnya pelan.

Kiara mengangkat wajah.

"Anda menunggu saya?"

Untuk pertama kalinya malam itu, sudut bibir Rayhan bergerak sedikit.

Senyum itu terlalu indah untuk seseorang yang seharusnya kejam.

"Lebih lama dari yang kamu kira."

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!