Episode 5

Bab 005

Panggil Aku Koko

Pergantian asisten sutradara terjadi begitu cepat sampai seluruh studio seperti kehilangan suara.

Pria yang tadi membentak Santi diminta keluar oleh line producer. Tidak ada penjelasan kepada kru, tapi semua orang tahu ada tangan besar yang baru saja menekan produksi ini. Setelah itu, gaun Kiara diganti, kabel dirapikan, dialognya dikembalikan, dan staf medis membalut pergelangan tangannya dengan perban elastis tipis.

Semuanya terlalu rapi.

Terlalu cepat.

Ketika syuting selesai menjelang sore, Kiara keluar dari studio lewat pintu samping bersama Santi. Udara luar terasa lembap setelah berjam-jam berada di bawah lampu studio. Pergelangan tangannya masih berdenyut, tapi bukan rasa sakit itu yang membuat langkahnya melambat.

Di area parkir belakang, sebuah Bentley hitam menunggu.

Santi berhenti duluan. "Kak..."

Pintu mobil terbuka.

Rayhan Purnawan keluar dari kursi belakang.

Setelan hitamnya berbeda dari tadi malam, lebih sederhana, tapi tetap membuat tempat parkir studio yang panas dan berdebu terlihat tidak pantas untuk disentuh sepatunya. Adi berdiri tidak jauh dari mobil, menjaga jarak seperti bayangan yang tahu kapan harus menghilang.

Kiara menelan ludah.

"Pak Rayhan."

Alis Rayhan bergerak sangat tipis.

Ia tidak langsung menjawab. Tatapannya turun ke pergelangan tangan Kiara yang diperban, lalu wajahnya menjadi lebih dingin. Bukan dingin pada Kiara. Justru karena dingin itu tidak ditujukan padanya, Kiara merasakan bahaya yang lebih jelas.

"Sakit?"

Pertanyaan itu sederhana.

Tapi suara Rayhan begitu pelan sampai Santi yang berdiri di samping Kiara otomatis menunduk, seolah mereka sedang berada di depan seseorang yang tak boleh dijawab sembarangan.

"Sedikit," jawab Kiara.

Rayhan mengulurkan tangan. "Lihat."

Kiara refleks menyembunyikan tangannya ke belakang.

Gerakan itu membuat mata Rayhan berhenti.

Untuk sesaat, udara di antara mereka menegang.

Kiara sendiri tidak tahu kenapa ia mundur. Mungkin karena orang di depannya adalah villain yang ia baca dalam novel. Mungkin karena sejak semalam, pria ini terlalu mudah menembus jarak yang ia pasang. Atau mungkin karena jika Rayhan menyentuhnya dengan hati-hati, ia takut tubuh ini akan bereaksi lebih jujur dari mulutnya.

Rayhan tidak memaksa.

Ia hanya menurunkan tangannya, lalu berkata pada Adi, "Dokter."

Adi segera mengangguk. "Sudah di perjalanan, Bos."

"Tidak perlu," kata Kiara cepat. "Ini cuma memar."

Rayhan melihatnya.

"Kamu selalu menganggap sakitmu kecil?"

Kiara terdiam.

Kalimat itu tidak terdengar seperti teguran. Lebih seperti seseorang yang sudah terlalu lama melihatnya terluka dan tidak tahan lagi.

Santi menatap Kiara, lalu Rayhan, lalu cepat-cepat memeluk tasnya. Gadis itu jelas ingin bertanya banyak hal, tapi naluri bertahan hidupnya bekerja baik.

"Kak Kiara, aku ambil barang di ruang tunggu dulu, ya," ucap Santi mendadak.

Sebelum Kiara menjawab, Santi sudah mundur.

Pengkhianatan kecil itu membuat Kiara hampir tertawa, kalau saja ia tidak terlalu gugup.

Tinggallah ia dan Rayhan di bawah bayangan gedung studio.

Rayhan mengambil satu langkah mendekat. Tidak banyak, hanya cukup untuk membuat aroma kayu cendana itu kembali menyentuh napas Kiara.

"Kabel itu tidak seharusnya ada di jalurmu."

Kiara mengangkat wajah. "Anda lihat?"

"Aku melihat semuanya."

Jantung Kiara berdenyut lebih keras.

Ada sesuatu yang tidak normal dalam kalimat itu. Seharusnya ia marah karena diawasi. Seharusnya ia bertanya kenapa Rayhan punya akses ke rekaman studio. Seharusnya ia menjaga jarak dari pria yang bisa mengganti asisten sutradara hanya dengan satu instruksi.

Tapi bagian paling lemah dalam dirinya justru mengingat bagaimana semua orang tiba-tiba berhenti menyalahkannya setelah telepon itu datang.

"Jadi, tadi itu karena Anda?"

"Karena mereka menyakitimu."

Kiara kehilangan kata.

Rayhan mengatakannya dengan begitu wajar, seolah seluruh sistem produksi memang boleh dibalik hanya karena pergelangan tangan Kiara memerah.

"Saya bukan siapa-siapa bagi Anda," ucap Kiara pelan.

Wajah Rayhan berubah.

Hanya sedikit, tapi cukup membuat Kiara melihat sesuatu yang dalam dan gelap melintas di matanya.

"Jangan bilang begitu."

Suara itu rendah.

Tidak keras, tapi tubuh Kiara menurut sebelum pikirannya sempat menolak. Ia menggenggam tali tasnya, berusaha mengabaikan panas yang mulai naik ke pipi.

"Pak Rayhan..."

"Rayhan."

"Koh Rayhan?"

Kata itu keluar sebelum Kiara benar-benar memikirkannya. Begitu sadar, telinganya langsung panas. Dalam lingkaran Tionghoa-Indonesia, panggilan itu tidak seformal `Pak`, tapi juga tidak terlalu berani. Aman, pikirnya.

Ternyata tidak aman sama sekali.

Tatapan Rayhan menggelap sedikit.

"Koko."

Kiara berkedip. "Apa?"

"Panggil aku Koko."

Ia hampir tersedak udara.

"Itu terlalu..."

"Intim?" Rayhan menyelesaikan kalimatnya.

Kiara memalingkan wajah. "Kita baru bertemu semalam."

"Menurutmu begitu."

Lagi.

Kalimat-kalimat seperti itu.

Seolah ada bagian cerita yang hanya Rayhan ingat, sementara Kiara berdiri di tengah halaman yang hilang.

Ia memaksa diri kembali tenang. "Saya belum bisa memanggil Anda seperti itu."

Rayhan tidak marah.

Justru sudut bibirnya bergerak tipis, seperti ia menyukai keberanian kecil itu.

"Kalau begitu pelan-pelan."

"Apa maksudnya?"

"Hari ini Koh Rayhan. Besok Koko."

Kiara menatapnya tidak percaya.

Pria ini benar-benar bernegosiasi soal panggilan seolah sedang membeli perusahaan.

"Anda selalu seperti ini?"

"Ke orang lain, tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Kiara menggigit bibir. Rasa panas di pipinya makin jelas. Ia benci karena tubuh ini mudah sekali bereaksi, dan lebih benci lagi karena Rayhan melihat semuanya.

Dokter pribadi yang dipanggil Adi tiba beberapa menit kemudian. Kiara akhirnya menyerah membiarkan pergelangan tangannya diperiksa di kursi belakang Bentley, sementara Rayhan berdiri di samping pintu terbuka, menghalangi pandangan orang-orang dari luar.

Gestur itu kecil.

Tapi Kiara tahu, ia sedang ditutupi.

Dilindungi.

Dimiliki sedikit demi sedikit oleh tatapan yang bahkan tidak perlu menyentuhnya.

Setelah dokter memastikan tidak ada retak, Rayhan mengambil salep dari kotak medis. Ia tidak mengoleskannya sendiri, mungkin karena melihat Kiara masih tegang. Ia hanya menyerahkan tube kecil itu ke tangan Kiara yang sehat.

"Kompres malam ini. Jangan kena air."

"Baik."

"Makan sebelum minum obat."

"Saya tahu."

"Kirim pesan setelah sampai rumah."

Kiara menatapnya. "Saya tidak punya nomor Anda."

Rayhan melirik Adi.

Adi, dengan wajah datar seorang profesional yang sudah terlalu sering melihat hal aneh, menyerahkan ponsel Kiara yang entah kapan diminta dari Santi. Kontak baru sudah tersimpan di layar.

Koko Rayhan.

Kiara mematung.

Rayhan menunduk sedikit, cukup dekat untuk membuat suaranya jatuh tepat di telinganya.

"Sekarang punya."

Ponsel itu terasa panas di tangan Kiara.

Sebelum ia sempat protes, layar menyala oleh pesan masuk pertama.

Koko Rayhan: Jangan lupa tanganmu, Sayang.

Kiara menatap kata terakhir itu sampai jantungnya kacau.

Saat ia mengangkat wajah, Rayhan masih berdiri di depannya, tenang, lembut, dan sangat berbahaya.

Seperti monster yang baru saja belajar tersenyum hanya untuknya.

Terpopuler

Comments

penggemar_Uangkecil?!

penggemar_Uangkecil?!

👍👍

2026-08-14

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!