Episode 4

Bab 004

Gadis Kecil yang Disakiti

Pagi berikutnya, rasa sedang dijaga itu hilang digantikan oleh udara panas lokasi syuting.

Kiara berdiri di belakang set sebuah iklan minuman kesehatan di studio Jakarta Barat, memegang naskah yang baru saja dicoret tiga halaman oleh asisten sutradara. Semula ia punya lima dialog. Sekarang tersisa satu kalimat, itu pun diucapkan sambil berjalan melewati pemeran utama.

"Ini perubahan mendadak?" tanya Santi pelan di sampingnya.

Asisten pribadi itu membawa kipas kecil dan botol air mineral, wajahnya tegang sejak mereka tiba. Ia belum lama bekerja untuk Kiara, tapi cukup lama untuk tahu bahwa setiap kali nama Wenny muncul di lokasi yang sama, keadaan Kiara selalu memburuk.

Kiara menatap kertas di tangannya.

Tinta merah memenuhi naskah seperti luka.

"Tidak apa-apa," katanya. "Satu kalimat juga tetap harus dimainkan benar."

Santi membuka mulut, lalu menutupnya lagi.

Di ruang wardrobe, seorang staf melemparkan gaun tambahan ke arah Kiara tanpa benar-benar menatapnya.

"Pakai ini. Gaun utama dipakai Kak Wenny."

Kain itu jatuh di lengan Kiara. Bagian bawahnya sedikit lembap, entah karena baru disetrika asal atau terkena tumpahan air. Ukurannya juga kebesaran di pinggang.

Santi langsung maju. "Maaf, ini basah."

Staf wardrobe mendecak. "Kalau mau yang bagus, jadi pemeran utama dulu. Jangan bikin ribet pagi-pagi."

Kiara menahan tangan Santi sebelum gadis itu membalas.

"Ambil jarum pentul," ucap Kiara. "Kita rapikan sendiri."

Santi menatapnya dengan mata merah. "Kak Kiara selalu begini. Mereka keterlaluan."

Kiara tersenyum tipis. "Kalau aku marah sekarang, nanti yang keluar di berita bukan gaunnya basah, tapi Kiara Tanuwijaya ngamuk di lokasi syuting."

Kalimat itu membuat Santi diam.

Kiara masuk ke bilik ganti. Saat kain dingin itu menyentuh kulitnya, tubuhnya menggigil sebentar. Ia menutup mata, menarik napas pelan, lalu memaksa dirinya berdiri tegak.

Di dunia asalnya, membaca tentang Kiara yang disakiti sudah membuatnya kesal.

Mengalaminya sendiri ternyata jauh lebih melelahkan.

Ketika ia keluar, Wenny baru tiba.

Berbeda dari Kiara yang harus merapikan gaun lembap dengan jarum pentul, Wenny memakai busana utama berwarna pastel yang jatuh sempurna di tubuhnya. Di belakangnya, dua wartawan infotainment ikut masuk bersama seorang fotografer. Wenny membawa kotak kue kecil, wajahnya penuh senyum manis.

"Kiara, aku bawakan kue. Kamu belum sarapan, kan?"

Beberapa kru langsung melirik.

Kamera wartawan sudah menyala.

Kiara memandangi kotak kue itu. Cantik. Mahal. Sangat cocok untuk foto kakak baik hati yang memperhatikan adiknya.

"Terima kasih," kata Kiara. "Tapi aku tidak lapar."

Wenny mendekat satu langkah. "Kamu masih marah soal semalam? Aku benar-benar tidak bermaksud membuatmu tidak nyaman. Mama juga kepikiran kamu terus."

Mama.

Kata itu sengaja diucapkan saat kamera dekat.

Kiara melihat lampu kecil pada kamera, lalu wajah Wenny yang tampak begitu lembut. Jika ia menolak dengan keras, ia akan terlihat tidak tahu diri. Jika ia menerima, potongan video itu akan menyebar sebagai bukti bahwa Wenny selalu lebih dewasa.

Maka Kiara hanya menunduk sedikit.

"Aku mau bersiap. Jadwal take sudah dekat."

Ia melewati Wenny tanpa menyentuh kotak itu.

Wenny berdiri kaku beberapa detik. Di depan kamera, ia masih berusaha tersenyum, tapi ujung bibirnya turun sedikit.

Sutradara iklan memanggil semua pemain ke set. Adegan pertama berjalan lancar untuk Wenny. Ia tersenyum ke kamera, mengangkat botol minuman, mengucapkan dialog dengan nada lembut. Kru bertepuk tangan kecil.

Lalu giliran Kiara.

"Kamu jalan dari titik sana, lewat belakang Wenny, lalu bilang dialogmu. Jangan terlalu mencuri perhatian," kata asisten sutradara tanpa menatapnya.

Kiara berdiri di tanda lantai.

Lampu studio panas sekali. Gaun lembap di punggungnya mulai terasa lengket. Ia memegang naskah dengan satu tangan, mengulang dialog pendek di kepala.

"Action!"

Kiara berjalan.

Pada langkah ketiga, salah satu kabel yang seharusnya sudah dirapikan masih melintang dekat kakinya. Ia melihatnya terlambat. Ujung sepatu tersangkut, tubuhnya oleng ke depan.

Santi menjerit kecil.

Kiara berhasil menahan diri pada sisi meja properti, tapi pergelangan tangannya membentur keras. Botol kaca di meja terguling dan pecah di lantai.

"Cut!" teriak asisten sutradara. "Aduh, Kiara! Kamu bisa hati-hati tidak?"

Rasa sakit merambat dari pergelangan tangan sampai siku. Kiara menunduk, melihat kulitnya memerah.

Wenny segera mendekat, tapi bukan pada tangan Kiara. Ia berdiri di posisi yang pas untuk kamera wartawan.

"Kiara, kamu tidak apa-apa? Kamu memang sebaiknya istirahat dulu kalau kurang sehat."

Kiara mengangkat wajah.

Di balik nada khawatir itu, ia melihat kilatan puas yang sangat cepat.

"Aku tidak apa-apa."

"Tapi kamu hampir merusak properti." Asisten sutradara menghela napas kasar. "Kalau tidak siap kerja profesional, bilang dari awal."

Santi tidak tahan lagi. "Kabelnya memang belum dirapikan!"

"Kamu siapa?" bentak asisten sutradara.

Kiara menahan lengan Santi.

Sebelum situasi pecah, ponsel asisten sutradara berdering. Ia melihat layar, wajahnya yang marah tiba-tiba berubah pucat.

"Iya, Pak. Iya, saya mengerti. Sekarang juga."

Panggilan itu berlangsung kurang dari satu menit.

Setelah menutup telepon, ia langsung menoleh ke kru.

"Rapikan kabel. Ganti wardrobe Kiara. Siapkan ruang tunggu utama untuk dia. Adegan tadi diulang, dialognya dikembalikan ke versi awal."

Studio mendadak sunyi.

Wenny berkedip. "Tapi naskah revisi tadi..."

Asisten sutradara menunduk sedikit, tidak lagi berani menatap Wenny lama-lama. "Instruksi produser."

Kiara pun terdiam.

Santi menoleh padanya dengan mata membesar, jelas sama bingungnya.

Dari sudut studio, wartawan infotainment yang tadi sibuk merekam mulai saling berbisik. Wenny menggenggam kotak kue di tangannya sampai pita merahnya kusut.

Lima menit kemudian, seorang line producer masuk dengan dua orang staf medis studio. Ia meminta asisten sutradara menyerahkan clip board, lalu menyuruhnya meninggalkan set tanpa penjelasan panjang. Tidak ada bentakan. Tidak ada drama. Justru ketenangan itu membuat seluruh kru lebih takut.

"Nona Kiara, maaf atas kelalaian tim kami," ucap line producer itu dengan sopan. "Pergelangan tangan Anda harus diperiksa dulu. Setelah itu kita ulang dari adegan awal sesuai naskah kontrak."

Kiara menatap orang itu, lalu menatap kabel yang kini sedang dirapikan terburu-buru oleh kru.

Baru beberapa menit lalu, ia masih diperlakukan seperti beban yang bisa disingkirkan kapan saja. Sekarang semua orang menunduk seolah ia tiba-tiba menjadi tamu penting.

Ia tidak bodoh.

Seseorang telah menekan mereka dari luar.

Dan entah kenapa, nama pertama yang muncul di kepalanya adalah Rayhan Purnawan.

Di luar studio, sebuah Bentley hitam berhenti di area parkir belakang yang tidak boleh dimasuki kru biasa.

Rayhan duduk di kursi belakang, tablet di tangannya menampilkan rekaman CCTV lokasi syuting. Wajahnya tidak berubah saat melihat Kiara menahan pergelangan tangannya yang memerah, tapi jari-jarinya mengetuk pelan sandaran kursi.

Adi berdiri di luar pintu mobil yang terbuka.

"Bos, produser sudah menerima instruksi. Asisten sutradara itu akan diganti setelah jadwal hari ini selesai."

"Jangan setelah selesai," kata Rayhan.

Adi mengangkat mata.

Rayhan menatap layar, tepat pada gambar Kiara yang sedang berusaha tersenyum pada Santi meski tangannya sakit.

"Sekarang."

Suaranya pelan.

Tapi Adi tahu, bagi seseorang di dalam studio itu, satu kata pelan dari Rayhan Purnawan berarti karier yang baru saja retak.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!