Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Obsesi Sang Konglomerat: Cinta Gila yang Tak Bisa Kulepaskan

Episode 1

Bab 001

Dunia yang Salah

Kiara membuka mata dengan dada sesak, seolah ada tangan tak terlihat yang baru saja menariknya dari dasar air.

Langit-langit kamar itu asing.

Warna putih gading. Lampu gantung kristal kecil. Aroma diffuser mahal yang terlalu manis. Di samping ranjang, ponsel yang terjatuh masih menyala, menampilkan puluhan notifikasi dari portal hiburan.

Kiara Tanuwijaya kembali bikin masalah?

Adik aktris Wenny Tanuwijaya disebut cemburu, rebut kontrak endorsement keluarga sendiri.

Netizen: anak kandung kok kalah elegan dari Wenny?

Jari Kiara bergetar saat mengambil ponsel itu.

Nama itu.

Wenny Tanuwijaya.

Hendra Tanuwijaya.

Lina Tanuwijaya.

Purnawan Group.

Satu demi satu nama yang muncul di layar membuat napasnya tertahan. Semalam, sebelum tidur, ia masih membaca sebuah novel romansa gelap yang ia maki habis-habisan karena tokoh samping bernama Kiara Tanuwijaya terlalu menyedihkan. Anak kandung keluarga kaya yang tertukar sejak kecil, pulang ke rumah sendiri hanya untuk diperlakukan seperti tamu yang tak diinginkan. Semua cinta keluarga jatuh ke Wenny, anak palsu yang sudah lebih dulu mereka besarkan.

Dalam novel itu, Kiara Tanuwijaya akhirnya hancur.

Kariernya dirampas. Namanya busuk. Keluarganya membuang muka. Bahkan sebelum pria paling berbahaya di cerita itu benar-benar turun tangan, hidup Kiara sudah lebih dulu remuk oleh orang-orang yang seharusnya melindunginya.

Sekarang, wajah di cermin kamar mandi menatap balik dirinya.

Mata bulat yang masih basah. Rambut cokelat muda berantakan di bahu. Wajah kecil pucat dengan bibir merah yang digigit sampai hampir berdarah.

Cantik sekali.

Dan rapuh sekali.

Kiara menekan dada kirinya. Jantung itu berdetak cepat, tapi lemah, seperti burung kecil yang terperangkap di dalam sangkar.

"Tidak mungkin," bisiknya.

Pintu kamar diketuk tiga kali.

"Kiara." Suara perempuan dewasa terdengar dari luar. Lembut, tapi dinginnya menembus pintu. "Kamu sudah bangun? Papa menunggu di bawah."

Mama.

Tidak. Lina Tanuwijaya.

Kiara memejamkan mata sebentar. Potongan ingatan milik tubuh ini masuk seperti hujan pecahan kaca. Lina yang memeluk Wenny saat Wenny menangis. Hendra yang memarahinya karena membuat Wenny tertekan. Makan malam keluarga yang selalu menyiapkan makanan kesukaan Wenny, sementara alergi Kiara dianggap rewel.

Ia membuka pintu.

Lina berdiri di koridor dengan blus sutra rapi dan kalung mutiara. Tatapannya langsung turun ke wajah Kiara yang pucat, lalu ke ponsel di tangan putrinya.

"Kamu lihat berita itu?" tanya Lina.

Kiara mengangguk pelan.

Bukannya bertanya apakah ia baik-baik saja, Lina justru menarik napas panjang.

"Mama sudah bilang, jangan bersaing dengan Wenny di depan publik. Kamu baru masuk rumah ini beberapa tahun, orang-orang belum mengenalmu. Kalau kamu terlalu memaksa, yang malu bukan hanya kamu, tapi keluarga kita."

Kiara menatap perempuan itu.

Dalam novel, setiap kalimat seperti ini membuat Kiara asli menangis, meminta maaf, lalu semakin ingin membuktikan diri. Makin ia mengejar kasih sayang, makin murah harga dirinya di mata keluarga ini.

Kiara menurunkan pandangan ke kuku jarinya yang pucat.

"Jadi Mama percaya aku merebut kontrak itu?"

Lina terdiam sebentar.

Jawaban itu sudah cukup.

Dari lantai bawah, suara Wenny terdengar manis.

"Mama, Kiara belum turun? Papa nanti telat meeting."

Lina segera menoleh ke arah tangga. Wajahnya yang tadi tegang langsung melunak.

"Sebentar, Sayang."

Sayang.

Kiara hampir tertawa.

Ia mengikuti Lina turun. Rumah keluarga Tanuwijaya besar dan mewah, tapi setiap sudutnya terasa seperti etalase yang tidak pernah benar-benar menerima dirinya. Foto keluarga memenuhi dinding ruang tengah. Hendra, Lina, Wenny. Liburan ke Eropa. Ulang tahun. Wisuda. Acara amal.

Tidak ada satu pun foto Kiara.

Di meja makan, Wenny duduk dengan gaun putih sederhana yang justru membuatnya tampak bersih dan polos. Begitu melihat Kiara, ia langsung berdiri, wajahnya penuh kecemasan yang terlalu rapi.

"Kiara, kamu baik-baik saja? Aku sudah bilang ke agensiku, berita itu pasti salah paham. Kalau kamu mau, aku bisa unggah klarifikasi."

Klarifikasi.

Dalam novel, klarifikasi Wenny selalu berakhir seperti pisau. Kalimatnya terdengar membela Kiara, tapi membuat semua orang yakin Kiara memang iri, kasar, dan tak tahu diri.

Hendra menaruh cangkir kopi dengan suara keras.

"Tidak perlu unggah apa pun sebelum Papa bicara dengan tim PR. Kiara, duduk."

Kiara duduk di kursi paling ujung. Kursi itu seperti sudah disediakan untuk orang luar.

Hendra menatapnya dari balik kacamata. "Kontrak endorsement itu sejak awal cocok untuk Wenny. Brand ingin citra yang lembut dan bersih. Kamu tahu sendiri reputasimu di luar sana sedang tidak baik."

"Reputasi yang dibuat siapa, Pa?" tanya Kiara pelan.

Ruang makan mendadak sunyi.

Sendok di tangan Wenny berhenti.

Lina mengerutkan kening. "Kiara."

Kiara mengangkat wajah. Untuk pertama kalinya sejak bangun di dunia ini, suaranya tidak gemetar.

"Aku hanya bertanya."

Wenny menggigit bibir. Matanya langsung berkaca-kaca.

"Kalau kamu merasa aku mengambil milikmu, aku bisa mundur," ucapnya lirih. "Aku tidak mau karena aku, kamu dan Papa Mama bertengkar."

Hendra langsung menoleh pada Wenny. Nada suaranya turun, penuh kasihan.

"Tidak ada yang menyalahkan kamu. Makan dulu."

Lalu kepada Kiara, nadanya berubah lagi.

"Nanti malam ada acara industri film di SCBD. Wenny akan hadir mewakili keluarga. Kamu tidak usah datang. Diam di rumah sampai berita ini reda."

Jadi itu.

Acara itu adalah titik awal novel. Tempat para produser, sutradara, sosialita, dan pewaris konglomerat berkumpul dalam satu ballroom berkilau. Di sana, Kiara seharusnya dipermalukan oleh Wenny. Di sana juga, untuk pertama kalinya, ia akan melihat Rayhan Purnawan.

Villain utama.

Pria yang di novel disebut lebih dingin dari pisau dan lebih berbahaya dari siapa pun di Jakarta.

Kiara menunduk, menyembunyikan kilatan di matanya.

Kalau ia menghindar, alur tragis itu tetap akan menyeretnya. Kalau ia diam, semua orang akan terus menulis nasibnya dengan tinta yang sama.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Ci Lucy muncul di layar.

Ci Lucy: Kamu masih punya undangan cadangan untuk gala nanti malam. Kalau kamu mau datang, aku jemput jam tujuh. Tapi pikir baik-baik, Kiara. Malam ini bisa jadi kacau.

Kiara menatap pesan itu lama.

Di seberang meja, Wenny masih berpura-pura sedih. Lina sibuk menenangkan Wenny. Hendra sudah kembali membaca laporan bisnis, seolah keputusan tentang hidup Kiara baru saja selesai dibahas bersama menu sarapan.

Kiara mengetik satu balasan.

Jemput aku jam tujuh.

Setelah pesan terkirim, ia meletakkan ponsel di pangkuan dan mengangkat sendok seolah tidak terjadi apa-apa.

Kali ini, ia tidak akan menjadi Kiara Tanuwijaya yang mati dalam cerita orang lain.

Kali ini, ia akan datang ke ballroom itu dengan matanya sendiri.

Dan jika takdir benar-benar ingin mempertemukannya dengan Rayhan Purnawan, maka ia harus melihat sendiri, monster seperti apa yang sedang menunggunya di ujung malam.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
Episodes

Updated 116 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!