Episode 3

Bab 003

Dia Terus Memperhatikanku

"Lebih lama dari yang kamu kira."

Kalimat itu jatuh begitu pelan, tapi Kiara merasa seolah seluruh ballroom ikut mendengarnya.

Ia menatap Rayhan, berusaha mencari jejak candaan di wajah pria itu. Tidak ada. Mata gelap itu terlalu tenang, terlalu serius, dan justru karena itu membuat bulu kuduknya meremang.

"Pak Rayhan," panggil Adi dari belakang, kali ini sedikit lebih tegas. "Om Gunawan sudah menunggu."

Rayhan masih melihat Kiara beberapa detik lagi sebelum akhirnya menarik kembali tangannya.

"Jangan berdiri terlalu lama," ucapnya.

Kiara belum sempat bertanya bagaimana pria itu tahu ia tidak kuat berdiri lama. Rayhan sudah berbalik, berjalan menuju ruang VIP dengan langkah yang membuat orang-orang otomatis menyingkir.

Begitu punggungnya menjauh, udara di sekitar Kiara seperti kembali bergerak.

Wenny tersenyum lebih dulu. "Wah, Kiara. Kamu kenal Pak Rayhan?"

Nada itu ringan, tapi matanya menempel pada wajah Kiara seperti jarum.

"Tidak," jawab Kiara.

"Tapi beliau kelihatan sangat mengenalmu."

Kiara memasang kembali antingnya dengan jari yang masih dingin. "Mungkin Pak Rayhan memang sopan pada semua orang."

Di sebelah Wenny, Lina tampak tidak percaya. Bagaimana mungkin pewaris Purnawan Group berhenti di depan Kiara, mengembalikan antingnya sendiri, lalu memintanya memanggil nama depan? Untuk keluarga Tanuwijaya yang selama ini lebih suka menyembunyikan Kiara, perhatian sekecil itu sudah cukup membuat wajah mereka berubah.

Ci Lucy segera menarik Kiara ke sisi lain ballroom.

"Kamu yakin tidak kenal dia?" bisiknya cepat.

"Tidak."

"Kiara, orang seperti Rayhan Purnawan tidak mengambil anting artis kecil dari lantai hanya karena sopan."

Kiara menatap gelas-gelas champagne yang disusun di meja bundar. Pantulan lampu di permukaannya bergetar seperti pecahan emas. Dadanya masih berdebar, bukan hanya karena gugup, tapi karena kalimat terakhir Rayhan terus berputar di kepala.

Lebih lama dari yang kamu kira.

Dalam novel, Rayhan Purnawan baru benar-benar terlibat setelah banyak kekacauan terjadi. Ia tidak seharusnya menatap Kiara seperti itu malam ini. Apalagi dengan kelembutan yang hampir membuatnya lupa bahwa pria itu adalah villain.

"Jangan bengong." Ci Lucy menyerahkan segelas air putih, bukan champagne. "Minum ini."

Kiara baru menyentuh gelas ketika seorang produser paruh baya mendekat. Senyumnya ramah, tapi tatapannya berhenti terlalu lama pada wajah Kiara.

"Kiara Tanuwijaya, ya? Saya sering lihat namamu di berita."

Kalimat itu tidak terdengar seperti pujian.

Ci Lucy langsung tersenyum profesional. "Pak, Kiara baru saja menyelesaikan workshop akting untuk proyek period drama. Kalau ada casting yang cocok, kami sangat terbuka."

Produser paruh baya itu tertawa kecil. "Untuk period drama, citra publik penting. Sekarang penonton cepat sekali menilai. Kalau ada isu rebutan kontrak dengan keluarga sendiri, produser jadi pikir-pikir."

Tangan Kiara yang memegang gelas mengencang.

Sebelum ia menjawab, Wenny muncul di belakang produser itu dengan ekspresi cemas yang pas sekali.

"Pak, jangan begitu. Kiara sebenarnya anak baik, cuma memang kadang belum bisa mengontrol emosi."

Satu kalimat.

Lembut di telinga, busuk di dalam.

Beberapa orang di dekat mereka mulai menoleh. Kiara bisa melihat mata-mata yang sedang menilai, menghitung, lalu memutuskan cerita versi mana yang lebih menarik untuk dibawa pulang.

Kiara meletakkan gelasnya di meja.

"Terima kasih sudah membelaku, Wenny," katanya pelan. "Tapi kalau membela berarti memberi kesan aku memang bersalah, sebaiknya tidak usah."

Wenny membeku.

Ci Lucy hampir tersedak.

Produser itu mengangkat alis, seperti baru pertama kali melihat Kiara benar-benar punya suara.

"Saya tidak merebut kontrak siapa pun," lanjut Kiara. "Kalau ada brand yang memilih Wenny, silakan. Kalau ada yang ingin menilai kemampuan saya, saya siap audisi. Saya hanya tidak mau karier saya diputuskan dari gosip meja makan."

Sunyi tipis menyebar.

Tidak lama, seorang staf hotel mendekat dengan langkah sopan.

"Nona Kiara, kami sudah menyiapkan tempat duduk untuk Anda di area depan. Silakan."

Ci Lucy menoleh, kaget. "Area depan?"

Staf itu mengangguk. "Atas instruksi panitia."

Kiara tidak perlu menoleh untuk tahu ada sesuatu yang berubah. Beberapa tamu yang tadi memandangnya dengan sinis mulai menahan ekspresi. Area depan berarti kamera bisa menangkap wajahnya dengan jelas. Berarti panitia tidak sedang memperlakukan dia sebagai tamu tambahan.

Wenny tersenyum kaku. "Mungkin ada salah paham. Kursi keluarga Tanuwijaya ada di sebelah sana."

Staf tetap sopan. "Maaf, Nona Wenny. Yang diminta adalah Nona Kiara."

Kali ini, Kiara benar-benar menoleh.

Di balkon kecil lantai atas yang menghadap ballroom, Rayhan berdiri di balik pagar kaca. Satu tangannya masuk ke saku celana. Di sampingnya, Adi berbicara pelan sambil memegang tablet.

Rayhan tidak sedang melihat panggung.

Ia melihat Kiara.

Seolah sejak tadi, bahkan saat Kiara berdebat dengan Wenny, bahkan saat produser itu menyindir kariernya, tatapan itu tidak pernah pergi.

Dada Kiara kembali terasa sesak.

"Kiara?" Ci Lucy menyentuh sikunya. "Kamu pucat."

"Aku tidak apa-apa."

Tapi ia tahu ia tidak sepenuhnya baik-baik saja.

Selama satu jam berikutnya, Kiara mulai menyadari hal-hal kecil.

Saat seorang pelayan hendak memberinya champagne, pelayan lain datang mengganti gelas itu dengan teh hangat. Saat wartawan mencoba mendekat untuk menanyakan skandal kontrak, petugas keamanan tiba-tiba meminta mereka kembali ke area media. Saat seorang aktris senior dengan sengaja menyebut nama Wenny sebagai "putri kesayangan Tanuwijaya" di depan kamera, pembawa acara langsung mengalihkan topik ke nominasi film malam itu.

Semuanya terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Dan setiap kali Kiara menoleh, ia selalu menemukan Rayhan di tempat yang sama.

Melihatnya.

Tidak tersenyum. Tidak mendekat. Hanya memperhatikan, dengan kesabaran yang membuat Kiara makin gelisah.

Di lantai atas, Adi menutup tablet.

"Bos, berita tentang Nona Kiara pagi ini didorong oleh tiga akun gosip besar. Dua terhubung ke agensi yang bekerja sama dengan Nona Wenny. Satu lagi memakai buzzer bayaran."

Rayhan tidak mengalihkan pandangan dari Kiara yang duduk di area depan. Gadis itu memegang cangkir teh dengan dua tangan, tubuhnya kecil di antara orang-orang yang jauh lebih siap bertarung di dunia ini. Tapi ketika Wenny berbicara padanya, dagu Kiara tetap terangkat.

Berani.

Jauh lebih berani dari bayangan yang ia peluk ribuan malam.

"Hapus perlahan," kata Rayhan.

Adi terdiam sepersekian detik. "Perlahan?"

"Jangan buat dia takut."

Kali ini, Adi benar-benar menatap bosnya.

Selama bertahun-tahun bekerja untuk Rayhan Purnawan, ia pernah melihat pria itu menghancurkan perusahaan hanya dengan tiga panggilan telepon. Pernah melihat orang memohon di depan meja rapat dan Rayhan bahkan tidak mengangkat mata. Kata hati-hati hampir tidak pernah ada jika menyangkut musuh.

Tapi malam ini, karena seorang aktris kecil bernama Kiara Tanuwijaya, Rayhan meminta sesuatu dilakukan perlahan.

"Baik, Bos."

Rayhan menurunkan pandangan ke gelas di meja, lalu kembali melihat Kiara.

"Mulai malam ini, semua yang menyangkut dia, laporkan langsung padaku."

Adi mengangguk. "Termasuk jadwal kerja?"

"Semua."

Di bawah sana, Kiara tiba-tiba menoleh lagi.

Mata mereka bertemu melintasi cahaya ballroom, musik lembut, kamera, dan semua orang yang tidak tahu apa-apa.

Kiara menggenggam cangkir tehnya lebih erat.

Untuk sesaat, ia merasa bukan sedang diperhatikan.

Ia merasa sedang dijaga.

Dan entah kenapa, pikiran itu jauh lebih berbahaya daripada rasa takut.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
101 Episode 101
102 Episode 102
103 Episode 103
104 Episode 104
105 Episode 105
106 Episode 106
107 Episode 107
108 Episode 108
109 Episode 109
110 Episode 110
111 Episode 111
112 Episode 112
113 Episode 113
114 Episode 114
115 Episode 115
116 Episode 116
117 Episode 117
Episodes

Updated 117 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100
101
Episode 101
102
Episode 102
103
Episode 103
104
Episode 104
105
Episode 105
106
Episode 106
107
Episode 107
108
Episode 108
109
Episode 109
110
Episode 110
111
Episode 111
112
Episode 112
113
Episode 113
114
Episode 114
115
Episode 115
116
Episode 116
117
Episode 117

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!