Bab 2. Bidadari Makan di Warteg

Satu minggu. Alin menatap nanar kalender dinding bergambar toko emas yang tergantung di kamarnya. Waktu tujuh hari sebelum masa orientasi di SMA Garuda terasa seperti hitung mundur bom waktu.

Bagaimana mungkin ia bisa menyembunyikan perubahan fisik yang sedrastis ini dari para penghuni kos? Terlebih lagi, isi dompetnya yang mengenaskan memaksa Alin untuk mengesampingkan dulu urusan sihir ubi rebus ini. Ia harus makan siang.

Siang itu, aspal di pinggiran Jakarta terasa seperti wajan penggorengan yang siap mengeksekusi siapa saja yang nekat melintas. Dengan modal nekat berupa selembar uang sepuluh ribu rupiah—sisa kejayaan terakhirnya—Alin melangkah keluar dari kamar kos.

Ia hanya mengenakan kaos putih polos yang kerahnya mulai melar dan celana jeans hitam pudar yang warnanya sudah menyerupai abu-abu monyet akibat terlalu sering dicuci.

Sesuai ritual yang sudah mendarah daging selama tiga tahun, Alin pantang menyentuh cermin. Baginya, benda berlapis raksa itu tak ubahnya musuh bebuyutan yang hanya akan memamerkan parade jerawat batu dan kulit kusamnya.

Alin hanya menyisir rambut panjang cokelat gelapnya secara asal menggunakan jemari, lalu mengikatnya gaya ekor kuda (ponytail).

Ia sama sekali belum menyadari, bahwa di balik kaos belelnya itu, sepasang mata cokelatnya kini berbinar jernih layaknya lensa kamera premium, dibingkai oleh bulu mata yang mendadak lentik sempurna tanpa sentuhan eyelash extension.

Trauma perundungan yang ia telan bulat-bulat selama SMP telah membangun tembok rasa tidak percaya diri yang setinggi Monas di dalam kepalanya.

Lagipula, boro-boro membeli paket skincare mahal di mal, untuk sekadar mengganjal perut di warteg saja ia harus memutar otak setiap hari agar tidak berakhir menjadi pencuci piring gratis.

Namun, keanehan langsung menyengat Alin begitu ia menginjakkan kaki di gang. Langkah kaki gadis itu mendadak kaku. Suasana warung nasi langganannya di sudut jalan tampak lebih ramai, beradu dengan bisingnya knalpot motor dan aroma tumis kangkung.

Masalahnya, setiap kali ia melewati kerumunan orang, pasang mata di sepanjang jalan seolah tertancap, mengunci pergerakannya dengan tatapan tak berkedip.

"Apa ada yang salah dengan bajuku? Apa karena kaosku sudah belel?" batin Alin gelisah, buru-buru menyilangkan tangan di dada.

Ia mempercepat langkah, memesan sepiring nasi dengan lauk ala kadarnya yang penting pas dengan anggaran mepetnya, lalu segera menyelinap ke pojok warteg yang paling gelap dan tersembunyi.

Tak jauh dari posisinya, di meja panjang bagian tengah, sedang berkumpul lima pemuda yang auranya kontras dengan kebulan asap warteg.

Pakaian mereka necis, bersih, dan memancarkan aura anak orang kaya yang tersesat. Mereka adalah geng 5 R, geng cowok paling populer dari sekolah elit bernama SMA GARUDA yang sedang bosan dengan menu kafetaria mahal mereka.

Geng yang beranggotakan lima orang itu yang tak lain adalah Rakha Pratama Bagaskara, Rayi Arjuna Bagaskara, Reno Alvarez, Raditama Abraham dan Rahsya Adipta.

"Bro, bro! Pembatasan sosial bubar! Lihat tuh... aya anu geulis, bodas, mulus deui!" celetuk Reno, si buaya darat blasteran Sunda-Jakarta, hampir tersedak es teh manisnya. Tangannya menyikut lengan temannya dengan brutal, matanya melotot lurus ke arah Alin yang sedang menunduk kaku.

"Halah, lo mah ada yang bening dikit langsung amnesia. Lama-lama gelas kaca buram di warteg ini juga lo taksir kalau dipakein jilbab, Ren!" sahut Adit sambil mengunyah kerupuk dengan berisik.

"Ya kali gelas, Dit! Sekalian aja lo bawa sama nampan dan abang wartegnya kalau lo emang sehina itu!" timpal Rahsya disusul tawa membahana yang membuat seisi warung menoleh.

Sementara itu, dua pemuda di ujung meja, si kembar Rakha dan Rayi, awalnya tampak tidak peduli. Rakha yang memiliki tahi lalat kecil di bawah mata kanan dan Rayi yang memiliki postur sedikit lebih jangkung, masih sibuk menggeser layar ponsel mereka, mengabaikan hiruk-pikuk Jakarta.

"Lo berdua ngapain sih pacaran sama HP terus? Lihat dulu nih, beneran 'cuci mata' di tengah debu Jakarta yang sesungguhnya! Ini mah spek dewi!" paksa Reno, menarik bahu si kembar.

"Hmm..." Rayi hanya bergumam malas. Namun, begitu ia dan Rakha mendongak serempak menghadapi telunjuk Reno—

Deg!

Suasana warteg mendadak seperti dijatuhi bom waktu. Hening seketika. Mulut kelima pemuda itu kompak menganga lebar. Jika ada lalat Jakarta yang terkenal gesit lewat, mungkin sudah bisa membuat sarang di dalam rongga mulut mereka.

Tangan Reno mendadak lemas, bahkan ponsel berlogo apel tergigit milik Rakha hampir saja terjun bebas berciuman dengan lantai warteg yang berminyak.

Mereka terpaku, terhipnotis oleh kecantikan Alin yang memancarkan cahaya murni, seolah-olah dia adalah bidadari yang baru saja turun dari angkot—begitu bersinar di tengah kumuhnya lingkungan sekitar.

"Mingkem, woy! Eta lamun aya laleur asup kana baham kumaha? Rek ditelen, hah?!" sentak Reno, mendadak panik sendiri saking kagetnya melihat target buruannya yang terlampau indah.

Alin yang menyadari aura intimidasi dari meja tengah mulai merasa risih. Jantungnya berpacu kencang, dag-dig-dug tak karuan. Ia buru-buru menyuap makanannya dengan tergesa-gesa, membiarkan helai rambut cokelatnya jatuh menutupi wajah.

"Duh, apa di wajahku ada sisa ubi rebus semalam? Atau belepotan sambal? Begini nih akibatnya kalau anti-ngaca!" batin Alin dongkol.

Saat ia tak sengaja mendongak untuk mengelap bibir, matanya langsung bertabrakan dengan tatapan intens lima pemuda tadi. Panik, Alin langsung menyambar plastik makanannya, melempar uang pas sepuluh ribu ke meja kasir, dan melesat pergi secepat kijang.

"Yah, kabur! Padahal gue belum minta nomor WhatsApp-nya!" keluh Reno terpukul, memandangi kursi kosong Alin dengan nelangsa.

"Gue juga mau kali, spek bidadari begitu masa dilewatkan begitu aja!" sahut Rahsya, menepuk jidatnya.

Rakha dan Rayi hanya terdiam, namun di dalam dada mereka, ada getaran aneh yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya dari gadis-gadis modis di sekolah mereka.

"Menarik... semoga kita ketemu lagi di kota sepadat ini," batin Rayi sambil menyunggingkan senyum tipis yang sarat arti.

****

Langkah kaki Alin baru melambat saat ia sampai di depan pagar kosannya. Namun, pelariannya langsung dijegal oleh sosok bertubuh subur yang hobi memakai daster motif macan tutul. Bu Sinta, sang pemilik kosan, berdiri dengan kedua tangan di pinggang dan wajah penuh selidik.

"Maaf ya adek cantik, situ siapa ya? Kok main nyelonong mau masuk ke kamarnya Alin? Kamu siapanya dia? Alinnya mana? Kok kunci kamarnya bisa ada di tangan kamu?!" tanya Bu Sinta bertubi-tubi dengan nada tinggi khas ibu-ibu pemilik kontrakan Jakarta yang siap memanggil RT.

Alin mengernyitkan dahi, bingung dengan intonasi galak tersebut. "Ibu aneh banget sih. Jelas-jelas yang ada di hadapan Ibu ini ya Alin. Masa siluman?"

Bu Sinta langsung mengucek matanya berkali-kali sampai maskaranya sedikit luntur. "Ini beneran kamu, Alin?! Jangan bohong ya! Alin yang saya kenal itu mukanya madesu, kusam, kagak bening begini! Jangan-jangan kamu sindikat penculik anak ya? Jawab! Kamu punya mulut, kan?!" Bu Sinta merangsek maju, hidungnya kembang-kempis menahan emosi.

Alin menghela napas lelah. "Kalau aku bukan Alin, ngapain aku balik ke kosan pengap ini, Bu? Aku sudah setahun lebih tinggal di sini. Aku betah karena Bu Sinta sebenarnya baik—meski kalau lagi nagih uang kos suka mirip komodo galak."

Bu Sinta masih sangsi, matanya memicing meneliti kulit Alin yang sehalus porselen. "Kalau kamu beneran Alin, kenapa muka kamu bisa glow up brutal dalam semalam?! Kamu pakai filter dunia nyata merek apa, hah?!"

Episodes
1 Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2 Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3 Bab 3. Tuan Muda Rakha
4 Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5 Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6 Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7 Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8 Bab 8. Nona Masker Hitam
9 Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10 Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11 Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12 Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13 Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14 Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15 Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16 Bab 16. Vonis Jantung
17 Bab 17. Orang yang Sama
18 Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19 Bab 19. Berubah Lagi
20 Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21 Bab 21. Salah Peluk
22 Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23 Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24 Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25 Bab 25. Prahara Seblak Maut
26 Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27 Bab 27. Burung Hilang
28 Bab 28. Burung Hilang Part 2
29 Bab 29. Modus Beruang Kutub
30 Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31 Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32 Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33 Bab 33. Ketemu Rayi
34 Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35 Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36 Bab 36. Salah Server
37 Bab 37. Salah Server Part 2
38 Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39 Bab 39. Sekandal Buah Duku
40 Bab 40. Kepulangan Antonio
41 Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42 Bab 42. Masih Flashback
43 Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44 Bab 44. Trauma makan ubi
45 Bab 45. Di labrak Pacar
46 Bab 46. Digebukin Pacar
47 Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48 Bab 48. Konser Air Mata Congean
49 Bab 49. Mengalah
50 Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51 Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52 Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53 Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54 Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55 Bab 55. Kentut Bajaj
56 Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57 Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58 Bab 58. Telpon Dari Rayi
59 Bab 59. Kedatangan Rayi
60 Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61 Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62 Bab 62. Salah Paham
63 Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64 Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65 Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66 Bab 66. Pura-pura Pingsan
67 Bab 67. Pacar Hongkong
68 Bab 68. Modus Kecupan Kening
69 Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70 Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71 Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72 Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73 Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74 Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75 Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76 Bab 76. Tuan Muda Posesif
77 Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78 Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79 Bab 79.
80 Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81 Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82 Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83 Bab 83. Eksperimen Kuliner
84 Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85 Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86 Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87 Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88 Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89 Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90 Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91 Bab 91. Botol Jamu Kosong
92 Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93 Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94 Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95 Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96 Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97 Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98 Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99 Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100 Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101 Bab 101. Kentut Berjamaah
102 Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103 Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104 Bab 104. TAMAT
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2
Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3
Bab 3. Tuan Muda Rakha
4
Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5
Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6
Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7
Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8
Bab 8. Nona Masker Hitam
9
Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10
Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11
Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12
Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13
Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14
Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15
Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16
Bab 16. Vonis Jantung
17
Bab 17. Orang yang Sama
18
Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19
Bab 19. Berubah Lagi
20
Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21
Bab 21. Salah Peluk
22
Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23
Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24
Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25
Bab 25. Prahara Seblak Maut
26
Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27
Bab 27. Burung Hilang
28
Bab 28. Burung Hilang Part 2
29
Bab 29. Modus Beruang Kutub
30
Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31
Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32
Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33
Bab 33. Ketemu Rayi
34
Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35
Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36
Bab 36. Salah Server
37
Bab 37. Salah Server Part 2
38
Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39
Bab 39. Sekandal Buah Duku
40
Bab 40. Kepulangan Antonio
41
Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42
Bab 42. Masih Flashback
43
Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44
Bab 44. Trauma makan ubi
45
Bab 45. Di labrak Pacar
46
Bab 46. Digebukin Pacar
47
Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48
Bab 48. Konser Air Mata Congean
49
Bab 49. Mengalah
50
Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51
Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52
Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53
Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54
Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55
Bab 55. Kentut Bajaj
56
Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57
Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58
Bab 58. Telpon Dari Rayi
59
Bab 59. Kedatangan Rayi
60
Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61
Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62
Bab 62. Salah Paham
63
Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64
Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65
Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66
Bab 66. Pura-pura Pingsan
67
Bab 67. Pacar Hongkong
68
Bab 68. Modus Kecupan Kening
69
Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70
Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71
Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72
Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73
Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74
Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75
Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76
Bab 76. Tuan Muda Posesif
77
Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78
Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79
Bab 79.
80
Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81
Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82
Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83
Bab 83. Eksperimen Kuliner
84
Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85
Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86
Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87
Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88
Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89
Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90
Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91
Bab 91. Botol Jamu Kosong
92
Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93
Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94
Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95
Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96
Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97
Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98
Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99
Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100
Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101
Bab 101. Kentut Berjamaah
102
Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103
Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104
Bab 104. TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!