Cinderella Ubi Rebus

Cinderella Ubi Rebus

Bab 1. Kutukan Aroma Mawar

Kos-kosan dinding triplek itu mendadak gempar oleh satu aroma yang mustahil. Wangi mawar premium yang begitu pekat mendadak menguar, seolah ada ratusan buket bunga segar yang baru saja diperas di dalam lorong sempit yang biasanya berbau bumbu dapur dan asap rokok tersebut. Beberapa penghuni kos yang baru bersiap berangkat kerja sempat melongokkan kepala keluar kamar, mengendus udara dengan kening berkerut heran.

Sementara itu, di dalam kamar mandi umum yang pengap di ujung lorong, Alin Hanindya membeku dengan sikat gigi masih menancap di mulutnya. Wajahnya yang semula kusam dan dipenuhi jerawat batu kini memerah padam sampai ke telinga. Jantungnya bertalu hebat melawan dinding dadanya.

Ia baru saja melepas gas lambungnya—alias kentut—dengan suara yang cukup nyaring akibat perutnya yang kembung.

"Kok... wangi?" gumam Alin setelah beberapa detik terpaku. Suaranya bergetar, tercekat di tenggorokan.

Ia mencoba mengendus udara di sekitarnya sekali lagi, memastikan indra penciumannya tidak sedang rusak. Ini benar-benar gila. Biasanya, perutnya yang ringkih karena keseringan makan mi instan dan makanan sisa rumah makan selalu menghasilkan bau gas yang membuat orang mengumpat. Tapi pagi ini, aromanya begitu mewah dan elegan. Wangi itu terasa sangat nyata, mengalahkan parfum ratusan ribu milik Ibu kos yang paling mahal sekalipun.

Sebelum Alin sempat mencerna keanehan medis tersebut, sebuah rasa panas yang membakar tiba-tiba menjalar dari ulu hatinya. Rasa panas itu bergerak cepat seperti cairan lava, naik ke dada, mencengkeram lehernya, lalu meledak ke seluruh pori-pori kulitnya. Alin menjerit tertahan. Kedua tangannya spontan mencengkeram leher yang terasa tercekik. Ia ambruk ke lantai semen yang dingin, menggeliat menahan rasa sakit yang tidak tertahankan. Tubuhnya gemetar hebat, dan keringat dingin mulai bercucuran.

Bfffttt!

Seiring dengan embusan asap tipis transparan yang keluar dari pori-pori tubuhnya, rasa panas membakar itu mendadak hilang tanpa bekas.

Sensasi itu berganti dengan rasa sejuk yang luar biasa meneduhkan, seolah seluruh tubuhnya baru saja dibasuh oleh es murni. Alin terengah-engah di atas lantai semen, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat meremang.

Saat ia mendongak untuk membasuh wajahnya di wastafel, matanya tidak sengaja menangkap pantulan bayangan di sebuah pecahan cermin retak yang digantung di dinding lembap itu. Alin tersentak mundur hingga punggungnya membentur pintu kayu dengan keras.

"I-ini siapa?!" pekik Alin dengan suara tertahan.

Gadis di dalam pecahan cermin itu memiliki kulit seputih susu yang merona sehat, memancarkan kilau alami yang mustahil didapatkan dari perawatan klinik kecantikan mana pun.

Jerawat-jerawat meradang yang selama tiga tahun ini bersarang di wajahnya—yang membuatnya menjadi samsat perundungan paling empuk oleh teman-teman di SMP—kini lenyap tanpa bekas.

Bahkan, tidak ada satu pun flek hitam atau bekas luka yang tersisa. Tulang pipinya tampak lebih tegas dan proporsional, sepasang matanya jernih bak air telaga terdalam, dan bibirnya yang semula pecah-pecah kini sewarna buah ceri yang matang.

Ia tidak lagi terlihat seperti Alin si "Mutiara Dekil" yang selalu menunduk tumpat. Gadis di dalam cermin retak itu adalah seorang dewi, bidadari yang seolah sengaja diturunkan dari khayangan.

Otak Alin langsung berputar cepat, melompati ingatan mundur ke kejadian dua puluh empat jam yang lalu. Ia mengingat kembali hari kelulusannya yang menyedihkan, hari di mana ia hanya bisa memandang sepatu usangnya yang berdebu di taman kota. Ia juga mengingat tabrakan tidak sengaja dengan Nenek Tari di dekat gang kosannya, serta bagaimana ia merelakan satu-satunya nasi bungkus miliknya untuk nenek yang kelaparan itu.

Lalu, matanya terpejam saat mengingat benda terakhir yang diberikan sang nenek: sebongkah ubi jalar misterius berukuran besar yang ia rebus semalam karena perutnya yang kelaparan tak punya uang lagi.

“Jangan ditolak, Cu. Ini rezeki untuk gadis baik sepertimu. Makanlah ubinya,” suara parau Nenek Tari yang mendadak hilang misterius di halte itu kembali terngiang, bergema berulang-ulang di kepala Alin.

Alin meraba pipinya yang kini terasa sehalus sutra dengan jemari yang masih gemetar. "Ubi itu... ubi apa sebenarnya? Kenapa wajahku bisa berubah jadi seperti ini?" bisiknya pada kesunyian.

Tok! Tok! Tok!

"Alin! Kamu mati di dalam ya?! Lama banget! Gantian, aku sudah telat!"

Gedoran kasar di pintu membuyarkan lamunan Alin. Itu suara Mbak Ranti, tetangga kos sebelah yang bekerja sebagai buruh cuci di perumahan depan. Suara gedoran itu terdengar sangat tidak sabaran, disusul oleh hentakan kaki yang menghentak-hentak lantai lorong.

Kepanikan baru yang lebih besar langsung melanda Alin. Bagaimana mungkin ia bisa menjelaskan perubahan instan yang ekstrem ini kepada orang lain?

Orang-orang di kosan ini pasti akan mengiranya melakukan pesugihan, memakai susuk, atau melakukan operasi plastik ilegal dalam semalam. Logika manusia tidak akan pernah bisa menerima transformasi magis seperti ini.

Dengan gerakan panik, Alin menyambar handuk loak miliknya yang tergantung di dinding. Ia melilitkannya ke kepala dengan asal, menarik kainnya ke bawah hingga menutupi sebagian besar dahi, pipi, dan hidungnya, hanya menyisakan sepasang matanya yang kini terlihat sangat jernih. Setelah menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan jantungnya, Alin membuka selot pintu kamar mandi.

"Maaf, Mbak Ranti... perutku agak tidak enak tadi," ucap Alin pelan, mencoba meniru suara seraknya yang biasa.

Mbak Ranti yang sudah membuka mulut dengan dahi berkerut, siap menyemburkan rentetan omelan kasar, mendadak bungkam seketika. Kalimat makian yang sudah di ujung lidahnya tertahan begitu saja di tenggorokan. Matanya membelalak sangat lebar menatap Alin.

Perempuan itu melangkah mundur satu tapak, tampak terintimidasi oleh sepasang mata jernih dan aura anggun yang mendadak memancar kuat dari tubuh Alin—gadis yang biasanya selalu berjalan membungkuk dan menyembunyikan wajah dekilnya.

"Kamu... benar Alin?" tanya Mbak Ranti. Suaranya mendadak mengecil, kehilangan nada galak yang biasanya menjadi ciri khasnya.

Kulit wajah Mbak Ranti tampak memucat saat mencium aroma mawar yang semakin tajam menguar dari tubuh gadis di depannya. "Kok... bau kamu wangi sekali? Kamu habis menumpahkan satu botol parfum ya? Mahal banget baunya."

"E-enggak pakai apa-apa, Mbak! Permisi, aku duluan!" Alin tidak berani menjawab lebih lama. Ia langsung melesat secepat kilat melewati Mbak Ranti, berlari kecil menyusuri lorong sempit, lalu masuk ke dalam kamarnya dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.

Jantungnya berdegup begitu kencang hingga telinganya berdenging. Alin bersandar lemah di balik pintu tripleknya, memandangi ruangan berukuran dua kali dua meter yang pengap tersebut.

Ruangan yang selama ini menjadi saksi isu kemiskinannya, tempat ia meratapi nasibnya yang yatim piatu dan menahan lapar setelah lelah bekerja mencuci piring di rumah makan.

Di sudut kasur busanya yang sudah kempes di bagian tengah, sebuah amplop cokelat besar berlogo SMA Garuda tergeletak rapi. SMA Garuda adalah sekolah elit paling tersohor di kota itu, tempat di mana anak-anak konglomerat, selebriti, dan pejabat berkumpul.

Alin berhasil menembus sekolah itu hanya karena otaknya yang encer, memenangkan beasiswa penuh yang membebaskannya dari seluruh biaya pendidikan.

Kemarin, saat merenung di bangku taman, ia sempat berdoa dengan amat sangat agar tidak dipertemukan lagi dengan teman-teman SMP yang selalu merundungnya. Ia ingin menjadi sosok yang tidak terlihat, fokus belajar, dan lulus dengan tenang tanpa perlu menarik perhatian siapa pun.

Namun sekarang, dengan perubahan fisik yang terlampau sempurna ini, Alin tahu impiannya untuk hidup tenang telah hancur. Masih ada waktu satu minggu lagi sebelum masa orientasi siswa baru dimulai.

Tujuh hari. Waktu yang terasa seperti bom waktu bagi Alin. Bagaimana dia bisa bertahan di kos-kosan ini tanpa ketahuan? Terlebih lagi, sore ini dia harus kembali bekerja di rumah makan untuk menyambung hidup dan mengisi dompetnya yang tinggal menyisakan selembar uang sepuluh ribu rupiah.

Alin menatap amplop SMA Garuda dengan tatapan bimbang. Wajah barunya bukan lagi sekadar cantik; wajah ini adalah jenis kecantikan yang bisa memicu konflik, membuat orang menoleh dua kali, dan mengundang bahaya.

Alin meremas ujung kaos oversize usangnya dengan cemas. Sambil memandang sisa ubi rebus di atas piring plastik kecil yang berbau manis mawar, ia bergumam pelan, "Bagaimana caranya aku menyembunyikan wajah ini selama satu minggu ke depan?"

Episodes
1 Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2 Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3 Bab 3. Tuan Muda Rakha
4 Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5 Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6 Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7 Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8 Bab 8. Nona Masker Hitam
9 Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10 Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11 Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12 Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13 Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14 Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15 Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16 Bab 16. Vonis Jantung
17 Bab 17. Orang yang Sama
18 Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19 Bab 19. Berubah Lagi
20 Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21 Bab 21. Salah Peluk
22 Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23 Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24 Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25 Bab 25. Prahara Seblak Maut
26 Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27 Bab 27. Burung Hilang
28 Bab 28. Burung Hilang Part 2
29 Bab 29. Modus Beruang Kutub
30 Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31 Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32 Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33 Bab 33. Ketemu Rayi
34 Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35 Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36 Bab 36. Salah Server
37 Bab 37. Salah Server Part 2
38 Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39 Bab 39. Sekandal Buah Duku
40 Bab 40. Kepulangan Antonio
41 Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42 Bab 42. Masih Flashback
43 Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44 Bab 44. Trauma makan ubi
45 Bab 45. Di labrak Pacar
46 Bab 46. Digebukin Pacar
47 Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48 Bab 48. Konser Air Mata Congean
49 Bab 49. Mengalah
50 Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51 Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52 Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53 Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54 Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55 Bab 55. Kentut Bajaj
56 Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57 Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58 Bab 58. Telpon Dari Rayi
59 Bab 59. Kedatangan Rayi
60 Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61 Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62 Bab 62. Salah Paham
63 Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64 Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65 Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66 Bab 66. Pura-pura Pingsan
67 Bab 67. Pacar Hongkong
68 Bab 68. Modus Kecupan Kening
69 Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70 Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71 Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72 Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73 Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74 Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75 Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76 Bab 76. Tuan Muda Posesif
77 Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78 Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79 Bab 79.
80 Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81 Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82 Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83 Bab 83. Eksperimen Kuliner
84 Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85 Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86 Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87 Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88 Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89 Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90 Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91 Bab 91. Botol Jamu Kosong
92 Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93 Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94 Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95 Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96 Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97 Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98 Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99 Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100 Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101 Bab 101. Kentut Berjamaah
102 Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103 Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104 Bab 104. TAMAT
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2
Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3
Bab 3. Tuan Muda Rakha
4
Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5
Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6
Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7
Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8
Bab 8. Nona Masker Hitam
9
Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10
Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11
Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12
Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13
Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14
Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15
Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16
Bab 16. Vonis Jantung
17
Bab 17. Orang yang Sama
18
Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19
Bab 19. Berubah Lagi
20
Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21
Bab 21. Salah Peluk
22
Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23
Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24
Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25
Bab 25. Prahara Seblak Maut
26
Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27
Bab 27. Burung Hilang
28
Bab 28. Burung Hilang Part 2
29
Bab 29. Modus Beruang Kutub
30
Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31
Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32
Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33
Bab 33. Ketemu Rayi
34
Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35
Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36
Bab 36. Salah Server
37
Bab 37. Salah Server Part 2
38
Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39
Bab 39. Sekandal Buah Duku
40
Bab 40. Kepulangan Antonio
41
Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42
Bab 42. Masih Flashback
43
Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44
Bab 44. Trauma makan ubi
45
Bab 45. Di labrak Pacar
46
Bab 46. Digebukin Pacar
47
Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48
Bab 48. Konser Air Mata Congean
49
Bab 49. Mengalah
50
Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51
Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52
Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53
Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54
Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55
Bab 55. Kentut Bajaj
56
Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57
Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58
Bab 58. Telpon Dari Rayi
59
Bab 59. Kedatangan Rayi
60
Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61
Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62
Bab 62. Salah Paham
63
Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64
Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65
Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66
Bab 66. Pura-pura Pingsan
67
Bab 67. Pacar Hongkong
68
Bab 68. Modus Kecupan Kening
69
Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70
Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71
Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72
Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73
Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74
Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75
Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76
Bab 76. Tuan Muda Posesif
77
Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78
Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79
Bab 79.
80
Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81
Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82
Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83
Bab 83. Eksperimen Kuliner
84
Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85
Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86
Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87
Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88
Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89
Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90
Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91
Bab 91. Botol Jamu Kosong
92
Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93
Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94
Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95
Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96
Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97
Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98
Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99
Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100
Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101
Bab 101. Kentut Berjamaah
102
Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103
Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104
Bab 104. TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!