Bab 3. Tuan Muda Rakha

"Kalau kamu beneran Alin, kenapa muka kamu bisa glow up brutal dalam semalam?! Kamu pakai filter dunia nyata merek apa, hah?!"

Melihat situasi yang mulai mengundang perhatian tetangga kos lain, Alin memutar otak. Ia melangkah maju, memangkas jarak, lalu berbisik pelan tepat di telinga Bu Sinta.

"Ibu masih nggak percaya? Ingat tidak, waktu pertama kali Alin datang survei kosan ini setahun lalu? Alin dengar suara 'ledakan' dari perut Ibu di kamar mandi umum. Terus pas Ibu keluar buru-buru karena ada telepon, ada... anu... 'lele kuning' yang menempel di bagian belakang daster macan Ibu akibat Ibu lupa cebok bersih karena diare. Ingat?"

Mata Bu Sinta seketika membelalak sempurna setara ukuran jengkol. Wajahnya yang tadi merah akibat emosi, kini berubah menjadi merah padam menembus ubun-ubun akibat malu yang luar biasa.

Aib "lele kuning" akibat salah makan seblak itu adalah rahasia paling kelam, paling haram, dan paling tabu dalam kariernya sebagai janda bahenol sekecamatan.

"Ka-ka-kamu... kok tahu?!" suara Bu Sinta bergetar, mendadak gagap.

"Makanya, Bu. Percaya kan sekarang kalau aku ini Alin?" Alin tersentak menahan tawa.

"Iya, iya! Saya percaya! Tapi demi Allah jangan kencang-kencang ngomongnya! Mau ditaruh di mana muka saya kalau kedengaran anak-anak kos lain?!"

Bu Sinta merapikan dasternya dengan gerakan super gugup, matanya melirik kiri-kanan ketakutan. "Ya sudah! Kalau kamu nggak percaya dibilang cantik, mending kamu ngaca dulu sana! Saya mau pergi nagih kontrakan sebelah!"

Tanpa menunggu jawaban, Bu Sinta langsung melenggang pergi dengan langkah seribu, menyisakan Alin yang mendengus geli.

"Masa aku dibilang cantik? Ibu kos ada-ada saja efek kurang piknik."

Karena kata-kata Bu Sinta tadi memicu rasa penasarannya, ditambah di kamarnya tidak ada cermin, mata Alin tidak sengaja menangkap sebuah mobil mewah berwarna hitam legam yang terparkir tepat di depan pagar gang kosan.

Mobil itu tampak sangat asing di lingkungan kumuh tersebut—sebuah sedan mewah dengan kaca film super gelap dan mengkilap yang memantulkan cahaya matahari bagaikan cermin darurat kelas satu.

Alin mendekat dengan langkah riang. Begitu bayangan tubuhnya terpantul di kaca mobil samping yang hitam legam itu, langkah Alin mendadak terkunci. Ia mematung. Matanya membulat sempurna sampai hampir melompat dari rongganya.

Ia meraba pipinya yang kini halus tanpa satu pun tonjolan jerawat batu. Ia menyentuh hidungnya yang mendadak mancung mungil berstruktur sempurna, lalu mengelus kulit lengannya yang putih berseri bak susu murni.

Karena terlalu syok, senang, dan sama sekali tidak percaya dengan apa yang dilihatnya (dan terbukti ucapan Mbak Ranti tadi pagi serta Bu Sinta barusan adalah fakta), sirkuit di otak Alin mendadak korslet.

Sifat aslinya yang agak gesrek akibat terlalu lama tertekan batin pun keluar. Alin mulai bertingkah konyol di depan kaca mobil berbiaya miliaran rupiah tersebut.

Ia cengar-cengir sendiri, lalu menekan ujung hidungnya ke atas menggunakan jari telunjuk hingga menyerupai hidung babi, sambil bergaya ngek-ngok dengan ekspresi wajah yang dibuat jelek.

Belum puas, ia menjulurkan lidahnya panjang-panjang, menarik kedua sudut bibirnya hingga lebar, lalu menggoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan seperti sedang melakukan ritual pemanggilan hujan.

Alin tertawa cekikikan sendiri, mengagumi betapa elastisnya wajah barunya. Ia benar-benar mengira kaca mobil mewah itu hanyalah benda mati yang tidak berpenghuni.

Sampai akhirnya... kaca film yang semula hitam pekat itu perlahan-lahan bergerak turun secara otomatis dengan suara mesin yang sangat halus.

Bzzzz...

Di dalam kabin mobil yang sejuk oleh semburan AC mewah, duduk dua orang pria. Yang satu mengenakan setelan jas hitam formal. Pria yang duduk di kursi kemudi—seorang pria paruh baya dengan seragam sopir—sedang menahan tawa sampai wajahnya membiru.

Sementara di kursi belakang, duduk seorang pemuda tampan dengan tatapan mata yang luar biasa tajam namun kini memancarkan ekspresi antara takjub, syok, dan setengah mulas akibat menahan tawa melihat tingkah "bidadari gesrek" yang baru saja melakukan pertunjukan sirkus gratis di jendela mobilnya.

Pemuda di kursi belakang itu menurunkan kacamata hitamnya perlahan, menatap Alin yang masih mematung seperti patung pancoran.

"Sudah selesai pertunjukannya... atau mau saya putarkan musik biar lebih menjiwai?"

Suara berat yang sedingin es di kutub utara itu memutus seluruh pasokan oksigen di sekitar gang kosan.

Alin membeku di tempat. Posisinya saat ini benar-benar tidak tertolong oleh estetika mana pun: jari telunjuknya masih menempel di ujung hidung hingga membentuk hidung babi, sementara lidahnya menjulur keluar dengan mata mendelik konyol.

Kalau saja ada sumur di dekat situ, saat ini juga Alin sudah menceburkan diri tanpa pikir panjang. Ah, ralat! Alin sadar dia tidak punya nyali untuk berenang di air sumur yang gelap.

Dan seandainya ada cangkul, Alin mungkin akan menggali lubang sedalam-dalamnya untuk mengubur rasa malunya hidup-hidup. Tapi dipikir-pikir, kalau dia menggali dulu, keburu ubanan dan jadi fosil dong?

Dengan gerakan patah-patah seperti robot kehabisan baterai, Alin menarik tangannya jatuh ke samping tubuh. Wajahnya yang kini seputih susu mendadak bertransformasi menjadi sewarna kepiting rebus yang overmatang.

Tatapan Alin langsung tertuju pada pemuda tampan yang mengenakan kemeja kasual namun mahal. Alisnya tebal, kulitnya bersih, dan ada sebuah tahi lalat kecil di bawah mata kanannya yang memberikan kesan misterius sekaligus mematikan. Rambut hitamnya yang agak gondrong tertata acak-acakan tapi estetik.

Alin mengerutkan kening di tengah rasa malunya.

Tunggu dulu. Wajah ini... bukankah cowok ini adalah salah satu dari pemuda yang tadi duduk di meja tengah warteg?!

"Maaf Tuan Muda Rakha, apakah mau turun sekarang? Atau mau nunggu tahun depan pas ganti kalender masehi?" celetuk pria paruh baya di kursi kemudi bernama Pak Amir. Tangannya masih setia memegang setir, namun matanya melirik jahil lewat spion tengah.

"Bapak bercanda atau mau saya pecat sekarang juga?" sahut Rakha datar tanpa mengalihkan pandangan tajamnya dari Alin.

Walaupun ancamannya terdengar ngeri, Pak Amir hanya terkekeh pelan. Pria tua itu sudah mengabdi di keluarga Bagaskara selama dua puluh tahun, paham betul kalau tuan mudanya ini tipe "galak-galak sayang".

Rakha sengaja memilih kos-kosan triplek ini untuk menyamarkan identitas aslinya. Ia sudah muak menjadi "bayangan" di kediaman Bagaskara karena selalu dibanding-bandingkan dengan kembarannya, Rayi Arjuna Bagaskara, yang lebih jangkung 3 cm dan memiliki kepribadian seceria matahari.

"Maaf Tuan, jangan marah. Saya cuma mau ngetes, jantung Tuan masih fungsi atau sudah jadi batu pas lihat bidadari ngek-ngok," canda Pak Amir lagi, membuat Rakha berdeham kesal demi menyembunyikan fakta bahwa jantungnya memang sedang melakukan maraton akibat bertemu lagi dengan gadis warteg ini.

Rakha membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan postur tinggi tegapnya yang langsung membuat gang sempit itu terasa semakin sesak.

"Lo ngapain halangin pintu mobil gue? Minggir. Gue mau lewat," ucap Rakha ketus, melangkah maju dan sedikit menggeser bahu Alin dengan ujung jarinya.

"Ma-maaf... A-aku... A-aku..."

Alin mendadak kehilangan seluruh kosakata bahasa Indonesia-nya. Lidahnya kelu. Efek ubi rebus semalam rupanya belum memperbaiki saraf bicaranya saat berhadapan dengan makhluk visual seperti Rakha.

"Ah, kelamaan lo! Nungguin lo selesai gagap, keburu bangkotan tuh Pak Amir di dalam mobil!"

Episodes
1 Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2 Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3 Bab 3. Tuan Muda Rakha
4 Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5 Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6 Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7 Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8 Bab 8. Nona Masker Hitam
9 Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10 Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11 Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12 Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13 Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14 Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15 Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16 Bab 16. Vonis Jantung
17 Bab 17. Orang yang Sama
18 Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19 Bab 19. Berubah Lagi
20 Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21 Bab 21. Salah Peluk
22 Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23 Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24 Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25 Bab 25. Prahara Seblak Maut
26 Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27 Bab 27. Burung Hilang
28 Bab 28. Burung Hilang Part 2
29 Bab 29. Modus Beruang Kutub
30 Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31 Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32 Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33 Bab 33. Ketemu Rayi
34 Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35 Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36 Bab 36. Salah Server
37 Bab 37. Salah Server Part 2
38 Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39 Bab 39. Sekandal Buah Duku
40 Bab 40. Kepulangan Antonio
41 Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42 Bab 42. Masih Flashback
43 Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44 Bab 44. Trauma makan ubi
45 Bab 45. Di labrak Pacar
46 Bab 46. Digebukin Pacar
47 Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48 Bab 48. Konser Air Mata Congean
49 Bab 49. Mengalah
50 Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51 Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52 Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53 Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54 Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55 Bab 55. Kentut Bajaj
56 Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57 Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58 Bab 58. Telpon Dari Rayi
59 Bab 59. Kedatangan Rayi
60 Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61 Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62 Bab 62. Salah Paham
63 Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64 Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65 Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66 Bab 66. Pura-pura Pingsan
67 Bab 67. Pacar Hongkong
68 Bab 68. Modus Kecupan Kening
69 Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70 Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71 Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72 Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73 Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74 Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75 Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76 Bab 76. Tuan Muda Posesif
77 Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78 Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79 Bab 79.
80 Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81 Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82 Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83 Bab 83. Eksperimen Kuliner
84 Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85 Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86 Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87 Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88 Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89 Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90 Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91 Bab 91. Botol Jamu Kosong
92 Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93 Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94 Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95 Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96 Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97 Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98 Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99 Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100 Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101 Bab 101. Kentut Berjamaah
102 Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103 Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104 Bab 104. TAMAT
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2
Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3
Bab 3. Tuan Muda Rakha
4
Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5
Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6
Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7
Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8
Bab 8. Nona Masker Hitam
9
Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10
Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11
Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12
Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13
Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14
Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15
Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16
Bab 16. Vonis Jantung
17
Bab 17. Orang yang Sama
18
Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19
Bab 19. Berubah Lagi
20
Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21
Bab 21. Salah Peluk
22
Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23
Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24
Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25
Bab 25. Prahara Seblak Maut
26
Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27
Bab 27. Burung Hilang
28
Bab 28. Burung Hilang Part 2
29
Bab 29. Modus Beruang Kutub
30
Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31
Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32
Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33
Bab 33. Ketemu Rayi
34
Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35
Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36
Bab 36. Salah Server
37
Bab 37. Salah Server Part 2
38
Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39
Bab 39. Sekandal Buah Duku
40
Bab 40. Kepulangan Antonio
41
Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42
Bab 42. Masih Flashback
43
Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44
Bab 44. Trauma makan ubi
45
Bab 45. Di labrak Pacar
46
Bab 46. Digebukin Pacar
47
Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48
Bab 48. Konser Air Mata Congean
49
Bab 49. Mengalah
50
Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51
Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52
Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53
Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54
Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55
Bab 55. Kentut Bajaj
56
Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57
Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58
Bab 58. Telpon Dari Rayi
59
Bab 59. Kedatangan Rayi
60
Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61
Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62
Bab 62. Salah Paham
63
Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64
Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65
Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66
Bab 66. Pura-pura Pingsan
67
Bab 67. Pacar Hongkong
68
Bab 68. Modus Kecupan Kening
69
Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70
Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71
Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72
Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73
Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74
Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75
Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76
Bab 76. Tuan Muda Posesif
77
Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78
Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79
Bab 79.
80
Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81
Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82
Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83
Bab 83. Eksperimen Kuliner
84
Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85
Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86
Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87
Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88
Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89
Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90
Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91
Bab 91. Botol Jamu Kosong
92
Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93
Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94
Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95
Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96
Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97
Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98
Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99
Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100
Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101
Bab 101. Kentut Berjamaah
102
Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103
Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104
Bab 104. TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!