Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya

"Ah, kelamaan lo! Nungguin lo selesai gagap, keburu bangkotan tuh Pak Amir di dalam mobil!" potong Rakha cepat, buru-buru memalingkan muka karena tidak kuat menatap sepasang mata cokelat jernih Alin yang terlalu mematikan dari jarak dekat.

"Lah, Tuan Muda kok bawa-bawa saya sih? Salah saya teh naon atuh?"

Pak Amir keluar dari mobil sambil memegangi pinggangnya, ikut memprotes. "Emang saya sudah tua, tapi belum bangkotan-bangkotan amat. Gini-gini juga saya masih laku kalau ditawarin ke perawan... yang sudah rabun dekat," bisik Pak Amir di kalimat terakhir agar tidak kena semprot.

"Sudah, Pak. Jangan banyak drama. Sekarang tolong bawain koper saya yang di bagasi," perintah Rakha dingin, berjalan mendahului menuju gerbang kosan Bu Sinta.

"Baik, Tuan!"

Pak Amir segera bergerak ke belakang, mengeluarkan koper hitam besar dari bagasi. Namun sebelum menyusul langkah Rakha yang cepat, pria tua itu menyempatkan diri menghampiri Alin yang masih mematung layaknya Tugu Tani.

"Neng, maafin Tuan saya, ya. Dia itu memang kayak kerupuk melempem, kelihatannya keras tapi aslinya baik kok kalau sudah kenal," bisik Pak Amir ramah.

"I-iya, tidak apa-apa kok, Pak," sahut Alin, masih dengan mode bicara patah-patah akibat syok.

Dan tunggu dulu... cowok galak tadi mau mengekos di sini?! Di kosan triplek ini?! Dunia macam apa ini?!

"Neng, maaf ya sebelumnya, kalau boleh tahu namanya siapa? Tinggal di sini juga ya?" tanya Pak Amir kepo maksimal, mengabaikan teriakan Rakha yang sudah memanggilnya dari dalam gang.

"Eum, iya Pak. Saya ngekos di sini, sudah hampir setahun lebih. Nama saya... Alin, Pak. Maaf saya agak tidak fokus," jawab Alin jujur, otaknya masih mengalami buffering parah.

Pak Amir terkekeh melihat Alin yang mendadak gagu. Ia lalu mendekat, melirik ke arah lorong kosan untuk memastikan Rakha tidak mendengar, lalu membisikkan sesuatu dengan logat Sunda yang kental.

"Neng, Tuan Muda saya mah nggak suka ngomong sama orang yang gagap. Mungkin tadi dia ketus gara-gara Neng ngomongnya patah-patah begitu. Tapi tenang aja Neng, ada pepatah Sunda bilang..." Pak Amir menjeda kalimatnya, lalu nyengir lebar hingga giginya kelihatan semua.

"Ngomong balelol, hitut bentes!"

Alin mengerutkan kening. "Artinya apa, Pak?"

"Artinya... ngomongnya boleh belepotan, tapi kalau kentut lancar jaya dan wangi mawar! Hahaha!" seru Pak Amir yang langsung ngacir terbirit-birit menyeret koper besar menyusul Rakha sebelum kena lempar sepatu belel Alin.

Mata Alin seketika melotot sempurna. Jantungnya nyaris melompat keluar untuk kedua kalinya hari ini. Hitut bentes?! Kentut lancar jaya?! Wangi mawar?!

"D-dari mana bapak-bapak bangkotan itu tahu kalau bau kosan ini wangi mawar?!" pekik Alin dalam hati dengan horor tingkat dewa.

Apakah Pak Amir punya indra keenam, atau bau kentut mawarnya tadi pagi memang sudah menyebar sampai ke jalan raya seberang?

"Dasar bangkotan mesum!!" teriak Alin kesal, menghentakkan kakinya ke aspal panas dengan dongkol luar biasa.

Setelah emosinya sedikit mereda, Alin bergegas berlari menuju pintu kamarnya. Dengan tangan yang masih gemetar, ia memutar selot kunci, melesat masuk, dan langsung menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur busa tipisnya.

Sambil menatap langit-langit kamar yang sedikit berdebu, Alin meraba seluruh permukaan wajah barunya yang terasa sehalus sutra. Kejadian hari ini terlalu tidak masuk akal.

Mulai dari kentut mawar, wajah dewi, dikejar tatapan satu warteg, dituduh sindikat penculik oleh Bu Sinta, sampai puncaknya: bertingkah konyol menyerupai babi di depan calon tetangga kos barunya yang ternyata super tampan dan super galak.

"Apa ini cuma mimpi? Kalaupun mimpi, aku benar-benar tidak mau bangun. Terima kasih Tuhan, setidaknya sekarang tidak akan ada lagi yang mengataiku si Mutiara Dekil," bisiknya pelan seraya memejamkan mata, memeluk guling loaknya erat-erat.

****

Tanpa terasa, akibat kelelahan mental menghadapi rentetan keajaiban dan rasa malu, Alin tertidur sejenak. Saat matanya kembali terbuka, jarum jam dinding plastik di tembok sudah menunjukkan pukul 14:30 siang.

Alin tersentak kaget. "Aduh, mampus! Setengah tiga!"

Ia hanya membutuhkan waktu sepuluh menit berjalan kaki ke rumah makan tempatnya bekerja mencuci piring, dan jam kerjanya dimulai tepat pukul tiga sore.

Dengan semangat baru, ketakutan akan potongan gaji, dan wajah baru yang masih ia sembunyikan di balik selembar masker kain hitam, Alin melangkah keluar kamar. Ia siap memulai sif kerjanya, sama sekali tidak menduga bahwa di luar sana, takdir sudah menyiapkan kejutan yang jauh lebih besar untuk menyambut penampilan barunya.

Alin melangkah masuk ke tempat kerjanya tepat waktu. Sebagai penganut setia prinsip "lebih baik datang satu jam lebih awal daripada telat satu detik", Ia sudah siap siaga di pos sebelum pukul tiga sore.

Alin tahu betul, rekan-rekannya yang sudah diperas tenaganya sejak jam sembilan pagi pasti sudah bermuka "lecek" mirip cucian basah yang lupa disetrika tiga hari.

Di rumah makan sederhana ini, hanya ada empat karyawan tangguh—termasuk Alin—dan sang penguasa tertinggi, Bu Sinta. Beliau bukan hanya pemilik kedai makan, tapi juga induk semang kosan Alin. Jadi, kalau Alin macam-macam di tempat kerja, nasib kamar kosnya pun bisa ikut terancam digembok.

Namun, suasana sore itu mendadak gempar. Kedatangan Alin disambut dengan parade mata melotot dari rekan-rekannya. Cuti sehari demi merayakan kelulusan sendirian, Alin pulang-pulang sudah berubah drastis bagaikan artis papan gilesan yang baru saja keluar dari salon internasional.

Elis, sang kasir berusia dua puluh dua tahun yang paling dekat dengan Alin, sampai harus mengucek matanya berkali-kali hingga maskaranya luntur. "Lin, ini beneran kamu bukan sih? Atau kamu kembarannya yang ketukar di rumah sakit waktu bayi?"

Alin tersenyum canggung di balik kepasrahannya. "Iya, Kak Elis. Emangnya siapa lagi kalau bukan Alin?"

Bukan cuma Elis. Emilio—sang koki yang tangannya selalu lincah memainkan sutil—dan Diana pun ikut merangsek maju, mengerumuni Alin seperti semut kelaparan menemukan tumpahan gula premium.

"Iya, Lin! Kamu makin cantik aja, asli! Kulitnya kok bisa bening kinclong kayak porselen begini?" puji Emilio dengan mata berbinar-binar sampai lupa membalik tempe gorengnya.

"Kamu perawatan di klinik mana sih? Kok bisa langsung glow up brutal secepat kilat gitu? Jadi pengen deh, biar pas pulang kerja wajahku nggak kucel dan berminyak kayak bumbu rendang begini," tambah Diana sambil gemas mencubit pipi Alin yang kini kenyal merona sehat.

"Eumm... anu Kak, itu..." Alin mulai gagap.

Otaknya mendadak hang mencari alasan logis yang pas dengan akal sehat manusia Jakarta.

Masa ia harus jujur kalau ia baru saja ketiban keajaiban mistis gara-gara makan ubi jalar pemberian nenek misterius? Matanya melirik panik ke arah Bu Sinta yang sedang mengawasi dari balik meja pesanan.

Bu Sinta, yang sadar betul bahwa Alin adalah satu-satunya pemegang kunci rahasia kelam tentang "lele kuning" di dasternya tempo hari, langsung bertindak sebagai tameng baja. Ia menghampiri gerombolan itu sambil berkacak pinggang, membuat daster macan tutulnya berkibar dramatis.

"Kalian pada bubar! Bukannya kerja yang benar, malah asyik kepoin orang! Kalau Alin berubah jadi cantik ya bagus dong, ada kemajuan genetika! Nggak usah repot-repot ngurusin hidup orang. Ngerti kalian?!"

Episodes
1 Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2 Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3 Bab 3. Tuan Muda Rakha
4 Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5 Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6 Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7 Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8 Bab 8. Nona Masker Hitam
9 Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10 Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11 Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12 Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13 Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14 Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15 Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16 Bab 16. Vonis Jantung
17 Bab 17. Orang yang Sama
18 Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19 Bab 19. Berubah Lagi
20 Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21 Bab 21. Salah Peluk
22 Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23 Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24 Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25 Bab 25. Prahara Seblak Maut
26 Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27 Bab 27. Burung Hilang
28 Bab 28. Burung Hilang Part 2
29 Bab 29. Modus Beruang Kutub
30 Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31 Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32 Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33 Bab 33. Ketemu Rayi
34 Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35 Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36 Bab 36. Salah Server
37 Bab 37. Salah Server Part 2
38 Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39 Bab 39. Sekandal Buah Duku
40 Bab 40. Kepulangan Antonio
41 Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42 Bab 42. Masih Flashback
43 Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44 Bab 44. Trauma makan ubi
45 Bab 45. Di labrak Pacar
46 Bab 46. Digebukin Pacar
47 Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48 Bab 48. Konser Air Mata Congean
49 Bab 49. Mengalah
50 Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51 Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52 Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53 Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54 Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55 Bab 55. Kentut Bajaj
56 Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57 Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58 Bab 58. Telpon Dari Rayi
59 Bab 59. Kedatangan Rayi
60 Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61 Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62 Bab 62. Salah Paham
63 Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64 Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65 Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66 Bab 66. Pura-pura Pingsan
67 Bab 67. Pacar Hongkong
68 Bab 68. Modus Kecupan Kening
69 Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70 Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71 Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72 Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73 Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74 Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75 Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76 Bab 76. Tuan Muda Posesif
77 Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78 Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79 Bab 79.
80 Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81 Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82 Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83 Bab 83. Eksperimen Kuliner
84 Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85 Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86 Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87 Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88 Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89 Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90 Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91 Bab 91. Botol Jamu Kosong
92 Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93 Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94 Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95 Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96 Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97 Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98 Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99 Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100 Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101 Bab 101. Kentut Berjamaah
102 Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103 Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104 Bab 104. TAMAT
Episodes

Updated 104 Episodes

1
Bab 1. Kutukan Aroma Mawar
2
Bab 2. Bidadari Makan di Warteg
3
Bab 3. Tuan Muda Rakha
4
Bab 4. Rahasia Kentut Lancar Jaya
5
Bab 5. Insiden Jus Buah Naga
6
Bab 6. Ganti Rugi Delapan Juta dan Teror Setan Jam Dua Belas
7
Bab 7. Teori Bajaj Mawar
8
Bab 8. Nona Masker Hitam
9
Bab 9. Malam Jagal di Kediaman Alexius
10
Bab 10. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 2
11
Bab 11. Malam Jagal di Kediaman Alexius Part 3
12
Bab 12. Efek Ubi Cinderella
13
Bab 13. Model Dadakan dan Kloningan Alysa
14
Bab 14. Pertemuan dengan pemilik butik
15
Bab 15. Skandal Kamar Lantai Dua
16
Bab 16. Vonis Jantung
17
Bab 17. Orang yang Sama
18
Bab 18. Ketika Malaikat dan Setan Berbagi Lorong Kos
19
Bab 19. Berubah Lagi
20
Bab 20. Selamat Datang Hanindya, Selamat Tinggal Harga Diri
21
Bab 21. Salah Peluk
22
Bab 22. Transformasi Kentut Mawar
23
Bab 23. Konser Banci Ketiban Panci
24
Bab 24. Bertemu Lagi Dengan Rakha
25
Bab 25. Prahara Seblak Maut
26
Bab 26. Konspirasi Ubi Rebus
27
Bab 27. Burung Hilang
28
Bab 28. Burung Hilang Part 2
29
Bab 29. Modus Beruang Kutub
30
Bab 30. Lampu Bohlam Berambut
31
Bab 31. Kamar VIP Rasa RSJ
32
Bab 32. Krisis Jati Diri Tuan Muda
33
Bab 33. Ketemu Rayi
34
Bab 34. Hari Pertama Masuk Sekolah
35
Bab 35. Salah Server di Lapak Penguasa Kantin
36
Bab 36. Salah Server
37
Bab 37. Salah Server Part 2
38
Bab 38. Tuan Muda Menyebalkan
39
Bab 39. Sekandal Buah Duku
40
Bab 40. Kepulangan Antonio
41
Bab 41. Jejak Darah Dinasti dan Bayi yang Terbuang
42
Bab 42. Masih Flashback
43
Bab 43. Teror Kuliner Ungu dan Trauma Aset Berharga
44
Bab 44. Trauma makan ubi
45
Bab 45. Di labrak Pacar
46
Bab 46. Digebukin Pacar
47
Bab 47. Bibir Jontor dan Drama Susu
48
Bab 48. Konser Air Mata Congean
49
Bab 49. Mengalah
50
Bab 50. Tragedi Jinak-Jinak Merpati
51
Bab 51. Azab Tahi Ayam Hangat
52
Bab 52. Reuni Dingin Mantan Ketua OSIS
53
Bab 53. Spesialis Maling Sempak
54
Bab 54. Tembakan Angin Rooftop
55
Bab 55. Kentut Bajaj
56
Bab 56. Gengsi Setinggi Langit
57
Bab 57. Di Gendong Tuan Muda
58
Bab 58. Telpon Dari Rayi
59
Bab 59. Kedatangan Rayi
60
Bab 60. Konspirasi Pintu Kos
61
Bab 61. Tragedi Cicak Nyungsep
62
Bab 62. Salah Paham
63
Bab 63. Bencana "Bapak Bertanya-tanya"
64
Bab 64. Gengsi Setinggi langit
65
Bab 65. Gengsi Setinggi Langit Part 2
66
Bab 66. Pura-pura Pingsan
67
Bab 67. Pacar Hongkong
68
Bab 68. Modus Kecupan Kening
69
Bab 69. Fitnah Jus Mangga Kental
70
Bab 70. Provokasi Sang Nona Muda
71
Bab 71. Kompensasi Cancel Cinta
72
Bab 72. Luka Dua Tuan Muda
73
Bab 73. Drama Kuah Mi Instan dan Perebutan Hak Panggil
74
Bab 74. Drama Kerokan Sosialita dan Atlet Lari Dadakan Supermarket
75
Bab 75. Pembantu Jadi-jadiam
76
Bab 76. Tuan Muda Posesif
77
Bab 77. Pukulan Mentah dan Rahasia Detak Jantung
78
Bab 78. Petaka Tengah Malam di Studio 4
79
Bab 79.
80
Bab 80. Misteri Lutung Kasarung di Tangga Sekolah
81
Bab 81. Penculikan Bermotor dan Baptisan Air Danau
82
Bab 82. Hilangnya Efek Ubi Rebus
83
Bab 83. Eksperimen Kuliner
84
Bab 84. Tragedi Hilangnya Sang Jati Diri
85
Bab 85. Siraman Kuah Bakso
86
Bab 86. Badai di Meja Kasir dan Sabotase Linzy
87
Bab 87. Serbuan Buaya Buntung dan K-Pop Idol Kamar Sebelah
88
Bab 88. Tragedi Buronan Identitas Diri
89
Bab 89. Misi Rahasia dan Silsilah Kolesterol
90
Bab 90. Interogasi Parkiran Sekolah dan Tragedi Jamu Pelancar BAB
91
Bab 91. Botol Jamu Kosong
92
Bab 92. Rshasia di Balik Kemudi
93
Bab 93. Kode "Leona" dari Dimensi Mimpi
94
Bab 94. Penggerebekan Tengah Malam dan Serbuan Komedi Tokek
95
Bab 95. Paket Heboh di Pagi Hari
96
Bab 96. Tragedi Usus Jompo dan Rahasia Karakter Tata
97
Bab 97. Senjata Pemusnah Massal Cap Kulit Pisang
98
Bab 98. Suapan Gengsi dan Ultimatum Tuan Muda
99
Bab 99. Air Mata Pengakuan di Ruang Tamu Mewah
100
Bab 100. Punya Rahasia yang Sama
101
Bab 101. Kentut Berjamaah
102
Bab 102. Ultimatum Lulus Kuliah dan Posesif Jalur Skakmat
103
Bab 103. Tragedi di Kolumbarium
104
Bab 104. TAMAT

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!