Episode 2

Bab 2

Mantan Tunangan yang Tidak Diundang

"Kalau begitu, kita lihat saja siapa yang lebih dulu menyerah."

Kalimat Sekar masih menggantung di ruang tengah ketika Tan Ardian menatapnya tanpa berkedip. Darren bahkan tidak berani bernapas terlalu keras.

Tiga detik.

Lima detik.

Sekar tetap menunduk membersihkan pecahan gelas, seolah baru saja mengatakan harga cabai di pasar, bukan menantang pria paling sulit di rumah ini.

Ardian akhirnya memutar kursi rodanya.

"Darren."

"Iya, Koko?"

"Kalau dia merusak barang, potong dari gajimu."

Wajah Darren langsung pucat. "Kok gajiku?"

"Kamu yang membawanya."

Setelah mengatakan itu, Ardian pergi menuju koridor tanpa menoleh lagi. Suara roda elektriknya halus, tetapi punggungnya dingin sampai membuat ruangan terasa lebih kosong setelah ia menghilang.

Darren menatap Sekar dengan mata hampir basah. "Mbak Sekar, tolong jangan rusak barang apa pun. Gajiku tidak sekuat mentalmu."

Sekar mengikat kantong sampah kecil berisi pecahan kaca. "Kalau dia yang merusak?"

"Itu... biasanya masuk biaya operasional penderitaan keluarga."

Sekar menahan senyum. Setidaknya, adik Tuan Muda itu masih punya fungsi: membuat rumah semahal ini tidak sepenuhnya terasa seperti museum tempat orang dimarahi.

Sisa pagi berjalan dengan cara yang aneh. Sekar diperkenalkan pada dapur yang ukurannya lebih besar dari ruang tamu rumahnya, kamar obat yang lebih rapi daripada klinik kecil, dan lift pribadi yang hanya bisa diakses dengan kartu. Darren menjelaskan semuanya sambil sesekali menoleh ke koridor, seperti takut Ardian muncul dari dinding.

"Koko paling tidak suka orang masuk kamar tanpa izin. Jangan pegang kaki sebelum jadwal. Jangan komentar soal kursi roda. Jangan tanya kecelakaan. Jangan bilang kasihan. Jangan..."

"Pak Darren," potong Sekar, "kalau semua tidak boleh, saya kerja apa?"

Darren terdiam.

"Berdoa?" jawabnya ragu.

Sekar menghela napas. Tiga hari, katanya. Sepertinya tiga hari itu akan terasa seperti magang di medan perang.

Menjelang sore, rumah yang sejak pagi dingin tiba-tiba menjadi lebih sibuk. Dua satpam di depan mengirim pesan lewat interkom. Darren yang sedang minum air hampir tersedak.

"Siapa?" tanya Sekar.

Darren melihat layar tablet, lalu wajahnya berubah tidak enak. "Hartono Felicia."

Nama itu membuat dua asisten rumah tangga yang sedang lewat saling pandang. Sekar menangkap perubahan kecil itu. Seperti ada nama yang tidak boleh disebut keras-keras di rumah ini.

"Siapa dia?"

Darren belum sempat menjawab.

Pintu utama sudah terbuka.

Seorang perempuan masuk tanpa menunggu dipersilakan. Gaun putih tulangnya jatuh rapi sampai lutut, tas kecil bermerek tergantung di pergelangan tangan, rambut panjangnya ditata lembut. Wajahnya cantik dengan cara yang mahal. Jenis cantik yang tahu kamera akan menyukainya dari sudut mana pun.

Di belakangnya, seorang sopir membawa kotak kecil dan satu folder dokumen.

"Darren," sapa perempuan itu. Senyumnya tipis. "Lama tidak bertemu."

Darren berdiri kaku. "Felicia, kamu tidak buat janji."

"Aku masih tunangan kakakmu. Perlu buat janji untuk masuk rumah calon suamiku sendiri?"

Sekar yang berdiri di dekat meja bunga langsung paham. Hartono Felicia. Tunangan Ardian.

Atau mungkin sebentar lagi bukan.

Suara roda elektrik terdengar dari koridor. Ardian muncul dengan wajah tanpa ekspresi. Selimut tipis masih menutup kakinya. Tidak ada kejutan di matanya saat melihat Felicia, seolah ia sudah menduga hari buruk punya jadwal sendiri.

"Untuk apa datang?" tanyanya.

Felicia tersenyum lebih lebar. "Menyelesaikan sesuatu."

Ia memberi isyarat pada sopir. Pria itu membuka folder, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu meletakkannya di meja.

"Surat pembatalan pertunangan," kata Felicia lembut. "Aku sudah tanda tangan."

Ruang tengah langsung sunyi.

Darren melangkah maju. "Felicia, kalau mau bicara, bicara baik-baik. Jangan di sini."

"Kenapa?" Felicia menoleh pelan. "Takut pengasuh baru mendengar?"

Tatapannya akhirnya jatuh pada Sekar. Dari atas ke bawah. Dari sepatu murah, ransel yang belum sempat dibawa ke kamar, sampai rambut Sekar yang diikat asal. Senyumnya berubah sedikit.

"Oh. Ini nomor berapa?"

Sekar menatapnya. "Delapan puluh delapan."

"Semoga bertahan lebih lama dari yang kemarin."

"Amin," jawab Sekar datar.

Darren menahan napas. Ardian tidak bereaksi.

Felicia membuka kotak kecil dari sopir. Di dalamnya ada cincin pertunangan dengan batu yang berkilau dingin. Ia meletakkannya di meja, tepat di depan Ardian.

"Aku mengembalikan ini."

Ardian hanya melihat cincin itu sebentar. "Selesai?"

Senyum Felicia menipis. Rupanya ia tidak puas jika lukanya tidak terlihat.

"Belum."

Ia mengambil ponsel, menyambungkannya ke layar besar di ruang tengah. Darren langsung bergerak, tetapi Felicia lebih cepat menekan tombol putar.

Video itu menyala.

Dalam video, Ardian duduk di lantai kamar rumah sakit. Rambutnya lebih panjang, wajahnya pucat, dan kursi roda terbalik di sampingnya. Tangannya mencengkeram seprai, berusaha menarik tubuhnya naik. Kakinya tidak bergerak. Ada suara orang tertawa kecil di balik rekaman. Bukan tawa keras, tetapi cukup untuk membuat telinga panas.

"Jangan!" Darren membentak.

Sekar membeku.

Di layar, Ardian yang dulu masih berjuang menarik tubuhnya. Napasnya berat. Bahunya bergetar. Rekaman itu bukan sekadar memalukan. Itu seperti seseorang mengintip luka yang seharusnya ditutup, lalu membawanya ke ruang tamu untuk dijadikan tontonan.

Felicia mematikan video setelah beberapa detik, cukup lama untuk menyakiti, cukup singkat untuk berpura-pura tidak kejam.

"Aku tidak sanggup," katanya pelan. "Aku tidak bisa menikah dengan pria yang bahkan tidak bisa berdiri di hari pernikahannya sendiri."

Darren menatapnya dengan mata merah. "Kamu keterlaluan."

"Aku realistis." Felicia menoleh pada Ardian. "Keluargaku juga butuh kepastian. Aku masih muda, Ardian. Aku tidak mungkin menghabiskan hidupku menjadi perawat."

Sekar merasakan tangannya mengepal.

Pagi tadi, Ardian memang menyebalkan. Ia melempar gelas, mengusir orang, membuat rumah ini seperti tempat ujian kesabaran. Tapi melihat seseorang memakai luka orang lain sebagai alat tawar, rasanya berbeda.

Itu bukan keberanian. Itu kejam yang dibungkus gaun mahal.

Ardian sejak tadi diam. Wajahnya tidak berubah. Hanya jari di sandaran kursi roda yang menekan pelan, satu kali.

Tombol darurat merah menyala.

Tidak sampai lima detik, empat bodyguard berbaju hitam masuk dari pintu samping.

Felicia tertegun.

Ardian mengangkat wajah. Suaranya tenang, hampir malas.

"Antar Nona Hartono keluar."

"Ardian." Felicia tertawa kecil, tetapi nadanya mulai retak. "Kamu mengusirku?"

"Kamu sendiri yang mengembalikan cincin. Tamu tanpa undangan tidak perlu diantar terlalu sopan."

Dua bodyguard berdiri di kanan kiri Felicia. Sopirnya mundur ketakutan. Darren mengambil remote dan mematikan layar sepenuhnya, tangannya gemetar.

Felicia memungut tasnya dengan gerakan kaku. Harga dirinya jelas terluka, tetapi ia masih berusaha tersenyum.

Ketika melewati Sekar, ia berhenti sebentar.

"Jangan terlalu berani, pengasuh. Rumah ini tidak pernah baik pada perempuan biasa."

Sekar menatap lurus. "Kalau begitu, Nona harusnya paling tahu jalan keluarnya."

Wajah Felicia berubah.

Darren mengeluarkan suara kecil lagi, kali ini seperti antara kagum dan takut.

Bodyguard tidak memberi Felicia waktu membalas. Mereka mengantarnya sampai pintu utama. Hak sepatunya mengetuk lantai marmer, keras, cepat, makin jauh.

Di ambang pintu, Felicia berhenti. Ia menoleh pada Ardian. Senyumnya kembali, dingin dan tipis.

"Tan Ardian," katanya, "kamu pikir ini sudah selesai?"

Pintu tertutup setelahnya.

Ruang tengah kembali sunyi. Cincin pertunangan masih tergeletak di meja, berkilau sendirian seperti benda yang salah tempat.

Sekar menoleh pada Ardian.

Pria itu masih duduk tegak di kursi rodanya. Wajahnya tetap dingin. Namun, ujung jarinya menekan sandaran terlalu kuat sampai buku-bukunya memutih.

Untuk pertama kalinya, Sekar merasa kemarahan pria itu mungkin bukan hanya tembok.

Mungkin juga perban.

Terpopuler

Comments

sunaryati jarum

sunaryati jarum

Kamu sepertinya punya bakat jadi psycolog,mampu membaca orang lewat mimiknya,dan mungkin tahu juga cara mengatasinya

2026-07-12

0

@alfaton🤴

@alfaton🤴

wouuuuu........awal yang 👍👍 Budiman Sekar.......semoga angka 88 membawa hoki ya😅😅

2026-07-14

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!