Episode 3

Bab 3

Cabut Baterainya!

Perban yang ditarik paksa bisa berdarah lagi. Sekar memikirkan itu saat melihat Tan Ardian pergi meninggalkan ruang tengah tanpa membawa cincin pertunangan di meja.

Tidak ada yang berani menyentuh cincin itu.

Darren berdiri di dekat sofa dengan remote masih di tangan. Matanya merah, tetapi ia berusaha terlihat biasa. Gagal total.

"Mbak Sekar," katanya pelan, "maaf kamu harus lihat yang tadi."

Sekar mengambil kotak cincin itu, menutupnya, lalu meletakkannya di sisi meja yang tidak langsung terlihat dari koridor. "Yang harus minta maaf bukan Pak Darren."

Darren menunduk. "Koko paling benci dikasihani."

"Saya tidak kasihan."

"Tapi wajahmu tadi..."

"Saya marah," potong Sekar. "Beda."

Darren terdiam. Lalu, untuk pertama kalinya hari itu, ia tersenyum kecil. "Kalau begitu, tolong tetap marah sampai jadwal pijat sore. Karena kalau Koko menolak, biasanya semua orang menyerah."

Sekar melihat map yang ditinggalkan Bu Susi. Di bagian jadwal tertulis jelas:

17.00: pijat ringan, peregangan pasif, pemeriksaan kulit kaki.

Jam di dinding menunjukkan pukul lima lewat sepuluh.

"Dia di kamar?"

Darren mengecek tablet. "Tidak. Kartu lift terakhir berhenti di lantai tiga."

"Ada apa di lantai tiga?"

"Teras. Tempat dia menyiksa diri dengan angin dan wajah dingin."

Sekar mengangguk. "Lift bisa dibuka?"

"Bisa, tapi kalau dia tahu aku bantu..."

"Gajimu dipotong?"

Darren menelan ludah. "Mungkin warisanku."

Sekar mengambil kartu akses dari meja kecil. "Kalau begitu, anggap saja saya mencurinya."

Darren menatapnya seperti melihat pahlawan masuk medan perang memakai sandal rumah.

Teras lantai tiga ternyata luas dan sepi. Dari sana, lampu-lampu Menteng mulai menyala satu per satu. Angin sore membawa bau tanah basah dari taman bawah. Di sisi pagar kaca, Tan Ardian duduk menghadap langit yang mulai gelap. Selimut tipis menutup kakinya. Kursi roda elektriknya diam, tetapi tubuhnya tampak seperti siap menolak siapa pun yang mendekat.

"Pergi," katanya sebelum Sekar bicara.

Sekar berhenti tiga langkah di belakangnya. "Jadwal pijat pukul lima."

"Batal."

"Di map tidak ada kolom batal."

"Buat sekarang."

"Saya pengasuh, bukan sekretaris."

Kursi roda itu berputar setengah lingkaran. Ardian menatapnya. Mata yang tadi terlihat beku sekarang lebih tajam, seperti kaca yang pecah diam-diam.

"Aku bilang pergi."

"Saya dengar."

"Tapi kamu masih berdiri di sini."

"Karena saya belum selesai kerja."

Ardian menekan tombol maju. Kursi itu bergerak ke arah lift, melewati Sekar dengan jarak sangat dekat. Sekar mundur selangkah, lalu matanya menangkap sesuatu di sisi bawah kursi: panel baterai dengan pengunci kecil. Bu Susi pernah menandai bagian itu di map, lengkap dengan tulisan merah: Jangan sentuh kecuali darurat.

Sekar memandang punggung Ardian.

Kalau orang ini dibiarkan pergi, jadwal perawatan hari pertama gagal. Besok ia akan menolak lagi. Lusa juga. Tiga hari itu bukan tantangan untuk mengusir Sekar saja. Itu juga cara Ardian mengusir semua hal yang bisa menyelamatkannya.

Sekar bergerak.

Satu tangan menekan tuas rem manual di belakang roda. Tangan lain membuka pengunci panel dan menarik paket baterai keluar dari slotnya.

Kursi roda berhenti mendadak.

Ardian membeku.

Dua detik kemudian, udara teras seperti disambar petir.

"Budiman Sekar."

Sekar memegang baterai itu di dada. "Iya, Pak Tan?"

"Pasang kembali."

"Setelah pijat."

"Sekarang."

"Setelah pijat."

Ia menekan tombol kursi beberapa kali. Tidak bergerak. Rahangnya mengeras. Tangannya mencengkeram sandaran begitu kuat sampai urat di punggung tangannya terlihat jelas.

"Kamu pikir ini lucu?"

"Tidak. Saya pikir ini jadwal medis."

"Kamu tidak berhak menyentuh kursi rodaku."

"Saya tahu." Sekar menelan rasa takutnya, lalu memaksa suara tetap rata. "Tapi Pak Tan juga tidak berhak membuat tubuh sendiri makin buruk hanya karena sedang marah."

Mata Ardian berubah. Bukan melembut. Lebih mirip luka yang tersentuh sebelum siap.

"Jangan bicara seolah kamu tahu apa pun."

"Saya memang tidak tahu semuanya," kata Sekar. "Saya hanya tahu kalau seseorang punya jadwal perawatan, berarti tubuhnya masih punya sesuatu yang harus dijaga."

Hening.

Angin menyapu rambut Sekar ke wajahnya. Ia menyelipkan rambut itu ke belakang telinga, lalu jongkok di depan kursi roda. Jarak mereka cukup dekat untuk membuat Ardian langsung mundur dengan tubuh bagian atas.

"Apa yang kamu lakukan?"

"Memeriksa kaki."

"Jangan sentuh."

"Saya akan sentuh bagian yang perlu disentuh untuk kerja saya. Kalau sakit, bilang. Kalau tidak nyaman, bilang. Kalau mau memaki, silakan, tapi jangan tendang. Oh, lupa. Untuk sekarang belum bisa."

Wajah Ardian menggelap.

Sekar sadar mulutnya mungkin terlalu cepat, tetapi tangannya tetap hati-hati. Ia membuka selimut tipis itu perlahan. Di bawah kain, kaki Ardian lebih kurus dari yang ia bayangkan, tetapi bukan lemah tanpa bentuk. Ada bekas latihan, ada garis otot yang menipis, dan ada bekas luka panjang di sisi betis kiri. Kulit di sekitarnya membentuk jaringan keloid yang keras dan merah kecokelatan.

Sekar berhenti.

Amarahnya yang tadi panas mendadak turun, diganti sesuatu yang berat di dada.

Luka itu tidak terlihat seperti cerita di artikel bisnis. Tidak terlihat seperti gosip keluarga konglomerat. Luka itu nyata. Jelek. Sakit. Menempel pada tubuh seseorang yang barusan dipermalukan karena tidak bisa berdiri.

Ardian melihat perubahan wajahnya.

"Sudah puas?"

Suaranya lebih rendah dari tadi.

Sekar mengangkat mata. Ia ingin berkata hati-hati, tetapi kata yang keluar justru lain.

"Untung kakinya lumpuh."

Teras itu senyap.

Ardian menatapnya seolah ia baru saja menamparnya.

Dari sudut kamera CCTV di atas pintu, lampu kecil berkedip. Di ruang monitor lantai dua, Darren yang sejak tadi menonton langsung berdiri dari kursinya.

"Mbak Sekar, jangan mati dulu," bisiknya panik pada layar.

Di teras, Sekar menyadari betapa mengerikan kalimatnya terdengar. Namun ia tidak menariknya kembali. Ia menaruh baterai di lantai, lalu memegang pergelangan kaki Ardian dengan sangat hati-hati.

"Maksud saya," lanjutnya, kali ini lebih pelan, "untung yang hilang sementara cuma gerak kaki. Bukan napas Pak Tan. Bukan tangan Pak Tan. Bukan kepala Pak Tan. Bukan kesempatan Pak Tan untuk marah-marah lagi hari ini."

Jari Ardian yang mencengkeram sandaran perlahan berhenti bergerak.

Sekar menunduk. "Saya tidak bilang ini ringan. Saya juga tidak bilang saya mengerti sakitnya. Tapi kalau masih ada jadwal pijat, masih ada dokter, masih ada orang yang membuat pantangan makanan sampai dua setengah halaman, berarti belum selesai. Jadi jangan bertingkah seperti semuanya sudah habis."

Tidak ada jawaban.

Hanya napas Ardian yang terdengar sedikit berat.

Sekar mulai memijat perlahan, mengikuti catatan di map. Tekanan ringan di betis, gerakan memutar di sekitar otot yang aman, peregangan pasif yang tidak memaksa sendi. Ia pernah membantu di Pijat Bahagia sejak kecil. Papa tidak bisa bicara, tetapi tangannya mengajari Sekar bahwa tubuh orang harus didengar, bukan ditaklukkan.

Ardian tidak mengusirnya lagi.

Kadang ujung jarinya berkedut di sandaran. Kadang rahangnya menegang. Namun ketika Sekar bertanya, "Sakit?", ia hanya menjawab pendek, "Lanjut."

Sepuluh menit berlalu.

Lima belas.

Langit di atas Menteng berubah ungu gelap. Lampu taman menyala. Sekar menyelesaikan pijatan terakhir, menutup kembali selimut di atas kaki Ardian, lalu memasang baterai ke tempatnya.

"Selesai," katanya.

Ardian menatapnya lama. Banyak kata seperti lewat di matanya, tetapi tidak satu pun keluar.

Akhirnya ia hanya menekan tombol kursi roda. Mesin menyala halus.

Sebelum pergi, ia berkata tanpa menoleh, "Besok jangan terlambat."

Sekar berdiri di teras dengan telapak tangan yang masih terasa hangat bekas memegang baterai, butuh beberapa detik untuk sadar.

Itu bukan terima kasih.

Tapi dari pria yang pagi tadi melempar dua gelas, kalimat itu hampir terdengar seperti izin hidup.

Di ruang monitor, Darren sudah menangis tanpa suara. Ia membuka aplikasi mobile banking, mengetik nominal bonus dengan jari gemetar, lalu menekan kirim.

Ponsel Sekar bergetar.

Transfer masuk: Tan Darren.

Catatan: Bonus keberanian. Tolong lanjutkan, Mbak. Saya dukung dari balik layar.

Terpopuler

Comments

@alfaton🤴

@alfaton🤴

yaa Alloh bener bener sport ❤️ ya Sekar menghadapi Tan Ardian......semoga awal yang bagus buatmu juga buat Tan 💪💪💪

2026-07-14

0

paijo londo

paijo londo

🤣🤣🤣Darren lucu TPI g bisa ngapa2in menghadapi kokonya🤦🤦

2026-07-12

0

sunaryati jarum

sunaryati jarum

Ardian menemukan pawangnya

2026-07-12

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!