Episode 4

Bab 4

Strategi Kucing Lapar

Bonus keberanian dari Tan Darren membuat ponsel Sekar bergetar, tetapi yang benar-benar membuat kepalanya bergetar adalah daftar makanan Tan Ardian.

Setelah turun dari teras, Darren menyeretnya ke dapur seperti orang membawa korban ke ruang operasi.

"Ini versi ringkas," kata Darren sambil menyerahkan dua lembar kertas baru.

Sekar menatap kertas itu. "Versi ringkas?"

"Iya. Yang lengkap ada di map Bu Susi. Itu bisa membuat orang kehilangan semangat hidup."

Di lembar pertama tertulis makanan yang tidak boleh dimakan. Di lembar kedua tertulis makanan yang sebaiknya tidak disajikan kalau ingin hidup tenang. Bedanya apa, Sekar belum tahu. Dua-duanya terlihat seperti daftar larangan masuk surga.

"Tidak suka bawang terlalu matang. Tidak suka bawang kurang matang. Tidak suka tomat yang terlalu lembek. Tidak suka tomat yang terlalu segar." Sekar mengangkat wajah. "Tomatnya harus punya kondisi batin stabil dulu baru boleh masuk piring?"

Darren menatapnya dengan kagum. "Mbak Sekar cepat sekali memahami penderitaan kami."

Sekar membaca lagi. "Tidak makan manis. Tidak makan pedas. Tidak makan santan terlalu kental. Tidak makan yang terlalu kering. Tidak makan yang berkuah banyak."

"Koko itu seperti kucing," bisik Darren. "Tampak mahal, galak, dan kalau salah makanan langsung memandangmu seolah kamu menghina leluhurnya."

"Kucing masih mau makan ikan asin kalau lapar."

"Nah. Koko belum tentu."

Sekar melipat daftar itu, lalu membuka kulkas raksasa yang isinya lebih tertata daripada etalase supermarket premium. Ada dada ayam, telur kampung, sayuran organik, ikan dori, udang, buah impor, dan kotak-kotak kecil tanpa label yang membuatnya curiga ada bahan makanan yang harga satu onsnya bisa membayar listrik rumah Budiman sebulan.

"Makan malam pertama," gumam Sekar. "Kita mulai dari yang aman."

"Aman menurut siapa?"

"Menurut saya."

Darren langsung membuat tanda salib kecil di udara, lalu sadar keluarganya tidak biasa begitu. Ia menurunkan tangan dengan canggung. "Pokoknya aku dukung dari jauh."

Sekar memilih nasi, telur, sedikit ayam suwir, dan sayur cincang. Nasi gorengnya tidak pedas, tidak berminyak, wangi bawang putih tipis, dengan telur yang dibikin lembut. Di rumah, menu seperti ini bisa membuat Engkong Budiman tambah dua piring. Di Rumah Tan, hidangan itu dibawa ke meja makan seperti proposal bisnis yang akan ditolak komisaris.

Ardian sudah menunggu di ujung meja panjang. Atau lebih tepatnya, ia duduk di sana dengan wajah seperti orang dipaksa menghadiri rapat yang tidak ia setujui.

Sekar meletakkan piring di depannya.

"Nasi goreng ayam. Tidak pedas. Minyak sedikit. Sayur dicincang halus."

Ardian melirik piring itu. "Terlalu wangi."

Darren yang berdiri di belakang kursi langsung memejamkan mata.

Sekar masih tersenyum. "Wangi bawang putihnya tipis."

"Aku tidak bilang bawang putih."

"Lalu wangi apa?"

"Wangi usaha terlalu keras."

Darren batuk keras.

Sekar mengambil piring itu kembali tanpa membantah. "Baik. Usaha saya kurangi."

Percobaan kedua adalah sup ayam bening. Kuahnya ringan, daun bawangnya ia sisihkan, potongan wortel dibuat kecil. Ardian hanya mencium aromanya, lalu berkata, "Terlalu hangat."

"Makanan memang umumnya tidak disajikan seperti dendam lama, Pak Tan. Tidak harus dingin."

"Ambil."

Darren berbisik, "Mbak, sabar. Jangan lempar mangkuk. Itu satu set dengan koleksi Mama."

Percobaan ketiga adalah sandwich ayam ala Prancis yang dibuat dengan roti tipis, dada ayam panggang, selada, dan tomat yang menurut Sekar sudah sangat stabil kondisi batinnya.

Ardian bahkan tidak menyentuhnya.

"Roti terlalu pucat."

Sekar memandang roti itu, lalu memandang wajah Ardian. "Pak Tan menilai roti atau calon menantu?"

"Dua-duanya bisa gagal."

Darren menutup wajah dengan dua tangan.

Makan malam pertama resmi gagal.

Sekar membawa tiga piring kembali ke dapur. Asisten rumah tangga lain melihatnya dengan simpati yang sudah berpengalaman. Salah satu dari mereka bahkan menepuk bahu Sekar pelan.

"Biasanya hari pertama memang begini, Mbak."

"Hari kedua?"

Perempuan itu diam.

Jawaban yang bagus. Sangat menenangkan.

Sekar mencuci tangan, lalu menyandarkan pinggang pada meja dapur. Dari ruang makan, ia masih bisa melihat Ardian. Pria itu membuka koran, menutupi separuh wajahnya. Di depannya, meja kosong. Tidak ada makanan, tidak ada minuman, hanya segelas air putih yang tidak ia sentuh.

Darren mendekat dengan wajah bersalah. "Mbak Sekar, mungkin kita pesan GoFood dari restoran yang biasa Koko makan?"

"Kalau dia mau makanan restoran, dari tadi dia bilang."

"Masalahnya, Koko tidak pernah bilang dia mau apa. Dia cuma bilang tidak."

"Berarti dia belum lapar."

Seolah menjawab, dari balik koran terdengar suara kecil.

Kruk.

Sekar menoleh.

Darren menoleh.

Koran di tangan Ardian naik sedikit lebih tinggi.

Kruk.

Kali ini lebih jelas.

Darren menggigit bibir, berusaha tidak tertawa. Bahunya bergetar seperti mesin cuci rusak. Sekar memasang wajah paling sopan yang bisa ia punya.

"Pak Darren," katanya pelan, "di daftar pantangan ada larangan perut bunyi?"

Darren hampir jatuh ke lantai.

Dari balik koran, suara Ardian terdengar dingin. "Aku dengar."

"Bagus, berarti telinga Pak Tan sehat," jawab Sekar. "Saya senang ada anggota tubuh yang kooperatif."

Koran turun perlahan.

Sekar sudah siap dimarahi. Namun Ardian hanya menatapnya sebentar, lalu memutar kursi rodanya keluar dari ruang makan.

"Aku tidak lapar."

Perutnya berbunyi sekali lagi sebelum kursi roda sampai ke koridor.

Darren benar-benar duduk di kursi terdekat karena lututnya lemas menahan tawa.

Sekar memandang punggung Ardian yang menghilang. Di satu sisi, ia ingin menyusul dan memaksa pria itu makan. Di sisi lain, pengalaman bekerja di pet shop mengajarinya satu hal penting: makhluk galak yang merasa terpojok akan makin mencakar kalau dikejar.

Kucing tidak mau makan dari tangan orang baru.

Kucing lapar biasanya datang sendiri, asal mangkuknya diletakkan di tempat yang tepat.

Sekar mengangkat piring nasi goreng pertama yang tadi ditolak. Nasinya masih bagus. Ia memanaskannya sedikit, menambah telur baru, lalu memindahkannya ke mangkuk keramik putih. Tidak terlalu banyak. Cukup untuk orang yang gengsinya lebih besar daripada lambungnya.

"Mbak mau apa?" tanya Darren.

"Strategi Kucing Lapar."

"Apa itu?"

"Jangan dikejar. Jangan dibujuk. Taruh makanan di dekat jalurnya, lalu pura-pura tidak tahu."

Darren menatapnya seperti murid mendapat wahyu. "Itu bisa untuk Koko?"

"Kita lihat saja. Kalau kucingnya lebih keras kepala dari kucing asli, besok saya cari strategi lain."

Malam makin larut. Rumah Tan perlahan tenang. Lampu-lampu utama dimatikan, menyisakan cahaya hangat di koridor. Sekar membawa mangkuk nasi goreng itu ke dapur kecil dekat ruang tengah, tempat yang mudah dijangkau dari jalur lift menuju kamar Ardian. Ia meletakkannya di ujung meja, tidak terlalu jelas seperti jebakan, tetapi cukup dekat untuk terlihat.

Di sampingnya, ia menaruh segelas air putih.

Tidak ada catatan. Tidak ada bujukan.

Sekar mematikan lampu dapur, lalu berjalan pergi dengan langkah sengaja dibuat ringan.

Sepuluh menit kemudian, dari arah dapur terdengar suara sangat pelan.

Sendok menyentuh mangkuk.

Sekar yang berdiri di balik sudut koridor menahan senyum.

Ternyata kucing mahal tetap kucing juga.

Terpopuler

Comments

@alfaton🤴

@alfaton🤴

🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣........mbayangkan kalo ada didekatnya.........bisa bisa sampai ngompol nahan tawa.......Sekar kocak juga yaa Daren......

2026-07-14

0

paijo londo

paijo londo

🤣🤣🤣dasar Sekar g tau diri majikan dikatain kucing sekarrr kamu ya benar2 kurang ajar betulnya🤣🤣🤣

2026-07-12

0

@alfaton🤴

@alfaton🤴

ternyata kucil mahal pun punya rasa lapar

2026-07-14

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!