Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Tuan Muda, Pengasuhmu Galak Lagi!

Episode 1

Bab 1

Pengasuh Nomor 88

Pengasuh nomor delapan puluh delapan itu berdiri di depan gerbang Rumah Tan di Menteng dengan satu koper kecil, satu ransel, dan keberanian yang masih ia paksa agar tidak kabur duluan.

Budiman Sekar mengangkat wajah.

Gerbang hitam setinggi hampir dua kali tubuhnya terbuka tanpa suara. Di baliknya, halaman luas mengilap sehabis disiram, pohon palem berjajar rapi, dan rumah tiga lantai berwarna putih gading berdiri seperti hotel pribadi yang lupa memasang papan nama.

Di Depok, rumah Sekar bisa terdengar sampai ke dapur tetangga kalau Engkong Budiman batuk terlalu keras. Di sini, suara langkahnya sendiri seperti tenggelam dimakan rumput yang dipotong terlalu sempurna.

Sebuah mobil golf kecil berhenti di dekat pos satpam. Seorang perempuan paruh baya turun dengan tote bag besar di bahu. Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya pucat, tetapi langkahnya cepat sekali. Terlalu cepat untuk orang yang katanya baru selesai bekerja.

"Mbak Sekar, ya?" tanyanya.

Sekar mengangguk. "Iya. Bu Susi?"

"Iya. Mantan Bu Susi," jawab perempuan itu sambil melirik ke arah rumah utama. Suaranya diturunkan seperti sedang membicarakan hantu. "Mulai hari ini kamu yang jaga Tuan Muda. Saya sudah selesai. Hidup saya mau saya pakai untuk hal baik-baik saja."

Sekar hampir tertawa, tetapi wajah Bu Susi terlalu serius.

"Sebentar, Bu. Katanya saya harus serah terima dulu."

"Serah terima?" Bu Susi membuka tote bag, mengeluarkan map tipis, lalu menjejalkannya ke tangan Sekar. "Ini daftar obat, jadwal makan, jadwal fisioterapi, nomor darurat, dan daftar makanan yang tidak boleh dia sentuh. Yang boleh dia makan? Hampir tidak ada. Kalau kamu bisa masak udara, mungkin dia mau."

Sekar menunduk melihat map itu. Di halaman pertama tertulis rapi: Pantangan Makanan Tan Ardian. Halaman kedua masih pantangan. Halaman ketiga juga.

"Tiga halaman?"

"Dua setengah. Yang setengahnya khusus tekstur tomat."

Sekar menatap Bu Susi.

Bu Susi menatap balik dengan mata yang sudah tidak punya sisa harapan. "Nak, kamu masih muda. Kalau bisa kabur, kabur saja. Gaji besar itu manis di awal, pahitnya nanti waktu gelas melayang dekat telinga."

Belum selesai kalimat itu, dari dalam rumah terdengar suara pecahan kaca.

Prang!

Sekar dan Bu Susi sama-sama diam.

Bu Susi menarik napas, lalu tersenyum kaku. "Nah. Itu ucapan selamat datang."

Pintu utama terbuka. Seorang laki-laki muda keluar dengan wajah panik sambil memegang ponsel dan tablet sekaligus. Kemeja putihnya kusut di bagian lengan, rambutnya sedikit acak-acakan, tapi jam di pergelangan tangannya jelas bukan barang yang pantas berada dekat orang ceroboh.

"Bu Susi!" panggilnya. "Jangan pergi dulu. Koko baru bangun dan dia sudah..."

Ucapannya berhenti ketika melihat koper di samping Sekar.

"Oh." Mata laki-laki itu langsung berbinar seperti orang menemukan payung di tengah hujan. "Kamu pengasuh baru?"

"Budiman Sekar," jawab Sekar.

"Tan Darren." Ia cepat-cepat menjabat tangan Sekar dengan dua tangan. "Terima kasih sudah datang. Sungguh. Kamu tidak tahu betapa besar jasamu untuk kemanusiaan."

Bu Susi mendengus kecil. "Saya pamit, Pak Darren."

"Tunggu, Bu Susi. Minimal jelaskan dulu cara menghadapi Koko kalau dia marah."

"Jangan dihadapi," jawab Bu Susi mantap. "Hindari."

Setelah itu, perempuan itu benar-benar pergi. Bukan berjalan. Setengah berlari. Begitu mencapai gerbang, ia bahkan tidak menoleh lagi.

Sekar memandangi punggung Bu Susi yang menghilang, lalu menoleh ke Darren. "Dia selalu begitu?"

"Hari ini termasuk tenang," kata Darren.

Bagus. Hari pertama, dan Sekar sudah mendapat kabar bahwa suara kaca pecah adalah kondisi tenang.

Namun ia tidak mungkin mundur. Kontrak percobaan ini nilainya lebih besar daripada semua pekerjaan paruh waktu yang pernah ia ambil digabungkan. Biaya implan koklea Papa dan Mama, servis alat, cicilan rumah, uang kuliah semester akhir, semua seperti berdiri berbaris di belakang punggungnya sambil mendorong.

Sekar mengeratkan pegangan pada ransel.

"Di mana Pak Tan?"

Darren tampak ingin menjawab, tetapi dari arah ruang tengah terdengar suara dingin.

"Suruh dia pulang."

Suara itu tidak keras. Justru terlalu datar. Tetapi udara di sekitar pintu seperti langsung turun beberapa derajat.

Sekar masuk mengikuti Darren.

Ruang tengah Rumah Tan luas, bersih, dan mahal sampai terasa tidak ramah. Lantai marmer memantulkan bayangan lampu kristal. Di antara sofa kulit gelap dan meja rendah, seorang pria duduk di kursi roda elektrik hitam.

Tan Ardian.

Sekar pernah melihat fotonya di artikel bisnis lama. Saat itu dia berdiri di podium, memakai jas, dengan tatapan tajam yang membuat judul artikel terlihat kalah percaya diri. Pria di depannya sekarang masih sangat tampan. Terlalu tampan, malah. Hidungnya tegas, bulu matanya panjang, rahangnya bersih, tetapi wajah itu seperti pintu yang dikunci dari dalam.

Kaki panjangnya tertutup selimut tipis. Tangan kanannya memegang gelas yang tinggal setengah. Di lantai dekat roda, pecahan kaca dari gelas lain masih berserakan.

Matanya bergerak dari koper Sekar ke wajah Sekar.

"Nomor berapa?"

Sekar butuh satu detik untuk paham. "Delapan puluh delapan."

"Hebat." Sudut bibir Ardian bergerak sedikit, bukan senyum. "Darren makin rajin mengirim korban."

"Koko," Darren berbisik panik. "Ini Budiman Sekar. Agensinya bilang dia punya pengalaman merawat hewan dan orang tua. Dia juga bisa bahasa isyarat. Profilnya bagus."

"Aku bukan hewan."

"Aku tidak bilang begitu."

"Tapi kamu berpikir begitu."

Darren langsung menutup mulut.

Sekar melirik pecahan kaca di lantai. Ada satu pecahan yang terlalu dekat dengan roda kursi. Kalau roda bergerak, serpihannya bisa melukai ban atau memantul ke kaki. Ia meletakkan koper, mengambil sapu kecil dari dekat lemari pajangan, lalu mulai membersihkan tanpa menunggu perintah.

Ardian menatapnya.

"Siapa yang menyuruhmu menyentuh barang di rumah ini?"

"Tidak ada," jawab Sekar sambil jongkok. "Saya cuma tidak ingin Pak Tan menambah daftar kerusakan di hari pertama saya."

"Hari pertamamu tidak akan sampai malam."

"Sayang sekali. Saya sudah bawa baju ganti."

Darren mengeluarkan suara kecil, seperti tersedak doa.

Ardian meletakkan gelasnya di meja. Gerakannya pelan, tetapi cukup membuat Darren mundur setengah langkah.

"Kamu tahu berapa orang sebelum kamu yang keluar dari rumah ini?"

"Delapan puluh tujuh," jawab Sekar.

"Dan kamu masih datang?"

"Saya bisa menghitung sampai delapan puluh delapan, Pak."

Mata Ardian menyipit.

Sekar memasukkan pecahan terakhir ke pengki. Tangannya tidak gemetar, meski jantungnya berdetak seperti orang mengejar KRL. Ia takut, tentu saja. Orang waras mana yang tidak takut melihat majikan baru menyambut pengasuh dengan pecahan gelas?

Tapi takut miskin lebih lama, lebih melelahkan, dan tidak bisa disapu ke pengki.

Ardian menekan tombol kecil di sisi kursi roda. Kursi itu maju beberapa senti, cukup untuk membuat jarak mereka berkurang. Suara mesinnya halus, hampir tidak terdengar.

"Budiman Sekar."

Ini pertama kalinya ia menyebut namanya. Di mulut pria itu, namanya terdengar seperti berkas yang siap ditandatangani penolakannya.

"Iya, Pak Tan."

"Aku tidak butuh pengasuh. Aku tidak butuh orang asing masuk kamar, mengatur makan, menyentuh kakiku, atau berpura-pura kasihan."

"Bagus," kata Sekar. "Saya juga tidak suka berpura-pura."

Darren memejamkan mata.

Ardian diam sesaat. Lalu gelas di meja itu tiba-tiba tersapu tangannya.

Prang!

Gelas kedua pecah tepat di depan kaki Sekar.

Kali ini Sekar tidak bergerak. Sepatunya terkena percikan air. Ujung celana jeans-nya basah. Serpihan kecil mengilap di lantai marmer, hanya beberapa senti dari jemarinya.

"Pulang," kata Ardian.

Suara Darren langsung pecah. "Koko!"

Sekar menatap pecahan itu, lalu menatap Ardian. Wajahnya masih dingin, tapi ada sesuatu di balik matanya. Bukan hanya marah. Ada lelah, pahit, dan luka yang terlalu lama disembunyikan sampai berubah menjadi duri.

Sayangnya, duri tetap duri. Kalau menusuk orang lain, tetap harus dicabut.

Sekar berdiri. Ia mengambil tisu dari meja, mengeringkan ujung celananya, lalu tersenyum.

"Pak Tan, kalau mau mengusir saya, silakan. Tapi gelasnya jangan mahal-mahal. Nanti sayang."

Darren membuka mata.

Ardian menatapnya seperti baru mendengar kursi bicara.

"Kamu tidak takut?"

"Takut," jawab Sekar jujur. "Tapi saya lebih takut pulang tanpa pekerjaan."

Untuk pertama kalinya sejak Sekar masuk, ruang tengah itu benar-benar sunyi.

Ardian menekan sandaran kursi rodanya, tubuhnya sedikit condong ke belakang. Tatapannya turun ke sepatu Sekar yang basah, naik ke ransel murahnya, lalu berhenti di wajahnya.

"Tiga hari."

Sekar mengangkat alis.

"Dalam tiga hari, aku akan membuatmu pergi sendiri dari rumah ini."

Darren langsung menoleh pada Sekar dengan wajah memohon. Seolah meminta maaf sebelum perang dimulai.

Sekar melihat pecahan gelas di lantai, map pantangan makanan di tangannya, rumah besar yang dingin ini, dan pria di kursi roda yang memakai kemarahan seperti selimut.

Lalu ia tersenyum.

"Baik, Pak Tan."

Ia mengambil sapu lagi, menunduk membersihkan pecahan gelas kedua, kemudian berkata dengan suara ringan, "Kalau begitu, kita lihat saja siapa yang lebih dulu menyerah."

Terpopuler

Comments

paijo londo

paijo londo

aduh Sekar belum apa2 udah merinding disko ya TPI jangan menyerah taklukkan majikan yg lagi galau semangat hidupnya hilang🤭🤭🤭

2026-07-12

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
Episodes

Updated 92 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!