Bab 2 Akhir Status Babu

Sejak malam jamuan makan itu, atmosfer di rumah terasa berbeda.

Ardi semakin jarang pulang dengan alasan kesibukan proyek. Sementara itu, Ibu Widya dan Rika justru semakin sering datang ke rumah Sarah.

Mereka mengira Sarah masihlah wanita penurut yang bisa mereka jadikan samsak pelampiasan ego kapan saja.

Namun, mereka tidak tahu bahwa Sarah yang sekarang bukan lagi Sarah yang dulu.

Sore itu, hujan rintik-rintik membasahi halaman.

Sarah sedang duduk di ruang tengah. Dia menikmati secangkir teh hangat sambil membaca sebuah majalah bisnis ketika pintu depan terbuka tanpa ketukan.

Ibu Widya masuk dengan menenteng tas mahal barunya, diikuti oleh Rika yang sibuk mengunyah permen karet.

Tanpa permisi, Ibu Widya langsung melemparkan jaket rajutnya ke atas sofa tepat di sebelah Sarah.

"Sarah! Ambilkan Mama air es. Di luar hujan tapi hawanya pengap sekali, bikin gerah. Sekalian itu jaket Mama digantung di kamar, jangan sampai lecek," titah Ibu Widya dengan nada memerintah yang sangat natural.

Beliau seolah sedang berbicara pada pembantu harian.

Sarah tidak bergerak. Dia bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari halaman majalah yang sedang dibacanya.

Dia perlahan menyesap tehnya, lalu meletakkan cangkir porselen itu ke atas meja dengan ketukan pelan yang konstan.

Melihat tidak ada pergerakan, Rika mendengkus kencang.

"Heh, Sarah! Kupingmu dipasang tidak? Mama menyuruhmu ambil air, malah asyik baca majalah. Sejak kapan kamu sok tahu membaca majalah keuangan begitu? Mengerti juga tidak!"

Sarah perlahan menutup majalahnya. Dia mendongak, menatap Rika lalu beralih ke Ibu Widya.

Tidak ada lagi binar ketakutan atau mata yang berkaca-kaca. Yang ada hanyalah tatapan datar, dingin, dan kosong.

"Kalau Mama haus, dispenser ada di dapur. Tinggal tekan tombolnya, airnya keluar sendiri," ucap Sarah.

Suaranya terdengar sangat tenang namun membawa aura yang mencekam.

"Dan Mbak Rika, kalau tangan Mbak tidak sanggup untuk mengambilkan jaket Mama, biarkan saja jaket itu di sana. Rumah ini bukan hotel, dan aku bukan pelayan kalian!"

Ibu Widya terbelalak. Beliau langsung berdiri dari duduknya, menunjuk wajah Sarah dengan jari yang gemetar karena syok.

"Kamu... kamu berani bicara begitu pada Mama?! Ardi benar-benar salah memilih istri! Semakin hari kamu semakin kurang ajar!"

"Ardi tidak salah memilih istri, Ma. Tapi kalian yang salah menilai kesabaranku selama lima tahun ini," balas Sarah seraya berdiri tegak.

Postur tubuhnya yang tinggi dan anggun seketika mengintimidasi kedua wanita di hadapannya.

Rika mencoba membela ibunya. Dia maju mendekati Sarah dengan wajah menantang.

"Jangan sombong ya, Sarah! Kamu itu cuma menumpang hidup di rumah adikku! Rumah megah ini, baju yang kamu pakai, semuanya dibeli pakai uang Ardi! Kalau bukan karena Ardi, kamu mungkin sudah jadi gelandangan di luar sana!"

Sarah memandangi Rika dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan tatapan meremehkan. Senyum tipis tersungging di bibirnya.

"Menumpang hidup?" Sarah terkekeh pelan. Sebuah kekehan yang membuat Rika mendadak merinding.

"Mbak Rika tidak sadar kalau barang-barang mewah yang Mbak pakai hari ini dibeli dari uang yang kalian peras dari Ardi setiap bulan?

Tanpa aliran dana dari rumah ini, kalian bahkan tidak akan bisa mempertahankan gaya hidup sok kaya kalian itu. Sadar diri, Mbak, siapa benalu yang sebenarnya di sini."

"Kamu—" Rika kehabisan kata-kata. Wajahnya memerah padam karena rahasia memalukannya dibongkar begitu saja.

Ibu Widya yang tidak terima putrinya dipojokkan, ikut melangkah maju.

"Cukup, Sarah! Jangan berlagak seperti kamu yang paling berjasa! Kamu itu wanita mandul yang tidak berguna untuk keluarga ini! Mengurus anak saja tidak bisa, sekarang mau mengurus harta Ardi?!"

Kalimat "mandul" itu kembali terlontar. Dulu, kalimat itu akan membuat Sarah menangis tersedu-sedu di kamar.

Tapi hari ini, kalimat itu justru terdengar menggelikan di telinganya.

"Ma," potong Sarah dengan suara yang tegas dan tajam bagai silet.

"Ma," potong Sarah dengan suara yang tegas dan tajam bagai silet.

"Sebelum Mama menghina rahim orang lain, pastikan dulu putra kebanggaan Mama itu sudah memeriksakan dirinya ke dokter. Jangan-jangan, alasan kenapa rumah ini sepi bukan karena aku, tapi karena putra kebanggaan Mama yang sebenarnya bermasalah."

Plak!

Ibu Widya mengangkat tangannya, mencoba menampar wajah Sarah.

Namun, dengan sigap dan cepat, Sarah mencengkeram pergelangan tangan ibu mertuanya itu di udara!

Cengkeramannya begitu kuat hingga Ibu Widya meringis kesakitan.

"Lepaskan! Kurang ajar kamu, Sarah!" jerit Ibu Widya.

Sarah tidak langsung melepaskannya. Dia justru menarik tangan Ibu Widya sedikit lebih dekat, lalu berbisik tepat di depan wajah wanita tua itu.

"Jangan pernah coba-coba menyentuhku lagi, Ma. Tangan ini tidak akan ragu untuk membalas lebih keras jika Mama masih belum bisa menjaga sopan santun di rumah orang lain."

"Cukup lima tahun aku mengalah. Mulai detik ini, setiap rasa sakit yang kalian berikan akan kukembalikan dua kali lipat secara instan. Pikirkan baik-baik sebelum Mama bertindak!"

Sarah mengempaskan tangan Ibu Widya hingga wanita itu mundur beberapa langkah. Beliau hampir kehilangan keseimbangan jika tidak ditangkap oleh Rika.

Kedua wanita itu menatap Sarah dengan pandangan horor. Mereka tidak pernah melihat Sarah yang seperti ini.

Wanita di hadapan mereka seolah menjelma menjadi sosok yang sangat asing, penuh kuasa, dan tidak tersentuh.

"Pergi dari rumahku sekarang," titah Sarah dingin tanpa emosi, menunjuk ke arah pintu depan.

"Sebelum aku memanggil satpam kompleks untuk menyeret kalian keluar seperti penyusup!"

Tanpa bisa membalas lagi, Ibu Widya dan Rika segera meraih tas mereka. Mereka berjalan tergesa-gesa keluar dari rumah dengan wajah pucat dan menahan malu yang luar biasa.

Setelah pintu tertutup rapat, Sarah mengembuskan napas panjang. Dia berjalan kembali ke sofanya, merapikan setelan pakaiannya yang sedikit kusut.

Matanya menatap keluar jendela, ke arah rintik hujan yang semakin menderu.

Waktu untuk diam dan mengalah sudah benar-benar mati.

Sekarang, dia hanya perlu menunggu waktu yang tepat sampai Ardi sendiri yang mengantarkan akhir dari pernikahan ini ke hadapannya.

Episodes
1 Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2 Bab 2 Akhir Status Babu
3 bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4 4 Tamu tengah malam
5 Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6 Bab 6 Korek api di atas bensin
7 Draft
8 Bab 8 Tamu tak di undang 2
9 Bab 9 sarapan penuh sindirian
10 Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11 Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12 Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13 Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14 Bab 14 Surat peringatan pertama
15 Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16 Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17 Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22 Bab 22 Badai dalam keheningan
23 Bab 23
24 Bab 24 Retakan di Balik pintu
25 Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26 Bab 26 Jerat Emas
27 Bab 27 Retakan Pertama
28 Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29 Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30 Bab 30 Jejak yang hilang
31 Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32 Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33 Bab 33
34 34 Panggung sandiwara yang runtuh
35 Bab 35
36 Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37 Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38 38 Delusi Terakhir
39 Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40 Bab 40 Senjata psikologis
41 Bab 41 Pelindung dalam Diam
42 Bab 42
43 Bab 43 Perangkap Hukum
44 Bab 44 Ruang Interogasi
45 Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46 Bab 46 Keadilan yang elegan
47 Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51 Detik-Detik Penentu
52 Bab 52 Sidang Kedua
53 Bab 53 Keputusan Sidang
54 Bab 54
55 Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56 Bab 56 Benalu yang belum mati
57 Bab 57 Memutus tali manipulasi
58 Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59 Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60 Bab 60 Jamuan Menilai
61 Bab 61
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2
Bab 2 Akhir Status Babu
3
bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4
4 Tamu tengah malam
5
Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6
Bab 6 Korek api di atas bensin
7
Draft
8
Bab 8 Tamu tak di undang 2
9
Bab 9 sarapan penuh sindirian
10
Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11
Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12
Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13
Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14
Bab 14 Surat peringatan pertama
15
Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16
Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17
Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22
Bab 22 Badai dalam keheningan
23
Bab 23
24
Bab 24 Retakan di Balik pintu
25
Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26
Bab 26 Jerat Emas
27
Bab 27 Retakan Pertama
28
Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29
Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30
Bab 30 Jejak yang hilang
31
Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32
Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33
Bab 33
34
34 Panggung sandiwara yang runtuh
35
Bab 35
36
Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37
Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38
38 Delusi Terakhir
39
Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40
Bab 40 Senjata psikologis
41
Bab 41 Pelindung dalam Diam
42
Bab 42
43
Bab 43 Perangkap Hukum
44
Bab 44 Ruang Interogasi
45
Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46
Bab 46 Keadilan yang elegan
47
Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51 Detik-Detik Penentu
52
Bab 52 Sidang Kedua
53
Bab 53 Keputusan Sidang
54
Bab 54
55
Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56
Bab 56 Benalu yang belum mati
57
Bab 57 Memutus tali manipulasi
58
Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59
Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60
Bab 60 Jamuan Menilai
61
Bab 61

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!