bab 3 Kesabaran yang sudah habis

Gelas-gelas porselen di rak ruang tengah itu dibersihkan Sarah dengan gerakan perlahan.

Sudah dua minggu berlalu sejak makan malam penuh air mata di rumah mertuanya, tetapi rasa sesak di dadanya belum juga menguap.

Sarah tahu dia masih mencintai Ardi. Sangat mencintainya. Itulah satu-satunya alasan mengapa dia masih bertahan di rumah ini.

Namun, cinta tidak lagi membuatnya ingin menjadi wanita bodoh.

Detik ini, Sarah berjanji pada dirinya sendiri: dia tetaplah seorang istri yang menyayangi suaminya, tetapi dia tidak akan pernah lagi membiarkan siapa pun menginjak-injak harga dirinya sebagai manusia.

Atmosfer di dalam rumah tangga Sarah dan Ardi berubah total. Kamar utama yang biasanya hangat kini terasa sedingin es.

Sarah tidak lagi menyambut Ardi di depan pintu dengan senyuman tulus.

Dia juga tidak lagi buru-buru ke dapur untuk membuatkan kopi hangat begitu mendengar suara mesin mobil suaminya memasuki halaman rumah.

Bukannya Sarah sudah tidak punya rasa. Justru karena dia masih sangat mencintai Ardi, dia memilih untuk tetap bertahan di rumah ini.

Lima tahun membina rumah tangga bukanlah waktu yang singkat untuk dihapus begitu saja.

Namun, cinta saja ternyata tidak cukup jika terus-menerus digerus rasa sakit. Sarah hanya lelah.

Lelah menjadi satu-satunya pihak yang selalu mengalah, mendengarkan cemoohan mertua, dan dianggap menumpang hidup seolah dirinya tidak memiliki harga diri sama sekali.

Malam itu, jarum jam sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat.

Ardi baru saja pulang, melangkah masuk ke ruang tamu lalu melempar tas kerjanya ke atas sofa dengan kasar.

Wajah suaminya itu tampak luar biasa kusut dan kusam. Sebuah pertanda jelas bahwa urusan proyek kontraktornya di luar sana sedang tidak berjalan lancar.

"Sarah! Ambilkan aku air dingin, cepat. Haus banget ini," teriak Ardi dari ruang tengah.

Nadanya terdengar sangat kasual, memerintah tanpa beban seolah itu adalah tugas wajib Sarah yang tidak boleh ditunda.

Sarah yang kebetulan sedang merapikan buku-buku di rak ruang tengah tidak beranjak dari posisinya.

Dia hanya menoleh pelan, menatap punggung Ardi yang tampak lelah.

"Kulkasnya tidak dikunci, Mas. Air dinginnya ada di dalam botol hijau. Tinggal ambil sendiri."

Ardi yang saat itu sedang melonggarkan ikatan dasinya langsung menghentikan gerakannya.

Dia menoleh, menatap Sarah dengan dahi berkerut dalam. Laki-laki itu tampak heran dan sedikit terkejut dengan jawaban istrinya.

Biasanya, Sarah akan langsung berlari ke dapur bahkan sebelum Ardi selesai meminta.

"Kamu kenapa, sih? Cuma disuruh ambil air saja malas banget," ketus Ardi. Langkah kakinya menghentak kasar menuju dapur.

Terdengar suara pintu kulkas dibuka dengan hentakan emosi.

Setelah meneguk air langsung dari botolnya, Ardi kembali ke ruang tengah dengan wajah menuntut penjelasan.

Dia berdiri di dekat sofa, menatap Sarah yang masih sibuk membelakanginya.

"Oh, atau ini gara-gara masalah dua hari lalu?" tanya Ardi, nadanya mulai meninggi, siap mengonfrontasi.

"Mama sama Rika cerita ke aku. Katanya kamu sekarang sudah berani kasar, membentak, bahkan sampai mengusir mereka dari rumah ini! Benar begitu?!"

Sarah perlahan meletakkan buku terakhir ke dalam rak, lalu membalikkan badannya untuk menghadapi suaminya secara langsung.

"Aku tidak akan mengusir mereka kalau mereka tahu cara bertamu dengan sopan, Mas. Apa membela diri dari makian dan hinaan di rumahku sendiri termasuk tindakan kriminal?"

"Sarah! Jaga ya ucapan kamu!" bentak Ardi. Egonya sebagai kepala keluarga seketika terusik melihat ketenangan di wajah Sarah.

"Mereka itu keluarga aku! Mama yang melahirkan aku! Dan kamu, sebagai istriku, harusnya tahu cara menghormati mereka, bukan malah bikin mereka sakit hati dan pulang menanggung malu!"

"Lalu siapa yang menghormati aku di rumah ini, Mas?!"

Suara Sarah akhirnya pecah. Kalimatnya memotong ucapan Ardi dengan cepat dan tajam.

Matanya yang biasa menatap dengan teduh kini berkilat penuh emosi yang selama lima tahun ini dia pendam rapat-rapat di dasar hatinya.

"Lima tahun, Mas! Lima tahun aku diam setiap kali Mama menghina latar belakang keluargaku! Aku diam waktu Mbak Rika bilang aku wanita tidak berguna yang cuma bisa menghabiskan uangmu!"

"Kamu di mana waktu mereka menginjak-injak harga diriku di meja makan?! Kamu malah pergi ke ruang kerja dan menyuruhku menerima semua makian itu tanpa peduli bagaimana hancurnya perasaanku!"

Ardi tersentak. Langkahnya tertahan.

Selama lima tahun pernikahan mereka, Sarah selalu menerima semua keluhan, amarah, dan ego keluarganya dengan kepala tertunduk dan air mata yang disembunyikan di kamar mandi.

Melihat Sarah yang sekarang berani berdiri tegak, menentang kata-katanya, dan menatap matanya dengan penuh tuntutan seperti ini membuat Ardi mendadak kehilangan kata-kata untuk beberapa detik.

"Itu... itu kan karena mereka orang tua, Sarah. Harusnya kamu mengalah sedikit, jangan semua hal dimasukkan ke dalam hati," ucap Ardi.

Suaranya sedikit melunak namun nadanya tetap defensif, mencoba membenarkan diri sendiri.

"Lagipula, bisnis kontraktorku lagi naik daun sekarang. Aku butuh istri yang bisa mendukungku di depan kolega, bukan istri yang kerjaannya cuma memicu keributan di dalam keluarga seperti ini."

Sarah tersenyum sinis. Dadanya terasa begitu sesak, seolah pasokan udara di ruangan itu mendadak hilang.

Laki-laki yang sangat dia cintai, yang dulu berlutut di depan mendiang ayahnya dan berjanji akan menjaganya seumur hidup, ternyata tidak pernah sekalipun berdiri di pihaknya.

Cinta di hatinya malam itu rasanya seperti diremas kuat-kuat oleh kenyataan, menyisakan rasa perih yang teramat dalam.

"Dukungan seperti apa yang kamu mau, Ardi? Apa aku harus jadi patung bernyawa yang tidak punya mulut agar keluargamu senang?" tanya Sarah.

Suaranya mendadak berubah menjadi sangat dingin dan pelan, namun justru terdengar jauh lebih mengerikan daripada teriakan histeris tadi.

Sarah maju selangkah, menatap suaminya lekat-lekat.

"Mulai malam ini, aku tidak akan pernah diam lagi. Kalau keluargamu datang ke rumah ini hanya untuk menjadikanku tempat sampah bagi kesombongan mereka, aku tidak akan segan-segan mengusir mereka keluar."

"Kamu berani mengancamku di rumahku sendiri?!"

Amarah Ardi kembali tersulut mendengar kata 'mengusir'.

Dia maju satu langkah besar, meraih kedua pundak Sarah lalu mencengkeramnya dengan kuat, seolah ingin menegaskan posisinya yang lebih tinggi.

"Ingat ya, Sarah! Rumah mewah ini, semua fasilitas yang kamu nikmati, baju yang melekat di badanmu, semuanya dibeli pakai uang hasil keringatku!"

"Kamu tidak punya hak sepeser pun untuk mengatur siapa yang boleh atau tidak boleh datang ke rumah ini!"

Sarah tidak memberontak. Dia tidak mencoba melepaskan cengkeraman tangan Ardi yang mulai terasa sakit di pundaknya.

Dia justru membiarkan dirinya sedekat itu dengan Ardi, menatap lurus ke dalam bola mata suaminya dengan pandangan yang sulit diartikan.

Sebuah perpaduan antara sisa rasa cinta yang terluka dan rasa kecewa yang sudah teramat sangat matang.

"Uangmu, Mas?" bisik Sarah lirih.

Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terasa begitu misterius sekaligus menyakitkan. "Kamu yakin semua ini murni karena kehebatanmu?"

Ardi mengernyitkan dahi, tidak mengerti arah pembicaraan Sarah. "Maksud kamu apa—"

Tepat saat ketegangan di antara pasangan suami istri itu berada di titik didih yang paling krusial, suara hantaman keras dari arah depan memecah keheningan malam yang mencekam tersebut.

Gedor! Gedor! Gedor!

Suara pintu jati rumah mereka digedor dengan sangat brutal, seolah-olah orang di luar sana sedang dikejar oleh bahaya besar.

"Ardi! Sarah! Buka pintunya! Ardi, keluar kamu, Nak! Tolong Mama!"

Suara jeritan histeris yang melengking memecah malam. Ardi dan Sarah refleks menoleh ke arah pintu depan secara bersamaan.

Itu jelas suara Ibu Widya. Namun, nada suaranya sama sekali tidak seperti biasanya yang penuh keangkuhan dan nada meremehkan.

Suara wanita tua itu bergetar hebat, dipenuhi oleh kepanikan, ketakutan yang teramat sangat, dan suara tangisan yang pecah di tengah rintik hujan malam.

Ardi refleks melepaskan cengkeramannya dari pundak Sarah.

Wajahnya yang semula memerah penuh amarah mendadak berubah menjadi pias dan pucat. Jantungnya berdegup kencang karena firasat buruk langsung menghantam kepalanya.

Di jam hampir tengah malam seperti ini, ibunya datang berteriak minta tolong?

Tanpa memedulikan Sarah lagi, Ardi berbalik dan berlari tergesa-gesa menuju pintu depan, sementara Sarah tetap berdiri mematung di ruang tengah.

Dia menatap punggung suaminya yang menjauh dengan perasaan yang mendadak campur aduk.

Episodes
1 Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2 Bab 2 Akhir Status Babu
3 bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4 4 Tamu tengah malam
5 Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6 Bab 6 Korek api di atas bensin
7 Draft
8 Bab 8 Tamu tak di undang 2
9 Bab 9 sarapan penuh sindirian
10 Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11 Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12 Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13 Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14 Bab 14 Surat peringatan pertama
15 Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16 Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17 Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22 Bab 22 Badai dalam keheningan
23 Bab 23
24 Bab 24 Retakan di Balik pintu
25 Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26 Bab 26 Jerat Emas
27 Bab 27 Retakan Pertama
28 Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29 Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30 Bab 30 Jejak yang hilang
31 Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32 Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33 Bab 33
34 34 Panggung sandiwara yang runtuh
35 Bab 35
36 Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37 Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38 38 Delusi Terakhir
39 Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40 Bab 40 Senjata psikologis
41 Bab 41 Pelindung dalam Diam
42 Bab 42
43 Bab 43 Perangkap Hukum
44 Bab 44 Ruang Interogasi
45 Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46 Bab 46 Keadilan yang elegan
47 Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51 Detik-Detik Penentu
52 Bab 52 Sidang Kedua
53 Bab 53 Keputusan Sidang
54 Bab 54
55 Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56 Bab 56 Benalu yang belum mati
57 Bab 57 Memutus tali manipulasi
58 Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59 Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60 Bab 60 Jamuan Menilai
61 Bab 61
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2
Bab 2 Akhir Status Babu
3
bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4
4 Tamu tengah malam
5
Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6
Bab 6 Korek api di atas bensin
7
Draft
8
Bab 8 Tamu tak di undang 2
9
Bab 9 sarapan penuh sindirian
10
Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11
Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12
Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13
Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14
Bab 14 Surat peringatan pertama
15
Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16
Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17
Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22
Bab 22 Badai dalam keheningan
23
Bab 23
24
Bab 24 Retakan di Balik pintu
25
Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26
Bab 26 Jerat Emas
27
Bab 27 Retakan Pertama
28
Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29
Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30
Bab 30 Jejak yang hilang
31
Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32
Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33
Bab 33
34
34 Panggung sandiwara yang runtuh
35
Bab 35
36
Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37
Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38
38 Delusi Terakhir
39
Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40
Bab 40 Senjata psikologis
41
Bab 41 Pelindung dalam Diam
42
Bab 42
43
Bab 43 Perangkap Hukum
44
Bab 44 Ruang Interogasi
45
Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46
Bab 46 Keadilan yang elegan
47
Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51 Detik-Detik Penentu
52
Bab 52 Sidang Kedua
53
Bab 53 Keputusan Sidang
54
Bab 54
55
Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56
Bab 56 Benalu yang belum mati
57
Bab 57 Memutus tali manipulasi
58
Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59
Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60
Bab 60 Jamuan Menilai
61
Bab 61

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!