Istri SAH Yang Disia-siakan

Istri SAH Yang Disia-siakan

Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka

Suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen mahal terdengar nyaring di ruang makan kediaman Ibu Widya.

Ruangan itu dirancang dengan kemewahan yang mencolok. Lampu gantung kristal memantulkan cahaya berkilau, dinding berlapis wallpaper sutra, dan meja makan panjang dari kayu jati solid dipoles sempurna.

Setiap bulan, ada jamuan makan malam keluarga yang wajib dihadiri. Bagi Sarah, malam-malam seperti ini tak ubahnya seperti berjalan di atas pecahan kaca yang tajam.

Selama lima tahun berturut-turut, Sarah selalu mengambil posisi duduk di ujung meja yang paling tidak strategis. Posisi yang seolah-olah menegaskan kastanya di rumah ini: seorang penonton, bukan bagian dari keluarga.

"Ardi, coba kamu lihat ini. Ini brosur dari anaknya Jenderal tumpuan Papa dulu," ujar Ibu Widya memecah keheningan dengan suara sengaja dikeraskan.

Beliau menggeser sebuah brosur pameran seni yang menampilkan foto seorang wanita muda berwajah blasteran.

"Cantik, lulusan luar negeri, dan keluarganya punya jaringan bisnis luas di ibu kota. Bukan seperti..." Ibu Widya sengaja menggantung kalimatnya.

Matanya yang dihiasi riasan tebal melirik sinis ke arah Sarah yang sedang mengunyah makanan dengan pelan.

"...wanita yang cuma modal tampang pas-pasan dan latar belakang tidak jelas. Hanya bisa membuat status sosialmu mandek!"

Ardi yang duduk di kepala meja hanya berdehem pelan. Laki-laki itu sibuk memotong daging steak di piringnya, membiarkan saus melumuri pisau peraknya.

Dia sama sekali tidak mendongak, apalagi berniat membela istrinya yang sedang disudutkan secara terang-terangan.

"Ma, Ardi sudah menikah dengan Sarah. Jangan bahas itu lagi di depan meja makan," ucap Ardi hambar.

Nada suaranya sangat datar. Seolah kalimat pembelaan itu hanyalah formalitas belaka agar ibunya tidak terlalu berisik, bukan karena dia benar-benar peduli pada perasaan Sarah.

"Mama cuma mengingatkan kamu, Ardi! Kamu itu sekarang pengusaha sukses!" sela Rika, kakak perempuan Ardi, ikut menimpali dengan nada ketus.

Rika meletakkan gelas anggurnya dengan hentakan kecil yang disengaja.

"Bisnis kontraktor kamu itu sedang berkembang pesat di mana-mana. Kamu butuh pendamping yang bisa menaikkan gengsi dan membantumu melobi klien kelas atas. Bukan istri rumahan yang tahunya cuma masak, mencuci, dan menghabiskan uang hasil keringatmu setiap hari!"

Sarah meremas kain serbet putih di pangkuannya hingga jemarinya memutih.

Menghabiskan uang? Kalimat itu rasanya seperti lelucon paling kejam yang pernah dia dengar.

Selama lima tahun pernikahan ini, uang belanja dari Ardi selalu dipotong berkala oleh Ibu Widya dengan alasan untuk tabungan masa depan Ardi dan investasi keluarga.

Sarah bahkan harus memutar otak setiap hari, mencatat setiap butir bawang dan cabai yang dibelinya agar uang dapur yang pas-pasan itu cukup.

Jangankan untuk membeli pakaian bermerek atau perawatan di salon mewah seperti Rika, untuk membeli sepotong baju baru saja Sarah harus berpikir dua kali.

"Ma, Mbak Rika... Sarah selama ini sudah berusaha memberikan yang terbaik untuk Mas Ardi. Menjaga rumah dan memastikan semua kebutuhan Mas Ardi terpenuhi sebelum berangkat kerja," ucap Sarah lirih.

Dia memilih meredam suaranya dan mengalah seperti biasa, mencoba menahan suaranya agar tidak bergetar di depan kedua wanita yang membencinya itu.

"Terbaik apa?!" Ibu Widya tiba-tiba menggebrak meja dengan telapak tangan beliau, membuat beberapa cangkir di atas meja berdenting keras.

Suasana di ruang makan langsung mencekam.

"Lima tahun, Sarah! Lima tahun kamu jadi menantu di rumah ini, tapi belum juga ada tanda-tanda kamu bisa memberikan Ardi seorang anak!"

"Sudah tidak punya latar belakang keluarga yang kaya, mandul pula! Mau ditaruh di mana muka Mama kalau teman-teman arisan Mama bertanya tentang cucu?!"

Kata-kata "mandul" itu menghujam tepat di bagian terdalam jantung Sarah. Dadanya terasa sesak seolah pasokan oksigen di ruangan itu mendadak hilang.

Kenyataannya, jadwal kerja Ardi yang gila-gilaan, egonya yang tinggi, serta stres berkepanjangan akibat tekanan konstan dari keluarga Ardi-lah yang membuat semua program kehamilan menemui jalan buntu.

Namun, di dalam rumah ini, semua kesalahan selalu ditimpakan ke pundak Sarah.

Sarah hanya bisa menundukkan kepala, menerima sumpah serapah itu tanpa bantahan, menelan bulat-bulat rasa sakit demi menjaga nama baik suaminya.

"Kalau bukan karena Ardi yang keras kepala mempertahankanmu dulu saat Papa masih hidup, kamu tidak akan pernah mencicipi tidur di kasur empuk dan tinggal di rumah mewah seperti ini, Sarah. Sadar diri sedikit dari mana asalmu," tambah Rika tanpa perasaan.

Rika menyunggingkan senyum kemenangan melihat wajah Sarah yang memucat dan hanya diam tak berdaya.

Sarah memalingkan wajahnya yang terasa panas ke arah Ardi. Dia menatap suaminya dengan mata berkaca-kaca.

Dia berharap laki-laki yang dulu berjanji di depan mendiang ayahnya untuk menjaganya seumur hidup akan mengeluarkan satu kata saja untuk menghentikan semua ini. Satu kata saja sudah cukup untuk menguatkannya.

Namun, harapan itu pupus seketika.

Ardi justru meletakkan garpunya dengan kasar ke atas piring, mengembuskan napas panjang dengan raut wajah tampak sangat terganggu.

"Sudahlah, Sarah. Kalau Mama dan Mbak Rika bicara itu didengarkan, dicamkan dengan baik. Jangan malah memasang muka melas dan mengemis simpati seperti itu. Bikin tidak nafsu makan saja," ucap Ardi dingin.

Laki-laki itu berdiri dari kursinya, merapikan kemeja kerjanya tanpa melirik Sarah sedikit pun.

"Ardi ke ruang kerja dulu, Ma. Ada telepon penting dari klien besar."

Ardi melangkah pergi begitu saja dari ruang makan, meninggalkan Sarah sendirian di antara dua orang yang siap mengoyaknya kapan saja.

Suara langkah kaki Ardi yang menjauh terdengar seperti palu hakim yang mengetuk keputusan akhir atas harga diri Sarah yang telah hancur.

Ibu Widya tersenyum sinis, merasa menang karena putranya sendiri berada di pihaknya.

Beliau mengambil sebuah mangkuk sup porselen yang sudah kosong dan mendorongnya ke arah Sarah menggunakan ujung jarinya yang berkuku panjang penuh riasan kuteks merah.

"Berdiri kamu. Cuci semua piring kotor di dapur ini. Pembantu sedang pulang kampung," titah Ibu Widya seraya bersandar di kursinya.

Beliau melipat tangan di dada dengan keangkuhan luar biasa. "Lagipula, memang itu kan satu-satunya keahlian yang kamu punya sebagai wanita kelas bawah?"

Rika ikut terkekeh, menyandarkan tubuhnya sembari memperhatikan Sarah dengan tatapan mengejek.

"Iya, Sarah. Buruan dicuci. Jangan malas-malasan. Beruntung kamu masih punya tempat berteduh malam ini."

Sarah menatap mangkuk kosong di hadapannya. Air matanya menggenang di pelupuk mata, namun dia buru-buru mengerjapkannya agar tidak jatuh di depan kedua wanita kejam ini.

Tangannya yang gemetar perlahan meraih mangkuk itu.

Mengikuti perintah patuh seperti robot, dia mulai mengumpulkan piring-piring kotor di atas meja dengan kepala tetap tertunduk.

Dia membiarkan punggungnya dihujani oleh senyum kemenangan dan tatapan merendahkan dari ibu mertua dan kakak iparnya.

"Iya, Ma. Sarah cuci sekarang," jawab Sarah dengan suara yang sangat pelan, nyaris berbisik.

Dia mengangkat tumpukan piring kotor itu dengan hati-hati, berbalik, dan melangkah perlahan menuju dapur yang berada di bagian belakang rumah.

Di setiap langkahnya menuju bak cuci piring, dadanya bergemuruh hebat.

Hawa dingin dari air yang mulai mengalir menyentuh tangannya, membasuh sisa-sisa kehangatan dari ketulusan yang selama lima tahun ini dia agungkan.

Sembari menggosok piring-piring porselen mahal itu satu per satu dalam keheningan dapur, ada sesuatu yang patah di dalam diri Sarah.

Dan dari patahan itu, sebuah tekad baru mendadak mengkristal dengan sangat kokoh.

Air matanya tidak lagi mengalir. Tatapan matanya yang semula redup dan terluka perlahan berubah menjadi sedingin es, membeku bersama rasa sakit yang sudah mencapai ambang batas.

Cukup sudah.

Cukup lima tahun ini dia merendahkan diri, membuang harga dirinya demi pria yang bahkan tidak sudi meliriknya saat dia diinjak-injak.

Cukup sudah dia berpura-pura menjadi wanita rumahan yang miskin dan tak punya apa-apa hanya demi menjaga ego suaminya yang merangkak dari bawah.

Sarah menatap piring-piring kotor itu dengan senyum tipis yang sarat akan penghinaan.

"Nikmati saja sisa-sisa kesombongan kalian malam ini," batinnya bergejolak penuh tekad, sementara tangannya menyelesaikan piring terakhir dengan ketukan tajam.

"Sebab saat topeng ini lepas, bukan cuma piring kotor yang akan kubuat hancur, tapi seluruh harga diri kalian akan kuratakan dengan tanah!"

Malam itu, Sarah menyelesaikan tugasnya sebagai "babu" untuk terakhir kalinya di rumah ini.

Dia merapikan pakaiannya, mengambil tas kecilnya tanpa pamit lagi pada Ibu Widya dan Rika yang masih bersenang-senang di ruang tengah.

Mulai malam ini, Sarah bersumpah tidak akan pernah lagi menjadi babu mereka atau diam saja jika dihina lagi.

Waktu untuk mengalah sudah habis. Permainan yang sesungguhnya baru saja dimulai!

.

.

.

.

.

. Halo semuanya! Selamat datang di cerita pertamaku, semoga kalian suka dan betah membaca kisah ini sampai akhir ya! ✨

Episodes
1 Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2 Bab 2 Akhir Status Babu
3 bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4 4 Tamu tengah malam
5 Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6 Bab 6 Korek api di atas bensin
7 Draft
8 Bab 8 Tamu tak di undang 2
9 Bab 9 sarapan penuh sindirian
10 Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11 Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12 Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13 Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14 Bab 14 Surat peringatan pertama
15 Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16 Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17 Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22 Bab 22 Badai dalam keheningan
23 Bab 23
24 Bab 24 Retakan di Balik pintu
25 Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26 Bab 26 Jerat Emas
27 Bab 27 Retakan Pertama
28 Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29 Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30 Bab 30 Jejak yang hilang
31 Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32 Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33 Bab 33
34 34 Panggung sandiwara yang runtuh
35 Bab 35
36 Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37 Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38 38 Delusi Terakhir
39 Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40 Bab 40 Senjata psikologis
41 Bab 41 Pelindung dalam Diam
42 Bab 42
43 Bab 43 Perangkap Hukum
44 Bab 44 Ruang Interogasi
45 Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46 Bab 46 Keadilan yang elegan
47 Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51 Detik-Detik Penentu
52 Bab 52 Sidang Kedua
53 Bab 53 Keputusan Sidang
54 Bab 54
55 Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56 Bab 56 Benalu yang belum mati
57 Bab 57 Memutus tali manipulasi
58 Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59 Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60 Bab 60 Jamuan Menilai
61 Bab 61
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2
Bab 2 Akhir Status Babu
3
bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4
4 Tamu tengah malam
5
Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6
Bab 6 Korek api di atas bensin
7
Draft
8
Bab 8 Tamu tak di undang 2
9
Bab 9 sarapan penuh sindirian
10
Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11
Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12
Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13
Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14
Bab 14 Surat peringatan pertama
15
Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16
Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17
Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22
Bab 22 Badai dalam keheningan
23
Bab 23
24
Bab 24 Retakan di Balik pintu
25
Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26
Bab 26 Jerat Emas
27
Bab 27 Retakan Pertama
28
Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29
Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30
Bab 30 Jejak yang hilang
31
Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32
Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33
Bab 33
34
34 Panggung sandiwara yang runtuh
35
Bab 35
36
Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37
Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38
38 Delusi Terakhir
39
Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40
Bab 40 Senjata psikologis
41
Bab 41 Pelindung dalam Diam
42
Bab 42
43
Bab 43 Perangkap Hukum
44
Bab 44 Ruang Interogasi
45
Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46
Bab 46 Keadilan yang elegan
47
Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51 Detik-Detik Penentu
52
Bab 52 Sidang Kedua
53
Bab 53 Keputusan Sidang
54
Bab 54
55
Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56
Bab 56 Benalu yang belum mati
57
Bab 57 Memutus tali manipulasi
58
Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59
Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60
Bab 60 Jamuan Menilai
61
Bab 61

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!