Bab 5 Teror yang berpindah Alamat

​Suasana di teras rumah mendadak membeku. Sarah masih berdiri kokoh di ambang pintu, menatap tiga pria berbadan kekar di hadapannya tanpa kedipan ketakutan sedikit pun. Di belakangnya, suara jeritan histeris Ibu Widya dan Rika langsung memecah keheningan pagi. Kedua wanita itu berlari mundur, bersembunyi di balik pilar pembatas ruang tamu dengan wajah pucat pasi.

​Pria berjaket kulit hitam yang memimpin gerombolan itu mendengkus sinis melihat reaksi dari dalam rumah. Dia kembali mengacungkan kertas tebal bertuliskan rincian utang ke depan wajah Sarah.

​"Bagaimana, Nona? Suruh dua orang di dalam itu keluar. Jangan jadi pengecut dengan bersembunyi di rumah orang lain," gertak pria itu, suaranya sengaja dikeraskan agar terdengar sampai ke dalam.

​Sarah melirik kertas tersebut, lalu menatap mata sang penagih utang dengan sangat tenang. "Mas, kalau mau menagih utang, silakan datang ke orang yang bersangkutan. Tapi maaf, ini rumah suami saya. Dan setahu saya, nama yang tertera di sertifikat rumah ini tidak ada hubungannya dengan surat utang yang Mas bawa."

​Pria itu selangkah maju, mencoba mengintimidasi Sarah dengan memamerkan badannya yang besar. "Kami tidak peduli! Di mana ada Widya dan Rika, di situ utang harus dibayar. Kalau mereka tinggal di sini, berarti rumah ini juga bisa kami jadikan jaminan!"

​"Oh, ya?" Sarah memiringkan kepalanya, senyum tipis—hampir tak terlihat—muncul di sudut bibirnya. "Silakan coba saja kalau Mas mau berurusan dengan hukum pidana atas pasal memasuki pekarangan orang lain tanpa izin dan melakukan pengancaman. Kompleks ini punya penjagaan ketat, dan di atas pintu ini ada tiga kamera CCTV yang merekam wajah Mas sekalian dari tadi. Kalau Mas tidak pergi dalam hitungan ketiga, saya tinggal tekan tombol darurat ke pos satpam dan polisi."

​Mendengar kata 'CCTV' dan 'polisi', dua pria di belakang sang pimpinan langsung saling lirik. Mereka tahu, meski tugas mereka menagih utang, berurusan dengan hukum di kompleks perumahan elite seperti ini bisa menyulitkan bos mereka.

​Pria berjaket kulit itu mengepalkan tangannya, menahan geram karena gertakannya sama sekali tidak mempan pada wanita di depannya. "Oke. Hari ini kami pergi. Tapi ingat, beri tahu suami kamu, waktu kalian cuma tiga hari! Kalau tidak ada kejelasan, kami akan datang dengan jumlah massa yang lebih banyak!"

​Setelah meludahi lantai teras dengan kasar, ketiga pria itu berbalik dan berjalan cepat meninggalkan halaman rumah.

​Sarah mengembuskan napas panjang, lalu menutup pintu jati tersebut dan menguncinya rapat-rapat. Begitu berbalik, dia langsung disambut oleh tatapan horor sekaligus kesal dari Ibu Widya dan Rika yang baru berani keluar dari tempat persembunyian mereka.

​"Sarah! Kamu gila, ya?! Kenapa kamu malah menantang mereka?!" jerit Rika dengan suara melengking, tubuhnya masih sedikit gemetar. "Bagaimana kalau mereka benar-benar datang lagi membawa massa dan menghancurkan rumah ini? Kamu mau kita semua mati?!"

​"Kalau Mbak Rika takut mati, kenapa tidak dari dulu melarang Papa judi?" balas Sarah santai sambil berjalan melewati mereka menuju dapur.

​"Sarah! Jaga bicaramu!" Ibu Widya berteriak, air matanya kembali mengalir karena stres yang menumpuk. "Kamu itu tidak tahu apa-apa! Kami ini sedang terancam, bukannya dilindungi, kamu malah memprovokasi mereka! Benar-benar menantu tidak tahu diri!"

​Sarah menghentikan langkahnya. Dia berbalik, menatap ibu mertuanya lekat-lekat. Rasa cinta pada Ardi membuat dia menahan diri untuk tidak mengusir mereka detik ini juga, tapi harga dirinya melarangnya untuk kembali diinjak-injak.

​"Ma, kalau bukan karena aku yang berdiri di depan pintu tadi, mungkin mereka sudah mendobrak masuk dan menyeret Mama keluar," ucap Sarah, suaranya rendah namun bergetar penuh penekanan. "Aku melindungi rumah ini karena ini rumah suamiku. Kalau Mama dan Mbak Rika merasa tidak aman di sini, silakan cari tempat pengungsian lain. Aku tidak pernah meminta kalian tinggal di sini."

​"Kamu—"

​Sebelum Ibu Widya sempat menyelesaikan makiannya, Sarah sudah berjalan cepat menaiki anak tangga menuju lantai dua, meninggalkan kedua wanita itu dalam kemarahan dan ketakutan yang bercampur aduk.

​Sore harinya, Ardi pulang dengan terburu-buru setelah menerima telepon histeris dari ibunya saat jam kantor. Begitu masuk ke dalam rumah, Ardi langsung mendapati ibunya sedang menangis di sofa ditemani Rika yang sibuk mengompori situasi.

​"Ardi! Kita harus pindah dari sini, Nak! Atau kamu harus cepat-cepat bayar utang itu! Sarah tadi pagi hampir membuat kami celaka karena menantang para debt collector!" adu Rika begitu melihat adiknya datang.

​Ardi mengacak rambutnya frustrasi. Masalah di kantornya belum selesai, dan sekarang masalah domestik di rumahnya semakin menggulung seperti bola salju. Dia melihat Sarah yang baru saja turun dari tangga dengan pakaian santai.

​"Sarah, sini kamu!" panggil Ardi dengan nada membentak.

​Sarah berjalan mendekat, memilih duduk di single sofa yang berseberangan dengan Ardi. "Ada apa, Mas?"

​"Kamu sengaja ya mau mencelakai Mama dan Rika?" tanya Ardi, matanya merah menahan amarah. "Kenapa kamu harus memancing emosi orang-orang itu? Kalau terjadi apa-apa sama Mama bagaimana?! Kenapa kamu tidak bisa sekali saja bersikap lembut dan mengalah demi ketenangan keluarga ini?!"

​Sarah menatap suaminya. Laki-laki yang dulu berjanji akan menjadi pelindungnya, kini justru menjadi orang pertama yang selalu menuduhnya bersalah tanpa mau mendengar penjelasannya terlebih dahulu. Rasa perih kembali menusuk ulu hatinya, mengikis perlahan sisa-sisa cinta yang mati-matian dia pertahankan.

​"Mengalah yang seperti apa lagi, Mas?" tanya Sarah, suaranya bergetar menahan emosi yang mulai memuncak. "Orang-orang itu mau menyita rumah ini. Rumah yang kita tempati. Apa aku harus diam saja saat mereka mengancam akan mengambil asetmu juga? Aku mempertahankan hak kita, Ardi!"

​"Tapi caranya tidak begitu! Kamu egois, Sarah! Kamu cuma memikirkan harga dirimu tanpa peduli keselamatan ibuku!" bentak Ardi, egonya sebagai laki-laki yang merasa gagal mengatasi masalah membuat amarahnya meledak tak terkendali.

​"Aku yang egois... atau keluargamu yang tidak tahu diri?!" balas Sarah, akhirnya air matanya jatuh satu tetes, bukan karena takut, tapi karena kecewa yang teramat dalam pada suaminya.

​"Cukup, Sarah! Masuk ke kamar!" perintah Ardi dingin, memalingkan wajahnya karena tidak sanggup menatap mata istrinya yang berkaca-kaca.

​Sarah bangkit berdiri. Dia mengusap air matanya dengan kasar.

tanpa berkata ia berjalan cepat menuju kamar utama di lantai bawah dan mengunci pintunya dari dalam.

Sarah berjalan cepat kembali masuk ke dalam kamar utama dan mengunci pintunya rapat-rapat dari dalam.

Di dalam keheningan kamar, dia terduduk di tepi ranjang. Dadanya naik turun menahan sesak. Namun, kesedihan di matanya tidak bertahan lama. Rasa perih itu perlahan menguap, digantikan oleh riak dingin yang mulai membeku di sepasang matanya.

Sarah bangkit, berjalan mendekati lemari pakaian pakaiannya. Dia membuka laci paling bawah, menggeser tumpukan kain satin tipis, lalu menekan dinding kayu rahasia di sudut laci.

Sebuah kotak bludru hitam kecil tersembunyi di sana.

Sarah membukanya, mengambil sebuah ponsel pintar berspesifikasi khusus yang selama ini dia matikan dan sembunyikan rapat-rapat dari Ardi. Ponsel yang menjadi satu-satunya jembatan antara dirinya dan imperium bisnis keluarganya. Selama menikah, dia rela mengunci ponsel ini demi menjadi istri sederhana yang berbakti. Namun sekarang, pengorbanannya justru dibalas belati.

Begitu tombol daya ditekan dan layar menyala, logo emas Mega Group langsung mendominasi layar. Detik berikutnya, puluhan notifikasi laporan keuangan dan pesan masuk langsung membanjiri perangkat tersebut.

Salah satu pesan teratas yang masuk beberapa menit lalu menarik perhatian Sarah. Pesan itu datang dari sekretaris pribadi keluarganya.

“Nona Muda, kami mendeteksi ada pergerakan mencurigakan dari keuangan perusahaan suami Anda, Pak Ardi. Ada aliran dana besar yang tidak wajar ke sebuah rekening pihak ketiga atas nama seorang wanita bernama Tyas. Apakah Anda ingin kami menyelidikinya lebih lanjut?”

Pengorbanan Sarah selama ini rasanya mendadak menjadi lelucon paling lucu. Dia melepaskan status Nona Muda Mega Group demi hidup sederhana di samping Ardi, menundukkan kepala di depan keluarganya yang parasit. Namun hari ini, Ardi sendiri yang membuktikan bahwa baktinya selama ini tidak ada harganya. Cukup sudah. Batas sabarnya telah habis. Sarah mengetikkan balasan singkat di layar ponsel pintar itu, menandai akhir dari perannya sebagai istri yang tertindas.

Episodes
1 Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2 Bab 2 Akhir Status Babu
3 bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4 4 Tamu tengah malam
5 Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6 Bab 6 Korek api di atas bensin
7 Draft
8 Bab 8 Tamu tak di undang 2
9 Bab 9 sarapan penuh sindirian
10 Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11 Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12 Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13 Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14 Bab 14 Surat peringatan pertama
15 Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16 Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17 Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22 Bab 22 Badai dalam keheningan
23 Bab 23
24 Bab 24 Retakan di Balik pintu
25 Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26 Bab 26 Jerat Emas
27 Bab 27 Retakan Pertama
28 Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29 Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30 Bab 30 Jejak yang hilang
31 Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32 Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33 Bab 33
34 34 Panggung sandiwara yang runtuh
35 Bab 35
36 Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37 Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38 38 Delusi Terakhir
39 Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40 Bab 40 Senjata psikologis
41 Bab 41 Pelindung dalam Diam
42 Bab 42
43 Bab 43 Perangkap Hukum
44 Bab 44 Ruang Interogasi
45 Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46 Bab 46 Keadilan yang elegan
47 Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51 Detik-Detik Penentu
52 Bab 52 Sidang Kedua
53 Bab 53 Keputusan Sidang
54 Bab 54
55 Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56 Bab 56 Benalu yang belum mati
57 Bab 57 Memutus tali manipulasi
58 Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59 Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60 Bab 60 Jamuan Menilai
61 Bab 61
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2
Bab 2 Akhir Status Babu
3
bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4
4 Tamu tengah malam
5
Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6
Bab 6 Korek api di atas bensin
7
Draft
8
Bab 8 Tamu tak di undang 2
9
Bab 9 sarapan penuh sindirian
10
Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11
Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12
Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13
Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14
Bab 14 Surat peringatan pertama
15
Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16
Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17
Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22
Bab 22 Badai dalam keheningan
23
Bab 23
24
Bab 24 Retakan di Balik pintu
25
Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26
Bab 26 Jerat Emas
27
Bab 27 Retakan Pertama
28
Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29
Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30
Bab 30 Jejak yang hilang
31
Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32
Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33
Bab 33
34
34 Panggung sandiwara yang runtuh
35
Bab 35
36
Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37
Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38
38 Delusi Terakhir
39
Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40
Bab 40 Senjata psikologis
41
Bab 41 Pelindung dalam Diam
42
Bab 42
43
Bab 43 Perangkap Hukum
44
Bab 44 Ruang Interogasi
45
Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46
Bab 46 Keadilan yang elegan
47
Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51 Detik-Detik Penentu
52
Bab 52 Sidang Kedua
53
Bab 53 Keputusan Sidang
54
Bab 54
55
Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56
Bab 56 Benalu yang belum mati
57
Bab 57 Memutus tali manipulasi
58
Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59
Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60
Bab 60 Jamuan Menilai
61
Bab 61

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!