4 Tamu tengah malam

Ardi berlari tergesa-gesa ke arah depan.

Tangannya yang gemetar langsung membuka selot pintu jati rumah mereka dengan sekali sentakan kasar.

Begitu pintu terbuka, angin malam yang membawa sisa rintik hujan seketika menusuk masuk.

Sosok Ibu Widya langsung menerobos dengan napas terengah-engah. Kondisi ibu mertua Sarah itu tampak sangat mengenaskan.

Rambut sasakannya yang biasa rapi kini acak-acakan dan basah. Wajahnya yang biasa tebal oleh bedak kini luntur, menyisakan gurat pucat pasi dan mata bengkak karena menangis.

Di belakangnya, Rika menyusul sambil meremas selembar kertas tebal dengan tubuh gemetar hebat.

"Mama? Mbak Rika? Ada apa ini? Kenapa malam-malam begini dan basah kuyup?" tanya Ardi panik. Matanya bergerak liar menatap ibu dan kakak perempuannya bergantian.

"Ardi! Tolong Mama, Nak! Rumah... rumah kita didatangi orang-orang berbadan besar!" tangis Ibu Widya pecah seketika di ruang tamu.

Beliau nyaris bersimpuh di lantai marmer kalau Ardi tidak cepat menahan kedua lengannya.

"Mereka tiba-tiba datang merusak pagar dan menggedor pintu! Mereka bilang utang judi papamu dulu belum lunas, dan sekarang bunganya sudah menggulung sampai tiga miliar!"

"Mereka mengancam akan menyita rumah Mama besok pagi kalau tidak ada uang jaminan!"

Ardi bagai dihantam batu besar. Wajahnya seketika memucat.

"Apa? Tiga miliar? Ma, tapi semua aset Papa kan sudah bersih waktu Papa meninggal tiga tahun lalu!"

Rika maju, menyodorkan kertas yang sudah lecek ke depan wajah adiknya dengan tangan masih gemetar.

"Ini, Di! Lihat ini! Ternyata Papa menjaminkan sertifikat rumah utama atas nama perusahaan konstruksi lama milik temannya. Dan perusahaan itu baru saja kolaps minggu lalu!"

"Kami tidak tahu apa-apa, Di! Kami ketakutan dan langsung kabur lewat pintu belakang!"

Sarah berjalan perlahan dari arah ruang tengah. Dia berhenti di pembatas ruangan, melipat tangan di dada sembari menyaksikan kepanikan massal keluarga suaminya.

Tidak ada raut puas di wajahnya, melainkan kekosongan.

Inilah orang-orang yang selama ini menyebutnya wanita kelas bawah yang tidak berguna dan menumpang hidup.

Sekarang, di bawah lampu ruang tamu yang terang, mereka terlihat begitu kecil, rapuh, dan kehilangan keangkuhannya.

Mata Rika tiba-tiba menangkap sosok Sarah yang berdiri tenang. Dalam kondisi terdesak seperti ini, harga dirinya mendadak ciut, berganti menjadi keputusasaan yang brutal.

"Sarah! Kamu pasti punya uang simpanan, kan?! Kamu kan pelit sekali kalau mengurus uang dapur sampai kami saja diceramahi!

Keluarkan semua uang tabungan atau sisa uang belanja yang kamu sembunyikan selama ini! Jangan sok miskin di saat seperti ini!"

Rika berlari menghampiri Sarah, mencoba meraih tangan adik iparnya itu.

Namun, Sarah dengan anggun mundur satu langkah, menghindari sentuhan Rika.

"Mbak, baju Mbak basah. Nanti lantai marmernya kotor dan licin," ucap Sarah santai. Suaranya terdengar sangat kontras dengan kepanikan di ruangan itu.

"Kamu kok tega banget sih, Sarah?! Mertua dan kakak iparmu sedang kena musibah, kamu malah memikirkan lantai kotor?!" bentak Ardi yang emosinya langsung tersulut di ubun-ubun.

Dia menunjuk Sarah dengan penuh kemarahan, meluapkan rasa frustrasinya karena merasa tersudut.

"Keluarkan saja apa yang kamu punya sekarang! Ini demi Mama!"

"Kamu kok tega banget sih, Sarah?! Mertua dan kakak iparmu sedang kena musibah, kamu malah memikirkan lantai kotor?!" bentak Ardi yang emosinya langsung tersulut di ubun-ubun.

Dia menunjuk Sarah dengan penuh kemarahan, meluapkan rasa frustrasinya karena merasa tersudut. "Keluarkan saja apa yang kamu punya sekarang! Ini demi Mama!"

Sarah menatap Ardi lurus-lurus. Rasa cinta yang tersisa di hatinya rasanya seperti disiram air asam. Di saat seperti ini, suaminya tidak meminta dengan baik-baik, melainkan membentak dan menuntut seolah itu adalah kewajiban mutlak.

"Keluarkan apa, Mas?" tanya Sarah lembut, namun kalimat itu telak menusuk ego Ardi.

"Perhiasan mas kawin kita dulu sudah kamu minta dua tahun lalu untuk tambahan modal proyek kontraktor pertamamu, Mas. Kamu lupa? Sampai detik ini pun kamu belum pernah menggantinya."

Sarah menatap Ibu Widya dan Rika bergantian dengan tatapan dingin. "Lagipula, bukankah selama lima tahun ini Mama dan Mbak Rika selalu bilang kalau aku ini wanita miskin yang tidak punya apa-apa dan cuma menumpang hidup? Lalu sekarang, uang apa yang kalian tuntut dari tangan kosongku?"

"Sarah! Kurang ajar kamu ya!" Ibu Widya ikut berteriak di sela tangisnya. "Kamu mau melihat Mama jadi gelandangan?! Di mana hati nuranimu sebagai menantu?!"

"Hati nuraniku sudah habis, Ma. Habis di meja makan dua minggu lalu waktu Mama bilang aku wanita mandul yang cuma bisa menghabiskan uang Ardi," balas Sarah tenang. Tidak ada nada tinggi sedikit pun dalam suaranya.

"Sekarang, saat kalian butuh uang, tiba-tiba aku dianggap menantu lagi?"

Ardi melangkah cepat, meredam emosinya yang hampir meledak karena waktu mereka tidak banyak.

"Sudah, jangan berantem lagi! Urusan uang kita pikirkan besok. Yang jelas, malam ini Mama sama Mbak Rika tidak mungkin pulang ke rumah itu. Mereka harus tinggal di sini dulu untuk sementara waktu!"

Ardi menatap Sarah dengan pandangan menuntut, menantang istrinya untuk menolak.

Sarah mengatur napasnya yang sempat sesak. Dia tahu, menolak di saat darurat seperti ini hanya akan membuat Ardi memiliki alasan kuat untuk mencapnya sebagai istri durhaka di depan semua orang.

Lagipula, sisa rasa cintanya pada Ardi membuat Sarah memilih untuk mengalah sekali lagi—namun dengan syarat yang berbeda.

"Boleh. Mereka boleh tinggal di sini," ucap Sarah akhirnya, memecah ketegangan.

"Tapi dengan satu syarat. Rumah ini adalah areaku. Jangan harap aku akan diam saja kalau ada yang mencoba bertingkah seperti nyonya atau menghinaku lagi di bawah atap ini."

Ibu Widya dan Rika hanya bisa saling pandang dengan wajah menahan dongkol.

Mereka terpaksa menelan bulat-bulat persyaratan Sarah demi mendapatkan tempat beralih dari kejaran para debt collector.

Malam itu akhirnya berlalu dengan kepatuhan yang dipaksakan.

Namun, Sarah tahu betul, membawa dua singa betina bermulut tajam itu ke dalam rumahnya sama saja dengan menabuh genderang perang baru.

Benar saja, baru dua hari mereka tinggal bersama, ketenangan rumah itu langsung lenyap.

Saban hari, ruang makan dan dapur selalu dipenuhi oleh adu mulut dan sindiran tajam.

Sarah tidak lagi memilih diam. Setiap kali Ibu Widya atau Rika mencoba memicu keributan, Sarah selalu membalasnya dengan kalimat santai namun menohok yang sukses membuat tensi darah mertuanya naik.

Hingga pada pagi ketiga, sebuah ketukan brutal kembali terdengar di pintu depan saat Ardi baru saja semenit berangkat kerja ke kantornya.

Gedor! Gedor! Gedor!

Rika yang sedang bersantai di sofa langsung melonjak kaget. "Siapa lagi sih pagi-pagi begini?! Mengganggu orang saja!"

Sarah berjalan tenang menuju pintu depan dan membukanya.

Begitu daun pintu jati itu terbuka, seorang pria paruh baya bertubuh tegap dengan jaket kulit hitam dan wajah sangar sudah berdiri di sana.

Di belakangnya, ada dua pria lain yang tidak kalah menyeramkan. Mereka sedang bersedekap dada sambil menatap tajam ke dalam rumah Ardi.

Pria berjaket kulit itu menurunkan secarik kertas, lalu menatap Sarah dengan pandangan intimidatif.

"Di sini tempat persembunyian Widya dan Rika, kan?" tanya pria itu dengan suara berat yang serak.

"Katakan pada mereka, pindah rumah tidak akan menghapus utang. Kalau dalam tiga hari sisa bunganya tidak dibayar, kami tidak akan segan-segan mengosongkan rumah ini juga sebagai jaminan!"

Sarah tertegun di ambang pintu.

Sementara dari arah belakang, Ibu Widya dan Rika yang mengintip dari balik tirai langsung menjerit ketakutan melihat wajah-wajah sangar itu.

Episodes
1 Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2 Bab 2 Akhir Status Babu
3 bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4 4 Tamu tengah malam
5 Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6 Bab 6 Korek api di atas bensin
7 Draft
8 Bab 8 Tamu tak di undang 2
9 Bab 9 sarapan penuh sindirian
10 Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11 Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12 Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13 Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14 Bab 14 Surat peringatan pertama
15 Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16 Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17 Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18 Bab 18
19 Bab 19
20 Bab 20
21 Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22 Bab 22 Badai dalam keheningan
23 Bab 23
24 Bab 24 Retakan di Balik pintu
25 Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26 Bab 26 Jerat Emas
27 Bab 27 Retakan Pertama
28 Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29 Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30 Bab 30 Jejak yang hilang
31 Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32 Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33 Bab 33
34 34 Panggung sandiwara yang runtuh
35 Bab 35
36 Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37 Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38 38 Delusi Terakhir
39 Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40 Bab 40 Senjata psikologis
41 Bab 41 Pelindung dalam Diam
42 Bab 42
43 Bab 43 Perangkap Hukum
44 Bab 44 Ruang Interogasi
45 Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46 Bab 46 Keadilan yang elegan
47 Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48 Bab 48
49 Bab 49
50 Bab 50
51 Bab 51 Detik-Detik Penentu
52 Bab 52 Sidang Kedua
53 Bab 53 Keputusan Sidang
54 Bab 54
55 Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56 Bab 56 Benalu yang belum mati
57 Bab 57 Memutus tali manipulasi
58 Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59 Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60 Bab 60 Jamuan Menilai
61 Bab 61
Episodes

Updated 61 Episodes

1
Bab 1 Jamuan Makan Malam Neraka
2
Bab 2 Akhir Status Babu
3
bab 3 Kesabaran yang sudah habis
4
4 Tamu tengah malam
5
Bab 5 Teror yang berpindah Alamat
6
Bab 6 Korek api di atas bensin
7
Draft
8
Bab 8 Tamu tak di undang 2
9
Bab 9 sarapan penuh sindirian
10
Bab 10 Makan siang dan sinyal-sinyal Rahasia
11
Bab 11 Istana Pasir yang Mulai Goyang
12
Bab 12 Topeng yang retak dan Jebakan Emosi
13
Bab 13 Sarapan Penuh kebohongan
14
Bab 14 Surat peringatan pertama
15
Bab 15 Rentetan sial yang tida henti
16
Bab 16 Harapan Palsu di ujung tanduk
17
Bab 17 Umpan yang mulai dimakan
18
Bab 18
19
Bab 19
20
Bab 20
21
Bab 21 Membakar gairah, Menyulut kehancuran
22
Bab 22 Badai dalam keheningan
23
Bab 23
24
Bab 24 Retakan di Balik pintu
25
Bab 25 Ketengan Sebelum Badaii
26
Bab 26 Jerat Emas
27
Bab 27 Retakan Pertama
28
Bab 28 Puncak Delusi sebelum Badai
29
Bab 29 Badai Tiga Penjuru
30
Bab 30 Jejak yang hilang
31
Bab 31 Siuman di Tengah puing-puing
32
Bab 32 Sumpah di Balik Jeruji Kemiskinan
33
Bab 33
34
34 Panggung sandiwara yang runtuh
35
Bab 35
36
Bab 36 Sisa Gengsi di Balik Jeruji
37
Bab 37 Terusir Tanpa sisa
38
38 Delusi Terakhir
39
Bab 39 Gengsi yang Terjepit
40
Bab 40 Senjata psikologis
41
Bab 41 Pelindung dalam Diam
42
Bab 42
43
Bab 43 Perangkap Hukum
44
Bab 44 Ruang Interogasi
45
Bab 45 Pecahnya Topeng Kesombongan
46
Bab 46 Keadilan yang elegan
47
Bab 47 Penjaga di Balik Bayangan
48
Bab 48
49
Bab 49
50
Bab 50
51
Bab 51 Detik-Detik Penentu
52
Bab 52 Sidang Kedua
53
Bab 53 Keputusan Sidang
54
Bab 54
55
Bab 55 Sisi lain dari batas profesional
56
Bab 56 Benalu yang belum mati
57
Bab 57 Memutus tali manipulasi
58
Bab 58 Saling mengoyak di balik besi
59
Bab 59 Langkah Baru, lembaran Baru
60
Bab 60 Jamuan Menilai
61
Bab 61

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!