Mulai mendekat

"Pagi kak Sigit" sapa Dirga yang ikut bersama Bintang ke sawah yang hari itu sudah mulai panen.

‎"Pagi juga Dirga, sudah mulai nyaman ke sawah?" ledek Sigit karena terakhir saat ikut Bintang, Dirga terpeleset dan jatuh ke dalam lumpur membuat bajunya kotor semua.

‎Dirga hanya tersenyum dia memang lebih terbiasa mengajar para santri di pondok di banding ke sawah ataupun ke kebun meskipun di tempat Adrian juga banyak sawah dan kebun, tapi memang Dirga hanya fokus ke pendidikan agama yang sudah dia cintai sejak dia dan Delisha pesantren di tempat itu bersama Ghafar dan Ghifari.

‎"Sudah lebih ahli sekarang kak" jawab Dirga

‎"Apa padi padi kita terserang hama tikus seperti padi para warga?" tanya Bintang yang menyerahkan semua urusan kebun dan sawah miliknya pada Sigit dan Herman.

‎"Alhamdulillah tidak Om, hasil panen di sawah Om dan Om Galuh selalu bagus dan hasilnya selalu meningkat setiap kali panen" jawab Sigit

‎"Tapi ya itu...."

‎"Ya itu apa?" tanya Bintang

‎"Ada yang menyebarkan gosip kalau sawah Om Bintang dan Om Galuh itu pakai pesugihan supaya tidak kena hama tikus ataupun yang lain, dan setiap ada pekerja di sini yang sakit sering di kaitkan dengan pesugihan itu" jawab Sigit

‎"Itu kan memang sudah terjadi sejak dulu, tapi mereka tidak pernah bisa membuktikan pesugihan apa yang aku lakukan, jika tanah ini subur, itu memang karena kita mengurusnya dengan baik dan tahu kapan harus menanam padi dan kapan harus di ganti dengan tanaman lain" jawab Bintang

‎"Mungkin mereka lupa pa kalau papa ini sarjana pertanian" ucap Dirga

‎"Iya, tapi anak anak papa tidak ada yang kuliah di jurusan pertanian" keluh Bintang

‎"Memangnya Bimantara tidak termasuk ya pa, dia juga kan kuliah di jurusan pertanian dan sudah lulus" ucap Dirga

‎"Bima mah cucu papa" jawab Bintang

‎"Yang penting kan ada keturunan Darmawan yang melanjutkan ritual keluarga" jawab Dirga terkekeh.

‎"Ritual keluarga, kamu pikir papa ini pemuja iblis yang harus melakukan ritual dan harus ada keluarga yang meneruskan nya" gerutu Bintang

‎"Hihihi... bicara soal ritual, Sahara mimpi ada seorang pemuja Iblis yang mengincar tanah Bagaskara" ucap Sahara yang sudah menempel di punggung Bintang.

‎"Kamu lihat wajahnya?" tanya Bintang

‎"Tidak, tapi punggungnya ada tanda telapak tangan iblis" jawab Sahara melirik Dirga.

‎Dirga mengernyitkan alisnya, dia juga memimpikan hal yang sama, ada seorang perempuan yang tidur di ranjangnya dan punggung perempuan itu memiliki tanda telapak tangan yang cukup besar dan berwarna hitam.

‎"Dirga memimpikan itu juga semalam pa, dia memanggil nama Dirga" ucap Dirga

‎"Nah... benar kan, di pasti pemuja iblis yang cukup kuat sampai sampai Sahara tidak bisa merasakan keberadaannya" ucap Sahara

‎"Jika iya, mungkin Dirga yang dia incar, hati hati nak" ucap Badaruddin yang terdengar dalam kalung yang di pakai Sigit.

"Baik Opa" jawab Dirga

‎"Den Bintang"

‎"Iya kang Deden" jawab Bintang

‎"Nyai Radini kemarin bertemu dengan saya di jalan, dia bertanya apakah padi di sini akan di jual? jika iya nyai Radini ingin membeli sekitar satu ton untuk di bagikan pada para pekerja katanya dan untuk stok di rumahnya" tanya Deden

‎"Sampaikan maaf saya ya kang Deden, sudah sejak lama padi di sini di jual pada pak Kusoy dan sebagian juga kan saya simpan untuk persediaan di rumah dan sedekah pada para warga" jawab Bintang

‎"Baik den, nanti akan saya sampaikan" jawab Deden lalu kembali melanjutkan menimbang padi yang belum dia timbang.

‎"Siapa nyai Radini pa?" tanya Dirga

‎"Dia adalah putri dari nyai Radiah, katanya masih keturunan bangsawan jaman dulu dan di hormati di kampung Curug ujung, dia tinggal di sana" jawab Bintang.

‎"Ko Dirga tidak tahu?" tanya Dirga

‎"Iya lah kamu tidak tahu, dia itu sekolah di kota dan pulang saat usianya dua puluh tahun, setelah itu dia langsung jadi penerus ibunya, dia juga belum menikah, usianya tiga puluh tahun kalau tidak salah, mau papa lamarkan? Karena ibunya pernah menawarkan perjodohan pada papa, dia baik dan sopan juga orangnya" ucap Bintang

‎"Tidak, Dirga hanya mau yang di bawa Abah yai" jawab Dirga tegas membuat Sigit tertawa.

‎"Mungkin Abah yai mau menikahkan Dirga dengan cicitnya Om, kan ada tuh cicitnya yang masih bayi" ledek Sigit

‎"Keburu ubanan Dirga kak" keluh Dirga dan mereka tertawa.

‎"Papa!" panggil Khanza putri dari Sigit berlari dan memberikan rantang makan siang untuk Sigit dan yang lain.

‎"Bawa apa?" tanya Sahara masih di punggung Bintang.

‎"Bawa ayam goreng sama cah kangkung, sambal terasi dan... rendang jengkol" jawab Khanza terkekeh.

‎"Hueekkk.. Sahara tidak suka jengkol, Sahara mau pulang saja minta rendang daging sama Silvia" kesal Sahara menghilang dari sana.

‎"Hahaha... cucuku memang hebat, hanya kamu yang bisa mengusir Sahara dengan mudah" ungkap Badaruddin.

"Siapa dulu dong kakeknya" jawab Khanza

‎Dirga juga tersenyum karena interaksi keluarganya dengan para mahluk halus itu bisa di bilang sudah seperti keluarga mereka sendiri, mengobrol, makan bahkan kegiatan mereka juga selalu di ikuti oleh para mahluk halus yang sudah bersama mereka dari sebelum Dirga lahir.

‎"Kak Dirga, Khanza yang masak ayamnya loh, kalau asin itu artinya Khanza minta segera di lamar kak Dirga" ucap Khanza langsung berlari dari sana karena malu.

Bahkan Dirga sampai tertawa karena Khanza tidak menoleh lagi Karena malu dan berlari menabrak beberapa orang sampai terjatuh.

‎"Anak itu..." kaget Sigit begitupun Bintang.

‎"Sigit, sepertinya kita akan jadi besan" ledek Bintang

‎"Sepetinya Sigit harus kirim foto Khanza pada Abah yai Om" balas Sigit bercanda karena dia pikir tidak mungkin Dirga mau dengan Khanza yang ceplas ceplos dan sedikit genit saat bertemu Dirga.

‎"Kak Sigit bisa saja" ucap Dirga merasa sedikit canggung.

‎"Ayo kita duduk di gubuk saja, ini akan membutuhkan waktu lama jadi kita berteduh dulu sambil minta makanan Sigit" ajak Bintang

‎"Memangnya Om tidak bawa bekal Om?" tanya Sigit meledek.

‎"Bawa, tapi habis di makan Sahara" jawab Bintang.

"Sudah tidak aneh kalau hantu itu ikut, dia bahkan mampu menghabiskan satu gerobak bakso kalau tidak di ingatkan" ucap Sigit

‎"Dirga mau beli air minum ya pa, sepertinya air minum habis" ucap Dirga

‎"Iya, pesan air galon juga untuk para pekerja dan makanan ringan, kue kue biasanya ada di toko Cici" jawab Bintang

"Baik pa" jawab Dirga

Terpopuler

Comments

Leni Nuraeni

Leni Nuraeni

sahara oh sahara hantu yg paling demen sama makanan rendang,, seneng dech bisa ketemu lagi sama sahara dkk

2026-08-03

0

lihat semua
Episodes
1 Perempuan pemuja iblis
2 Mulai mendekat
3 Radini mendekat
4 Serangan pertama
5 Musuh yang kuat
6 Efek hilangnya pagar gaib
7 Energi murni
8 Lamaran untuk Dirga
9 Rumah iblis
10 Halangan
11 Gangguan saat pemagaran
12 Pagar terpasang
13 Kepedulian Sagara
14 Rencana Radini
15 Radini yang sebenarnya
16 Satu serangan
17 Meminta Rania kembali
18 Sahara kesal
19 Radini vs Kenanga
20 Rani
21 Rencana dua anak Sahara
22 Mendekati Roman
23 Roman mulai waspada
24 Senjata tombak
25 Hadiah dari tamu jauh
26 Merayu Roman
27 taktik Radini
28 Makan malam mencekam
29 Merayu Radiah
30 Rani keluar, Luca masuk
31 Barang Dirga
32 Argadana dan Anggadana terluka
33 Kecurigaan Sigit
34 Sosok perempuan penerima pelet
35 usaha Dirga
36 usaha Dirga 2
37 Kejar target
38 Luca bergerak
39 Sahara senang Radini meriang
40 Terusir
41 Gita
42 Sama sama punya rahasia
43 Luca curiga
44 Secangkir darah
45 Serangan mendadak
46 Sahara menyusup
47 Hatta tahu yang terjadi
48 Dirga terjebak
49 Dirga terjebak
50 Ibu Sahara
51 Menuju rawa congkrang
52 Banyak bantuan
53 Buah pohon keramat
54 Keluarga Cemara
55 Dirga pulang
56 Dua rahasia
57 Membujuk Soca
58 Gandra
59 Kondisi Gandra
60 Liciknya Luca
61 Radini waspada
62 Mulai mengobati
63 Kecurigaan Khanza
64 Sahara berbeda
65 Penyebab gangguan
66 Menyadarkan Gandra
67 Tak bisa bangun
68 Penawar
69 Penawar 2
70 Ancaman Sahara
71 Balasan untuk Radini
72 Tantangan Dimas
73 Masih belum waktunya
74 Kembali jadi Mbah Dimas
75 Hatta bermain aman
76 Kecurigaan Dirga
77 Hatta dalam bahaya
78 Terbakar
79 Menyembunyikan
80 Kesedihan palsu
81 Sahara tertipu
82 Melepaskan Soca
83 Luca berhasil
84 Bimantara marah
85 Khanza kosong
86 Mustahil tapi terjadi
87 Botol kaca
88 Keadaan Radini
89 Kegelisahan Dirga
90 Sebuah jawaban
91 Nasehat menyentuh
92 Kesempatan yang tak boleh di lewatkan
93 Saling terhubung
94 Kondisi Radini dan Radiah
95 Pesan terakhir Hatta
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Perempuan pemuja iblis
2
Mulai mendekat
3
Radini mendekat
4
Serangan pertama
5
Musuh yang kuat
6
Efek hilangnya pagar gaib
7
Energi murni
8
Lamaran untuk Dirga
9
Rumah iblis
10
Halangan
11
Gangguan saat pemagaran
12
Pagar terpasang
13
Kepedulian Sagara
14
Rencana Radini
15
Radini yang sebenarnya
16
Satu serangan
17
Meminta Rania kembali
18
Sahara kesal
19
Radini vs Kenanga
20
Rani
21
Rencana dua anak Sahara
22
Mendekati Roman
23
Roman mulai waspada
24
Senjata tombak
25
Hadiah dari tamu jauh
26
Merayu Roman
27
taktik Radini
28
Makan malam mencekam
29
Merayu Radiah
30
Rani keluar, Luca masuk
31
Barang Dirga
32
Argadana dan Anggadana terluka
33
Kecurigaan Sigit
34
Sosok perempuan penerima pelet
35
usaha Dirga
36
usaha Dirga 2
37
Kejar target
38
Luca bergerak
39
Sahara senang Radini meriang
40
Terusir
41
Gita
42
Sama sama punya rahasia
43
Luca curiga
44
Secangkir darah
45
Serangan mendadak
46
Sahara menyusup
47
Hatta tahu yang terjadi
48
Dirga terjebak
49
Dirga terjebak
50
Ibu Sahara
51
Menuju rawa congkrang
52
Banyak bantuan
53
Buah pohon keramat
54
Keluarga Cemara
55
Dirga pulang
56
Dua rahasia
57
Membujuk Soca
58
Gandra
59
Kondisi Gandra
60
Liciknya Luca
61
Radini waspada
62
Mulai mengobati
63
Kecurigaan Khanza
64
Sahara berbeda
65
Penyebab gangguan
66
Menyadarkan Gandra
67
Tak bisa bangun
68
Penawar
69
Penawar 2
70
Ancaman Sahara
71
Balasan untuk Radini
72
Tantangan Dimas
73
Masih belum waktunya
74
Kembali jadi Mbah Dimas
75
Hatta bermain aman
76
Kecurigaan Dirga
77
Hatta dalam bahaya
78
Terbakar
79
Menyembunyikan
80
Kesedihan palsu
81
Sahara tertipu
82
Melepaskan Soca
83
Luca berhasil
84
Bimantara marah
85
Khanza kosong
86
Mustahil tapi terjadi
87
Botol kaca
88
Keadaan Radini
89
Kegelisahan Dirga
90
Sebuah jawaban
91
Nasehat menyentuh
92
Kesempatan yang tak boleh di lewatkan
93
Saling terhubung
94
Kondisi Radini dan Radiah
95
Pesan terakhir Hatta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!