Serangan pertama

‎Bintang begitu tidak menyangka kalau Radini akan datang langsung ke ladangnya untuk membeli padi, tapi Bintang tidak pernah ingkar janji, dia sudah mengatakan akan menjual sebagian padinya pada Kusoy jadi dia tetap dengan keputusannya itu.

‎Radini memang kecewa tapi dia tidak bisa memperlihatkan itu di depan semua orang, dia tetap menjaga wibawanya karena dia tidak mau di anggap menggunakan nama besarnya untuk menekan orang lain di kampung itu.

‎"Mungkin kak Galuh belum menjual padinya, hari ini dia juga panen jadi kamu bisa bertanya padanya" ucap Bintang

‎"Tapi supir saya sedang mengurus pengantaran perhiasan ke toko saya" ucap Radini melirik Dirga

‎"Dirga, kamu antar Radini ke ladang kak Galuh, mungkin padinya belum di jual" ucap Bintang

‎"Padinya Galuh juga sudah di jual cah Bagus, di jual ke Jakarta, kan Galuh besannya keluarga Adiwinata, keluarga itu yang membeli semua padi Galuh" ucap Sahara

‎"Bagaimana? apa mas Dirga mau mengantar saya ke sana?" tanya Radini

‎"Maaf, tidak bisa karena saya ada urusan, mungkin kak Sigit bisa mengantar" jawab Dirga

‎"Sepertinya padi Om Galuh juga sudah di jual ke Jakarta" ucap Sigit dan sekarang Radini menatap dalam Sigit.

‎Radini tidak mengenal Sigit, tapi melihat sosoknya, Radini tidak yakin Sigit punya ilmu kanuragan ataupun ilmu putih karena Sigit sama dengan warga lainnya terlihat sederhana. Tapi Radini tidak tahu kalau kalung yang di pakai Sigit lah yang membuatnya tidak terlihat memiliki ilmu karena Badaruddin menyamarkan Keberadaannya sama seperti iblis yang di sembah Radini.

‎"Antar saja dulu, kasihan Radini sudah ke sini, nanti Om akan antarkan sekitar dua ratus kilo ke rumah kamu kalau kamu mau, itu dari bagian Om karena stok di lumbung masih ada" ucap Bintang

‎"Iya Om, Radini mau" jawabnya

‎"Kamu jadi terlihat seperti perempuan pada umumnya kalau bersikap biasa seperti ini, tidak seperti nyai bangsawan yang sering kamu perlihatkan" ungkap Bintang

‎"Saya memang seperti ini aslinya Om, kalau di depan warga itu adalah tuntutan keluarga dan ibu" jawab Radini tersenyum sopan.

‎Bintang mengangguk, dia melihat Radini adalah sosok yang lembut dan sopan, tutur katanya bagus dan sepertinya sudah di persiapkan untuk menjadi penerus keluarga Sukarna dengan baik oleh ibunya. Bahkan Bintang tertarik untuk menerima lamaran Radiah untuk Radini pada Dirga.

‎"Jadi apa bisa saya ke tempat pak Galuh?" tanya Radini

‎"Baiklah Om, ayo nyai bisa ikut dengan mobil kebun" ajak Sigit

‎"Cah Bagus! jangan tatap matanya lebih dari lima detik, sini Sahara sembur dulu!" kesal Sahara pindah ke punggung Bintang dan meniup ubun ubun Bintang karena dia terus menatap Radini.

‎"Dasar Kunti sialan! Berani dia menghilangkan pengaruh ku dari Bintang! akan aku buat kuntilanak itu hilang selamanya nanti" batin Radini menatap tidak suka sosok Sahara yang sedang mengusap rambut Bintang supaya tidak terus menatap Radini.

‎Setelah Radini pergi bersama Sigit, Dirga langsung menghampiri Bintang dan memberikan air minum untuk ayahnya itu, bahkan Bintang sempat terhuyung dan hampir pingsan jika Dirga tidak menahannya.

‎"Kenapa papa?" tanya Bintang kebingungan

‎"Papa hampir kena pengaruh ilmu hitam pa, entah dari mana datangnya" jawab Dirga

‎"Tapi kan lahan ini di pagari pagar gaib" ucap Bintang

‎"Ada yang aneh cah Bagus, ada yang aneh, sepertinya lahan cah Bagus harus di pagar oleh lima raja jin Islam baru bisa hilang dari masalah" ucap Sahara melihat sekeliling.

‎"Maksudnya?" tanya Bintang

‎Belum lima menit Bintang menanyakan tentang maksud Sahara, segerombolan tikus tiba tiba saja datang dari arah kebun menuju ke lahan Bintang. Rukmini yang merasakan adanya bahaya langsung keluar dari dalam kalung Bintang dan menghadang tikus tikus itu dengan tongkat miliknya, begitupun Sahara yang menghalangi tikus tikus itu menggunakan rambutnya.

‎"Kenapa mereka bisa masuk, pasti ada setan yang membuka pagar kita Sahara" ucap Rukmini

‎"Benar nek, Sahara juga merasakan itu sejak si nyai Rudin itu masuk ke sini" jawab Sahara

‎"Nyai Radini" ucap Dirga

‎"Ah Sahara malas menghafal nama" ucap Sahara

‎Dirga mengambil botol air yang baru, dia membacakan sesuatu ke dalam air itu dan setelahnya dia menyiram tikus tikus itu sampai semuanya menghilang begitu saja menjadi asap.

‎"Tikus gaib?" tanya Bintang

‎"Iya pa, sepertinya tikus kiriman seseorang yang ingin lahan papa rusak" jawab Dirga

‎"Aakhhh!"

‎Terdengar teriakan dari arah sawah dan ketika di cek, ternyata ada salah seorang pekerja Bintang yang di cekik sesuatu sampai tubuhnya mengambang di udara.

‎"Den Bintang, Deden tiba-tiba saja seperti kerasukan dan menyakiti beberapa pekerja lain" ucap seorang pekerja menghampiri Bintang.

‎"Kalian mundurlah, saya akan mengurusnya" jawab Bintang

‎Para pekerja mundur dan Deden terlihat semakin kehabisan nafas karena tangannya mencekik lehernya sendiri, tapi sosok yang mencekik Deden sama sekali tidak terlihat oleh Bintang ataupun Dirga.

‎"Lepaskan dia!" bentak Bintang

‎"Kalian belum memberikan tumbal untukku! tahun ini aku minta lima!" jawab suara sosok itu membuat warga ketakutan dan mengira Bintang memakai pesugihan.

‎"Jangan memfitnahku! aku tidak pernah memberikan tumbal apapun pada mahluk apapun! siapa kamu dan siapa yang mengirim kamu!" bentak Bintang

‎"Aku adalah sesembahan kami Bintang Darmawan, jangan berpura pura lupa!" jawabnya

‎"Benarkah? kalau kamu sesembahan ku itu artinya kamu bisa mengucapkan dua kalimat syahadat, ucapkan!" tantang Bintang

‎"Bangsat! kamu memintaku menyembah manusia! aku tidak sudi!" bentaknya

‎Bintang dan Dirga lalu membaca ayat ayat pengusir jin yang mereka hafal, keduanya memejamkan mata mereka dengan khusuk dan Sahara juga Rukmini berada di belakang mereka untuk melindungi keduanya.

‎Angin kencang juga mulai muncul di sana dan para pekerja Bintang di minta untuk masuk ke dalam gubuk supaya mereka tidak celaka karena ulah setan yang merasuki tubuh Deden.

"Cari sosok itu Sahara" perintah Rukmini

"Sahara hanya lihat bekas hitam di leher Deden nek" jawab Sahara

‎"A'udzubillahiminasyaitonirojiim Kul huwallaahu Ahad.."

‎Dirga menutupnya dengan membaca Al ikhlas dan ayat kursi, Dirga juga menyiram tubuh Deden yang masih melayang hingga tubuh Deden terjatuh dan segera di tangkap Bintang.

‎Bruk.

‎"Aarrgghh!"

‎"Papa!"

‎"Cah Bagus!"

‎Dirga dan Sahara terkejut saat tubuh Bintang tiba tiba saja terlempar cukup jauh, bahkan para pekerja terlihat khawatir karena Bintang sampai membentur pematang sawah dengan cukup keras.

‎"Papa tidak apa apa, lanjutkan bacaan kamu dan urus makhluk apapun itu" ucap Bintang segera di peluk Sahara dengan rambutnya.

‎"Gandra!" panggil Sahara

‎"Aku di sini ratuku" jawab Gandra segera muncul

‎Gandra melihat Rukmini sedang membantu Dirga, dia melihat sekeliling untuk mengetahui siapa yang sudah berani masuk ke dalam lahan Bintang tapi sosok itu benar benar tidak terlihat. Gandra tidak mau tinggal diam dan segera mengeluarkan pedang miliknya untuk melindungi para pekerja Bintang dan Bintang juga Dirga.

‎"Ayahanda, bayangannya" ucap Argadana juga muncul setelah mendengar teriakan Sahara.

Terpopuler

Comments

Ai Sri Kurniatu Kurnia

Ai Sri Kurniatu Kurnia

cariati sirandini

2026-07-10

0

lihat semua
Episodes
1 Perempuan pemuja iblis
2 Mulai mendekat
3 Radini mendekat
4 Serangan pertama
5 Musuh yang kuat
6 Efek hilangnya pagar gaib
7 Energi murni
8 Lamaran untuk Dirga
9 Rumah iblis
10 Halangan
11 Gangguan saat pemagaran
12 Pagar terpasang
13 Kepedulian Sagara
14 Rencana Radini
15 Radini yang sebenarnya
16 Satu serangan
17 Meminta Rania kembali
18 Sahara kesal
19 Radini vs Kenanga
20 Rani
21 Rencana dua anak Sahara
22 Mendekati Roman
23 Roman mulai waspada
24 Senjata tombak
25 Hadiah dari tamu jauh
26 Merayu Roman
27 taktik Radini
28 Makan malam mencekam
29 Merayu Radiah
30 Rani keluar, Luca masuk
31 Barang Dirga
32 Argadana dan Anggadana terluka
33 Kecurigaan Sigit
34 Sosok perempuan penerima pelet
35 usaha Dirga
36 usaha Dirga 2
37 Kejar target
38 Luca bergerak
39 Sahara senang Radini meriang
40 Terusir
41 Gita
42 Sama sama punya rahasia
43 Luca curiga
44 Secangkir darah
45 Serangan mendadak
46 Sahara menyusup
47 Hatta tahu yang terjadi
48 Dirga terjebak
49 Dirga terjebak
50 Ibu Sahara
51 Menuju rawa congkrang
52 Banyak bantuan
53 Buah pohon keramat
54 Keluarga Cemara
55 Dirga pulang
56 Dua rahasia
57 Membujuk Soca
58 Gandra
59 Kondisi Gandra
60 Liciknya Luca
61 Radini waspada
62 Mulai mengobati
63 Kecurigaan Khanza
64 Sahara berbeda
65 Penyebab gangguan
66 Menyadarkan Gandra
67 Tak bisa bangun
68 Penawar
69 Penawar 2
70 Ancaman Sahara
71 Balasan untuk Radini
72 Tantangan Dimas
73 Masih belum waktunya
74 Kembali jadi Mbah Dimas
75 Hatta bermain aman
76 Kecurigaan Dirga
77 Hatta dalam bahaya
78 Terbakar
79 Menyembunyikan
80 Kesedihan palsu
81 Sahara tertipu
82 Melepaskan Soca
83 Luca berhasil
84 Bimantara marah
85 Khanza kosong
86 Mustahil tapi terjadi
87 Botol kaca
88 Keadaan Radini
89 Kegelisahan Dirga
90 Sebuah jawaban
91 Nasehat menyentuh
92 Kesempatan yang tak boleh di lewatkan
93 Saling terhubung
94 Kondisi Radini dan Radiah
95 Pesan terakhir Hatta
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Perempuan pemuja iblis
2
Mulai mendekat
3
Radini mendekat
4
Serangan pertama
5
Musuh yang kuat
6
Efek hilangnya pagar gaib
7
Energi murni
8
Lamaran untuk Dirga
9
Rumah iblis
10
Halangan
11
Gangguan saat pemagaran
12
Pagar terpasang
13
Kepedulian Sagara
14
Rencana Radini
15
Radini yang sebenarnya
16
Satu serangan
17
Meminta Rania kembali
18
Sahara kesal
19
Radini vs Kenanga
20
Rani
21
Rencana dua anak Sahara
22
Mendekati Roman
23
Roman mulai waspada
24
Senjata tombak
25
Hadiah dari tamu jauh
26
Merayu Roman
27
taktik Radini
28
Makan malam mencekam
29
Merayu Radiah
30
Rani keluar, Luca masuk
31
Barang Dirga
32
Argadana dan Anggadana terluka
33
Kecurigaan Sigit
34
Sosok perempuan penerima pelet
35
usaha Dirga
36
usaha Dirga 2
37
Kejar target
38
Luca bergerak
39
Sahara senang Radini meriang
40
Terusir
41
Gita
42
Sama sama punya rahasia
43
Luca curiga
44
Secangkir darah
45
Serangan mendadak
46
Sahara menyusup
47
Hatta tahu yang terjadi
48
Dirga terjebak
49
Dirga terjebak
50
Ibu Sahara
51
Menuju rawa congkrang
52
Banyak bantuan
53
Buah pohon keramat
54
Keluarga Cemara
55
Dirga pulang
56
Dua rahasia
57
Membujuk Soca
58
Gandra
59
Kondisi Gandra
60
Liciknya Luca
61
Radini waspada
62
Mulai mengobati
63
Kecurigaan Khanza
64
Sahara berbeda
65
Penyebab gangguan
66
Menyadarkan Gandra
67
Tak bisa bangun
68
Penawar
69
Penawar 2
70
Ancaman Sahara
71
Balasan untuk Radini
72
Tantangan Dimas
73
Masih belum waktunya
74
Kembali jadi Mbah Dimas
75
Hatta bermain aman
76
Kecurigaan Dirga
77
Hatta dalam bahaya
78
Terbakar
79
Menyembunyikan
80
Kesedihan palsu
81
Sahara tertipu
82
Melepaskan Soca
83
Luca berhasil
84
Bimantara marah
85
Khanza kosong
86
Mustahil tapi terjadi
87
Botol kaca
88
Keadaan Radini
89
Kegelisahan Dirga
90
Sebuah jawaban
91
Nasehat menyentuh
92
Kesempatan yang tak boleh di lewatkan
93
Saling terhubung
94
Kondisi Radini dan Radiah
95
Pesan terakhir Hatta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!