Radini mendekat

"Iya, pesan air galon juga untuk para pekerja dan makanan ringan, kue kue biasanya ada di toko Cici" jawab Bintang

"Baik pa" jawab Dirga

‎Dirga pergi ke arah jalan besar, dia harus melewati beberapa sawah dan juga kebun di lahan Bintang untuk sampai ke jalan itu, tapi Dirga tidak lupa karena jalan di sana tidak banyak yang berubah, semuanya masih sama bahkan jalan aspal juga tidak di perbesar supaya tidak ada yang merusak kampung itu dan melakukan banyak pembangunan yang mungkin akan merusak kualitas air ataupun tanah di sana.

‎"Ci beli air minum ukuran besar sama dua galon air, di kirim ke sawah papa ya Ci" ucap Dirga

‎"Eh Dirga, iya nanti Cici minta si Ujang untuk antar ke sana, mau beli apa lagi?" tanya pemilik warung bernama Amel tapi sering di panggil Cici itu.

‎"Kue kue sama makanan ringan lain Ci" jawab Dirga

‎"Mau coba ini tidak? ini buatan warga kampung Sukun, kue onde-onde sama kue lapis"

‎"Boleh Ci, bungkus saja semuanya untuk para pekerja" jawab Dirga

‎"Ini airnya tiga, kue kue dan keripik, galon dua, sama ada keroket dan tahu isi semuanya jadi seratus delapan puluh ribu" ucap Cici

‎"Ini uangnya Ci"

‎Dirga memberikan uang di ratus ribu pada Cici, tapi tangannya tiba tiba bersentuhan dengan seorang perempuan yang akan mengambil sebatang coklat di depan meja kasir dan Dirga langsung menarik tangannya lagi.

‎Bahkan Dirga mundur beberapa langkah karena perempuan itu terlalu dekat dengannya sampai tubuhnya hampir menempel dengan tubuh Dirga dan itu membuat Dirga tidak nyaman.

‎"Maaf, saya mau beli coklat ini untuk keponakan saya" ucap perempuan itu yang ternyata adalah Radini.

‎"Ada nyai Radini, mau beli coklat? nanti ya saya layani Dirga dulu" ucap Cici

‎"Silahkan Ci" jawab Radini masih menatap Dirga yang sama selama tidak menatapnya.

‎"Ini kembaliannya ya Dirga, sama ini ada bonus untuk para pekerja" ucap Cici memberikan satu pak roti pada Dirga.

‎"Terima kasih Ci" jawab Dirga langsung pergi.

‎"Tunggu" panggil Radini tapi Dirga sama sekali tidak berhenti.

‎"Dirga! kamu di panggil nyai Radini" panggil Cici dan barulah Dirga berhenti.

‎Radini, tadi Dirga lupa tapi sekarang dia ingat dengan nama itu, nama yang sempat di bicarakan Deden tadi di sawah, dan Dirga berbalik untuk melihat perempuan yang katanya seorang keturunan bangsawan itu.

‎"Iya" jawab Dirga begitu dia berbalik dan menatap mata Radini.

‎Mata mereka bertemu, pandangan mereka beradu tapi tidak ada yang istimewa. Bagi Dirga Radini layaknya para perempuan kampung Curug yang kebanyakan masih memakai kebaya kecuali para anak muda yang memakai pakaian gaul seperti anak kota.

‎"Maaf, tadi saya dengar kamu mau ke sawah pak Bintang, boleh saya ikut?" tanyanya

‎"Anda mau apa?" tanya Dirga

‎"Saya mau membeli padi di tempat pak Bintang" jawabnya

‎"Maaf, tapi kata papa padi padi itu sudah di beli pak Kusoy, jadi kalau mau beli tinggal hubungi pak Kusoy saja" jawab Dirga

‎"Tapi saya ingin bicara dengan pak Bintang langsung, tolong, boleh kan?" tanyanya memelas.

‎"Baiklah, silahkan" jawab Dirga berjalan lebih dulu dan Radini mengikutinya dari belakang dengan senyum tipis di bibirnya.

‎ Matanya juga tidak lepas dari sosok Sahara yang ada di punggung Dirga, menatap curiga Radini tapi Radini berpura pura tidak melihat Sahara dan hanya tersipu malu seolah dia senang bisa ikut bersama Dirga.

‎"Cih... so tersipu padahal kamu sering meludahi laki laki yang melamar kamu, Dirga tidak akan mau dengar kamu yang sombong, dia sukanya perempuan seperti Sahara, anggun, perhatian, cantik paripurna dan keibuan, tidak seperti kamu yang jelek mirip kambing bertanduk" sinis Sahara mendelik tapi tidak bisa terlihat karena wajahnya tertutup rambut.

‎Radini mendengar semua itu dan mengepalkan tangannya, tapi dia tidak bisa membuka penyamarannya yang berpura pura tidak bisa melihat hantu dan berakting sebagai seorang nyai terhormat di kampung itu.

‎"Dirga, kamu jangan mau sama dia ya, Sahara lebih setuju kamu dengan si centil Khanza daripada sama dia, setidaknya Khanza itu masih segel tidak seperti dia yang sudah bobol" bisik Sahara membuat Dirga tersenyum teduh.

‎"Sudah jangan mengganggu dia, kenapa kembali?" tanya Dirga berbisik juga tapi Radini bisa mendengarnya dan dia cukup terkejut mengetahui kalau Dirga mengetahui keberadaan Sahara yang ada di punggungnya.

"Sahara kembali karena ternyata Kenanga tidak buat rendang jengkol, Kenanga buatnya rendang tempe, jadi Sahara mau minta, si Khanza centil itu bohongin Sahara" jawab Sahara

‎"Aku pikir dia tidak bisa melihat jin tapi ternyata jin itu adalah peliharaannya juga, bukan hanya Bintang Darmawan" batin Radini.

‎Dirga berhenti, dia berbalik ke arah Radini yang seketika itu juga langsung berhenti dan menatap kaget Dirga karena khawatir Dirga juga bisa mendengar kata hatinya.

‎"Ke.. Kenapa mas?" tanya Radini tersenyum canggung.

‎"Papa ada di gubuk sana sedang makan, kamu langsung ke sana saja karena saya mau bawa galon ini dulu, kasihan mang Ujang" jawab Dirga membuat Radini lega.

‎"Ba.. baik mas" jawabnya

‎"Baik mas" ejek Sahara mencebikkan bibirnya.

‎"Ssttt...."

‎"Sahara kesal lihat dia so cantik dan so anggun padahal aslinya menyebalkan!" gerutu Sahara saat Dirga memintanya untuk diam.

"Sahara apa kamu merasakan sesuatu yang aneh dari perempuan itu?" tanya Dirga

"Iya, Sahara merasakan itu tapi tidak tahu juga, dia tidak bisa melihat Sahara atau dia hanya berbohong, tapi Sahara juga tidak lihat dia punya ilmu ataupun jin di tubuhnya" jawab Sahara

"Atau mungkin dia menyembunyikan semuanya dengan rapat, sama seperti sebuah rahasia yang harus di kubur rapat rapat supaya tidak ada yang tahu" ungkap Dirga

"Sama sepertiku yang harus berpura pura tidak tahu apapun seperti apa yang di katakan Abah yai, bersikaplah seperti air yang tenang tapi mampu menenggelamkan segala sesuatu yang masuk ke dalamnya" ungkap Dirga

"Sama seperti Sahara yang tenggelam dalam cinta Dirga... Eaaaa" ucap Sahara cekikikan bahkan sampai berguling guling di rumput.

‎"Hantu ini, entah kapan dia akan serius, tapi sekalinya serius malah buat orang takut" keluh Dirga menyimpan galon air yang sudah dia buka itu di pinggir pematang sawah.

Dirga melihat sekeliling, dia tidak merasakan ada yang aneh tapi untuk berjaga jaga dia membacakan sesuatu ke dalam galon air itu dan tiba tiba airnya langsung bergerak, tapi kemudian jadi tenang setelah Dirga melepaskan tangannya.

"Lindungi kami Ya Allah, karena sepertinya musuh kami sekarang tidak terlihat dan tidak mudah di kalahkan" batin Dirga

Terpopuler

Comments

neni nuraeni

neni nuraeni

semoga Dirga dan keluarganya tidak terpengaruh oleh citra baiknya radini,,, lnjut

2026-07-10

0

Ai Sri Kurniatu Kurnia

Ai Sri Kurniatu Kurnia

jangan sampai Dirga kena peletnya si radini

2026-07-09

0

lihat semua
Episodes
1 Perempuan pemuja iblis
2 Mulai mendekat
3 Radini mendekat
4 Serangan pertama
5 Musuh yang kuat
6 Efek hilangnya pagar gaib
7 Energi murni
8 Lamaran untuk Dirga
9 Rumah iblis
10 Halangan
11 Gangguan saat pemagaran
12 Pagar terpasang
13 Kepedulian Sagara
14 Rencana Radini
15 Radini yang sebenarnya
16 Satu serangan
17 Meminta Rania kembali
18 Sahara kesal
19 Radini vs Kenanga
20 Rani
21 Rencana dua anak Sahara
22 Mendekati Roman
23 Roman mulai waspada
24 Senjata tombak
25 Hadiah dari tamu jauh
26 Merayu Roman
27 taktik Radini
28 Makan malam mencekam
29 Merayu Radiah
30 Rani keluar, Luca masuk
31 Barang Dirga
32 Argadana dan Anggadana terluka
33 Kecurigaan Sigit
34 Sosok perempuan penerima pelet
35 usaha Dirga
36 usaha Dirga 2
37 Kejar target
38 Luca bergerak
39 Sahara senang Radini meriang
40 Terusir
41 Gita
42 Sama sama punya rahasia
43 Luca curiga
44 Secangkir darah
45 Serangan mendadak
46 Sahara menyusup
47 Hatta tahu yang terjadi
48 Dirga terjebak
49 Dirga terjebak
50 Ibu Sahara
51 Menuju rawa congkrang
52 Banyak bantuan
53 Buah pohon keramat
54 Keluarga Cemara
55 Dirga pulang
56 Dua rahasia
57 Membujuk Soca
58 Gandra
59 Kondisi Gandra
60 Liciknya Luca
61 Radini waspada
62 Mulai mengobati
63 Kecurigaan Khanza
64 Sahara berbeda
65 Penyebab gangguan
66 Menyadarkan Gandra
67 Tak bisa bangun
68 Penawar
69 Penawar 2
70 Ancaman Sahara
71 Balasan untuk Radini
72 Tantangan Dimas
73 Masih belum waktunya
74 Kembali jadi Mbah Dimas
75 Hatta bermain aman
76 Kecurigaan Dirga
77 Hatta dalam bahaya
78 Terbakar
79 Menyembunyikan
80 Kesedihan palsu
81 Sahara tertipu
82 Melepaskan Soca
83 Luca berhasil
84 Bimantara marah
85 Khanza kosong
86 Mustahil tapi terjadi
87 Botol kaca
88 Keadaan Radini
89 Kegelisahan Dirga
90 Sebuah jawaban
91 Nasehat menyentuh
92 Kesempatan yang tak boleh di lewatkan
93 Saling terhubung
94 Kondisi Radini dan Radiah
95 Pesan terakhir Hatta
Episodes

Updated 95 Episodes

1
Perempuan pemuja iblis
2
Mulai mendekat
3
Radini mendekat
4
Serangan pertama
5
Musuh yang kuat
6
Efek hilangnya pagar gaib
7
Energi murni
8
Lamaran untuk Dirga
9
Rumah iblis
10
Halangan
11
Gangguan saat pemagaran
12
Pagar terpasang
13
Kepedulian Sagara
14
Rencana Radini
15
Radini yang sebenarnya
16
Satu serangan
17
Meminta Rania kembali
18
Sahara kesal
19
Radini vs Kenanga
20
Rani
21
Rencana dua anak Sahara
22
Mendekati Roman
23
Roman mulai waspada
24
Senjata tombak
25
Hadiah dari tamu jauh
26
Merayu Roman
27
taktik Radini
28
Makan malam mencekam
29
Merayu Radiah
30
Rani keluar, Luca masuk
31
Barang Dirga
32
Argadana dan Anggadana terluka
33
Kecurigaan Sigit
34
Sosok perempuan penerima pelet
35
usaha Dirga
36
usaha Dirga 2
37
Kejar target
38
Luca bergerak
39
Sahara senang Radini meriang
40
Terusir
41
Gita
42
Sama sama punya rahasia
43
Luca curiga
44
Secangkir darah
45
Serangan mendadak
46
Sahara menyusup
47
Hatta tahu yang terjadi
48
Dirga terjebak
49
Dirga terjebak
50
Ibu Sahara
51
Menuju rawa congkrang
52
Banyak bantuan
53
Buah pohon keramat
54
Keluarga Cemara
55
Dirga pulang
56
Dua rahasia
57
Membujuk Soca
58
Gandra
59
Kondisi Gandra
60
Liciknya Luca
61
Radini waspada
62
Mulai mengobati
63
Kecurigaan Khanza
64
Sahara berbeda
65
Penyebab gangguan
66
Menyadarkan Gandra
67
Tak bisa bangun
68
Penawar
69
Penawar 2
70
Ancaman Sahara
71
Balasan untuk Radini
72
Tantangan Dimas
73
Masih belum waktunya
74
Kembali jadi Mbah Dimas
75
Hatta bermain aman
76
Kecurigaan Dirga
77
Hatta dalam bahaya
78
Terbakar
79
Menyembunyikan
80
Kesedihan palsu
81
Sahara tertipu
82
Melepaskan Soca
83
Luca berhasil
84
Bimantara marah
85
Khanza kosong
86
Mustahil tapi terjadi
87
Botol kaca
88
Keadaan Radini
89
Kegelisahan Dirga
90
Sebuah jawaban
91
Nasehat menyentuh
92
Kesempatan yang tak boleh di lewatkan
93
Saling terhubung
94
Kondisi Radini dan Radiah
95
Pesan terakhir Hatta

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!