BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga

Matahari pagi baru saja mengintip dari balik cakrawala ketika Reymond—yang kini sudah sepenuhnya menerima identitasnya sebagai Rock Lee—berjalan menuju Area Latihan Nomor Tiga. Dia mengenakan pakaian hijau ketatnya yang sudah dicuci bersih, lengkap dengan beban berat yang terikat di kedua pergelangan kakinya.

Sesampainya di lapangan berumput yang luas itu, dia melihat dua orang sudah berdiri di dekat tiang kayu besar.

Yang pertama adalah seorang gadis dengan rambut cokelat yang disanggul dua mirip bakpao, mengenakan baju bergaya Tiongkok berwarna merah muda dan putih. Tenten. Dia sedang sibuk memeriksa gulungan-gulungan senjata di tas pinggangnya.

Yang kedua adalah seorang remaja laki-laki dengan rambut hitam panjang yang diikat longgar di bagian ujung. Dia berdiri dengan menyilangkan dada, matanya yang berwarna putih susu tanpa pupil menatap lurus ke depan dengan tatapan dingin dan arogan. Neji Hyuga. Sang jenius nomor satu di angkatan mereka.

"Oh, Lee! Kamu sudah datang?" Tenten melambaikan tangannya dengan senyum ceria begitu melihat kedatangan Lee. "Kudengar dari Guru Guy kemarin kamu masuk rumah sakit karena kelelahan. Bagaimana keadaanmu? Jangan dipaksakan kalau masih sakit."

Lee berjalan mendekat, membalas lambaian tangan Tenten dengan senyum lebar. "Terima kasih perhatiannya, Tenten! Aku sudah sembuh seratus persen! Malah, aku merasa lebih segar dari biasanya!"

Neji melirik Lee sekilas dari sudut matanya, lalu mendengus pelan, suara yang sarat akan nada cemoohan. "Menyembuhkan diri dengan cepat tidak akan mengubah takdirmu, Lee. Seorang pencundang yang memaksakan diri melampaui batasnya hanya akan berakhir merusak dirinya sendiri. Kerja keras tidak akan pernah bisa melampaui bakat alami."

Kata-kata itu terdengar sangat menusuk telinga. Tenten yang mendengarnya langsung menghela napas panjang, tampak sudah terbiasa dengan sikap dingin Neji. Dia melirik Lee dengan tatapan khawatir, takut kalau rekan timnya yang sensitif itu akan langsung meledak marah atau menangis drama seperti biasanya.

Namun, reaksi Lee kali ini justru membuat kedua remaja itu tertegun.

Lee tidak berteriak. Dia tidak menangis, dan tidak juga membantah dengan kalimat "Masa muda tidak mengenal batas!" yang biasa dia gembar-gemborkan. Sebaliknya, Lee hanya menatap Neji dengan tatapan datar, seulas senyum tipis yang sulit diartikan terukir di sudut bibirnya.

"Takdir, ya?" Lee bergumam pelan, suaranya terdengar sangat tenang, hampir seperti suara orang dewasa yang sedang mendengarkan celoteh anak kecil. "Kita lihat saja nanti, Neji. Apakah takdir yang kamu agung-agungkan itu bisa menahan pukulanku atau tidak."

Neji sedikit mengernyitkan alisnya. Ada yang berbeda dengan Lee hari ini. Sorot mata bulat yang biasanya dipenuhi oleh ambisi menggebu-gebu dan rasa rendah diri yang ditutupi oleh teriakan, kini terlihat... sangat dalam dan tenang. Seperti air telaga yang tidak beriak.

"Sombong sekali," Neji mendesis, aura di sekitarnya mendadak mendingin. "Kamu ingin mencoba bertarung denganku sekarang? Aku tidak keberatan mengingatkanmu kembali di mana posisimu berada."

"Boleh juga," Lee menjawab santai, melangkah maju dua langkah dan langsung mengambil posisi kuda-kuda bertarung. "Anggap saja sebagai pemanasan sebelum Guru Guy datang."

"Eh? Tunggu dulu, kalian berdua! Jangan bertarung di sini!" Tenten mencoba melerai dengan panik, namun kedua pria di depannya sama sekali tidak mengindahkannya.

Neji membuka kedua kakinya, menurunkan pusat gravitasinya, dan menjulurkan tangan kanannya ke depan dengan telapak tangan terbuka. Kuda-kuda khas Juken (Tinju Lembut) klan Hyuga. "Jangan menyesal jika kamu harus kembali ke rumah sakit, Lee."

Syuuwt!

Tanpa peringatan, Neji melesat maju dengan kecepatan yang luar biasa untuk ukuran seorang Genin. Dalam sekejap, dia sudah berada di depan Lee, telapak tangannya mengarah langsung ke arah dada kiri Lee, mengincar salah satu titik tenketsu (titik aliran chakra) untuk menghentikan pergerakan jantungnya.

Lee tidak menghindar. Dia sengaja ingin menguji seberapa efektif cheat regenerasinya menghadapi gaya bertarung Juken yang merusak organ dalam.

Plak!

Serangan Neji mendarat telak di dada Lee. Gelombang chakra murni milik Hyuga menyusup masuk melalui kulit, mencoba menghancurkan jaringan chakra dan organ dalam di balik tulang rusuk Lee. Neji sudah bersiap untuk melihat Lee memuntahkan darah dan berlutut kesakitan.

Namun, sedetik... dua detik... tidak ada yang terjadi.

Mata Neji membelalak tak percaya. Di depan matanya, Lee bahkan tidak bergeser satu sentimeter pun dari posisinya. Aliran chakra perusak yang disuntikkan Neji ke dalam tubuh Lee langsung diserap dan dinetralkan oleh sistem regenerasi instan milik Lee dalam sekejap mata. Sel-sel organ dalam yang sempat tertekan langsung pulih ke kondisi semula sebelum rasa sakit sempat mencapai otak Lee.

"Hanya segini kekuatan dari sang jenius?" Lee berbisik di telinga Neji, suaranya terdengar dingin di tengah keheningan lapangan latihan.

"A-apa?!" Neji tersentak, insting shinobinya berteriak bahaya. Dia mencoba menarik tangannya kembali untuk mundur, namun pergelangan tangannya sudah dicengkeram erat oleh tangan kiri Lee yang sekeras baja.

Cengkeraman itu sangat kuat, membuat Neji meringis kecil. "Lepaskan!" Neji berteriak, tangan kirinya bergerak cepat menyerang wajah Lee.

Lee menggunakan momen itu untuk melepaskan cengkeramannya dan sedikit memiringkan kepala ke kanan, membiarkan angin serangan Neji melewati pipinya. Di saat yang sama, Lee memutar tubuhnya dan melayangkan tendangan memutar yang mengincar rusuk Neji.

Bum!

Neji berhasil menyilangkan kedua lengannya tepat waktu untuk menangkis tendangan itu, namun kekuatan mentah di balik tendangan Lee jauh melampaui perkiraannya. Tubuh Neji terseret mundur hingga lima meter di atas tanah, meninggalkan dua jalur tanah yang terkikis sebelum akhirnya dia berhasil menstabilkan posisinya.

Napas Neji sedikit memburu. Kedua lengannya terasa mati rasa akibat menahan benturan tadi. Dia menatap Lee dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang mendalam, bercampur dengan sedikit kemarahan yang mulai membakar egonya.

Di sisi lain, Tenten berdiri di tepi lapangan dengan mulut terbuka lebar, tangannya menutup mulut karena terkejut. "Lee... dia berhasil memukul mundur Neji dalam satu pertukaran serangan?!"

Lee menurunkan kakinya, berdiri tegak dengan santai sambil menepuk-nepuk debu imajiner di celana hijaunya. Dia menatap Neji yang tampak sangat syok.

"Pertahanan yang bagus, Neji," kata Lee dengan nada memuji yang tulus, namun di telinga Neji, itu terdengar seperti ejekan yang paling sarkastik. "Tapi seperti yang kukatakan tadi... takdir adalah sesuatu yang bisa diubah jika pukulanmu cukup kuat."

Tepat ketika Neji bersiap untuk mengaktifkan Byakugan miliknya karena merasa terhina, sebuah suara tawa yang sangat akrab menggema dari atas pohon di dekat mereka.

"Hahaha! Pertarungan yang sangat memukau di pagi hari yang cerah ini!" Guru Guy melompat turun dari dahan pohon, mendarat tepat di antara Lee dan Neji dengan pose andalannya. "Masa muda kalian berdua benar-benar meledak-ledak! Tapi simpan dulu energi kalian, karena hari ini kita memiliki misi penting dari Hokage!"

Aura tegang di antara kedua remaja itu perlahan memudar, meskipun Neji masih menatap Lee dengan tatapan tajam yang penuh selidik. Lee sendiri hanya tersenyum tipis, merasa sangat puas dengan hasil eksperimen pertamanya pagi ini. Hidup di dunia ini ternyata mulai terasa menarik.

Episodes
1 BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2 BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3 BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4 BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5 BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6 BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7 BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8 BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9 BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10 BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11 BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12 BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13 BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14 BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15 BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16 BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17 BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18 BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19 BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20 BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21 BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22 BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23 BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24 BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25 BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26 BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27 BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28 BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29 BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30 BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31 BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32 BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33 BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34 BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35 BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36 BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37 BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38 BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39 BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40 BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41 BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42 BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43 BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44 BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45 BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46 BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47 BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48 BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49 BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50 BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51 BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52 BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53 BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54 BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55 BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56 BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57 BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58 BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59 BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60 BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61 BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62 BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63 BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64 BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65 BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66 BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67 BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68 BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69 BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70 BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71 BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72 BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73 BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74 BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75 BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76 BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77 BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78 BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79 BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80 BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81 BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82 BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83 BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84 BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85 BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86 BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87 BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88 BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89 BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90 BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91 BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92 BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93 BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94 BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95 BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96 BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97 BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98 BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99 BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100 BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101 BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102 BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103 BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104 BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105 BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan
Episodes

Updated 105 Episodes

1
BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2
BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3
BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4
BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5
BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6
BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7
BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8
BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9
BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10
BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11
BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12
BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13
BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14
BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15
BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16
BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17
BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18
BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19
BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20
BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21
BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22
BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23
BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24
BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25
BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26
BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27
BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28
BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29
BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30
BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31
BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32
BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33
BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34
BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35
BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36
BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37
BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38
BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39
BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40
BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41
BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42
BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43
BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44
BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45
BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46
BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47
BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48
BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49
BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50
BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51
BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52
BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53
BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54
BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55
BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56
BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57
BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58
BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59
BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60
BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61
BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62
BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63
BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64
BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65
BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66
BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67
BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68
BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69
BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70
BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71
BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72
BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73
BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74
BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75
BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76
BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77
BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78
BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79
BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80
BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81
BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82
BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83
BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84
BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85
BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86
BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87
BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88
BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89
BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90
BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91
BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92
BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93
BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94
BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95
BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96
BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97
BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98
BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99
BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100
BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101
BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102
BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103
BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104
BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105
BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!