Rock Lee Kebangkitan Cheat Di Konoha

Rock Lee Kebangkitan Cheat Di Konoha

BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan

Kepala itu rasanya seperti dihantam oleh palu gada seberat sepuluh ton. Denyutannya berpola, dug, dug, dug, beriringan dengan rasa mual yang mengocok isi perut.

Reymond mengerang lirih. Kesadaran pertamanya kembali bukan lewat mata, melainkan lewat bau tanah basah dan aroma obat-obatan yang menyengat hidung. Dia mencoba menggerakkan jemari tangannya, namun rasa kaku langsung menjalar dari pergelangan hingga ke bahu.

"Ugh..." Reymond melenguh, perlahan kelopak matanya yang terasa seberat timah mulai terbuka.

Pandangannya kabur. Langit-langit yang pertama kali dia lihat bukanlah plafon kamar kosnya yang penuh dengan noda bocor, melainkan langit-langit kayu sederhana dengan gorden putih di sisi kiri yang melambai ditiup angin.

Di mana ini? pikirnya, bingung. Apakah semalam aku pingsan setelah begadang nge-push rank di game mobile Naruto itu?

Reymond mencoba duduk. Sialnya, seluruh tubuhnya menolak perintah itu. Rasa sakit yang luar biasa menusuk-nusuk di area kaki, seolah-olah tulang-tulangnya baru saja dipatahkan lalu disambung kembali secara paksa. Dia menunduk, mencoba melihat tubuhnya sendiri.

Detik itu juga, jantung Reymond serasa berhenti berdetak.

"T-tunggu... Apa-apaan ini?!"

Dia melotot. Tangannya—tidak, ini bukan tangan Reymond yang berkulit sawo matang khas anak kuliahan yang jarang berolahraga. Tangan yang dia lihat saat ini dipenuhi oleh lilitan perban putih yang tebal. Ketika dia meraba wajahnya, rambutnya terasa mangkok, kaku, dan... tebal?

Dengan panik yang mulai menjalar ke ubun-ubun, Reymond menyibak selimut rumah sakit yang menutupi kakinya. Dia memakai celana ketat berwarna hijau tua yang sangat familiar. Terlalu familiar sampai-sampai matanya membelalak sempurna.

"Hah? Hijau? Enggak, enggak mungkin..."

Reymond menyapu pandangannya ke sekeliling ruangan. Di atas meja kecil di samping ranjang, terdapat sebuah cermin kecil. Dengan sisa tenaga yang dipaksakan hingga urat lehernya menonjol, dia meraih cermin tersebut.

Tangan Reymond gemetar hebat. Begitu bayangan di cermin terlihat jelas, cermin itu hampir saja lolos dari genggamannya.

"Demi apa?!" pekik Reymond, suaranya melengking tinggi, jauh lebih cempreng dari suara aslinya. "Kenapa mukaku jadi kotak begini?! Alis ini... Alis ulat bulu ini apa-apaan?!"

Di dalam cermin, seorang remaja laki-laki dengan mata bulat sempurna, rambut bergaya mangkok super rapi, dan sepasang alis hitam yang tebalnya tidak masuk akal sedang menatap balik ke arahnya dengan ekspresi horor yang sama.

Itu adalah Rock Lee.

Karakter fiksi dari anime Naruto. Si jenius kerja keras yang tidak bisa menggunakan Ninjutsu maupun Genjutsu.

"Kenapa harus Rock Lee?!" Reymond berteriak frustrasi, menjambak rambut mangkoknya sendiri tanpa peduli rasa sakit. "Tuhan, kalau memang aku harus reinkarnasi atau masuk ke dunia anime, minimal jadikan aku Sasuke! Atau Neji yang keren! Atau kalau mau yang santai, jadi Shikamaru saja! Kenapa harus si hijau mandiri yang kerjanya cuma push-up sepuluh ribu kali sehari ini?!"

Reymond benar-benar ingin menangis. Mengingat bagaimana nasib Rock Lee di masa depan—bertarung mati-matian melawan Gaara sampai kakinya hancur, lalu hampir menjadi penonton di sepanjang sisa cerita Shippuden—membuat masa depannya di dunia ini terasa sangat suram. Belum lagi ancaman Madara, Akatsuki, dan alien Otsutsuki yang bisa menghancurkan dunia dalam sekejap.

"Aku cuma manusia biasa yang hobi rebahan! Bagaimana bisa aku bertahan di dunia penuh monster ini tanpa Ninjutsu?!" gumamnya meratap, menyandarkan punggungnya ke dinding dengan lemas. Air mata frustrasi mulai menggenang di sudut mata bulatnya.

Tepat ketika Reymond berada di puncak kepanikannya, sebuah suara mekanis yang dingin tiba-tiba bergaung langsung di dalam tempurung kepalanya.

[Sistem mendeteksi sinkronisasi jiwa pengguna dengan tubuh inang selesai.]

[Mengaktifkan program modifikasi eksternal yang tertanam dalam ID Pengguna: 'Anti-Kalah-Gacha'.]

Reymond tersentak. Tangisannya langsung terhenti. "Hah? Suara siapa itu? Sistem? Cheat?"

Sebagai pencinta novel dan game, dia tentu tahu apa arti suara ini. Namun, nama program yang disebutkan barusan terdengar sangat tidak asing di telinganya. Anti-Kalah-Gacha... Itu adalah nama akun yang dia gunakan untuk membuat script modifikasi ilegal di game mobile Naruto tiga hari yang lalu!

[Menerapkan fungsi Cheat yang berhasil dimodifikasi secara mandiri oleh pengguna sebelum konversi dimensi:]

[Regenerasi Tak Terbatas (Unlimited Health Regeneration): Mengembalikan kondisi sel, chakra, dan fisik ke keadaan prima dalam waktu instan tanpa batas.]

[Kekebalan Ilusi Absolut (Absolute Genjutsu Immunity): Mengunci aliran chakra di jalur otak dari intervensi luar, memberikan kekebalan total terhadap segala bentuk manipulasi pikiran dan ilusi.]

[Proses penyuntikan kode selesai. Selamat berjuang di dunia ninja.]

Keheningan melingkupi kamar rawat itu selama beberapa detik. Reymond berkedip berkali-kali, mencerna apa yang baru saja dia dengar.

"Tunggu dulu..." Reymond mengingat-ingat.

Tiga hari lalu, dia memang frustrasi setengah mati karena selalu kalah dalam mode duel PVP di game mobile Naruto. Dia terus-menerus terkena kombo Genjutsu dari karakter lawan dan kehabisan darah dengan cepat. Karena kesal, sebagai seorang mahasiswa teknik informatika yang agak menyimpang, dia menghabiskan waktu dua malam suntuk tanpa tidur untuk meretas data game tersebut dan menyuntikkan dua cheat sederhana itu: darah yang tidak bisa habis dan anti-Genjutsu.

Dia membuat cheat itu mati-matian hanya agar tidak diejek "lemah" oleh pemain lain di chat global. Siapa sangka, cheat sederhana yang dia buat dengan modal dendam itu justru ikut terbawa ke dunia nyata ini!

"Kalau ini nyata..." Reymond menatap tangannya yang dibalut perban.

Sreeek!

Tanpa ragu, Reymond menarik perban di lengan kanannya. Di balik perban itu, terlihat kulitnya yang lebam kebiruan dan lecet-lecet parah, kemungkinan akibat latihan ekstrem yang dilakukan Rock Lee yang asli sebelum dia mengambil alih tubuh ini.

Namun, fenomena ajaib terjadi di depan matanya.

Begitu udara luar menyentuh luka lebam itu, uap putih tipis mulai mengepul dari pori-pori kulitnya. Rasa perih yang awalnya menyengat tiba-tiba memudar, digantikan oleh rasa hangat yang nyaman. Dalam hitungan detik, warna biru keunguan di kulitnya memudar, berganti menjadi warna kulit sehat yang bersih tanpa cacat. Rasa kaku di tubuhnya lenyap seketika.

Reymond mengepalkan tangannya. Kuat. Sangat kuat. Energi hangat terasa mengalir deras di setiap sudut pembuluh darahnya.

"Ini... ini beneran?" Reymond bergumam tak percaya. Senyum tipis mulai terukir di wajah kotaknya, yang perlahan melebar menjadi seringai lebar.

"Regenerasi tak terbatas... Kebal Genjutsu..." Reymond terkekeh geli, lalu tawanya pecah memenuhi ruangan. "Hahaha! Hahahahaha! Sialan, aku tidak perlu takut mati karena latihan lagi!"

Jika Rock Lee yang asli harus mengorbankan otot dan tulangnya hingga hampir cacat demi mendapatkan kekuatan Taijutsu, maka Reymond tidak perlu mengkhawatirkan hal itu lagi. Dia bisa membuka Gerbang Delapan (Hachimon Tonko) sesuka hatinya tanpa takut tubuhnya hancur menjadi abu! Efek samping dari pembukaan gerbang batin yang merusak otot akan langsung disembuhkan oleh regenerasi tak terbatas miliknya dalam hitungan milidetik!

Braaak!

Pintu kamar rawat digeser dengan kasar hingga menghantam dinding pembatas.

"Lee!!! Muridku yang penuh dengan masa muda!"

Sebuah raungan menggelegar memotong tawa Reymond. Di ambang pintu, berdiri seorang pria dewasa dengan penampilan yang... seratus persen identik dengan dirinya saat ini, hanya saja dalam versi lebih besar, lebih berotot, dan memiliki karisma yang aneh. Pria itu mengenakan pakaian ketat hijau yang berkilau, sabuk merah, dan pelindung kepala Konoha yang diikatkan di pinggangnya.

Mata pria itu berkaca-kaca, dipenuhi oleh air mata dramatis yang mengalir seperti air terjun.

Might Guy. Guru dari Rock Lee.

Reymond langsung membeku di tempatnya. Teori di kepalanya adalah satu hal, tapi melihat monster Taijutsu setingkat Might Guy menangis bombastis di depannya secara langsung membuat mental Reymond sedikit terguncang.

"G-Guru Guy..." Reymond berucap terbata-bata, mencoba menyesuaikan diri dengan ingatan samar milik Rock Lee yang tersisa di otaknya.

Guy menerjang maju, langsung memeluk Reymond dengan sangat erat hingga terdengar bunyi krek dari tulang punggung Reymond. Jika bukan karena cheat regenerasinya yang langsung bekerja menyembuhkan tekanan itu, Reymond yakin dia sudah pingsan lagi.

"Maafkan aku, Lee! Ini semua karena kesalahanku sebagai gurumu! Aku membiarkanmu berlatih terlalu keras hingga melampaui batas kemampuan tubuhmu!" Guy meratap sambil mengguncang-guncang bahu Reymond. "Melihatmu terbaring di sini sendirian membuat api masa mudaku serasa meredup!"

Reymond meringis, mencoba melepaskan diri dari pelukan maut itu. "Anu... Guru Guy, bisa tolong lepaskan dulu? Aku... aku sudah tidak apa-apa, sungguh."

Guy melepaskan pelukannya, menatap Reymond dengan tatapan tidak percaya. "Tidak apa-apa? Jangan memaksakan dirimu, Lee! Medik ninja bilang otot-otot kakimu mengalami robekan parah. Kamu harus istirahat minimal satu minggu—"

Sebelum Guy menyelesaikan kalimatnya, Reymond langsung melompat turun dari ranjang rumah sakit. Kedua kakinya menapak di lantai dengan kokoh. Dia bahkan melakukan beberapa gerakan squat dan melompat-lompat kecil di depan gurunya yang melotot tidak percaya.

"Lihat? Aku benar-benar sudah sembuh total, Guru!" Reymond tersenyum lebar, menirukan pose khas Rock Lee dengan mengacungkan jempolnya yang berkilau.

Di dalam hatinya, Reymond menghela napas lega. Untung saja cheat ini bekerja dengan sempurna. Kalau tidak, aku pasti sudah menjerit kesakitan sekarang.

Guy menatap muridnya dari atas sampai bawah dengan mulut terperangah. Dia maju seangkah, meraba otot kaki Reymond, lalu menekan beberapa titik vital. Tidak ada reaksi kesakitan sama sekali dari Reymond. Malah, Guy bisa merasakan vitalitas yang sangat kuat memancar dari tubuh remaja di depannya ini.

"Ini... ini keajaiban masa muda!" Guy berteriak histeris, menjambak rambutnya sendiri. "Semangatmu yang membara telah mempercepat penyembuhan tubuhmu secara tidak masuk akal! Luar biasa, Lee! Kamu benar-benar perwujudan dari kerja keras!"

Reymond hanya bisa tersenyum canggung, keringat dingin setitik menetes di pelipisnya. Bukan semangat, Guru... Ini namanya cheat ilegal.

"Baiklah! Karena kamu sudah sembuh, ayo kita rayakan ini dengan berlari mengitari Konoha lima ratus putaran dengan tangan!" Guy berpose, menunjuk ke arah jendela luar dengan latar belakang matahari sore yang mulai terbenam.

Mendengar itu, senyum di wajah Reymond langsung runtuh. "Hah? Lima ratus putaran? Menggunakan tangan?!"

"Tentu saja! Jika kita tidak bisa menyelesaikannya sebelum matahari tenggelam, kita akan melakukan sepuluh ribu kali tendangan!" Guy memamerkan giginya yang putih bersih, memantulkan kilatan cahaya fiktif yang menyilaukan mata Reymond.

Reymond menelan ludah. Meskipun dia tahu tubuhnya tidak akan rusak berkat regenerasi tak terbatas, tapi rasa lelah secara mental dan bayangan harus merangkak keliling desa dengan tangan kosong benar-benar membuatnya ngeri.

Sialan, batin Reymond sambil meratapi nasib barunya. Sepertinya hidup sebagai Rock Lee akan jauh lebih melelahkan daripada yang kubayangkan. Selamat tinggal hari-hari rebahanku...

Episodes
1 BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2 BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3 BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4 BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5 BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6 BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7 BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8 BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9 BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10 BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11 BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12 BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13 BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14 BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15 BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16 BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17 BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18 BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19 BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20 BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21 BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22 BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23 BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24 BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25 BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26 BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27 BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28 BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29 BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30 BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31 BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32 BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33 BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34 BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35 BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36 BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37 BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38 BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39 BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40 BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41 BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42 BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43 BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44 BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45 BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46 BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47 BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48 BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49 BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50 BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51 BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52 BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53 BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54 BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55 BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56 BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57 BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58 BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59 BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60 BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61 BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62 BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63 BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64 BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65 BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66 BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67 BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68 BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69 BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70 BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71 BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72 BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73 BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74 BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75 BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76 BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77 BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78 BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79 BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80 BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81 BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82 BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83 BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84 BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85 BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86 BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87 BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88 BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89 BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90 BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91 BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92 BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93 BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94 BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95 BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96 BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97 BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98 BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99 BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100 BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101 BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102 BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103 BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104 BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105 BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan
Episodes

Updated 105 Episodes

1
BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2
BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3
BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4
BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5
BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6
BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7
BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8
BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9
BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10
BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11
BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12
BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13
BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14
BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15
BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16
BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17
BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18
BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19
BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20
BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21
BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22
BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23
BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24
BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25
BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26
BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27
BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28
BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29
BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30
BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31
BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32
BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33
BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34
BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35
BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36
BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37
BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38
BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39
BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40
BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41
BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42
BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43
BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44
BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45
BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46
BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47
BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48
BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49
BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50
BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51
BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52
BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53
BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54
BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55
BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56
BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57
BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58
BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59
BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60
BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61
BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62
BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63
BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64
BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65
BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66
BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67
BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68
BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69
BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70
BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71
BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72
BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73
BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74
BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75
BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76
BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77
BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78
BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79
BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80
BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81
BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82
BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83
BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84
BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85
BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86
BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87
BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88
BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89
BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90
BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91
BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92
BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93
BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94
BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95
BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96
BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97
BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98
BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99
BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100
BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101
BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102
BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103
BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104
BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105
BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!