BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut

Jalur menuju pos penjagaan luar Konoha melintasi pinggiran Hutan Kematian, sebuah area yang terkenal dengan vegetasi raksasanya dan hewan-hewan buas yang bermutasi akibat paparan chakra lingkungan yang peka. Suasana di sekitar jalur tanah ini sangat sunyi, hanya diiringi oleh derit roda kereta kayu yang ditarik oleh Lee dengan santai.

Might Guy berjalan beberapa meter di depan, tampak bersiul kecil seolah tidak ada beban di pikirannya. Namun, Lee tahu betul bahwa seorang jounin elit seperti Guy pasti sudah menyadari perubahan atmosfer di sekitar mereka jauh sebelum dirinya sendiri merasakannya. Guy sengaja diam, ingin melihat bagaimana reaksi dan kesiapan ketiga murid Genin-nya dalam menghadapi situasi darurat yang nyata.

"Tenten, siapkan senjatamu," Neji tiba-tiba berbisik, matanya yang tanpa pupil mulai menegang. Pembuluh darah di sekitar pelipisnya menonjol keluar, menandakan bahwa dia telah mengaktifkan Byakugan-nya secara penuh. "Ada tiga tanda chakra asing yang menyembunyikan keberadaan mereka di atas pohon, sekitar lima puluh meter di depan kita. Mereka bukan ninja Konoha."

Tenten langsung menegang, tangannya bergerak cepat meraba gulungan besar yang melingkar di punggungnya. "Apa? Ninja pelarian? Di dekat perbatasan desa?"

"Kemungkinan besar mereka adalah sisa-sisa ninja pelarian dari Kusagakure yang mengincar pasokan obat-obatan medis di dalam kereta ini," Neji menjelaskan dengan nada dingin, matanya terus berputar memantau pergerakan musuh. "Mereka bergerak dengan formasi penyergapan standar."

"Lee, berhenti menarik kereta," perintah Guy tanpa membalikkan badannya, suaranya kini terdengar berat dan serius, kehilangan semua nada komikal yang biasanya dia miliki. "Ini adalah ujian nyata pertama kalian. Musuh di depan adalah tiga orang chuunin pelarian. Aku tidak akan campur tangan kecuali nyawa kalian benar-benar berada di ujung tanduk. Selesaikan ini dengan formasi yang sudah kita latih."

Lee melepaskan tali penarik kereta dengan perlahan. Dia memutar lehernya hingga terdengar bunyi krek yang renyah. Bukannya takut, seulas senyum penuh antisipasi justru muncul di wajah kotaknya. Chuunin pelarian? Sempurna sekali untuk uji coba kedua.

Syuut! Syuut! Syuut!

Tiga sosok bayangan melompat turun dari kanopi pohon raksasa, mendarat dengan suara seringai yang serak di depan jalur kereta. Mereka mengenakan pelindung kepala yang sudah dicoret garis horizontal, menandakan status mereka sebagai pengkhianat desa. Pakaian mereka tampak kumal, namun mata mereka memancarkan aura haus darah yang hanya dimiliki oleh orang-orang yang terbiasa membunuh untuk bertahan hidup.

"Heh, hanya sekelompok bocah ingusan yang dipimpin oleh satu orang jounin bodoh," salah satu ninja pelarian yang bertubuh kurus dengan tato ular di lengannya mengejek. Dia mengacungkan sebuah kunai besar yang berlumuran racun hijau tua. "Serahkan kereta itu, atau kami akan mengembalikan kalian ke desa dalam bentuk potongan-potongan daging!"

"Banyak bicara," Neji mendesis. Dia melesat maju terlebih dahulu, tubuhnya bergerak dengan keanggunan khas klan Hyuga. "Tenten, dukung aku dari belakang!"

"Dimengerti! Sosho: Tensasai!" Tenten melemparkan dua gulungan kecil ke udara, memicu ledakan asap kecil yang melepaskan puluhan senapan mesin berupa shuriken dan kunai yang menghujani area musuh.

Pertempuran pun pecah dengan cepat. Neji langsung terlibat duel taijutsu sengit melawan dua ninja pelarian, sementara Tenten terus menjaga jarak sambil memberikan bantuan serangan jarak jauh yang presisi. Gerakan Neji sangat taktis, namun musuh mereka adalah chuunin berpengalaman yang tahu cara menggunakan trik kotor dan memanfaatkan medan hutan yang rimbun.

Sementara itu, ninja pelarian ketiga—seorang pria bermata satu dengan bekas luka bakar di wajahnya—melihat Lee yang berdiri diam di dekat kereta tanpa memegang senjata apa pun. Dia tertawa meremehkan. "Bocah bodoh berbaju hijau, kamu ketakutan sampai tidak bisa bergerak, ya? Sini, biar kupotong lehermu dengan cepat!"

Ninja itu melakukan beberapa segel tangan dengan kecepatan sedang. "Katon: Kasumi Enbu no Jutsu! (Elemen Api: Tarian Kabut Asap)"

Sebuah kabut tebal berwarna ungu kehitaman menyembur dari mulutnya, dengan cepat menyelimuti area tempat Lee berdiri. Kabut itu bukan kabut biasa, melainkan kabut beracun yang dicampur dengan chakra manipulasi pikiran—sebuah teknik kombinasi ninjutsu dan genjutsu tingkat rendah untuk melumpuhkan panca indera lawan.

"Hahaha! Begitu kamu menghirup asap ini, otakmu akan melihat ilusi monster yang mencabik-cabik tubuhmu sendiri sampai kamu gila!" ninja itu berteriak penuh kemenangan dari balik kabut

Di dalam kabut ungu yang pekat itu, Reymond berdiri dengan tenang. Dia menarik napas dalam-dalam, membiarkan asap beracun dan chakra manipulasi itu masuk ke dalam sistem tubuhnya.

Detik berikutnya, sebuah notifikasi mekanis kembali bergaung di dalam kepalanya, memecah kesunyian batinnya.

[Mendeteksi intervensi chakra asing yang mencoba memanipulasi pusat saraf otak (Genjutsu).]

[Fungsi Kekebalan Ilusi Absolut diaktifkan. Mengunci dan menghancurkan frekuensi chakra luar secara instan.]

[Mendeteksi zat beracun korosif masuk ke dalam saluran pernapasan.]

[Fungsi Regenerasi Tak Terbatas diaktifkan. Memperbarui sel paru-paru dan menetralkan racun dalam hitungan milidetik.]

Mata Lee yang bulat berkedip. Tidak ada ilusi monster, tidak ada rasa sesak napas, dan tidak ada rasa pusing sama sekali. Otaknya terasa sangat jernih, bahkan jalur chakranya mengalir lebih lancar dari sebelum asap itu menyembur. Cheat-nya bekerja dengan efisiensi yang mengerikan, menghancurkan semua usaha musuh untuk melumpuhkannya tanpa sisa.

"Hanya... segini saja?" Suara Lee terdengar dari dalam kabut, tenang tanpa ada nada panik sedikit pun.

Ninja pelarian bermata satu itu menghentikan tawanya, wajahnya mendadak memucat. "A-apa? Bagaimana mungkin kamu masih bisa bicara dengan normal di dalam kabut beracun itu?! Seharusnya kamu sudah berlutut sambil menjerit ketakutan!"

Syuuwt!

Sebelum ninja itu sempat memikirkan jawabannya, kabut ungu di depannya mendadak terbelah oleh tekanan angin yang luar biasa dahsyat. Sosok hijau Lee melesat keluar seperti kilat batin yang dilepaskan dari busurnya. Kecepatannya begitu tinggi hingga menciptakan efek bayangan visual di udara sore yang temaram.

"Kamu terlalu banyak bicara untuk ukuran seorang ninja pelarian," Lee berbisik, posisinya sudah berada tepat di bawah dagu ninja tersebut.

Mata ninja itu membelalak horor. Dia mencoba melompat mundur untuk menjaga jarak, namun tangan kanan Lee sudah bergerak maju dengan pukulan lurus yang mengarah tepat ke arah ulu hatinya. Sebuah pukulan murni tanpa chakra ninjutsu, namun didukung oleh kekuatan otot ekstrem yang terus beregenerasi tanpa batas lelah.

BUM!!!

Suara hantaman keras menggema di sepanjang pinggiran Hutan Kematian. Tubuh ninja pelarian bermata satu itu melesat ke belakang seperti peluru meriam yang ditembakkan, menabrak batang pohon ek raksasa hingga pohon tersebut retak dalam dan menumpahkan dedaunannya ke tanah. Ninja itu langsung memuntahkan darah segar dalam jumlah banyak sebelum akhirnya jatuh tersungkur, pingsan dengan tulang rusuk yang patah total.

Lee mendarat kembali di atas tanah dengan posisi yang sangat seimbang. Dia menarik napas pendek, menikmati uap putih tipis yang keluar dari kepalan tangannya yang sempat memar namun kini sudah mulus kembali.

Di kejauhan, Neji yang baru saja menjatuhkan musuh keduanya menggunakan teknik Hakke Rokujuyon Sho (Enam Puluh Empat Telapak Tangan) langsung membeku di tempat. Dia menoleh ke arah Lee dengan tatapan yang penuh dengan guncangan mental yang mendalam. Kebal terhadap genjutsu beracun, dan memiliki kekuatan fisik yang bisa menghancurkan seorang chuunin dalam satu pukulan?

Bahkan Might Guy yang sejak tadi menonton dari atas dahan pohon menundukkan kepalanya, menyembunyikan senyum tipis di balik ekspresi seriusnya. Lee... pertumbuhanmu ini benar-benar di luar dugaan kuno-ku. Masa mudamu tidak lagi sekadar membara... tapi sudah mulai membakar dunia.

Episodes
1 BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2 BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3 BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4 BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5 BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6 BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7 BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8 BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9 BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10 BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11 BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12 BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13 BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14 BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15 BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16 BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17 BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18 BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19 BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20 BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21 BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22 BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23 BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24 BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25 BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26 BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27 BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28 BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29 BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30 BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31 BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32 BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33 BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34 BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35 BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36 BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37 BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38 BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39 BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40 BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41 BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42 BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43 BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44 BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45 BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46 BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47 BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48 BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49 BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50 BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51 BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52 BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53 BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54 BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55 BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56 BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57 BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58 BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59 BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60 BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61 BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62 BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63 BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64 BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65 BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66 BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67 BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68 BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69 BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70 BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71 BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72 BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73 BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74 BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75 BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76 BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77 BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78 BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79 BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80 BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81 BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82 BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83 BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84 BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85 BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86 BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87 BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88 BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89 BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90 BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91 BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92 BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93 BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94 BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95 BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96 BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97 BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98 BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99 BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100 BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101 BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102 BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103 BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104 BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105 BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan
Episodes

Updated 105 Episodes

1
BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2
BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3
BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4
BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5
BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6
BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7
BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8
BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9
BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10
BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11
BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12
BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13
BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14
BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15
BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16
BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17
BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18
BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19
BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20
BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21
BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22
BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23
BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24
BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25
BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26
BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27
BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28
BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29
BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30
BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31
BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32
BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33
BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34
BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35
BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36
BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37
BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38
BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39
BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40
BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41
BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42
BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43
BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44
BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45
BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46
BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47
BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48
BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49
BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50
BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51
BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52
BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53
BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54
BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55
BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56
BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57
BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58
BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59
BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60
BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61
BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62
BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63
BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64
BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65
BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66
BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67
BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68
BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69
BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70
BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71
BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72
BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73
BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74
BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75
BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76
BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77
BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78
BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79
BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80
BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81
BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82
BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83
BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84
BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85
BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86
BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87
BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88
BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89
BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90
BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91
BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92
BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93
BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94
BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95
BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96
BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97
BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98
BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99
BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100
BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101
BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102
BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103
BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104
BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105
BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!