BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang

Sinar matahari pagi mulai merambat naik, menembus celah-celah daun pohon ek yang tinggi di sekitar lapangan latihan nomor tiga. Ketegangan sisa pertarungan singkat antara Lee dan Neji masih terasa tipis di udara, seperti kabut yang enggan beranjak. Namun, kehadiran Might Guy yang eksentrik langsung memecah atmosfer kaku itu menjadi sesuatu yang jauh lebih bising.

"Nah, murid-muridku yang penuh dengan gairah!" Guy berkacak pinggang, giginya berkilat tertimpa cahaya matahari pagi. "Hari ini kita tidak akan menghabiskan waktu dengan memukuli tiang kayu. Sandaime Hokage telah memberikan kita sebuah misi tingkat D yang sangat krusial bagi keseimbangan ekonomi desa!"

Tenten menghela napas panjang, bahunya merosot lemas. "Jangan bilang kalau misi krusial yang Guru maksud adalah mencari kucing hilang lagi, atau membersihkan selokan di area barat?"

"Hampir tepat, Tenten!" Guy mengacungkan jempolnya dengan penuh semangat. "Misi kita hari ini adalah membantu pembersihan gudang logistik milik klan Akimichi di dekat pasar pusat, sekaligus mengawal pengiriman bahan makanan sensitif ke perbatasan hutan kematian. Tugas ini membutuhkan ketelitian, kecepatan, dan tentu saja... stamina masa muda!"

Neji hanya mendengus, memalingkan wajahnya ke arah lain dengan tatapan malas. Bagi seorang jenius klan Hyuga yang menguasai teknik legendaris, tugas-tugas domestik seperti ini terasa seperti penghinaan terhadap bakatnya. Namun, dia tidak memiliki pilihan selain patuh pada hierarki sistem ninja.

Sementara itu, Lee—atau Reymond—hanya tersenyum tipis. Di dalam hatinya, dia justru merasa lega. Misi tingkat D yang membosankan ini adalah kesempatan sempurna baginya untuk membiasakan diri dengan tubuh barunya tanpa perlu mempertaruhkan nyawa di medan pertempuran yang sesungguhnya. Dia perlu mengukur batas ketahanan mentalnya, karena meskipun fisiknya tidak bisa hancur, otaknya masih merupakan otak manusia biasa yang bisa merasakan lelah secara psikologis.

"Baiklah! Jangan buang waktu lagi! Target kita adalah menyelesaikan ini sebelum tengah hari!" Guy berteriak memimpin jalan, melompat ke atas pagar pembatas lapangan dengan gerakan yang terlampau dramatis.

Mereka berempat berjalan membelah jalanan desa menuju distrik komersial Konoha. Sepanjang perjalanan, Tenten berjalan di samping Lee, sesekali melirik ke arah rekannya itu dengan tatapan penuh selidik. Sudut matanya menyipit, memperhatikan cara berjalan Lee yang kini terlihat jauh lebih santai dan seimbang, tidak lagi kaku seperti biasanya.

"Lee," Tenten berbisik, memastikan suaranya tidak terdengar oleh Neji yang berjalan beberapa langkah di depan mereka. "Kamu benar-benar terasa berbeda hari ini. Biasanya, kalau Neji bicara seperti tadi, kamu sudah berteriak-teriak tentang rivalitas sejati sampai telingaku sakit. Tapi tadi... kamu tenang sekali. Apa kepalamu sempat terbentur keras saat latihan kemarin?"

Lee menoleh, menatap wajah manis Tenten yang tampak tulus mengkhawatirkannya. Dia terkekeh pelan, menggaruk belakang kepala mangkoknya yang terasa agak aneh. "Ah, tidak kok, Tenten. Aku cuma berpikir, berteriak tidak akan membuatku menjadi lebih kuat dari Neji. Lagipula, kemarin di rumah sakit aku punya banyak waktu untuk merenung. Membakar energi untuk amarah itu sia-sia."

Tenten mengedipkan matanya beberapa kali, tampak terkejut dengan jawaban yang begitu dewasa dari mulut seorang Rock Lee. "Wow. Kalau begitu, proses merenungmu sukses besar. Pertahankan itu, Lee. Jujur saja, versi dirimu yang ini jauh lebih menyenangkan untuk diajak bicara."

Di depan mereka, telinga Neji sedikit bergerak mendengar percakapan itu. Dia tidak menoleh, tetapi langkah kakinya agak melambat. Peristiwa di lapangan latihan tadi pagi masih mengganjal di benaknya. Bagaimana mungkin serangan Juken-nya yang sempurna tidak memberikan efek apa pun pada tubuh Lee? Itu menentang semua teori medis ninja yang dia pelajari sejak kecil.

Sesampainya di gudang logistik klan Akimichi, mereka disambut oleh seorang ninja paruh baya bertubuh tambun yang sedang memegang daftar inventaris. Di sekelilingnya, puluhan peti kayu berukuran besar yang berisi pasokan beras, senjata rahasia, dan gulungan obat-obatan menumpuk tidak beraturan.

"Ah, Tim Guy! Syukurlah kalian cepat datang," ujar ninja Akimichi itu sambil menyeka keringat di dahinya. "Beberapa pekerja kami mendadak demam, padahal pasokan ini harus segera dipindahkan ke gudang bawah tanah dan sebagian lagi harus dibawa ke pos penjagaan luar. Bisakah kalian membantu?"

"Serahkan pada kami, Chouza-sama!" Guy memberi hormat dengan gaya militer yang kaku. "Murid-muridku siap mengerahkan seluruh tenaga mereka!"

Tugas pun dibagi. Neji dan Tenten ditugaskan untuk menyortir dan mencatat jenis gulungan serta senjata rahasia berdasarkan segelnya, sebuah tugas yang membutuhkan ketelitian tinggi. Sementara itu, Lee secara sukarela mengajukan diri untuk memindahkan peti-peti kayu terberat ke dalam gudang bawah tanah.

"Lee, peti itu beratnya masing-masing hampir delapan puluh kilogram. Gunakan alat bantu jika kamu—" Kalimat Chouza terputus ketika dia melihat apa yang dilakukan Lee.

Tanpa ekspresi berlebihan, Lee mendekati tumpukan peti. Dia menekuk lututnya sedikit, menyisipkan kedua tangannya di bawah peti kayu terbawah, lalu mengangkat tiga peti sekaligus dengan satu gerakan mulus. Total beratnya mendekati dua ratus empat puluh kilogram, namun wajah Lee bahkan tidak memerah karena tekanan.

Glek. Tenten yang sedang memegang gulungan kertas menelan ludah melihat pemandangan itu. "Dia... mengangkat itu seolah-olah itu hanya tumpukan bantal?"

Neji yang sedang memeriksa segel senjata pun menghentikan gerakannya. Matanya yang putih susu menatap tajam ke arah otot-otot lengan Lee. Tidak ada ketegangan yang berlebihan, tidak ada tanda-tanti pemaksaan chakra fisik. Aliran energi di dalam tubuh Lee mengalir dengan sangat konstan dan stabil, seolah-olah beban seberat itu adalah hal yang alami bagi tubuhnya.

Di dalam pikirannya, Reymond justru sedang menikmati sensasi ini. Gila, ini luar biasa, batinnya gembira. Setiap kali otot belikatku mulai terasa pegal karena mengangkat beban ini, cheat regenerasi langsung menyembuhkannya dalam waktu kurang dari satu detik. Aku bisa melakukan ini seharian tanpa merasa lelah fisik sama sekali!

Dia terus berjalan bolak-balik memasuki lorong gudang bawah tanah yang gelap dengan kecepatan yang konstan. Para pekerja klan Akimichi yang berada di lokasi hanya bisa melongo menyaksikan efisiensi kerja dari si remaja beralis tebal itu. Tugas yang seharusnya memakan waktu tiga jam, berhasil diselesaikan oleh Lee sendirian dalam waktu kurang dari empat puluh lima menit.

Ketika Lee keluar dari gudang untuk terakhir kalinya, dia hanya menyeka sedikit keringat fiktif di pelipisnya sambil tersenyum lebar ke arah Guru Guy yang menatapnya dengan mata berbinar-binar penuh kebanggaan.

"Kerja bagus, Lee! Efisiensi masa mudamu hari ini benar-benar memecahkan rekor!" Guy menepuk pundak Lee dengan keras hingga menimbulkan suara dentuman kecil. "Sekarang, mari kita lanjutkan ke bagian kedua dari misi ini: mengawal kereta pasokan ke perbatasan hutan!"

Namun, saat mereka mulai bergerak menuju gerbang luar desa dengan menarik kereta kayu, insting Reymond yang tajam—didukung oleh kesadaran jiwanya yang lebih peka terhadap lingkungan sekitar akibat proses transmigrasi—merasakan ada sesuatu yang salah. Di balik semak-semak lebat yang membatasi jalur jalan, ada riak chakra yang sangat samar, namun berbau asing dan penuh dengan niat buruk. Misi tingkat D ini... tampaknya tidak akan sesederhana yang tertulis di atas kertas dokumen Hokage.

Episodes
1 BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2 BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3 BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4 BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5 BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6 BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7 BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8 BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9 BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10 BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11 BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12 BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13 BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14 BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15 BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16 BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17 BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18 BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19 BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20 BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21 BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22 BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23 BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24 BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25 BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26 BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27 BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28 BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29 BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30 BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31 BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32 BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33 BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34 BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35 BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36 BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37 BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38 BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39 BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40 BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41 BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42 BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43 BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44 BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45 BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46 BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47 BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48 BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49 BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50 BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51 BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52 BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53 BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54 BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55 BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56 BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57 BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58 BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59 BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60 BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61 BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62 BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63 BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64 BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65 BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66 BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67 BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68 BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69 BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70 BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71 BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72 BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73 BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74 BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75 BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76 BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77 BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78 BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79 BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80 BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81 BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82 BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83 BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84 BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85 BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86 BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87 BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88 BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89 BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90 BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91 BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92 BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93 BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94 BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95 BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96 BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97 BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98 BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99 BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100 BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101 BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102 BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103 BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104 BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105 BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan
Episodes

Updated 105 Episodes

1
BAB 1: Hijau yang Menyilaukan dan Sebuah Penyesalan
2
BAB 2: Berat yang Tak Terlihat dan Pandangan yang Meremehkan
3
BAB 3: Pertemuan Tim dan Keangkuhan Sang Jenius Hyuga
4
BAB 4: Misi Pertama dan Ujian di Balik Bayang-Bayang
5
BAB 5: Kejutan di Hutan Kematian dan Kebal Absolut
6
BAB 6: Evaluasi di Kedai Dango
7
BAB 7: Latihan Rahasia dan Batasan yang Mulai Lenyap
8
BAB 8: Kabar tentang Ujian dan Pagi yang Berisik
9
BAB 9: Pertemuan Tak Terduga di Kota dan Niat yang Tersembunyi
10
BAB 10: Sisa Ketegangan dan Kekaguman yang Menggebu
11
BAB 11: Malam yang Sunyi dan Rahasia di Balik Otot
12
BAB 12: Hari Pendaftaran dan Bisikan-Bisikan Remeh
13
BAB 13: Ruang 301 dan Tatapan Semesta Ninja
14
BAB 14: Lembar Kertas dan Ujian Mental di Bawah Tekanan
15
BAB 15: Pilihan Mutlak dan Keheningan yang Membawa Kemenangan
16
BAB 16: Pintu Gerbang Angker dan Lembar Perjanjian Nyawa
17
BAB 17: Penyergapan di Kegelapan dan Logika Kekuatan Mentah
18
BAB 18: Malam yang Berbisik dan Api yang Membakar Keraguan
19
BAB 19: Jejak Darah dan Pertemuan di Batas Hutan
20
BAB 20: Tarian Kecepatan Tinggi dan Batasan Pasir Mutlak
21
BAB 21: Batasan Beban dan Keputusan untuk Melepaskan Kekuatan
22
BAB 22: Badai Hijau dan Retaknya Ilusi Mutlak
23
BAB 23: Gerbang Pertama dan Pecahnya Batas Kekuatan
24
BAB 24: Detak Jantung Juggernaut dan Altar Pasir yang Runtuh
25
BAB 25: Puncak Kegilaan dan Sinyal Penarikan Mundur
26
BAB 26: Sisa Badai dan Jejak yang Tertinggal
27
BAB 27: Langkah di Balik Kabut Fajar
28
BAB 28: Evaluasi di Balik Bayang-bayang dan Ambang Hari Ketiga
29
BAB 29: Pergerakan di Bawah Sinar Matahari dan Pertemuan yang Tidak Terduga
30
BAB 30: Resonansi Suara dan Eksekusi Detik-Detik Krusial
31
BAB 31: Aliansi Sementara dan Pintu Menara yang Terbuka
32
BAB 32: Di Dalam Dinding Batu dan Gemuruh yang Tenang
33
BAB 33: Titik Temu Para Monster dan Tatapan yang Mengunci
34
BAB 34: Deru Mesin Takdir dan Pertarungan Pembuka
35
BAB 35: Gesekan Logam dan Senandung Kematian yang Sunyi
36
BAB 36: Sisa Angin Suna dan Janji di Balik Darah
37
BAB 37: Lembaran Baru di Papan Pengumuman dan Kebangkitan Sang Pengendali Serang
38
BAB 38: Dengung Hitam dan Kepakan Sayap di Ruang Hampa
39
BAB 39: Panggilan Takdir dan Langkah Kaki Menuju Dinding Es
40
BAB 40: Kilat Juken dan Pecahnya Keheningan Keluarga
41
BAB 41: Batas Akhir Ketabahan dan Intervensi yang Mengunci Ruangan
42
BAB 42: Panggung yang Bergetar dan Lepasnya Belenggu Besi
43
BAB 43: Badai Pasir yang Runtuh dan Gerbang Keempat yang Mengunci Takdir
44
BAB 44: Melampaui Batas Batuan dan Guncangan Jiwa sang Monster
45
BAB 45: Keruntuhan Sang Tirani Pasir dan Berakhirnya Malam Seleksi
46
BAB 46: Aroma Ramuan Medis dan Secangkir Teh di Pagi yang Baru
47
BAB 47: Bayang-Bayang di Sela Daun dan Analisis yang Tak Terlihat
48
BAB 48: Gemuruh Panggung Utama dan Tatapan Takdir Dua Jenius
49
BAB 49: Tarian Juken dan Pukulan yang Menembus Prediksi
50
BAB 50: Kilat Hijau yang Membelah Trigram
51
BAB 51: Runtuhnya Garis Takdir dan Fajar Kemenangan Baru
52
BAB 52: Lorong yang Menanti dan Gemeretak Gigi sang Rival
53
BAB 53: Pusaran Angin Hitam dan Sinyal yang Terdistorsi
54
BAB 54: Riuh Badai dan Bilah Merah di Atas Atap
55
BAB 55: Desis Ular Raksasa dan Dinding Pertahanan yang Retak
56
BAB 56: Benteng Otot dan Darah di Garis Depan
57
BAB 57: Kabut Ilusi yang Pecah dan Fajar Perlawanan
58
BAB 58: Bayangan Pasir dan Desis Udara yang Terbakar
59
BAB 59: Jejak Pasir dan Gemuruh di Sudut Pemukiman
60
BAB 60: Amarah yang Membakar dan Sudut Lorong yang Sunyi
61
BAB 61: Gema Langkah di Balik Asap dan Tembok yang Runtuh
62
BAB 62: Gemuruh Logam dan Serpihan Keyakinan
63
BAB 63: Badai Pasir dan Amarah yang Merambat di Gerbang Timur
64
BAB 64: Pecahan Kayu dan Gemeretak Benang Sutra
65
BAB 65: Sisa Asap di Lorong Senyap dan Fajar yang Dinanti
66
BAB 66: Selimut Kelabu dan Kehangatan yang Tersisa
67
BAB 67: Dingin Malam dan Jejak Langkah yang Baru
68
BAB 68: Fajar Baru di Balik Puing-Puing
69
BAB 69: Di Bawah Langit yang Kembali Membiru
70
BAB 70: Debu dan Topeng yang Tak Sempurna
71
BAB 71: Di Bawah Langit Mendung Pemakaman
72
BAB 72: Debu Politik dan Roda yang Terus Berputar
73
BAB 73: Ujian di Balik Bayangan
74
BAB 74: Angin Perubahan di Kursi Hokage
75
BAB 75: Ujian Tersembunyi di Balik Misi Rutin
76
BAB 76: Reuni di Bawah Naungan Pohon Tua
77
BAB 77: Langkah Awal Menuju Cakrawala Baru
78
BAB 78: Asap Mangkok Ramen dan Rencana yang Terajut
79
BAB 79: Bayangan di Jalur Perbatasan
80
BAB 80: Dentuman Beban dan Tatapan Tercengang
81
BAB 81: Badai di Balkon Tua dan Pengakuan yang Tertunda
82
BAB 82: Jejak Debu di Perjalanan Pulang
83
BAB 83: Cahaya Lampion dan Bayangan di Lorong Desa
84
BAB 84: Bisikan Malam dan Tekad yang Retak
85
BAB 85: Bayangan yang Pergi dan Langkah Awal Perburuan
86
BAB 86: Barisan Pemburu dan Janji di Gerbang Desa
87
BAB 87: Bayangan Pertempuran Pertama di Hutan Bambu
88
BAB 88: Retakan Dinding dan Keputusan di Tengah Jalan
89
BAB 89: Pengejaran di Atas Kanopi dan Perangkap Benang Chakra
90
BAB 90: Jaring Benang Emas dan Pengorbanan di Ketinggian
91
BAB 91: Pengejaran Tanpa Henti dan Dua Bayangan di Perbatasan
92
BAB 92: Melodi Tengkorak dan Jerat Bayangan yang Terurai
93
BAB 93: Puncak Batas dan Dentuman yang Menggetarkan Lembah
94
BAB 94: Retakan di Udara Lembah dan Kepak Seruling yang Patah
95
BAB 95: Panggilan di Dasar Ngarai dan Bayangan Monster Merah
96
BAB 96: Dentur Logam di Dasar Ngarai
97
BAB 97: Gelombang yang Pecah dan Terbitnya Sang Serigala
98
BAB 98: Hujan di Atas Ngarai dan Bayangan yang Tertinggal
99
BAB 99: Gemuruh di Lembah Akhir dan Pertarungan Takdir
100
BAB 100: Tarian Tulang di Dasar Ngarai dan Rahasia dalam Pusaran Hijau
101
BAB 101: Gemuruh Lembah Akhir dan Dentuman yang Tersembunyi
102
BAB 102: Gemuruh Hujan dan Jejak Puncak Lembah
103
BAB 103: Takdir di Bawah Guyuran Hujan dan Keputusan di Balik Tirai
104
BAB 104: Kepulangan yang Hening dan Rumah Sakit Konoha
105
BAB 105: Mangkuk hangat di Warung Dango dan Kehidupan yang Diinginkan

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!