Episode 2

Bab 02 - Keputusan di Kamar VIP

"Bu Ratna, wajahmu pucat sekali."

Suara Bu Laras membuat Ratna tersadar. Ia sudah berdiri di depan ranjang pasien itu hampir satu menit tanpa bergerak.

Perempuan tua itu duduk bersandar di ranjang VIP, rambut putihnya disanggul rapi, kacamata bertengger di ujung hidung. Meski sedang dirawat karena jatuh di kamar mandi, matanya tetap tajam. Tidak banyak hal yang bisa disembunyikan dari Bu Laras.

Ratna memaksakan senyum.

"Tidak apa-apa, Bu. Mungkin capek."

"Capek bisa membuat orang berkeringat. Tapi matamu itu mata orang habis ditusuk."

Ratna menunduk.

Kalimat sederhana itu menghantam pertahanan terakhirnya.

Ia ingin berkata tidak ada apa-apa. Ingin bekerja seperti biasa. Mengambil baskom, mengelap tangan Bu Laras, merapikan selimut, menyiapkan air hangat. Rutinitas selalu membuatnya bertahan.

Tapi kali ini tubuhnya tidak patuh.

Tangannya gemetar.

Bu Laras menepuk sisi ranjang.

"Duduk."

"Bu, saya kerja dulu. Nanti perawat masuk..."

"Ratna."

Nada itu tidak keras, tapi membuat Ratna berhenti.

Ia duduk di kursi kecil dekat ranjang. Begitu tubuhnya menyentuh kursi, air matanya jatuh. Bukan satu dua. Deras. Diam-diam. Seperti sesuatu yang sudah lama penuh akhirnya tumpah.

Bu Laras tidak langsung bertanya.

Ia mengambil tisu dari meja kecil, lalu menyodorkannya.

"Suamimu?"

Ratna mengangkat wajah. Bibirnya bergetar.

"Iya, Bu."

"Selingkuh?"

Ratna menggenggam tisu sampai kusut.

"Lebih dari itu."

Ia membuka ponsel. Tangannya sempat ragu. Ada rasa malu yang mendadak menyergap. Malu karena rumah tangganya hancur. Malu karena selama ini ia tidak tahu. Malu karena perempuan lain memakai barang mahal dari uang yang mungkin seharusnya dipakai untuk keluarganya.

Namun Bu Laras menatapnya tenang.

"Jangan malu karena dosa orang lain, Nak."

Ratna menelan tangis.

Ia memutar video itu.

Di layar kecil, Hendra memeluk Clara. Anak laki-laki itu memanggil mereka Papa dan Mama.

Wajah Bu Laras perlahan berubah dingin.

"Astaghfirullah."

Ratna mematikan video sebelum selesai. Ia tidak sanggup mendengar suara Clara lagi.

"Saya menikah dengan Hendra dua puluh delapan tahun, Bu. Kami bersama sejak remaja. Saya bantu dia dari nol. Saya pikir kami sedang sama-sama susah. Saya kerja di hotel, jaga pasien, supaya uang rumah cukup. Ternyata..."

Suaranya patah.

"Ternyata dia punya keluarga lain."

Bu Laras diam beberapa detik.

"Kamu mau apa?"

Ratna mengusap pipinya.

"Saya mau cerai."

Ucapan itu keluar lebih tenang dari yang ia kira.

Bu Laras menatapnya lama. "Kamu yakin?"

"Kalau cuma perempuan lain, mungkin orang akan menyuruh saya sabar. Kalau cuma dia bosan dengan saya, mungkin mereka akan bilang saya sudah tua dan harus terima. Tapi dia punya anak, Bu. Anak yang usianya mungkin sepuluh tahun. Berarti ini bukan baru kemarin."

Ratna tertawa kecil. Pahit.

"Selama ini saya menabung receh untuk bayar les cucu, sementara dia membesarkan anak lain."

Bu Laras menghela napas.

"Jangan bergerak sendiri."

"Maksud Ibu?"

"Laki-laki yang berani hidup dua wajah selama bertahun-tahun biasanya sudah menyiapkan banyak kebohongan. Kalau kamu pulang sekarang, marah-marah, dia akan balik menuduhmu. Dia bisa bilang kamu salah paham. Dia bisa bilang video itu tidak membuktikan apa-apa. Keluarganya akan menekanmu."

Ratna menggigit bibir.

Semua itu terdengar terlalu mungkin.

Mama Sulastri pasti akan berkata, "Laki-laki bisa khilaf. Istri baik jangan mempermalukan suami."

Raka mungkin akan berkata, "Ma, jangan drama. Papa capek kerja."

Maya mungkin hanya bertanya siapa yang menjemput Bima kalau Ratna pergi.

Ratna menunduk.

"Saya tidak punya siapa-siapa, Bu."

Bu Laras menepuk punggung tangannya.

"Mulai hari ini, kamu punya aku."

Ratna terkejut.

"Bu, jangan. Saya tidak mau merepotkan."

"Aku sudah tua, bukan bodoh. Anakku punya tim legal. Perusahaan kami punya auditor. Kalau suamimu memindahkan harta, itu bisa dicari."

Ratna menggeleng cepat.

"Saya hanya penjaga pasien, Bu. Saya tidak enak..."

"Ratna, kamu merawatku lebih baik daripada keluarga sendiri. Kamu tidak pernah mengambil kesempatan walau tahu aku banyak uang. Kamu sabar ketika aku rewel. Kamu bahkan mengingat obatku lebih baik dari perawat tetap. Kalau aku tidak membantumu saat kamu jatuh, untuk apa aku punya anak kaya?"

Ratna tidak tahu harus menjawab apa.

Bu Laras mengambil ponselnya dari meja, lalu menelepon seseorang.

"Hanif, ke rumah sakit sekarang. Bawa orang legal dan satu orang audit. Tidak usah banyak tanya."

Suara di seberang tampak menjawab cepat.

Bu Laras melirik Ratna.

"Dan jangan berisik ke Arga dulu. Dia masih di Surabaya untuk rapat. Kalau dia tahu aku ikut urusan begini, dia pasti cerewet."

Ratna mendengar nama Arga. Ia tahu sedikit. Putra Bu Laras itu pemilik Wijaya Group, perusahaan besar yang punya gedung kantor di SCBD, hotel, properti, dan jaringan distribusi. Selama ini Bu Laras sering mengeluh karena anaknya terlalu sibuk dan belum menikah.

"Bu, sungguh tidak perlu sampai begitu."

"Perlu."

Bu Laras menutup telepon.

"Sekarang dengarkan aku baik-baik. Jangan pulang dengan wajah menangis. Jangan bicara soal video. Jangan menuduh dulu. Simpan semua bukti. Mulai malam ini, foto dokumen rumah, sertifikat, rekening, apa pun yang bisa kamu dapat. Kalau ada grup keluarga yang memerintahmu macam-macam, biarkan saja. Jawab seperlunya."

Ponsel Ratna berbunyi seolah dipanggil oleh ucapan itu.

Grup WhatsApp keluarga.

Raka: "Ma, nanti masak ayam kecap, ya. Aku capek banget."

Maya: "Ma, aku masih di salon. Tolong jemput Bima dari les sekalian ambil paket aku. Banyak banget, Ma."

Mama Sulastri: "Obat Mama habis. Jangan lupa beli. Kalau Mama kenapa-kenapa, kamu tanggung sendiri."

Hendra: "Kamu di mana? Dari tadi tidak angkat telepon."

Ratna menatap pesan-pesan itu.

Biasanya ia akan langsung panik. Membalas satu per satu. Menghitung uang di dompet. Berlari dari rumah sakit ke tempat les, lalu ke apotek, lalu pulang memasak.

Hari ini ia hanya membaca.

Bu Laras melihat layar itu dan tertawa pendek tanpa senyum.

"Hebat sekali mereka. Satu perempuan dijadikan tiang rumah, lalu semua orang pura-pura tidak tahu tiang itu bisa patah."

Ratna menarik napas.

Ia mengetik di grup.

"Malam ini saya ada urusan. Urus sendiri dulu."

Pesan terkirim.

Beberapa detik kemudian, grup itu meledak.

Raka menelepon.

Ratna menatap layar. Jarinya hampir menekan tombol terima.

Bu Laras memegang pergelangan tangannya.

"Tidak semua panggilan harus dijawab."

Ratna membiarkan telepon itu berhenti sendiri.

Lalu Hendra menelepon.

Nama suaminya muncul di layar. Mas Hendra.

Ratna memandangi nama itu lama.

Betapa anehnya. Nama yang selama puluhan tahun membuatnya merasa pulang, kini membuatnya ingin muntah.

Ia menolak panggilan itu.

Bu Laras tersenyum tipis.

"Bagus."

Ratna mengusap sisa air mata.

"Saya takut, Bu."

"Takut itu wajar."

"Saya sudah lima puluh. Tidak punya pekerjaan tetap. Tidak punya rumah atas nama sendiri. Kalau saya keluar, orang akan bilang saya bodoh. Mereka akan tanya untuk apa cerai di usia begini."

Bu Laras menatapnya tajam.

"Kalau kamu tetap tinggal, mereka akan terus hidup dari tubuhmu, waktumu, dan rasa bersalahmu. Umur lima puluh bukan alasan untuk dikubur hidup-hidup."

Ratna terdiam.

Di luar jendela, Jakarta mulai gelap. Lampu gedung menyala satu per satu. Kota tetap bergerak, tidak peduli ada seorang perempuan baru saja kehilangan rumah tangganya.

Namun di dalam kamar VIP itu, sesuatu dalam diri Ratna justru mulai berdiri.

Ponselnya berbunyi lagi.

Kali ini pesan dari Hendra.

"Jangan mulai cari masalah. Pulang sekarang."

Ratna membaca pesan itu.

Lalu ia mengetik pelan.

"Aku pulang nanti. Ada yang harus aku pikirkan."

Ia tidak menulis apa yang sebenarnya ingin ia katakan.

Bahwa ia sudah melihat semuanya.

Bahwa ia sudah merekam semuanya.

Bahwa mulai malam ini, Ratna bukan lagi istri yang bisa disuruh diam.

Ia menaruh ponsel di meja.

"Bu," ucapnya lirih.

"Ya?"

"Saya benar-benar mau cerai."

Bu Laras mengangguk.

"Kalau begitu, kita mulai dari bukti."

Ratna memandangi tangan Bu Laras yang keriput tapi hangat. Aneh sekali, pikirnya. Orang yang baru ia kenal beberapa bulan bisa bertanya apa yang ia inginkan, sementara keluarganya sendiri hanya bertanya apa yang harus ia kerjakan.

"Bu, kalau nanti saya goyah?"

Bu Laras menatapnya tanpa menghakimi.

"Telepon aku. Atau tulis di kertas besar: dia punya anak dengan perempuan lain. Tempel di pintu kalau perlu."

Ratna tertawa pelan di sela air mata.

"Ibu keras sekali."

"Untuk perempuan yang terlalu lama lembut, kadang memang perlu ada orang keras di sebelahnya."

Ratna mengangguk. Malam itu, ia belum merasa berani. Tapi setidaknya ia tahu keberanian bisa dipinjam sedikit, sampai ia punya miliknya sendiri.

Terpopuler

Comments

Endang Sulistia

Endang Sulistia

pengen tampol keluarga hendra😤😤😤

2026-07-18

0

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!