Episode 4

Bab 04 - Gaun Merah

Pagi itu Ratna tidak memasak.

Ia bangun sebelum subuh seperti biasa, tapi tidak pergi ke dapur. Ia salat, duduk lama di sajadah, lalu melipat mukena dengan tenang.

Di luar kamar, panci sengaja dibanting keras.

"Tidak ada nasi?" suara Mama Sulastri melengking dari dapur.

Ratna membuka lemari. Ia memilih baju terbaik yang ia punya. Blus krem lama pemberian Maya, rok hitam, dan kerudung cokelat muda. Baju itu tidak baru, tapi bersih.

Ketukan keras terdengar di pintu.

"Ma!" Raka berteriak. "Aku ada meeting pagi. Sarapan mana?"

Ratna membuka pintu.

Raka berdiri dengan rambut basah dan wajah kesal. Di belakangnya, Maya menggendong Bima yang masih mengantuk. Mama Sulastri duduk di kursi makan sambil memegang dada, seolah tragedi besar baru saja terjadi.

"Sarapan bisa beli di warung," kata Ratna.

Raka terdiam.

"Mama sakit?"

"Tidak."

"Lalu kenapa begini?"

Ratna merapikan tasnya.

"Karena Mama ada urusan."

Mama Sulastri langsung menyambar.

"Urusan apa yang lebih penting daripada keluarga? Dari dulu rumah ini berdiri karena kamu mengurusnya. Sekali kamu tidak masak, semua berantakan."

Ratna menatap ibu mertuanya.

"Berarti selama ini saya cukup penting, ya, Ma?"

Mama Sulastri tersedak kata-katanya sendiri.

Maya mencoba tertawa.

"Ma, jangan sensitif. Mama cuma capek, kan? Nanti pulang belanja, ya. Aku titip sekalian ambil paket. Kurir kemarin bilang barangku banyak."

"Tidak bisa."

Wajah Maya berubah.

"Ma?"

"Hari ini urus sendiri."

Bima yang ada di gendongan Maya mengucek mata.

"Nenek marah?"

Hati Ratna langsung melunak. Ia mendekati cucunya, mengusap rambut kecil itu.

"Nenek tidak marah sama Bima. Nenek cuma ada urusan sebentar."

"Nanti jemput les?"

Ratna berhenti.

Tatapan polos Bima hampir menghancurkan keputusannya.

Selama ini anak itu adalah alasan paling kuat untuk bertahan. Ia tidak tega jika Bima terlambat makan, terlambat dijemput, atau merasa dibuang.

Namun Bu Laras benar.

Jika ia terus menjadi tiang rumah, mereka akan terus menambah beban tanpa bertanya apakah tiang itu retak.

"Hari ini Mama kamu yang jemput," kata Ratna lembut.

Maya langsung panik.

"Ma, aku ada janji."

Ratna menoleh.

"Anakmu juga punya janji dengan gurunya."

Raka membanting gelas ke meja.

"Mama berubah banget."

"Iya," jawab Ratna. "Memang sudah waktunya."

Sebelum mereka sempat membalas, Hendra keluar dari kamar. Wajahnya tidak segar. Mungkin kurang tidur. Mungkin semalam ia takut Ratna sudah tahu sesuatu.

"Kamu mau ke mana?" tanyanya.

"Bertemu orang."

"Siapa?"

"Urusan saya."

Mata Hendra menyipit.

"Ratna, jangan bikin aku malu. Kalau kamu marah karena aku pulang terlambat, bilang. Jangan drama di depan anak dan Mama."

Ratna menatapnya lama.

Pulang terlambat?

Laki-laki itu masih memilih kebohongan kecil untuk menutupi kebusukan besar.

"Saya tidak sedang drama, Mas. Saya cuma pergi."

Ratna berjalan keluar sebelum dadanya meledak.

Di dalam mobil yang dikirim Bu Laras, Hanif sudah menunggu di kursi depan. Siska duduk di belakang dengan map cokelat.

"Bu Ratna sudah siap?" tanya Siska.

Ratna mengangguk.

Mereka tidak pergi ke kantor pengacara dulu. Siska meminta Ratna menemaninya ke sebuah kafe sepi. Di sana, map cokelat dibuka.

Ada daftar rekening.

Ada foto apartemen.

Ada salinan pembelian mobil atas nama Clara.

Ada bukti transfer rutin ke sekolah internasional tempat Alif belajar.

Ratna menatap semuanya tanpa berkedip.

"Anak itu kelas empat," kata Hanif. "Biaya sekolahnya puluhan juta per semester."

Ratna teringat pesan Bu Nisa tentang uang les Bima yang telat.

Tangannya mengepal di pangkuan.

"Selama ini Mas Hendra bilang toko sepi."

"Sebagian memang sepi," ujar Hanif. "Tapi bukan berarti tidak ada uang. Ada aliran dana yang dipindahkan lewat rekening vendor fiktif. Kami belum bisa menyimpulkan semua, tapi pola awalnya jelas."

Siska menambahkan, "Kalau Ibu mau bercerai, kita bisa masukkan bukti ini untuk memperjuangkan harta bersama. Tapi Ibu harus siap. Begitu proses dimulai, Pak Hendra mungkin menyerang balik."

"Dia sudah menyerang saya sejak lama," kata Ratna pelan.

Siska dan Hanif terdiam.

Ratna menatap foto apartemen Clara. Ruang tamunya luas, sofa putih, kaca besar menghadap kota. Tempat itu tampak bersih dan terang.

Rumah Ratna juga terang, tapi bukan untuknya.

Ia hanya orang yang mematikan lampu terakhir setelah semua tidur.

"Saya mau lanjut," ucap Ratna.

Siska mengangguk.

"Baik. Sebelum pulang, Ibu mungkin perlu menyiapkan diri. Kalau nanti Ibu menyampaikan ke keluarga, jangan sendirian terlalu lama. Kabari kami."

Ratna mengangguk.

Setelah urusan selesai, mobil melewati sebuah pusat perbelanjaan. Di kaca luar sebuah butik, Ratna melihat gaun merah marun dipajang. Potongannya sederhana, tidak terlalu terbuka, tapi elegan. Dulu ia suka warna merah.

Dulu, sebelum Hendra berkata warna mencolok tidak pantas untuk ibu rumah tangga.

"Pak, berhenti sebentar," kata Ratna tiba-tiba.

Hanif menoleh.

"Ada apa, Bu?"

"Saya mau membeli sesuatu."

Di dalam butik, pegawai muda menyambutnya dengan ramah. Ratna sempat canggung saat meminta ukuran. Ia merasa semua orang akan menertawakan tubuhnya yang tidak muda lagi.

Namun saat ia keluar dari kamar pas, pegawai itu tersenyum tulus.

"Bagus sekali, Bu. Warnanya bikin wajah Ibu kelihatan segar."

Ratna menatap cermin.

Perempuan di sana tidak seperti dirinya yang biasa. Bahunya masih sedikit kaku, matanya masih menyimpan lelah, tapi tubuhnya tampak tegak. Warna merah itu tidak membuatnya terlihat memalukan.

Justru membuatnya terlihat hidup.

Ia membeli gaun itu memakai kartu tambahan yang selama ini diberikan Hendra untuk kebutuhan rumah. Kartu yang sama yang biasa ia pakai membeli obat Mama Sulastri dan susu Bima.

Hari ini ia memakainya untuk dirinya sendiri.

Malam itu Ratna pulang dengan tas butik di tangan.

Begitu masuk rumah, semua orang sudah menunggu di ruang tengah.

Hendra berdiri lebih dulu.

"Kamu tahu sekarang jam berapa?"

Ratna meletakkan tas di sofa.

"Tahu."

Maya melihat logo butik di tas itu dan langsung mendekat.

"Ma, ini buat aku? Ya ampun, Mama baik banget. Aku memang lihat koleksi baru mereka kemarin."

Tangannya hampir mengambil tas itu, tapi Ratna menariknya pelan.

"Ini untuk saya."

Maya membeku.

Raka tertawa mengejek.

"Mama beli baju di butik itu? Serius? Buat apa? Umur Mama sudah lima puluh."

Mama Sulastri mendecak.

"Perempuan tua kalau mulai berdandan biasanya pikirannya mulai tidak benar."

Ratna menatap mereka satu per satu.

Dulu kata-kata itu akan membuatnya malu.

Hari ini tidak.

Ia duduk di sofa, membuka tas, lalu mengeluarkan map cokelat dari tas kerjanya.

Hendra melihat map itu. Wajahnya berubah.

"Apa itu?"

Ratna tidak menjawab pertanyaan itu.

Ia memandang laki-laki yang sudah dua puluh delapan tahun menjadi suaminya.

"Mas Hendra, kita bercerai."

Ruang tengah mendadak sunyi.

Lalu Raka tertawa.

"Ma, jangan bercanda. Mama mau cerai dari Papa? Mama mau hidup pakai apa?"

Maya ikut bicara dengan wajah panik.

"Ma, kalau Mama pergi, Bima bagaimana?"

Mama Sulastri menunjuk Ratna.

"Jangan kurang ajar. Di usia begini kamu mau mempermalukan keluarga?"

Hendra tidak tertawa. Ia menatap map cokelat itu.

"Ratna, kamu dapat apa?"

Ratna membuka map.

Di halaman pertama ada foto Hendra memeluk Clara di rumah sakit.

Di halaman kedua ada foto Alif.

Di halaman ketiga ada salinan apartemen Clara.

Ratna mendorong map itu ke meja.

"Cukup untuk membuat saya tidak perlu minta izin lagi."

Wajah Hendra pucat.

Dan untuk pertama kalinya, bukan Ratna yang gemetar di rumah itu.

Maya memungut salah satu lembar yang hampir jatuh. Matanya bergerak membaca nama Clara, alamat apartemen, dan angka yang tercetak di sana. Wajahnya berubah pelan, dari penasaran menjadi terkejut, lalu malu.

"Pa, ini benar?" tanyanya pelan.

Hendra menoleh tajam.

"Letakkan."

Maya langsung meletakkan kertas itu, tapi pertanyaan sudah terlanjur hidup di ruangan.

Raka menatap ayahnya, menunggu bantahan.

Tidak ada.

Ratna melihat momen itu dengan dada ngilu. Bukan karena ia ingin Raka membenci Hendra. Ia hanya ingin anaknya, sekali saja, melihat bahwa ibunya tidak sedang mengada-ada.

"Malam ini kalian boleh marah," kata Ratna. "Tapi besok, kalian harus mulai bertanya pada orang yang benar."

Ia mengambil tas butik dan berjalan menuju kamar.

Di belakangnya, untuk pertama kalinya, tidak ada satu pun yang berani menyuruhnya ke dapur.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!