Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Dikhianati Suami, Dihamili CEO Dingin

Episode 1

Bab 01 - Ketahuan di Rumah Sakit

"Bu Ratna, uang les Bima bulan ini kapan dibayar, ya? Sudah lewat lima hari."

Pesan WhatsApp itu masuk tepat ketika Ratna sedang mengganti seprai di salah satu kamar hotel kecil di daerah Kuningan. Tangannya yang tadi bergerak cepat langsung berhenti.

Ia membaca pesan itu dua kali.

Lalu tiga kali.

Dadanya terasa berat.

Bukan karena ia tidak mau membayar. Ia hanya belum punya uangnya.

Gaji dari menjaga pasien baru cair dua hari lagi. Upah bersih-bersih hotel pun baru diberikan akhir minggu. Sementara uang belanja dari Hendra, suaminya, sudah habis untuk membeli obat darah tinggi Mama Sulastri, vitamin, susu Bima, dan kebutuhan rumah.

Ratna mengetik balasan dengan jari agak gemetar.

"Maaf, Bu Nisa. Nanti sore saya usahakan bayar. Jangan keluarkan Bima dulu dari kelas, ya. Anak itu suka sekali menggambar."

Ia menatap layar beberapa detik sebelum menekan kirim.

Begitu pesan terkirim, ia mengembuskan napas panjang.

"Bu Ratna, kamar 508 sudah?" tanya seorang supervisor dari ujung lorong.

"Sudah, Mbak. Saya tinggal turun."

Ratna merapikan kerudungnya, mengambil tas lusuh, lalu berjalan cepat ke lift karyawan. Usianya lima puluh tahun, tapi langkahnya masih cekatan. Sejak muda ia terbiasa bekerja. Pernah berdagang sayur di pasar, membuka warung makan kecil, membantu Hendra membangun usaha ritel sembako dari nol sampai punya belasan ruko.

Dulu orang bilang ia perempuan tangguh.

Sekarang, di rumah suaminya sendiri, ia lebih sering dipanggil jika ada cucian menumpuk, sayur belum matang, atau Bima belum dijemput dari les.

Hendra selalu berkata usaha sedang berat.

"Sabar dulu, Ratna. Toko banyak yang tutup. Cash flow kacau."

Ratna percaya.

Karena ia sudah percaya pada laki-laki itu sejak umur enam belas.

Ia percaya ketika Hendra tidak punya apa-apa. Ia percaya ketika Hendra minta ditemani merintis usaha. Ia percaya ketika Hendra memintanya berhenti mengurus warung karena anak mereka, Raka, butuh ibu di rumah.

Maka ketika uang belanja dikurangi, ia tidak protes.

Ketika harus bekerja diam-diam agar Hendra tidak merasa terbebani, ia tetap tidak protes.

Ia hanya berkata dalam hati, rumah tangga memang harus saling menolong.

Sore itu Ratna langsung menuju rumah sakit swasta tempat ia bekerja paruh waktu sebagai penjaga pasien. Seorang pasien lama, Bu Laras, meminta khusus agar Ratna yang menemaninya. Katanya, tangan Ratna telaten dan mulutnya tidak banyak mengeluh.

Saat memasuki lobi rumah sakit, Ratna mendengar dua perawat muda berbisik sambil menahan tawa.

"Tadi ada bapak-bapak panik banget. Katanya pacarnya hampir pingsan di apartemen."

"Iya, aku dengar. Usianya sudah lima puluhan, tapi gayanya masih kayak anak muda."

"Kasihan istrinya kalau tahu."

Ratna menunduk, malu sendiri mendengar pembicaraan seperti itu. Ia tidak suka ikut urusan orang. Apalagi soal hubungan laki-laki dan perempuan. Di usia seperti dirinya, hal semacam itu terasa jauh.

Ia dan Hendra sudah lama tidak benar-benar dekat sebagai suami istri. Hendra selalu pulang lelah. Kalau Ratna mencoba bicara sedikit manja, suaminya hanya berkata, "Kita sudah tua. Jangan macam-macam."

Ratna menerimanya.

Mungkin memang begitu pernikahan panjang.

Ia baru hendak menuju lift ketika suara laki-laki yang terlalu ia kenal membuat langkahnya membeku.

"Dok, pacar saya tidak apa-apa, kan?"

Ratna menoleh pelan.

Di depan ruang pemeriksaan kandungan, Hendra berdiri dengan wajah panik. Kemeja birunya kusut. Rambutnya berantakan. Satu tangannya mencengkeram lengan dokter.

Ratna merasa seluruh suara di lobi mendadak menjauh.

Pacar?

Hendra?

Ia refleks mundur ke balik pilar besar dekat lift. Tangannya mencengkeram tali tas.

Dokter itu berbicara dengan suara tenang. "Kondisinya tidak berbahaya. Tapi lain kali harus lebih hati-hati. Tubuh perempuan tidak bisa dipaksa seperti itu, Pak."

Wajah Hendra langsung lega.

"Iya, Dok. Saya janji tidak akan sekeras itu lagi. Yang penting dia baik-baik saja."

Ratna menutup mulutnya.

Perutnya terasa seperti dipukul.

Pintu ruang pemeriksaan terbuka. Seorang perempuan keluar sambil menangis manja. Usianya sekitar tiga puluh lima. Rambutnya tertata, tas bermerek menggantung di lengan, pakaian mahal membungkus tubuhnya dengan rapi.

Clara.

Sekretaris Hendra.

Perempuan itu langsung menubruk dada Hendra.

"Mas Hendra jahat. Aku sudah bilang pelan-pelan. Lihat, aku sampai dibawa ke rumah sakit."

"Iya, sayang. Maaf. Aku panik tadi."

Sayang.

Ratna ingin maju. Ingin menampar wajah suaminya. Ingin bertanya kenapa.

Namun kakinya seperti dipaku.

Selama ini Hendra menolak menyentuhnya dengan alasan usia. Selama ini Hendra mengurangi uang rumah dengan alasan usaha turun. Selama ini Ratna menawar sayur di pasar agar hemat seribu dua ribu.

Sementara Clara memakai tas yang harganya mungkin cukup untuk membayar les Bima setahun.

Ratna mengeluarkan ponsel dari tas.

Tangannya gemetar saat membuka kamera.

Ia merekam.

Bukan karena ia kuat.

Karena jika ia tidak merekam, mungkin besok Hendra akan berkata ia salah lihat. Mungkin keluarganya akan menyebut ia perempuan tua yang cemburuan. Mungkin Mama Sulastri akan berkata, "Jangan buka aib suami."

Ratna terus merekam.

Hendra mengusap rambut Clara, lalu menunduk mencium keningnya.

"Anak kita bagaimana?" tanya Clara pelan. "Dia tadi nangis. Takut aku kenapa-kenapa."

Anak?

Ratna hampir menjatuhkan ponselnya.

Dari arah kursi tunggu, seorang anak laki-laki sekitar sepuluh tahun berlari mendekat. Wajahnya mirip Hendra saat muda. Anak itu memeluk pinggang Hendra tanpa ragu.

"Papa, Mama sudah sembuh?"

Hendra berjongkok dan memeluk anak itu.

"Mama baik-baik saja, Alif. Jangan nangis. Papa di sini."

Papa.

Mama.

Ratna tidak lagi mendengar apa pun setelah itu.

Yang ia lihat hanya tiga orang di depan ruang pemeriksaan itu. Hendra, Clara, dan anak laki-laki bernama Alif. Mereka tampak seperti keluarga kecil yang utuh.

Lalu Ratna mengingat rumahnya sendiri.

Mama Sulastri yang selalu minta dilayani.

Raka yang masih menyuruhnya memasak seolah ia pembantu.

Maya, menantunya, yang menitipkan Bima tiap hari sambil pergi salon atau arisan.

Dan dirinya.

Istri sah yang sudah dua puluh delapan tahun menikah, tapi bahkan tidak tahu suaminya punya keluarga lain.

Air mata Ratna jatuh tanpa suara.

Ia menghapusnya cepat.

Tidak.

Ia tidak boleh menangis di sini.

Ratna menekan tombol berhenti pada rekaman. Ia menyimpan video itu, lalu mengirim salinannya ke akun email pribadinya. Setelah itu ia memasukkan ponsel ke tas dan menarik napas panjang.

Hendra masih tertawa kecil bersama Clara dan Alif.

Ratna menatap mereka dari balik pilar.

Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, ia merasa rumah tangganya bukan retak.

Rumah itu sejak lama sudah rubuh.

Hanya ia yang masih berdiri di dalamnya, pura-pura atapnya belum jatuh.

Lift terbuka di belakangnya.

Ratna masuk dengan kaki dingin.

Di layar lift, angka lantai bergerak naik menuju ruang VIP tempat Bu Laras menunggunya.

Ratna menatap bayangannya di pintu lift yang mengilap.

Wajahnya pucat. Kerudungnya sederhana. Bajunya sudah pudar.

Namun matanya berbeda.

Ia tidak lagi tampak bingung.

"Aku akan bercerai," bisiknya.

Kali ini, ia tidak main-main.

Lift berhenti di lantai VIP, tapi Ratna tidak langsung keluar. Ia menekan tombol buka dengan jari yang masih dingin, memberi dirinya satu tarikan napas lagi.

Di lorong, seorang perawat menyapanya. Ratna membalas dengan anggukan. Ia berjalan seperti biasa, tidak terlalu cepat, tidak terlalu lambat. Hanya Tuhan yang tahu betapa lututnya nyaris tidak kuat.

Sebelum masuk kamar Bu Laras, ia membuka galeri ponsel sekali lagi. Video itu ada. Suara Hendra ada. Wajah Clara ada. Suara Alif memanggil Papa juga ada.

Ratna menekan tombol kunci layar.

Selama puluhan tahun ia selalu pulang membawa sayur, obat, atau cucian.

Hari ini ia membawa bukti.

Sebelum mengetuk pintu kamar VIP, Ratna mengusap wajahnya dengan tisu. Ia tidak ingin Bu Laras melihatnya berantakan. Namun semakin kuat ia menghapus air mata, semakin jelas matanya memerah.

Ia pernah berpikir luka paling besar dalam hidup adalah lelah yang tidak dihargai.

Ternyata ada luka yang lebih sunyi: menyadari orang yang ia bela seumur hidup sudah lama membangun tempat pulang tanpa dirinya.

Terpopuler

Comments

Fia Ayu

Fia Ayu

Mampir,,, baru bab pertama dah bikin nyesek 😢

2026-07-10

1

lihat semua
Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!