Episode 3

Bab 03 - Bukti untuk Pergi

Hanif datang kurang dari satu jam kemudian.

Pria itu mengenakan kemeja putih dan celana hitam rapi. Usianya mungkin pertengahan tiga puluhan. Wajahnya tenang, tapi cara ia menatap membuat Ratna tahu ia bukan orang yang mudah dibohongi.

Di belakangnya ada seorang perempuan dari divisi legal dan seorang pria muda membawa laptop.

Bu Laras langsung menunjuk sofa.

"Duduk. Ini Ratna. Mulai malam ini kalian bantu dia."

Ratna buru-buru berdiri.

"Pak, Mbak, maaf merepotkan. Saya sebenarnya..."

Hanif mengangkat tangan sedikit, sopan tapi tegas.

"Bu Ratna tidak perlu minta maaf. Kalau Bu Laras sudah meminta, berarti ini penting."

Bu Laras mendengus.

"Jangan terlalu kaku. Aku minta kalian cari informasi tentang Hendra Prasetyo. Usaha ritel sembako, beberapa ruko, rekening perusahaan, aset pribadi. Istri sahnya Ratna. Perempuan simpanannya Clara. Ada anak laki-laki juga."

Ratna menunduk saat kata "perempuan simpanan" terdengar.

Malu itu masih ada.

Namun kali ini malu bercampur marah.

Perempuan legal bernama Siska membuka buku catatan.

"Bu Ratna, saya perlu tahu beberapa hal. Pernikahan Ibu tercatat resmi?"

"Iya. Di KUA. Sudah dua puluh delapan tahun."

"Aset yang dibeli selama menikah?"

Ratna menarik napas.

"Ada rumah yang kami tempati. Dulu dibeli setelah usaha mulai maju. Ada beberapa ruko. Dulu saya ikut mengurus toko pertama. Tapi setelah anak lahir, Mas Hendra meminta saya fokus di rumah. Semua sertifikat diurus dia."

"Ibu pernah tanda tangan dokumen?"

"Sering. Tapi saya jarang baca. Saya percaya."

Kalimat terakhir itu membuat ruangan hening sejenak.

Ratna tersenyum hambar.

"Bodoh, ya?"

Siska menggeleng.

"Bukan bodoh, Bu. Ibu percaya pada suami. Yang salah orang yang memanfaatkan kepercayaan itu."

Ratna menggenggam ujung kerudungnya.

Hanif meminta video yang direkam Ratna. Ia menontonnya tanpa ekspresi berlebihan. Hanya rahangnya yang mengeras ketika anak laki-laki itu memanggil Hendra sebagai Papa.

"Kita perlu cadangkan file ini di beberapa tempat," katanya.

"Saya sudah kirim ke email," jawab Ratna cepat.

Hanif menatapnya. Ada sedikit penghargaan di matanya.

"Bagus. Ibu juga perlu mencatat semua pengeluaran rumah yang selama ini Ibu tanggung. Uang les cucu, obat mertua, belanja, apa pun."

Ratna hampir tertawa.

"Saya punya semua catatannya."

Semua orang menoleh.

Ratna membuka tas dan mengeluarkan buku kecil. Sampulnya sudah lecek. Di dalamnya ada catatan tanggal, harga sayur, obat, tagihan listrik, biaya les Bima, bahkan utang kecil ke warung.

"Saya takut uang tidak cukup. Jadi saya tulis semuanya."

Bu Laras mengusap dadanya.

"Ya Allah, Ratna."

Hanif menerima buku itu dengan hati-hati, seolah benda itu bukti perkara besar.

"Ini sangat membantu."

Ratna tidak menyangka catatan yang selama ini ia buat agar bisa menghemat belanja akan berubah menjadi bukti betapa banyak ia memikul rumah itu.

Siska bertanya lagi.

"Bu Ratna siap kalau nanti keluarga menekan? Mereka mungkin akan membawa agama, cucu, nama baik."

Ratna diam.

Siap?

Tidak.

Ia belum siap menghadapi Bima yang menangis. Belum siap mendengar Raka menyebutnya ibu durhaka. Belum siap melihat Mama Sulastri pura-pura sakit.

Tapi apakah ia siap kembali menjadi perempuan yang pura-pura tidak melihat Hendra mencium Clara?

Lebih tidak.

"Saya akan takut," kata Ratna pelan. "Tapi saya tidak mau mundur."

Bu Laras tersenyum puas.

Malam itu, setelah tim Hanif pergi membawa salinan video dan catatan awal, Ratna tetap bekerja seperti biasa. Ia membantu Bu Laras minum obat, mengatur bantal, dan memijat kaki perempuan tua itu.

"Sudah, jangan pijat terus. Nanti tanganmu pegal."

"Tidak apa-apa, Bu. Saya sudah terbiasa."

"Itu yang harus kamu ubah. Jangan semua hal kamu jawab dengan terbiasa."

Ratna tersenyum kecil.

Ucapan itu terdengar sederhana, tapi menusuk.

Ia memang terbiasa.

Terbiasa bangun sebelum subuh.

Terbiasa memasak untuk enam orang.

Terbiasa menahan lapar agar Bima bisa beli buku gambar.

Terbiasa memakai baju bekas Maya yang sudah tidak dipakai.

Terbiasa mendengar Hendra berkata ia terlalu tua untuk berdandan.

Terbiasa sampai lupa bertanya, apakah hidup memang harus seperti itu?

Sekitar pukul sembilan malam, Hanif kembali mengirim pesan. Cepat sekali.

"Bu Ratna, kami menemukan beberapa aset atas nama Clara Maharani dan satu rekening perusahaan yang alirannya mencurigakan. Detail besok saya bawa."

Ratna membaca pesan itu berkali-kali.

Besok.

Ternyata hanya butuh beberapa jam bagi orang profesional untuk menemukan sesuatu yang ia tidak lihat selama bertahun-tahun.

Hendra bukan hanya berkhianat.

Ia menyusun hidup lain dengan rapi.

Ratna meminta izin pulang lebih cepat. Bu Laras awalnya menolak, tapi Ratna perlu mengambil dokumen di rumah sebelum Hendra curiga.

"Aku minta sopir mengantar," kata Bu Laras.

"Tidak usah, Bu. Saya bisa naik ojek online."

"Ratna."

Ratna berhenti.

"Mulai sekarang, biasakan menerima bantuan yang memang kamu butuhkan."

Akhirnya Ratna menurut.

Mobil Bu Laras menurunkannya dua gang dari rumah. Ia tidak mau tetangga melihat mobil mewah berhenti di depan pagar. Bukan karena takut. Belum waktunya saja.

Rumah itu masih terang.

Dari luar, Ratna sudah mendengar suara Mama Sulastri.

"Perempuan itu makin lama makin kurang ajar. Disuruh pulang malah banyak alasan. Hendra, kamu itu terlalu memanjakan istri."

Raka menyahut, "Iya, Pa. Mama sekarang aneh. Aku cuma minta ayam kecap saja tidak dibuatkan."

Maya berkata dengan nada manja, "Aku sampai batal treatment, Pa. Bima nangis karena Nenek tidak jemput."

Ratna berdiri di balik pintu.

Lucu.

Mereka membicarakannya seolah ia pegawai yang mangkir kerja.

Bukan ibu.

Bukan istri.

Bukan manusia yang hari ini baru saja hancur.

Ia membuka pintu.

Semua kepala menoleh.

Hendra berdiri dari sofa. Wajahnya keras. Mungkin ia baru pulang dari Clara. Mungkin ia sempat mandi dan mengganti baju agar bau rumah sakit hilang.

"Kamu dari mana saja?" tanyanya.

Ratna menatap suaminya.

Dulu ia selalu gentar jika Hendra memakai nada seperti itu. Hari ini, anehnya, ia hanya merasa lelah.

"Kerja."

"Kerja sampai lupa rumah?"

Mama Sulastri memukul sandaran sofa.

"Ratna, kamu ini sudah tua, tapi makin tidak tahu diri. Istri baik itu pulang sebelum suami. Bukan keluyuran."

Ratna melepas sandal.

"Saya mau mandi dulu."

Raka melotot.

"Ma, aku belum makan."

"Di dapur ada telur. Masak sendiri."

Ruangan mendadak sunyi.

Maya tertawa kecil, tidak percaya.

"Ma, Raka mana bisa masak?"

Ratna menatap menantunya.

"Dia tiga puluh tahun, Maya. Menggoreng telur tidak butuh ijazah."

Wajah Raka memerah.

"Mama ngomong apa, sih?"

Hendra melangkah mendekat.

"Ratna, jangan mulai."

Ratna mengangkat wajah.

"Aku belum mulai, Mas."

Ia berjalan melewati mereka menuju kamar. Di dalam, ia mengunci pintu. Tangannya langsung bergerak cepat. Ia membuka laci, mengambil fotokopi buku nikah, kartu keluarga, beberapa dokumen lama, buku tabungan yang jarang dipakai, dan map berisi surat pembelian rumah yang pernah ia simpan tanpa Hendra tahu.

Ia memotret semuanya.

Satu per satu.

Dari luar, Hendra mengetuk pintu.

"Ratna, buka. Kita bicara."

Ratna memasukkan dokumen ke tempat semula.

"Besok saja."

"Aku bilang buka."

Ratna berdiri di tengah kamar. Jantungnya berdebar, tapi tangannya tidak lagi gemetar.

Ponselnya menyala.

Pesan dari Hanif.

"Bu Ratna, satu lagi. Apartemen atas nama Clara dibeli tunai tiga tahun lalu. Sumber dananya dari rekening usaha Pak Hendra."

Ratna memejamkan mata.

Jadi benar.

Uang yang katanya tidak ada, ternyata hanya pergi ke rumah lain.

Di luar, Hendra masih mengetuk.

"Ratna!"

Ratna membuka kamera, memotret pesan itu, lalu menyimpannya.

Besok ia akan punya lebih banyak bukti.

Dan setelah itu, Hendra tidak akan bisa lagi menyuruhnya diam.

Ketukan berhenti setelah beberapa menit. Ratna mendengar langkah Hendra menjauh, disusul suara Mama Sulastri bertanya dengan nada tajam.

"Dia buka pintu?"

"Tidak," jawab Hendra.

"Lihat? Istrimu sudah keras kepala. Pasti ada yang mengajari."

Ratna berdiri di balik pintu, menahan napas. Ia ingin membuka pintu dan berkata tidak ada yang mengajarinya selain luka. Tapi ia menahan diri.

Malam ini bukan untuk menang debat.

Malam ini untuk bertahan sampai pagi.

Ia mengambil buku catatan belanja dari tas, membuka halaman kosong, lalu menulis satu kalimat:

"Aku bukan barang milik Hendra."

Tulisan itu miring karena tangannya masih gemetar. Namun setelah melihatnya, Ratna merasa sedikit lebih tegak.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!