Episode 5

Bab 05 - Meja yang Terbalik

"Kamu menyelidiki aku?"

Suara Hendra rendah. Tidak keras, tapi setiap katanya seperti batu dilempar ke lantai.

Ratna duduk tegak di sofa. Map cokelat masih terbuka di meja. Foto Hendra, Clara, dan Alif terlihat jelas di bawah lampu ruang tengah.

Raka yang tadi tertawa kini diam.

Maya menutup mulutnya.

Mama Sulastri memandangi foto itu dengan mata melebar, lalu cepat-cepat mengalihkan wajah seolah jika ia tidak melihat, maka semua itu tidak nyata.

Ratna menatap Hendra.

"Pertanyaanmu lucu, Mas."

"Jawab."

"Yang kamu persoalkan bukan perselingkuhanmu, bukan anak yang kamu sembunyikan, bukan uang rumah yang kamu alihkan. Kamu malah bertanya kenapa aku tahu."

Hendra melangkah mendekat.

"Jaga bicaramu."

Ratna tertawa pelan. Tanpa gembira.

"Aku sudah menjaga bicaraku selama dua puluh delapan tahun."

Mama Sulastri akhirnya bersuara.

"Ratna, jangan buka aib suami di depan anak. Kalau ada masalah, bicarakan baik-baik di kamar."

Ratna menoleh.

"Ma, aib itu dibuat oleh orang yang berbuat. Bukan oleh orang yang melihat."

Wajah Mama Sulastri memerah.

"Kamu mulai pintar menjawab, ya."

"Saya baru mulai bicara."

Raka mengambil salah satu foto dengan tangan ragu.

"Pa... ini siapa?"

Hendra merampas foto itu.

"Bukan urusanmu."

"Bukan urusanku?" Raka menatap ayahnya tidak percaya. "Itu anak siapa?"

Hendra diam.

Diamnya sudah cukup.

Maya berbisik, "Ya Allah..."

Mama Sulastri langsung menunjuk Maya.

"Kamu jangan ikut campur. Ini urusan orang tua."

Ratna berdiri.

"Tidak. Ini urusan semua orang yang selama ini hidup dari saya, lalu mengira saya tidak punya hak tahu."

Hendra menatapnya tajam.

"Ratna, kamu pikir dengan beberapa foto kamu bisa menghancurkan rumah tangga kita?"

"Rumah tangga kita sudah kamu hancurkan sejak lama."

"Aku laki-laki. Aku khilaf."

"Dua belas tahun khilaf?"

Hendra tersentak.

Raka menoleh cepat.

"Dua belas tahun?"

Ratna mengambil lembar lain dari map.

"Apartemen Clara dibeli tiga tahun lalu. Mobilnya dibeli dari rekening usaha. Biaya sekolah Alif dibayar rutin. Kalau dihitung dari umur anak itu, hubungan kalian pasti lebih lama."

Ia menatap Hendra.

"Jadi jangan pakai kata khilaf. Itu terlalu suci untuk kebohongan yang kamu rawat."

Hendra mengangkat tangan, seolah hendak mencengkeram lengan Ratna. Ratna mundur setengah langkah, tapi tidak menunduk.

Ponselnya sudah menyala di tangannya. Rekaman suara aktif.

Hendra melihat itu.

"Kamu merekam?"

"Iya."

"Matikan."

"Tidak."

Mama Sulastri bangkit dengan marah.

"Kurang ajar! Istri macam apa merekam suami sendiri?"

Ratna menatapnya.

"Istri yang akhirnya belajar melindungi diri."

Hendra mengembuskan napas kasar. Ia mencoba mengganti nada.

"Baik. Aku salah. Aku akui. Tapi kamu tidak perlu bawa pengacara. Kita selesaikan baik-baik. Kamu mau apa?"

"Cerai. Pembagian harta bersama. Pengembalian aset yang kamu alihkan."

"Kamu serakah."

Ratna hampir tersenyum.

"Serakah?"

"Selama ini aku yang cari uang."

Kalimat itu membuat sesuatu dalam dada Ratna pecah. Bukan lagi tangis. Bukan lagi sakit. Lebih seperti pintu yang didobrak dari dalam.

"Siapa yang berdagang sayur waktu kamu kuliah?"

Hendra diam.

"Siapa yang buka warung pertama saat kamu masih malu pinjam uang ke saudara?"

Raka menatap ibunya.

"Siapa yang jaga toko dari subuh sampai malam waktu aku hamil tua? Siapa yang berhenti bekerja karena kamu bilang anak butuh ibu di rumah? Siapa yang mengurus ibumu, anakmu, menantumu, cucumu, sementara kamu membangun usaha dengan tenang?"

Ratna menunjuk meja.

"Kalau semua itu tidak dihitung sebagai kerja, lalu apa namanya? Ibadah gratis untuk laki-laki yang diam-diam punya istri lain?"

"Ratna!" Hendra membentak.

Bima menangis dari kamar. Maya spontan berdiri, tapi Mama Sulastri lebih cepat berkata, "Biarkan. Anak kecil biasa menangis."

Ratna menoleh ke arah kamar Bima.

Dadanya sakit.

Ia tidak ingin anak itu mendengar semua ini. Tapi mungkin rumah ini memang sudah terlalu lama memaksa semua orang diam.

Maya akhirnya berjalan ke kamar dan menggendong Bima keluar. Anak itu memeluk leher ibunya sambil menangis kecil.

"Nenek jangan pergi," gumam Bima.

Ratna memejamkan mata sebentar.

Hendra melihat celah itu.

"Lihat? Kamu tega sama cucumu? Kamu mau menghancurkan keluarga ini hanya karena satu kesalahan?"

Ratna membuka mata.

"Jangan pakai Bima untuk menutup dosamu."

Hendra terdiam lagi.

Raka tampak bingung. Marah, malu, takut, semuanya bercampur di wajahnya.

"Ma, kalau cerai, rumah ini bagaimana?"

Ratna menatap anak yang ia lahirkan, besarkan, dan manjakan sampai dewasa.

"Itu yang kamu pikirkan pertama kali?"

Raka gelagapan.

"Bukan begitu. Tapi kita harus realistis. Papa memang salah, tapi Mama juga tidak bisa hidup sendiri. Mama sudah lama tidak kerja tetap. Kalau bercerai, nanti Mama susah."

Ratna merasakan tusukan lain.

Namun kali ini ia tidak hancur.

"Raka, Mama sudah susah saat masih menikah."

Maya menunduk. Mungkin untuk pertama kalinya ia mendengar kalimat itu dengan benar.

Mama Sulastri menunjuk Ratna lagi.

"Perempuan kalau sudah tua harus tahu diri. Hendra masih memberimu tempat tinggal. Masih memberi nama sebagai istri. Kamu mau apa lagi?"

"Saya mau hidup tanpa dibohongi."

"Hidup sendiri? Siapa yang mau sama kamu?"

Ratna menggenggam ponselnya.

Kalimat itu dulu akan membuatnya merasa kecil.

Sekarang ia hanya melihat betapa miskinnya cara berpikir mereka. Seolah hidup perempuan hanya berarti jika masih diinginkan laki-laki.

Hendra duduk kembali. Ia mengusap wajah.

"Dengar. Aku tidak akan menceraikanmu."

"Kamu tidak perlu setuju untuk aku mulai prosesnya."

"Kamu pikir pengadilan akan langsung percaya?"

"Aku punya pengacara."

Hendra mendongak cepat.

"Siapa?"

Ratna tidak menjawab.

Ponselnya berbunyi. Nama Siska muncul.

Ratna mengangkatnya dengan speaker tidak aktif.

"Ya, Mbak?"

Suara Siska terdengar jelas di telinganya. "Bu Ratna, kami sudah kirim daftar awal dokumen yang perlu Ibu siapkan. Besok pagi kita bisa bertemu untuk tanda tangan kuasa hukum kalau Ibu siap."

Ratna menatap Hendra.

"Saya siap."

Hendra berdiri lagi.

"Ratna, jangan gegabah."

Ratna menutup telepon.

"Aku gegabah saat terlalu percaya padamu. Yang sekarang bukan gegabah."

Ia mengambil map cokelat dan memasukkannya ke tas.

Hendra mencoba menahan tas itu.

"Dokumen itu tidak boleh keluar dari rumah."

Ratna menatap tangannya.

"Lepaskan."

"Aku bilang lepaskan."

"Mas Hendra, kalau kamu menarik tas ini, rekaman suara akan menunjukkan kamu menghalangi aku membawa bukti."

Hendra membeku.

Ratna menarik tasnya perlahan.

Raka menatap ayahnya, lalu ibunya. Maya memeluk Bima lebih erat. Mama Sulastri komat-kamit membaca istighfar, tapi matanya penuh kebencian, bukan penyesalan.

Ratna berjalan ke arah kamar.

"Malam ini saya tidur di kamar tamu."

"Ini rumahku," kata Hendra dingin.

Ratna berhenti.

Ia menoleh pelan.

"Kita lihat nanti rumah ini milik siapa."

Tidak ada yang menjawab.

Untuk pertama kalinya, meja di rumah itu tidak lagi miring ke arah Hendra.

Pelan-pelan, Ratna sedang membaliknya.

Di kamar tamu, Ratna menggelar selimut tipis yang biasanya dipakai saudara jauh jika menginap. Kamar itu pengap. Lemarinya berisi barang lama. Dulu ia selalu malu kalau ada tamu tidur di sana, takut dianggap tidak cukup nyaman.

Malam ini justru kamar kecil itu terasa lebih aman daripada kamar utama.

Ia mengunci pintu, duduk di tepi kasur, lalu mendengar suara debat dari ruang tengah. Mama Sulastri menangis. Raka bertanya. Hendra membentak. Maya mencoba menenangkan Bima.

Semua suara itu biasanya akan menarik Ratna keluar.

Kali ini ia tetap duduk.

Ia membuka ponsel dan mengirim pesan pada Siska.

"Saya sudah menyampaikan perceraian. Mereka tahu sebagian bukti."

Balasan datang cepat.

"Baik, Bu. Jangan serahkan dokumen asli. Besok kita susun langkah resmi."

Ratna memeluk tas berisi map cokelat. Di luar, rumahnya ribut.

Di dalam kamar sempit itu, untuk pertama kalinya, ia memilih dirinya sendiri tanpa meminta maaf.

Ia tidak tidur cepat. Setiap suara dari luar membuat tubuhnya refleks tegang. Jika Bima menangis, ia hampir berdiri. Jika Mama Sulastri batuk keras, tangannya hampir membuka kunci.

Namun setiap kali itu terjadi, Ratna memegang buku kecilnya.

"Aku bukan barang milik Hendra," bacanya pelan.

Kalimat itu seperti pegangan di tepi jurang.

Baru menjelang subuh ia tertidur sebentar. Saat bangun, punggungnya sakit karena kasur tipis, tapi hatinya tidak seberat malam sebelumnya.

Episodes
1 Episode 1
2 Episode 2
3 Episode 3
4 Episode 4
5 Episode 5
6 Episode 6
7 Episode 7
8 Episode 8
9 Episode 9
10 Episode 10
11 Episode 11
12 Episode 12
13 Episode 13
14 Episode 14
15 Episode 15
16 Episode 16
17 Episode 17
18 Episode 18
19 Episode 19
20 Episode 20
21 Episode 21
22 Episode 22
23 Episode 23
24 Episode 24
25 Episode 25
26 Episode 26
27 Episode 27
28 Episode 28
29 Episode 29
30 Episode 30
31 Episode 31
32 Episode 32
33 Episode 33
34 Episode 34
35 Episode 35
36 Episode 36
37 Episode 37
38 Episode 38
39 Episode 39
40 Episode 40
41 Episode 41
42 Episode 42
43 Episode 43
44 Episode 44
45 Episode 45
46 Episode 46
47 Episode 47
48 Episode 48
49 Episode 49
50 Episode 50
51 Episode 51
52 Episode 52
53 Episode 53
54 Episode 54
55 Episode 55
56 Episode 56
57 Episode 57
58 Episode 58
59 Episode 59
60 Episode 60
61 Episode 61
62 Episode 62
63 Episode 63
64 Episode 64
65 Episode 65
66 Episode 66
67 Episode 67
68 Episode 68
69 Episode 69
70 Episode 70
71 Episode 71
72 Episode 72
73 Episode 73
74 Episode 74
75 Episode 75
76 Episode 76
77 Episode 77
78 Episode 78
79 Episode 79
80 Episode 80
81 Episode 81
82 Episode 82
83 Episode 83
84 Episode 84
85 Episode 85
86 Episode 86
87 Episode 87
88 Episode 88
89 Episode 89
90 Episode 90
91 Episode 91
92 Episode 92
93 Episode 93
94 Episode 94
95 Episode 95
96 Episode 96
97 Episode 97
98 Episode 98
99 Episode 99
100 Episode 100
Episodes

Updated 100 Episodes

1
Episode 1
2
Episode 2
3
Episode 3
4
Episode 4
5
Episode 5
6
Episode 6
7
Episode 7
8
Episode 8
9
Episode 9
10
Episode 10
11
Episode 11
12
Episode 12
13
Episode 13
14
Episode 14
15
Episode 15
16
Episode 16
17
Episode 17
18
Episode 18
19
Episode 19
20
Episode 20
21
Episode 21
22
Episode 22
23
Episode 23
24
Episode 24
25
Episode 25
26
Episode 26
27
Episode 27
28
Episode 28
29
Episode 29
30
Episode 30
31
Episode 31
32
Episode 32
33
Episode 33
34
Episode 34
35
Episode 35
36
Episode 36
37
Episode 37
38
Episode 38
39
Episode 39
40
Episode 40
41
Episode 41
42
Episode 42
43
Episode 43
44
Episode 44
45
Episode 45
46
Episode 46
47
Episode 47
48
Episode 48
49
Episode 49
50
Episode 50
51
Episode 51
52
Episode 52
53
Episode 53
54
Episode 54
55
Episode 55
56
Episode 56
57
Episode 57
58
Episode 58
59
Episode 59
60
Episode 60
61
Episode 61
62
Episode 62
63
Episode 63
64
Episode 64
65
Episode 65
66
Episode 66
67
Episode 67
68
Episode 68
69
Episode 69
70
Episode 70
71
Episode 71
72
Episode 72
73
Episode 73
74
Episode 74
75
Episode 75
76
Episode 76
77
Episode 77
78
Episode 78
79
Episode 79
80
Episode 80
81
Episode 81
82
Episode 82
83
Episode 83
84
Episode 84
85
Episode 85
86
Episode 86
87
Episode 87
88
Episode 88
89
Episode 89
90
Episode 90
91
Episode 91
92
Episode 92
93
Episode 93
94
Episode 94
95
Episode 95
96
Episode 96
97
Episode 97
98
Episode 98
99
Episode 99
100
Episode 100

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!