II - Delapan Detik

Angka di pojok layar laptop menunjukkan pukul 02.47 ketika Raditya Wibowo masih membaca baris yang sama untuk ketiga kalinya.

*PT Cipta Prada Land. Didirikan lima tahun lalu. Pendiri: *Kirana Ayu Pradipta.

Ia sudah hafal setiap angka pertumbuhan perusahaan itu, setiap proyek yang pernah mereka garap, setiap kutipan dari wawancara singkat Kirana di media bisnis. Ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa ini riset kompetitor biasa — hal yang wajar dilakukan CEO mana pun menjelang presentasi final terbesar tahun ini.

Kebohongan itu tidak bertahan lama.

Karena yang sebenarnya ia cari, di antara baris angka dan grafik pertumbuhan itu, cuma satu hal: fotonya. Ia melihat potret Kirana dengan blazer gelap dan senyum yang jauh lebih percaya diri dari yang ia ingat. Rambutnya lebih pendek. Rahangnya lebih tegas.

Ia ingat rambut itu dulu selalu tergerai, sering diikat asal dengan pensil saat Kirana buru-buru menyelesaikan tugas maketnya. Ia ingat cara Kirana tertawa sampai matanya menyipit, cara ia bicara soal mimpinya membangun perusahaan sendiri seolah itu satu-satunya hal paling penting di dunia. Radit dulu percaya pada mimpi itu — bahkan lebih percaya daripada Kirana sendiri.

Sekarang perempuan di foto itu sudah mencapai semua impiannya sendiri. Tanpa dia.

Radit menutup laptop tepat jam empat pagi, matanya pedih, tubuhnya menolak berbaring meski otaknya sudah lelah berpikir. Ia hanya duduk di tepi ranjang, menatap kosong ke arah jendela, sampai alarm berbunyi jam enam dan memaksanya bangkit lagi seperti tidak terjadi apa-apa semalaman.

TING!!!

Notifikasi dari Farrel masuk saat ia mengikat dasi di depan cermin.

Gua di bawah. 15 menit lagi kita harus otw.

...****************...

"Lu yakin siap?" Farrel bertanya begitu Radit masuk mobil, matanya masih sibuk memindai berkas di tangan.

"Siap buat apa? Presentasinya, atau ketemu dia?" Radit menjawab.

Farrel mengangkat kedua tangan, tanda menyerah. "Gue cuma nanya soal presentasinya, Dit. Tapi sekarang gue jadi penasaran juga sama yang kedua."

Radit menghela napas, menyandarkan kepala ke jok mobil. "Gue nggak tahu, Rel. Sejak namanya muncul di laporan itu, gue nggak bisa berhenti mikirin gimana rasanya nanti, berdiri di ruangan yang sama bareng dia lagi. Kenapa harus dia, dari semua orang yang punya potensi buat jadi lawan?"

"Kalian putus baik-baik?" Farrel bertanya hati-hati. Ia tahu sedikit soal masa lalu Radit dengan seorang perempuan bernama Kirana — Radit tidak pernah cerita detailnya, cuma bilang hubungan itu berakhir, tanpa alasan yang jelas.

"Nggak." Radit menjawab pendek. "Sama sekali nggak baik-baik."

Farrel tidak mendesak lebih jauh, meski Radit tahu masih ada satu pertanyaan lagi yang tertahan di ujung lidah sahabatnya itu.

"Bokap lu udah tahu soal ini?" Farrel akhirnya bertanya, hati-hati memilih kata. "Soal siapa yang mimpin Cipta Prada Land, maksud gua."

"Belum." Radit menatap keluar jendela, melihat jalanan Jakarta yang mulai padat pagi itu. "Dan gue nggak niat kasih tahu, kecuali dia tanya duluan."

"Kenapa?"

"Karena kalau dia tahu," Radit menjawab pelan, "gua nggak punya jawaban yang bisa bikin dia puas."

Farrel diam sebentar, lalu menepuk bahu Radit sekali. "Ya udah. Fokus menang dulu aja hari ini. Urusan bokap lu, nanti aja dipikirin."

Radit tidak menjawab. Tapi kata-kata Farrel terus menggantung di kepalanya sepanjang sisa perjalanan, bercampur dengan bayangan wajah ayahnya yang selalu menuntut atas setiap keputusan dalam hidupnya.

...****************...

Ruang rapat di lantai 38 sudah ramai ketika mereka tiba. Sepuluh anggota dewan investor Cakra Investindo duduk mengelilingi meja oval besar, dua kursi presentasi menghadap mereka, satu untuk masing-masing kandidat finalis.

Tepat pukul sepuluh, pintu terbuka.

Radit mengangkat wajah, dan untuk sepersekian detik seluruh ruangan itu berhenti berputar.

Kirana berjalan masuk dengan langkah mantap, map presentasi terjepit di lengannya, mengenakan blazer abu-abu gelap. Di sampingnya, Nadia membawa tumpukan berkas dan maket kecil.

Kirana belum melihatnya. Ia sedang menyapa salah satu perwakilan dewan, tersenyum profesional, menjabat tangan beberapa orang yang menyambutnya hangat.

Lalu matanya berpindah ke seberang ruangan.

Berhenti tepat di wajah Radit.

Satu.

Dua.

Tiga.

Radit tidak tahu kenapa ia bisa menghitungnya sepasti itu — mungkin karena setiap detik terasa seperti… memberi ruang bagi kenangan di antara mereka untuk mengalir. Senyum Kirana perlahan memudar, bukan hilang, tapi berubah jadi sesuatu yang lebih waspada, seolah ia baru sadar lawan yang harus ia kalahkan hari ini bukan sekadar nama perusahaan di atas kertas.

Delapan detik, sebelum Kirana memutus kontak mata. Ia berdeham pelan, kembali ke perwakilan investor tadi, seolah delapan detik itu tidak pernah terjadi.

Tapi Radit tahu itu terjadi. Dan ia tahu, Kirana merasakannya juga.

"Selamat pagi, semuanya," Pak Kusnadi membuka sesi. "Hari ini kita akan mendengarkan presentasi final dari dua kandidat terbaik untuk proyek revitalisasi kawasan pesisir. Kita mulai dengan PT Cipta Prada Land, dilanjutkan dengan Wibowo Group. Keputusan final diumumkan satu minggu setelah presentasi ini berakhir."

"Selamat pagi, semuanya." Suara Kirana jelas dan tenang saat melangkah ke depan. "Saya Kirana Ayu Pradipta dari PT Cipta Prada Land. Terima kasih atas kesempatan yang diberikan pada kami untuk mempresentasikan visi kami."

Radit memaksakan diri untuk fokus pada isi presentasi, bukan pada suara selalu terngiang di kepalanya selama tujuh tahun terakhir.

Presentasinya, ia harus akui, brilian. Kirana tidak cuma bicara keuntungan finansial, tapi juga dampak sosial bagi warga sekitar. Ruang publik yang dirancang untuk benar-benar dipakai, bukan sekadar dipajang di brosur. Radit mendapati dirinya kagum, di saat seharusnya ia merasa terancam.

Ketika sesi tanya jawab dibuka, seorang anggota dewan bertanya soal kelayakan finansial jangka panjang, mengingat skala perusahaan Kirana yang masih tergolong kecil. Kirana menjawab dengan yakin, data dan argumen tersusun rapi, sampai anggota dewan itu sendiri terlihat terkesan dengan semua jawaban yang Kirana berikan.

Kemudian giliran timnya untuk memaparkan presentasi.

Radit berdiri, melangkah ke depan dengan ketenangan yang sudah ia latih ribuan kali.

"Selamat pagi. Saya Raditya Wibowo, mewakili Wibowo Group." Suaranya terdengar stabil, meski jantungnya berdegup jauh lebih cepat dari biasanya.

Presentasinya berjalan lancar. Angka-angka besar, skala proyek yang lebih ambisius, portofolio panjang Wibowo Group selama puluhan tahun.

Tapi, sesekali mata Raditya mencari celah untuk bertemu dengan mata Kirana yang memperhatikan presentasinya dengan ekspresi sulit dibaca.

Ketika sesi tanya jawab selesai, Pak Kusnadi berdiri, mengucapkan terima kasih pada kedua tim, menegaskan sekali lagi bahwa keputusan final akan diumumkan seminggu lagi.

Ruangan mulai bergerak, orang-orang berdiri untuk berjabat tangan formal sebelum pergi.

Sebagai perwakilan tertinggi timnya, Radit menyapa langsung perwakilan tim lawan.

Kirana berjalan mendekat, wajahnya kembali mengenakan topeng profesional yang sempurna, tangannya terulur untuk menyambut tangan Radit.

"Pak Wibowo," katanya, suaranya terdengar ada getar samar di baliknya. "Presentasi yang bagus."

Radit menjabat tangannya, merasakan kulitnya bersentuhan dengan kulit Kirana untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun. Sensasi itu menjalar aneh sampai ujung jarinya.

"Bu Kirana," jawabnya, memaksa suara tetap datar meski jantungnya berdegup kencang. "Presentasi Anda juga luar biasa. Semoga yang terbaik yang memenangkan tender proyek ini."

Mereka berdua tahu — meski tak seorang pun di ruangan itu menyadarinya — kalimat sederhana itu menyimpan tujuh tahun memori yang belum selesai di antara mereka berdua.

Kirana melepaskan jabatan tangan lebih cepat, sembari menyunggingkan senyuman tipis. "Semoga begitu."

"Sepertinya kita bakal nunggu satu minggu yang cukup panjang," Radit berkata, mencoba menyelipkan sedikit candaan di tengah suasana yang begitu tegang.

Untuk sesaat, senyuman tulus — bukan senyum profesional yang tadi ia kenakan sepanjang presentasi — muncul di wajah Kirana. "Sepertinya begitu, Pak Wibowo."

Kirana mengangguk sekali, berbalik pergi bersama Nadia, meninggalkan Radit berdiri di ruang rapat yang perlahan kosong.

"Dit." Farrel menepuk bahunya, menariknya dari lamunan. "Yuk. Kita udah ngasih yang terbaik. Sekarang tinggal nunggu."

Radit mengangguk, mengikuti langkah sahabatnya keluar. Tapi bahkan di dalam lift, saat ia turun menuju lobi, delapan detik yang mengubah segalanya itu masih berkutat, menari-nari di dalam kepalanya.

...****************...

Di lobi, ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat rahangnya mengeras seketika.

Ayah.

Ia menatap layar itu cukup lama sebelum akhirnya menekan tombol hijau. "Ya, Ayah."

"Bagaimana presentasinya?" Suara Hartono Wibowo terdengar tegas seperti biasa, tanpa basa-basi untuk menanyakan kabar anaknya.

"Berjalan lancar. Hasilnya diumumkan minggu depan."

"Pastikan kita menang, Radit. Proyek itu penting buat ekspansi kita ke pesisir." Jeda sebentar. "Siapa pesaing kita?"

Radit menutup mata sesaat, memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Perusahaan kecil. Belum lama berdiri."

"Kalau kecil, seharusnya bukan masalah buat kita."

"Nggak," Radit menjawab, suaranya lebih pelan. "Bukan masalah besar."

Ia mengakhiri panggilan itu tanpa memberi tahu detail tentang siapa pemilik perusahaan kecil yang dimaksud. Bukan karena ia ingin menyembunyikan sesuatu dari, tapi karena ia belum siap mendengar kata yang mungkin keluar dari mulut Hartono soal nama Kirana Ayu Pradipta.

Apa pun hasil keputusan dewan investor minggu depan, satu hal sudah pasti — sesuatu di dalam dirinya sudah berubah sejak pagi ini, dan ia tidak yakin bisa mengembalikannya seperti semula.

Terpopuler

Comments

Arni Arlinawati pratiwi

Arni Arlinawati pratiwi

hah.. gak ngeri lagi sama pembawaan narasi mu kak.. nangis aku, kalau kaka orang sunda makin bangga aja aku.. /Cry/

2026-07-29

1

Arni Arlinawati pratiwi

Arni Arlinawati pratiwi

suka nanget ih bawain narasinya, author suhu dengan sebidang ilmu.. lah aku apalah daya ku minim pencerahan, 🤣🤣🤣

2026-07-29

1

Wawan

Wawan

Satu iklan dan mawar buat mu Thor 💪

2026-07-14

2

lihat semua
Episodes
1 I - Nama Itu, Lagi
2 II - Delapan Detik
3 III - Sebelum Badai
4 IV - Status yang Ditegaskan
5 V - Beban di Pundak Kirana
6 VI - Bantuan Diam-Diam
7 VII - Konfrontasi Pertama
8 VIII - Basah
9 IX - Luruh
10 X - Jarak yang Dipilih
11 XI - Yang Tak Terucap
12 XII - Satu Meja
13 XIII - Arsip Lama
14 XIV - Kalimat yang Tersimpan
15 XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16 XVI - Perang Kecil
17 XVII - Nama yang Hilang
18 XVIII - Dua Sisi
19 XIX - Tekanan
20 XX - Kesepakatan Tak Terduga
21 XXI - Ruang Terlarang
22 XXII - Pilihan Terakhir
23 Announcement
24 XXIII - Semua… Terbuka
25 XXIV - Kerapuhan
26 XXV - Bisikan yang Menyebar
27 XXVI - Jejak Digital
28 XXVII - Ujung Persahabatan
29 XXVIII - Memilih Sisi
30 XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31 XXX - Sorotan Tajam
32 XXXI - Ultimatum
33 XXXII - Foto yang Bocor
34 XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35 XXXIV - Terasing
36 XXXV - Rapat Darurat
37 XXXVI - Perlawanan
38 XXXVII - Pemungutan Suara
39 XXXVIII - Amplop Cokelat
40 XXXIX - Berdampingan
41 XL - Inisial B.S.
42 XLI - Broto Santoso
43 XLII - Foto Lama
44 XLIII - Menyelinap
45 XLIV - Satu Tujuan
46 XLV - Persiapan
47 XLVI - Terpojok
48 XLVII - Pengakuan Sebagian
49 XLVIII - Gugatan Resmi
50 XLIX - Kembalinya Valerie
51 L - Layar Kaca
52 LI - Ruang Sidang
53 LII - Yang Tercecer
54 LIII - Titik Tanpa Kembali
55 LIV - Di Bawah Sumpah
56 LV - Suara yang Tak Terduga
57 LVI - Yang Runtuh
58 LVII - Jalan Keluar
59 LVIII - Dua Vonis
60 LIX - Jeda
61 LX - Palu Terakhir
62 LXI - Satu Ruang
63 LXII - Pemimpin Baru
64 LXIII - Bocor
65 LXIV - Ruang Kosong
66 LXV - Kabar Terakhir
67 LXVI - Yang Tersisa
68 LXVII - Jawaban
69 LXVIII - Rumah
Episodes

Updated 69 Episodes

1
I - Nama Itu, Lagi
2
II - Delapan Detik
3
III - Sebelum Badai
4
IV - Status yang Ditegaskan
5
V - Beban di Pundak Kirana
6
VI - Bantuan Diam-Diam
7
VII - Konfrontasi Pertama
8
VIII - Basah
9
IX - Luruh
10
X - Jarak yang Dipilih
11
XI - Yang Tak Terucap
12
XII - Satu Meja
13
XIII - Arsip Lama
14
XIV - Kalimat yang Tersimpan
15
XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16
XVI - Perang Kecil
17
XVII - Nama yang Hilang
18
XVIII - Dua Sisi
19
XIX - Tekanan
20
XX - Kesepakatan Tak Terduga
21
XXI - Ruang Terlarang
22
XXII - Pilihan Terakhir
23
Announcement
24
XXIII - Semua… Terbuka
25
XXIV - Kerapuhan
26
XXV - Bisikan yang Menyebar
27
XXVI - Jejak Digital
28
XXVII - Ujung Persahabatan
29
XXVIII - Memilih Sisi
30
XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31
XXX - Sorotan Tajam
32
XXXI - Ultimatum
33
XXXII - Foto yang Bocor
34
XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35
XXXIV - Terasing
36
XXXV - Rapat Darurat
37
XXXVI - Perlawanan
38
XXXVII - Pemungutan Suara
39
XXXVIII - Amplop Cokelat
40
XXXIX - Berdampingan
41
XL - Inisial B.S.
42
XLI - Broto Santoso
43
XLII - Foto Lama
44
XLIII - Menyelinap
45
XLIV - Satu Tujuan
46
XLV - Persiapan
47
XLVI - Terpojok
48
XLVII - Pengakuan Sebagian
49
XLVIII - Gugatan Resmi
50
XLIX - Kembalinya Valerie
51
L - Layar Kaca
52
LI - Ruang Sidang
53
LII - Yang Tercecer
54
LIII - Titik Tanpa Kembali
55
LIV - Di Bawah Sumpah
56
LV - Suara yang Tak Terduga
57
LVI - Yang Runtuh
58
LVII - Jalan Keluar
59
LVIII - Dua Vonis
60
LIX - Jeda
61
LX - Palu Terakhir
62
LXI - Satu Ruang
63
LXII - Pemimpin Baru
64
LXIII - Bocor
65
LXIV - Ruang Kosong
66
LXV - Kabar Terakhir
67
LXVI - Yang Tersisa
68
LXVII - Jawaban
69
LXVIII - Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!