V - Beban di Pundak Kirana

Pertanyaan Nadia kemarin masih menggantung di kepala Kirana ketika teleponnya berdering dengan kabar yang membuat semuanya, untuk sementara, terasa tidak penting lagi.

"Non Kirana," suara Bi Inah terdengar panik di ujung telepon, "Ibu pingsan di dapur. Sekarang Ibu lagi di rumah sakit."

Kirana merasa darahnya membeku. "Rumah sakit mana, Bi? Saya ke sana sekarang."

Ia meninggalkan kantor dengan pesan singkat untuk Nadia, memacu mobilnya melewati kemacetan Jakarta siang itu. Ibunya, sosok yang selama ini selalu ia anggap tegar, yang bertahan menghadapi kehancuran bisnis mendiang ayahnya bertahun-tahun lalu tanpa pernah mengeluh, kini terbaring di ranjang rumah sakit.

Sesampainya di sana, ia menemukan Sulastri Handayani terbaring dengan wajah pucat, selang infus terpasang di lengannya yang kurus. Ibunya tersenyum begitu melihatnya.

"Ibu cuma kelelahan, Nak," Sulastri berkata, suaranya lemah. "Nggak usah sampai tinggalin kerjaan segala."

"Ibu pingsan," Kirana menjawab, menahan air matanya sendiri.

"Kamu abis dari kantor langsung ke sini? Belum makan siang, kan?" Sulastri, bahkan dalam kondisi seperti ini, masih sempat mengkhawatirkan anaknya lebih dari dirinya sendiri. "Ibu nggak apa-apa, Kir. Cuma pusing sedikit tadi pagi."

"Ibu, ini bukan cuma pusing biasa. Ibu sampai perlu infus segala."

Sulastri meraih tangan Kirana, menggenggamnya lemah. "Kamu kelihatan capek. Tender itu... gimana kabarnya?"

"Nanti aja dibahas, Bu. Sekarang fokus istirahat dulu."

Dokter yang menangani Sulastri memanggil Kirana keluar beberapa saat kemudian.

"Ibu Anda mengalami komplikasi jantung yang cukup serius," dokter itu menjelaskan. "Kami menemukan penyumbatan yang butuh tindakan lebih lanjut. Kemungkinan operasi bypass, tergantung hasil pemeriksaan lanjutan."

"Berapa lama sampai kita tahu hasilnya, Dok?"

"Kemungkinan Ibu Sulastri perlu kateterisasi jantung. Masalahnya, rumah sakit kami tidak punya fasilitas dan spesialis yang memadai untuk prosedur sekompleks ini. Kami sarankan Anda segera merujuk ke rumah sakit dengan fasilitas kardiologi lebih lengkap."

"Rumah sakit mana yang Dokter rekomendasikan?"

"Rumah Sakit Cahaya Medika. Salah satu yang terbaik untuk kasus seperti ini di Jakarta. Tapi daftar tunggu spesialis kardiologi mereka panjang, kecuali Anda punya koneksi khusus atau bersedia membayar biaya prioritas."

Kirana mencatat nama itu, berterima kasih, lalu duduk di ruang tunggu mencari informasi lewat ponselnya. Di situlah ia menemukan fakta yang membuat dadanya kembali terasa berat.

*Rumah Sakit Cahaya Medika**, bagian dari jaringan kesehatan yang didanai sebagian oleh Wibowo Group melalui program tanggung jawab sosial perusahaan.*

Kirana menatap layar lama. Dari semua rumah sakit terbaik di Jakarta, kenapa harus yang berafiliasi dengan nama keluarga yang menghantui hidupnya seminggu terakhir ini.

Ia menelepon rumah sakit itu sore harinya.

"Untuk kasus seperti ini, daftar tunggu kami sekitar tiga minggu, Bu. Kecuali Anda daftar lewat jalur prioritas, tapi jalur itu ada biaya tambahan."

"Tiga minggu?" Kirana hampir tak percaya. "Dokter bilang kondisi ibu saya cukup serius. Nggak ada cara lain?"

"Saya mengerti kekhawatiran Anda. Tapi kami punya banyak pasien dengan urgensi serupa, bahkan lebih tinggi."

Kirana bertanya soal estimasi biaya jalur prioritas, dan angka yang disebutkan membuat perutnya mual — bukan karena tidak mampu, tapi karena mengeluarkan uang sebesar itu sekarang akan menguras hampir seluruh cadangan darurat perusahaan. Dengan hasil tender yang masih belum pasti, itu terasa seperti pertaruhan yang bisa menghancurkan segalanya.

Ia mencoba menawar, bertanya soal cicilan atau keringanan biaya. Petugas di ujung telepon tetap sopan, tetap tidak banyak membantu. Kebijakan rumah sakit tidak bisa diganggu gugat tanpa rekomendasi manajemen.

Ia menutup telepon, duduk sendirian di ruang tunggu yang mulai sepi.

"Non Kirana?" Bi Inah menyentuh bahunya. "Non belum makan, loh. Mau saya belikan sesuatu?"

Kirana menggeleng, tersenyum dipaksakan. "Nggak usah, Bi. Saya nggak lapar."

Kebohongan itu lebih mudah diucapkan daripada mengakui betapa kewalahannya ia sebenarnya. Dari perempuan yang begitu percaya diri mempresentasikan proposal miliaran rupiah di hadapan dewan investor, jadi anak yang kebingungan mencari cara menyelamatkan nyawa ibunya sendiri.

Bi Inah duduk di sampingnya, tidak berkata apa-apa, hanya menepuk punggung tangan Kirana pelan. Wanita tua itu sudah bekerja untuk keluarga Pradipta sejak Kirana masih SD, menyaksikan langsung masa kejayaan sebelum kehancuran, lalu perjuangan bertahun-tahun membangun kembali dari nol.

"Non," katanya akhirnya, suaranya lembut, "nggak apa-apa kalau Non capek. Nggak semua harus Non yang selesaiin sendiri."

Kirana tersenyum tipis, tidak sanggup menjawab tanpa suaranya pecah.

Ia kembali masuk, menemukan Sulastri sudah tertidur. Kirana duduk di kursi samping ranjang, menggenggam tangan ibunya yang terasa begitu ringan, jauh berbeda dari tangan yang dulu selalu terasa kuat setiap kali memeluknya di masa-masa tersulit.

Sekarang giliran Kirana yang harus menjadi sosok kuat itu.

Layar ponselnya menyala. Nadia mengirimkan pesan.

Gimana keadaan tante? Butuh gua ke sana?

Kirana mengetik balasan.

Nggak usah. Gua cuma perlu mikirin cara dapetin dana secepatnya. Rumah sakit yang direkomendasikan dokter minta biaya prioritas yang lumayan besar kalau mau penanganan cepat.

Berapa?

Kirana menyebutkan angkanya. Balasan Nadia datang setelah jeda cukup lama.

Itu hampir setengah dari cadangan dana darurat perusahaan kita.

Gua tahu. Tapi gua nggak tahu harus gimana lagi. Ibu nggak bisa nunggu tiga minggu, Kirana membalas.

Tidak ada balasan selama beberapa saat. Lalu, akhirnya:

Kita pasti bisa cari jalan keluar. Jangan dipikirin sendirian, oke? Sekarang lu istirahat dulu. Kita omongin lagi besok pagi.

Kirana meletakkan ponselnya, menatap ibunya yang masih tertidur dengan napas teratur.

Ponselnya menyala sekali lagi. Kali ini Dimas.

Nadia cerita soal tante. Lu di rumah sakit mana? Gua bisa anter barang yang lu butuhin.

Kirana menatap pesan itu cukup lama sebelum membalas.

RS Harapan Bunda. Aman, Dim. Nggak usah ke sini.

Gua tetep mau anterin sesuatu. Lu belum makan dari siang, kan?

Kirana tidak menjawab langsung, tapi setengah jam kemudian, Dimas benar-benar muncul di ruang tunggu, membawa kotak bekal dan air mineral, wajahnya menunjukkan kekhawatiran.

"Lu nggak perlu repot-repot," Kirana berkata, meski aroma makanan itu mengingatkannya betapa lapar ia sebenarnya.

"Gua tahu," Dimas menjawab, duduk di kursi sebelahnya. "Tapi gua juga tahu lu bakal nolak buat makan kalau nggak ada yang maksa."

Ia menunggu sampai Kirana benar-benar menghabiskan setengah kotak bekal itu sebelum akhirnya bertanya, "Ada yang bisa gua bantu soal biayanya? Gua punya sedikit tabungan, kalau itu membantu."

"Nggak, Dim. Ini bukan tanggung jawab lu." Kirana menggeleng cepat. "Gua akan cari jalan sendiri."

Dimas tidak memaksa, tapi tatapannya menyimpan sesuatu yang tidak ia ucapkan — kekhawatiran yang jauh lebih dalam dari sekadar rekan bisnis pada umumnya. Ia menepuk bahu Kirana sekali sebelum berdiri. "Gua di sini kalau lu butuh apa-apa. Beneran."

Kirana  menghitung kemungkinan lain — meminjam dari bank, mencairkan investasi kecil, menjual beberapa aset pribadi. Setiap opsi butuh waktu, sesuatu yang menurut dokter sudah tidak banyak tersisa.

Ada kepahitan tersendiri dalam kenyataan bahwa di dunia yang ia tinggali sekarang, nyawa manusia pun punya daftar tunggu, dan hanya mereka yang cukup kaya atau cukup berkoneksi yang bisa melompatinya.

Ia teringat kalimat yang selalu diucapkan ayahnya dulu, sebelum semuanya runtuh: uang itu alat, Kirana, bukan tujuan. Kata-kata itu terdengar begitu mulia waktu itu, diucapkan oleh seorang pengusaha sukses yang belum tahu bahwa suatu hari putrinya sendiri akan berdiri di ruang tunggu rumah sakit, menghitung-hitung harga sebuah antrean operasi.

Kirana membuka aplikasi perbankan, menatap deretan angka di saldo tabungan pribadinya. Ia bisa mencairkan semuanya sekarang. Tapi jumlahnya masih belum cukup tanpa menyentuh dana darurat Perusahaan — dan menyentuh dana itu berarti mempertaruhkan seluruh yang telah ia bangun selama lima tahun terakhir.

Malam itu, Kirana memutuskan tinggal di rumah sakit, meringkuk di kursi tunggu samping ranjang ibunya. Ia terlalu takut pergi jauh seandainya kondisi Sulastri memburuk di tengah malam.

Dikelilingi bunyi monitor detak jantung, Kirana menghitung ulang tabungannya untuk ketiga kalinya, mencoret-coret angka di kertas bekas yang ia temukan di meja samping ranjang. Bank bisa cair dalam dua hari kalau ia mengajukan pinjaman pribadi. Investasi kecilnya di reksadana, kalau dicairkan sekarang, kena penalti tapi cukup untuk menutup setengah kekurangan. Sisanya masih jadi tanda tanya besar.

Ia menyimpan kertas itu di saku, menyandarkan kepala ke dinding, mengawasi napas ibunya dalam cahaya remang lampu tidur rumah sakit.

Satu nama terus muncul di antara semua kemungkinan yang ia hitung, meski ia berusaha keras mencoret nama itu setiap kali. Wibowo Group. Mereka punya akses langsung ke rumah sakit ini. Satu telepon dari orang yang tepat mungkin bisa memangkas waktu tunggu tiga minggu jadi tiga hari.

Ia tahu persis siapa orang itu.

Dan ia tahu, seburuk apa pun keadaannya sekarang, ia belum siap menelepon nomor itu.

Terpopuler

Comments

ciber ara

ciber ara

kasian sama ibunya 😭

2026-07-25

0

lihat semua
Episodes
1 I - Nama Itu, Lagi
2 II - Delapan Detik
3 III - Sebelum Badai
4 IV - Status yang Ditegaskan
5 V - Beban di Pundak Kirana
6 VI - Bantuan Diam-Diam
7 VII - Konfrontasi Pertama
8 VIII - Basah
9 IX - Luruh
10 X - Jarak yang Dipilih
11 XI - Yang Tak Terucap
12 XII - Satu Meja
13 XIII - Arsip Lama
14 XIV - Kalimat yang Tersimpan
15 XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16 XVI - Perang Kecil
17 XVII - Nama yang Hilang
18 XVIII - Dua Sisi
19 XIX - Tekanan
20 XX - Kesepakatan Tak Terduga
21 XXI - Ruang Terlarang
22 XXII - Pilihan Terakhir
23 Announcement
24 XXIII - Semua… Terbuka
25 XXIV - Kerapuhan
26 XXV - Bisikan yang Menyebar
27 XXVI - Jejak Digital
28 XXVII - Ujung Persahabatan
29 XXVIII - Memilih Sisi
30 XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31 XXX - Sorotan Tajam
32 XXXI - Ultimatum
33 XXXII - Foto yang Bocor
34 XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35 XXXIV - Terasing
36 XXXV - Rapat Darurat
37 XXXVI - Perlawanan
38 XXXVII - Pemungutan Suara
39 XXXVIII - Amplop Cokelat
40 XXXIX - Berdampingan
41 XL - Inisial B.S.
42 XLI - Broto Santoso
43 XLII - Foto Lama
44 XLIII - Menyelinap
45 XLIV - Satu Tujuan
46 XLV - Persiapan
47 XLVI - Terpojok
48 XLVII - Pengakuan Sebagian
49 XLVIII - Gugatan Resmi
50 XLIX - Kembalinya Valerie
51 L - Layar Kaca
52 LI - Ruang Sidang
53 LII - Yang Tercecer
54 LIII - Titik Tanpa Kembali
55 LIV - Di Bawah Sumpah
56 LV - Suara yang Tak Terduga
57 LVI - Yang Runtuh
58 LVII - Jalan Keluar
59 LVIII - Dua Vonis
60 LIX - Jeda
61 LX - Palu Terakhir
62 LXI - Satu Ruang
63 LXII - Pemimpin Baru
64 LXIII - Bocor
65 LXIV - Ruang Kosong
66 LXV - Kabar Terakhir
67 LXVI - Yang Tersisa
68 LXVII - Jawaban
69 LXVIII - Rumah
Episodes

Updated 69 Episodes

1
I - Nama Itu, Lagi
2
II - Delapan Detik
3
III - Sebelum Badai
4
IV - Status yang Ditegaskan
5
V - Beban di Pundak Kirana
6
VI - Bantuan Diam-Diam
7
VII - Konfrontasi Pertama
8
VIII - Basah
9
IX - Luruh
10
X - Jarak yang Dipilih
11
XI - Yang Tak Terucap
12
XII - Satu Meja
13
XIII - Arsip Lama
14
XIV - Kalimat yang Tersimpan
15
XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16
XVI - Perang Kecil
17
XVII - Nama yang Hilang
18
XVIII - Dua Sisi
19
XIX - Tekanan
20
XX - Kesepakatan Tak Terduga
21
XXI - Ruang Terlarang
22
XXII - Pilihan Terakhir
23
Announcement
24
XXIII - Semua… Terbuka
25
XXIV - Kerapuhan
26
XXV - Bisikan yang Menyebar
27
XXVI - Jejak Digital
28
XXVII - Ujung Persahabatan
29
XXVIII - Memilih Sisi
30
XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31
XXX - Sorotan Tajam
32
XXXI - Ultimatum
33
XXXII - Foto yang Bocor
34
XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35
XXXIV - Terasing
36
XXXV - Rapat Darurat
37
XXXVI - Perlawanan
38
XXXVII - Pemungutan Suara
39
XXXVIII - Amplop Cokelat
40
XXXIX - Berdampingan
41
XL - Inisial B.S.
42
XLI - Broto Santoso
43
XLII - Foto Lama
44
XLIII - Menyelinap
45
XLIV - Satu Tujuan
46
XLV - Persiapan
47
XLVI - Terpojok
48
XLVII - Pengakuan Sebagian
49
XLVIII - Gugatan Resmi
50
XLIX - Kembalinya Valerie
51
L - Layar Kaca
52
LI - Ruang Sidang
53
LII - Yang Tercecer
54
LIII - Titik Tanpa Kembali
55
LIV - Di Bawah Sumpah
56
LV - Suara yang Tak Terduga
57
LVI - Yang Runtuh
58
LVII - Jalan Keluar
59
LVIII - Dua Vonis
60
LIX - Jeda
61
LX - Palu Terakhir
62
LXI - Satu Ruang
63
LXII - Pemimpin Baru
64
LXIII - Bocor
65
LXIV - Ruang Kosong
66
LXV - Kabar Terakhir
67
LXVI - Yang Tersisa
68
LXVII - Jawaban
69
LXVIII - Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!