Cinta Lama, Dendam Baru

Cinta Lama, Dendam Baru

I - Nama Itu, Lagi

TING!!!

Ada notifikasi masuk.

TING!!!

Satu notifikasi lagi

TING!!!

TING!!!

TING!!!

Notifikasi itu datang berturut-turut sampai layar ponsel Kirana Ayu Pradipta menyala tanpa jeda di atas meja kerjanya. Ia sedang mengecek ulang anggaran proyek untuk ketiga kalinya pagi itu, pena terselip di antara bibirnya, ketika akhirnya menyerah dan meraih ponselnya.

Kirana,

KITA MASUK FINAL!!

Cakra Investindo bilang proposal kita paling unggul…

Kita ngalahin semua kandidat lain.

TERMASUK WIBOWO GROUP!!

Gila banget!

Ia membaca pesan dari Nadia itu dua kali. Kemudian bangkit, hampir menabrak kursinya sendiri, dan berlari kecil menyusuri lorong menuju ruang kerja Nadia yang hanya berjarak lima pintu dari ruangannya.

"Lu serius?" Kirana menerobos masuk tanpa mengetuk.

Nadia sudah berdiri dari kursinya, senyumannya nyaris merobek mulutnya saking senangnya. "Serius, Kir! Mereka telepon lima menit lalu. Proposal kita masuk final. Kita bakal lawan Wibowo Group. WIBOWO GROUP, Kirana!"

Lima tahun sejak Kirana mendirikan Cipta Prada Land, dari ruko sempit di Bintaro, bermodal tabungan pribadi dan nekat yang jauh lebih besar dari akal sehatnya. Lima tahun sejak orang-orang menatapnya sebelah mata setiap kali ia bilang mau bersaing di industri yang dikuasai oleh nama-nama besar. Dan sekarang, dari puluhan kandidat, perusahaannya lolos ke final proyek revitalisasi kawasan pesisir terbesar tahun ini — berhadapan langsung dengan salah satu konglomerat properti paling berkuasa di Jakarta.

Ia harusnya melompat kegirangan seperti Nadia. Tapi satu nama mengganjal di tenggorokannya, menahan semua kesenangan itu.

"Wibowo Group," Kirana mengulang pelan, mencoba membiasakan mulutnya dengan nama itu lagi. "Siapa yang mimpin sekarang? Terakhir gua denger, Pak Hartono masih pegang kendali, ya?”

Nadia meraih laptopnya, mengetik cepat. "Setahu gua udah diserahin ke anaknya beberapa tahun lalu." Ia diam sebentar, membaca layar, lalu mendongak. "Raditya Alamsyah Wibowo. Kemungkinan besar dia yang bakal hadir langsung buat presentasi final minggu depan."

Untuk sepersekian detik, ruangan itu terasa kehilangan udara.

Raditya.

Dulu, ia selalu memanggilnya dengan "Radit" — dua suku kata yang dulu terasa seperti rumah, sebelum berubah jadi sesuatu yang harus ia kubur dalam-dalam. Tujuh tahun ia meyakinkan diri bahwa nama itu sudah kehilangan kekuatannya. Bahwa ia sudah membangun hidup baru, tidak bergantung pada pria yang pergi tanpa satu kalimat perpisahan yang layak.

Ternyata ia salah. Nama itu masih bisa membuat lututnya lemas.

"Kirana?" Suara Nadia berubah waswas. "Lu kenapa pucat gitu?"

"Nggak apa-apa." Kirana menarik napas, memaksa suaranya tetap datar. "Cuma kaget. Gua kenal sama dia. Radit. Dulu."

Nadia duduk kembali, matanya menyipit curiga. "Kenal gimana maksudnya?"

"Kita pernah pacaran," Kirana melanjutkan, kalimat yang belum pernah ia ucapkan dengan lantang pada siapa pun sejak bertahun-tahun lalu. "Semasa kuliah. Bisa dibilang, hubungan kami cukup serius. Sampai suatu hari dia mutusin gua tanpa penjelasan, dan gua nggak pernah ketemu dia lagi sejak itu."

Nadia terdiam. Sahabatnya yang biasanya selalu punya komentar untuk segala hal, kali ini kehabisan kata selama beberapa detik.

"Jadi," katanya akhirnya, hati-hati, "perusahaan yang bakal kita lawan minggu depan… sekarang dipimpin sama mantan pacar lu. Kalian bakal berhadapan langsung, berebut proyek yang sama, di depan seluruh dewan investor."

Kirana tertawa kecil, lebih mirip hembusan napas daripada tawa sungguhan. "Kayaknya begitu."

"Astaga, Kirana." Nadia menggeleng, antara tidak percaya dan geli. "Dari semua perusahaan properti di Jakarta, kenapa harus yang itu?"

"Gua juga nggak tahu." Kirana menoleh ke jendela, ke deretan gedung tinggi di kejauhan. Salah satunya adalah markas Wibowo Group — gedung yang sudah ratusan kali ia lewati tanpa pernah kepikiran siapa yang duduk di lantai tertingginya. "Tapi ini kerasa… bukan kebetulan biasa."

"Kalau gitu," Nadia berkata, nada suaranya berubah tegas, "lu harus siapin presentasi terbaik yang pernah kita bikin. Bukan cuma buat menang tender. Tapi biar lu bisa buktiin ke diri sendiri, dan mungkin ke dia, kalau lu sekarang jauh lebih kuat dari tujuh tahun lalu."

Kata-kata itu menohok tenggorokan Kirana. Nadia benar. Ini bukan lagi cuma soal memenangkan tender.

"Lu bener," kata Kirana, Kembali dengan ketegasan yang biasa jadi ciri khasnya. "Kita bikin ini sebaik mungkin. Bukan cuma buat ngalahin Wibowo Group. Tapi buat buktiin Cipta Prada Land pantas berdiri sejajar sama nama sebesar mereka."

Nadia tersenyum lega. "Nah, gitu dong. Ini Baru Kirana yang gua kenal."

"Tapi serius," Kirana menambahkan, setengah bercanda, setengah tidak, "kalau di ruang presentasi nanti gua tiba-tiba diam kayak orang linglung, lu yang lanjutin ngomong, ya. Jangan biarin gua berdiri di sana kayak patung."

"Sejak kapan lu linglung gara-gara cowok?" Nadia menyeringai jahil.

"Ini bukan soal cowok biasa, Nad." Kirana melempar bantalan sofa kecil ke arah sahabatnya, meski senyum tipis akhirnya lolos juga di sudut bibirnya. "Ini soal orang yang ninggalin gua tanpa kabar tujuh tahun lalu, terus tiba-tiba nongol lagi sebagai lawan bisnis paling berat yang pernah gua hadapin."

"Kalau gitu," Nadia berkata, mengetuk-ngetuk pena ke meja, "anggap aja ini kesempatan lu buat nunjukin ke dia apa yang udah dia lewatin."

...****************...

Mereka menghabiskan sisa hari itu menyusun kerangka presentasi, mendebat proyeksi anggaran, merombak beberapa elemen desain sampai lupa jam makan siang. Tapi di sela kesibukan itu, sesekali Kirana mendapati dirinya berhenti, kehilangan alur pikiran, matanya kosong menatap satu titik yang tidak ada ujungnya.

"Lu ngelamun lagi," Nadia menegur, menyodorkan draf anggaran yang perlu paraf.

"Maaf." Kirana buru-buru meraih pena. "Kepikiran hal lain."

Menjelang sore, Dimas mampir ke ruang kerjanya, membawa dua gelas kopi dan senyum lebar yang sudah menular dari lantai bawah.

"Denger-denger kita masuk final." Ia menaruh salah satu gelas di meja Kirana, lalu duduk di kursi seberang tanpa diminta, kebiasaan yang sudah bertahan sejak mereka merintis perusahaan ini berdua dari nol. "Gila, Kir. Lu tahu ini artinya apa buat kita?"

"Gua tahu." Kirana menerima kopi itu, menghangatkan telapak tangannya. "Lawan kita Wibowo Group."

"Nama besar." Dimas bersiul pelan. "Tapi bukan berarti kita nggak bisa menang. Lu udah buktiin banyak hal yang orang bilang mustahil selama lima tahun ini." Ia memperhatikan wajah Kirana lebih lama dari biasanya. "Tapi kenapa muka lu kayak abis ketemu hantu?"

Kirana nyaris tersedak kopinya sendiri. "Nggak ada apa-apa."

"Kir." Dimas menyipitkan mata, nada suaranya melunak. "Gua kenal lu. Ada sesuatu."

"Cuma capek," Kirana berkata cepat, memilih untuk mengalihkan pembicaraan. "Banyak yang harus disiapin minggu ini."

Dimas tidak mendesak, meski matanya masih menyimpan pertanyaan yang belum terjawab. "Kalau butuh apa-apa, bilang aja," katanya sebelum berdiri, menepuk pelan bahu meja Kirana. "Kita hadapin ini bareng-bareng, kayak biasa."

Ia pergi meninggalkan pintu terbuka, dan Kirana menghela napas panjang begitu langkahnya menghilang di lorong. Satu orang lagi yang harus ia yakinkan bahwa semuanya baik-baik saja.

Bukan cuma Dimas. Sepanjang sore, "hal lain" yang membuatnya berkali-kali kehilangan alur pikiran itu tak lain adalah wajah Radit di kafe kecil dekat kampus, tujuh tahun lalu, mengucapkan dua kata yang masih menghantuinya sampai sekarang.

Kita selesai.

Tanpa penjelasan. Tanpa kesempatan bertanya. Tanpa satu pun jawaban yang bisa membantunya memahami apa yang sebenarnya terjadi saat itu.

Ia tidak pernah benar-benar tahu alasannya. Yang ia tahu, hidupnya berubah setelah kejadian itu. Bukan cuma kehilangan Radit, tapi tak lama kemudian bisnis ayahnya mulai goyah, lalu runtuh dalam waktu kurang dari setahun. Ibunya, Sulastri, terpaksa melepas satu per satu aset keluarga cuma untuk bertahan hidup.

Kirana tidak pernah menghubungkan dua peristiwa itu — sampai suatu hari ia tanpa sengaja menemukan dokumen lama peninggalan ayahnya yang menyebut nama "Wibowo" dalam konteks yang ia tidak pahami.

Ia menyimpan pikiran itu lagi, mengunci di sudut kepalanya seperti biasa. Belum waktunya. Yang ia butuhkan sekarang cuma fokus.

...****************...

Malam itu, di apartemennya, Kirana duduk di sofa dengan laptop di pangkuan, seharusnya merapikan slide terakhir. Alih-alih, jarinya berhenti di kolom pencarian, mengetik satu nama.

Raditya Alamsyah Wibowo.

Halaman "Tentang Kami" yang ada di website Wibowo Group terbuka lebih cepat dari yang ia duga. Foto profesional, jas gelap, ekspresi yang jauh lebih dingin dari yang pernah ia kenal. Rahangnya lebih tegas. Sorot matanya tidak lagi punya kehangatan yang dulu selalu ia cari setiap kali mereka berdua duduk berdua di atap gedung fakultas.

Ia scroll halaman website itu ke bawah, membaca profil singkat — prestasi, ekspansi bisnis, kutipan tentang visinya. Tidak ada satu kalimat pun tentang siapa dia sebelumnya. Tidak ada jejak mahasiswa Manajemen Bisnis yang dulu rela menerobos hujan cuma demi menemani Kirana beli es krim.

Orang di foto itu asing. Tapi tatapan itu, satu detik sebelum ia menutup laptop, masih terasa persis seperti yang ia ingat.

Kirana menutup layar laptopnya dengan cepat, di dalam hatinya, ia berharap bisa mematikan kenangan semudah menutup layar laptop.

Ia berdiri, berjalan ke kamar mandi, berhenti lama di depan cermin. Perempuan yang menatap dari balik cermin sudah jauh berbeda dari gadis yang dulu menangis semalaman di kamar kos, bertanya-tanya apa yang salah dari dirinya hingga orang yang begitu ia cintai bisa pergi begitu saja tanpa menoleh lagi.

Perempuan itu sudah belajar untuk berdiri sendiri. Sudah belajar membangun sesuatu dari reruntuhan tanpa pertolongan dari siapa pun.

Tapi ketika ia memejamkan mata malam itu, satu pertanyaan menolak pergi, berputar terus di kepalanya seperti lagu yang tak bisa ia matikan.

Apakah tujuh tahun benar-benar cukup untuk membuatnya berhenti mencintai Raditya Wibowo?

Ia tidak tahu jawabannya.

Belum.

Minggu depan, ia akan berdiri di hadapan pria itu lagi. Bukan sebagai kekasih yang dulu berbagi mimpi di atap gedung kampus, tapi sebagai rival yang harus ia kalahkan — dan entah kenapa, pikiran itu justru membuat jantungnya berdebar lebih kencang daripada rasa takut kalah tender.

Terpopuler

Comments

Arni Arlinawati pratiwi

Arni Arlinawati pratiwi

lah malah jadi musuh, saingan kerjaan

2026-07-29

1

Arni Arlinawati pratiwi

Arni Arlinawati pratiwi

semangat anak ku sayang..

2026-07-20

3

yolan

yolan

semngat Kirana, semoga Kamu yang dapat tender /Determined/

2026-07-26

1

lihat semua
Episodes
1 I - Nama Itu, Lagi
2 II - Delapan Detik
3 III - Sebelum Badai
4 IV - Status yang Ditegaskan
5 V - Beban di Pundak Kirana
6 VI - Bantuan Diam-Diam
7 VII - Konfrontasi Pertama
8 VIII - Basah
9 IX - Luruh
10 X - Jarak yang Dipilih
11 XI - Yang Tak Terucap
12 XII - Satu Meja
13 XIII - Arsip Lama
14 XIV - Kalimat yang Tersimpan
15 XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16 XVI - Perang Kecil
17 XVII - Nama yang Hilang
18 XVIII - Dua Sisi
19 XIX - Tekanan
20 XX - Kesepakatan Tak Terduga
21 XXI - Ruang Terlarang
22 XXII - Pilihan Terakhir
23 Announcement
24 XXIII - Semua… Terbuka
25 XXIV - Kerapuhan
26 XXV - Bisikan yang Menyebar
27 XXVI - Jejak Digital
28 XXVII - Ujung Persahabatan
29 XXVIII - Memilih Sisi
30 XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31 XXX - Sorotan Tajam
32 XXXI - Ultimatum
33 XXXII - Foto yang Bocor
34 XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35 XXXIV - Terasing
36 XXXV - Rapat Darurat
37 XXXVI - Perlawanan
38 XXXVII - Pemungutan Suara
39 XXXVIII - Amplop Cokelat
40 XXXIX - Berdampingan
41 XL - Inisial B.S.
42 XLI - Broto Santoso
43 XLII - Foto Lama
44 XLIII - Menyelinap
45 XLIV - Satu Tujuan
46 XLV - Persiapan
47 XLVI - Terpojok
48 XLVII - Pengakuan Sebagian
49 XLVIII - Gugatan Resmi
50 XLIX - Kembalinya Valerie
51 L - Layar Kaca
52 LI - Ruang Sidang
53 LII - Yang Tercecer
54 LIII - Titik Tanpa Kembali
55 LIV - Di Bawah Sumpah
56 LV - Suara yang Tak Terduga
57 LVI - Yang Runtuh
58 LVII - Jalan Keluar
59 LVIII - Dua Vonis
60 LIX - Jeda
61 LX - Palu Terakhir
62 LXI - Satu Ruang
63 LXII - Pemimpin Baru
64 LXIII - Bocor
65 LXIV - Ruang Kosong
66 LXV - Kabar Terakhir
67 LXVI - Yang Tersisa
68 LXVII - Jawaban
69 LXVIII - Rumah
Episodes

Updated 69 Episodes

1
I - Nama Itu, Lagi
2
II - Delapan Detik
3
III - Sebelum Badai
4
IV - Status yang Ditegaskan
5
V - Beban di Pundak Kirana
6
VI - Bantuan Diam-Diam
7
VII - Konfrontasi Pertama
8
VIII - Basah
9
IX - Luruh
10
X - Jarak yang Dipilih
11
XI - Yang Tak Terucap
12
XII - Satu Meja
13
XIII - Arsip Lama
14
XIV - Kalimat yang Tersimpan
15
XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16
XVI - Perang Kecil
17
XVII - Nama yang Hilang
18
XVIII - Dua Sisi
19
XIX - Tekanan
20
XX - Kesepakatan Tak Terduga
21
XXI - Ruang Terlarang
22
XXII - Pilihan Terakhir
23
Announcement
24
XXIII - Semua… Terbuka
25
XXIV - Kerapuhan
26
XXV - Bisikan yang Menyebar
27
XXVI - Jejak Digital
28
XXVII - Ujung Persahabatan
29
XXVIII - Memilih Sisi
30
XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31
XXX - Sorotan Tajam
32
XXXI - Ultimatum
33
XXXII - Foto yang Bocor
34
XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35
XXXIV - Terasing
36
XXXV - Rapat Darurat
37
XXXVI - Perlawanan
38
XXXVII - Pemungutan Suara
39
XXXVIII - Amplop Cokelat
40
XXXIX - Berdampingan
41
XL - Inisial B.S.
42
XLI - Broto Santoso
43
XLII - Foto Lama
44
XLIII - Menyelinap
45
XLIV - Satu Tujuan
46
XLV - Persiapan
47
XLVI - Terpojok
48
XLVII - Pengakuan Sebagian
49
XLVIII - Gugatan Resmi
50
XLIX - Kembalinya Valerie
51
L - Layar Kaca
52
LI - Ruang Sidang
53
LII - Yang Tercecer
54
LIII - Titik Tanpa Kembali
55
LIV - Di Bawah Sumpah
56
LV - Suara yang Tak Terduga
57
LVI - Yang Runtuh
58
LVII - Jalan Keluar
59
LVIII - Dua Vonis
60
LIX - Jeda
61
LX - Palu Terakhir
62
LXI - Satu Ruang
63
LXII - Pemimpin Baru
64
LXIII - Bocor
65
LXIV - Ruang Kosong
66
LXV - Kabar Terakhir
67
LXVI - Yang Tersisa
68
LXVII - Jawaban
69
LXVIII - Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!