III - Sebelum Badai

Tiga malam berturut-turut sejak presentasi final, Kirana masih terjaga di jam dua pagi, duduk di tepi jendela apartemennya, menatap lampu-lampu Jakarta yang berkelip di kejauhan.

Malam pertama, ia menyalahkan kafein — terlalu banyak kopi selama menyusun presentasi. Malam kedua, ia menyalahkan kecemasan menunggu keputusan investor. Tapi malam ketiga ini, ia sudah kehabisan alasan untuk berbohong pada dirinya sendiri.

Bukan cuma soal keputusan investor yang masih harus ditunggu beberapa hari lagi. Tapi wajah Radit. Tatapan itu terus memutar ulang kenangan yang sudah bertahun-tahun ia kunci rapat-rapat, satu per satu, seolah kunci yang ia pasang dulu sudah rapuh dan longgar.

Ia menyerah melawan pikirannya sendiri, menyandarkan kepala ke kaca jendela yang dingin. Di apartemen sebelah, lampu milik seseorang di ruangan itu baru saja dipadamkan. Jakarta tidak pernah benar-benar tidur, dan malam ini, Kirana juga tidak.

Dan di sanalah, di tengah keheningan itu, kenangan itu akhirnya menang.

...****************...

Tujuh tahun lalu.

Kirana bertemu Radit pertama kali di perpustakaan kampus, semester dua, tahun pertamanya menempuh pendidikan S1 Arsitektur. Ia sedang berjuang menyelesaikan tugas maket yang berantakan, dikelilingi potongan karton dan lem yang menempel di mana-mana, termasuk di rambutnya sendiri tanpa ia sadari.

"Kalau begini caranya, bangunannya bakal roboh sebelum sempat dipresentasikan."

Suara itu terdengar begitu percaya diri sampai Kirana merasa pemiliknya sangat menyebalkan. Ia menoleh, siap membalas dengan sindiran setara, tapi kata-katanya tertahan begitu melihat siapa yang bicara. Mahasiswa Manajemen Bisnis yang sering ia lihat sedang berlalu-lalang di kampus, selalu rapi, dan sedikit terlalu serius untuk ukuran mahasiswa semester dua.

"Lu tahu apa soal maket arsitektur?"

"Nggak banyak," jawab pria itu santai, ia menarik kursi dan duduk di kursi kosong di Seberang Kirana tanpa diundang. "Tapi gua tahu banyak soal struktur bangunan yang kuat. Dan ini —" ia menunjuk maket Kirana yang mulai miring, "— jelas nggak akan bisa bertahan."

Kirana menatapnya tajam, tapi tak bisa menahan senyum kecil di ujung bibirnya. "Baiklah, Pak Ahli Struktur. Bantuin gua, dong."

Begitulah semuanya dimulai. Tantangan kecil berubah jadi obrolan panjang sampai perpustakaan tutup, berlanjut keesokan harinya, dan hari-hari sesudahnya, sampai Kirana sadar ia mulai mencari alasan untuk berada di perpustakaan yang sama, jam yang sama, cuma untuk melihat apakah Raditya Alamsyah Wibowo akan muncul lagi.

Dan ia selalu muncul.

Radit, yang di kampus dikenal dingin dan sulit didekati — sikap warisan ayahnya yang selalu menuntut kesempurnaan — ternyata punya sisi lain yang cuma ia tunjukkan pada segelintir orang yang benar-benar ia percaya. Radit yang tertawa lepas saat mereka menerobos hujan tanpa payung, cuma karena Kirana bersikeras mau beli es krim di seberang jalan. Radit yang rela menghabiskan berjam-jam mendengarkan mimpi Kirana membangun perusahaan arsitektur sendiri.

Kencan pertama mereka bahkan bukan kencan yang direncanakan. Radit muncul di depan studio arsitektur Kirana jam sepuluh malam, membawa dua bungkus nasi goreng dan alasan konyol soal "kebetulan lewat", padahal studio itu terletak jauh dari gedung fakultasnya. Mereka makan sambil duduk di lantai koridor kampus, membicarakan segala hal, sampai satpam kampus mengusir mereka pulang menjelang tengah malam.

Sejak itu, "kebetulan lewat" jadi alasan tetap Radit setiap kali ia rindu, dan Kirana selalu berpura-pura untuk percaya.

Farrel, sahabat Radit sejak semester satu, adalah orang pertama yang tahu soal mereka berdua — Radit tertangkap basah saat Farrel mengikuti Radit ke studio arsitektur di suatu malam, penasaran dengan apa yang sahabatnya lakukan selama beberapa malam belakangan, dan ia mendapati sahabatnya itu duduk bersila di lantai koridor, menyuapi Kirana dengan sendok yang sama.

"Akhirnya," katanya waktu itu, menahan tawa, "gua kira lu bakal mati sendirian, kerja terus tanpa istirahat, Dit." Sejak itu Farrel jadi semacam saksi bagi hubungan mereka, orang yang selalu tahu kapan harus muncul dan kapan harus menghilang.

Nadia pun begitu — satu-satunya sahabat Kirana yang tahu detail hubungan itu sejak awal, yang selalu siap sedia dengan camilan setiap kali Kirana pulang dari kencan sambil bercerita panjang lebar tentang Radit, seolah dunia mereka berdua adalah dunia paling menarik yang pernah ada.

"Suatu hari," Radit pernah bilang, mereka berdua duduk di atap gedung fakultas yang jarang dikunjungi orang, "aku pengen lihat kamu membangun sesuatu yang benar-benar besar. Yang orang-orang masih inget namanya bertahun-tahun kemudian."

"Kamu sendiri?" Kirana bertanya, kepala bersandar di bahunya. "Kalau kamu, apa yang kamu mau?"

Radit terdiam, matanya menerawang ke cakrawala kota yang berkilau. "Aku pengin jadi orang yang beda dari ayahku," jawabnya, suaranya lebih pelan. "Dia ngajarin aku bahwa semuanya soal kendali, soal kekuasaan. Tapi aku nggak mau hidup kayak gitu. Aku mau membangun sesuatu bareng kamu, Kirana."

Kata-kata itu, malam itu, terasa seperti janji yang begitu tulus. Mereka bicara soal masa depan seolah itu sudah pasti milik mereka. Menikah setelah lulus kuliah. Rumah kecil yang akan mereka desain sendiri. Perusahaan yang akan mereka bangun bersama. Dan Kirana percaya pada janji-janji itu.

Sampai suatu sore di bulan Oktober, tepat setelah mereka merayakan satu tahun hubungan dengan makan malam sederhana di kafe kecil dekat kampus, semuanya berubah dalam hitungan menit.

Mereka sedang tertawa membicarakan rencana liburan akhir tahun, tangan bertautan di atas meja, ketika layar ponsel Radit menyala menampilkan satu nama.

Ayah.

Radit, yang biasanya membiarkan panggilan ayahnya masuk kotak suara kalau sedang bersama Kirana, kali ini justru langsung mengangkatnya.

"Ayah?" Suaranya masih ringan, tapi Kirana melihat bahunya mulai menegang seiring detik berlalu.

Kirana tidak bisa dengar apa yang dikatakan ayah Radit di ujung telepon, cuma suara samar yang tegas, cepat, tak memberi ruang untuk dibantah. Wajah Radit berubah. Dari tegang, jadi pucat, lalu jadi sesuatu yang lebih mengerikan — kosong.

"Baik," Radit akhirnya berkata, suaranya begitu pelan, jauh berbeda dari nada bicaranya beberapa menit lalu. "Aku pulang sekarang."

Ia menutup telepon, menatap layar lama.

"Radit?" Kirana meraih tangannya. "Ada apa? Kamu pucat banget."

Radit menatapnya, dan untuk sepersekian detik Kirana melihat sesuatu di mata itu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Ketakutan yang begitu dalam, bercampur sesuatu yang terasa seperti perpisahan — meski saat itu Kirana belum paham maknanya.

"Nggak apa-apa," Radit berkata, meski suaranya sendiri terdengar tidak meyakinkan. "Ayahku butuh aku pulang sekarang. Ada urusan bisnis mendadak."

"Sekarang banget? Malam-malam begini?"

"Iya." Radit berdiri, mengambil jaketnya dengan gerakan yang terlihat terlalu buru-buru untuk sekadar urusan bisnis biasa. Ia mencium kening Kirana — ciuman yang terasa berbeda, lebih lama, lebih berat. "Aku telepon kamu besok, oke?"

Kirana mengangguk, meski ada yang mengganjal di dadanya. Firasat buruk yang tidak bisa ia jelaskan, tapi cukup kuat untuk membuatnya menahan lengan Radit sedikit lebih lama sebelum melepasnya pergi.

Radit tidak menghubunginya keesokan harinya. Atau hari sesudahnya.

Kirana menghabiskan minggu itu dengan ponsel selalu dalam genggaman, memeriksa layar setiap beberapa menit meski ia tahu tidak ada notifikasi baru. Ia mengirim pesan singkat di hari kedua.

Kamu baik-baik aja?

Pesan itu dibaca oleh penerimanya, tapi tidak pernah dibalas.

Di hari ketiga, ia menelepon Nadia, satu-satunya orang yang tahu sesuatu sedang tidak beres, meski Kirana sendiri belum bisa menjelaskan apa yang tidak beres.

"Mungkin dia lagi sibuk banget," Nadia berusaha menenangkan waktu itu, meski suaranya sendiri tidak terlalu yakin. "Keluarga bisnis kayak gitu kan urusannya nggak sesederhana keluarga kita, Kir."

Kirana ingin percaya itu. Tapi firasat yang menahannya di malam kepergian Radit belum juga hilang, malah semakin berat setiap hari yang berlalu tanpa kabar.

Ketika akhirnya mereka bertemu lagi, seminggu kemudian, di kafe kecil yang sama, Radit sudah menjadi orang yang berbeda. Jauh lebih dingin. Ia memasang tembok yang sangat tinggi hingga Kirana tak bisa lagi menemukan pria yang pernah berbagi mimpi dengannya di atap gedung fakultas itu.

"Kita selesai," Radit berkata, tanpa penjelasan, tanpa memberi Kirana kesempatan untuk bertanya lebih jauh.

Dua kata itu, begitu singkat, menghancurkan segala yang pernah mereka bangun bersama.

...****************...

Kirana membuka mata. Air matanya sudah mengalir tanpa ia sadari, membasahi pipinya.

Tujuh tahun sudah berlalu, dan kenangan itu masih bisa membuatnya menangis. Bukan cuma karena kehilangan cinta yang begitu tulus, tapi karena satu pertanyaan yang tak pernah ia temukan jawabannya masih menghantuinya sampai sekarang.

Apa sebenarnya yang dikatakan oleh Hartono Wibowo pada anaknya malam itu, sehingga bisa begitu cepat mengubah seorang pria penuh mimpi jadi seseorang yang begitu dingin, hingga rela mengucapkan dua kata yang menghancurkan segalanya tanpa penjelasan sedikit pun?

Ia pernah mencoba mencari tahu, bertahun-tahun lalu. Menelepon nomor Radit yang lama sampai nomor itu tidak aktif lagi. Mendatangi kantor lama Wibowo Group, hanya untuk diberi tahu resepsionis bahwa Radit sedang di luar negeri untuk urusan bisnis yang tidak jelas kapan selesainya. Setelah percobaan ketiga yang berakhir sama, ia berhenti untuk mencoba, memilih membangun tembok sendiri yang sama tingginya dengan tembok yang Radit bangun malam itu.

Kirana menyeka air matanya, menatap keluar jendela, ke arah gedung Wibowo Group yang menjulang di kejauhan, lampu-lampunya masih menyala meski jam sudah menunjukkan jam empat pagi. Entah siapa yang masih terjaga di sana sampai sepagi ini.

Ia menutup tirai, mematikan lampu, dan mencoba sekali lagi memejamkan mata meski tahu tidur tidak akan datang menjemputnya malam ini.

Terpopuler

Comments

Arni Arlinawati pratiwi

Arni Arlinawati pratiwi

udah dit.. balikan lagi jug, /Tongue/

2026-08-02

0

MayAyunda

MayAyunda

cerita bagus aku suka

2026-08-07

0

ciber ara

ciber ara

kebetulan atau kebetulann?

2026-07-25

1

lihat semua
Episodes
1 I - Nama Itu, Lagi
2 II - Delapan Detik
3 III - Sebelum Badai
4 IV - Status yang Ditegaskan
5 V - Beban di Pundak Kirana
6 VI - Bantuan Diam-Diam
7 VII - Konfrontasi Pertama
8 VIII - Basah
9 IX - Luruh
10 X - Jarak yang Dipilih
11 XI - Yang Tak Terucap
12 XII - Satu Meja
13 XIII - Arsip Lama
14 XIV - Kalimat yang Tersimpan
15 XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16 XVI - Perang Kecil
17 XVII - Nama yang Hilang
18 XVIII - Dua Sisi
19 XIX - Tekanan
20 XX - Kesepakatan Tak Terduga
21 XXI - Ruang Terlarang
22 XXII - Pilihan Terakhir
23 Announcement
24 XXIII - Semua… Terbuka
25 XXIV - Kerapuhan
26 XXV - Bisikan yang Menyebar
27 XXVI - Jejak Digital
28 XXVII - Ujung Persahabatan
29 XXVIII - Memilih Sisi
30 XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31 XXX - Sorotan Tajam
32 XXXI - Ultimatum
33 XXXII - Foto yang Bocor
34 XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35 XXXIV - Terasing
36 XXXV - Rapat Darurat
37 XXXVI - Perlawanan
38 XXXVII - Pemungutan Suara
39 XXXVIII - Amplop Cokelat
40 XXXIX - Berdampingan
41 XL - Inisial B.S.
42 XLI - Broto Santoso
43 XLII - Foto Lama
44 XLIII - Menyelinap
45 XLIV - Satu Tujuan
46 XLV - Persiapan
47 XLVI - Terpojok
48 XLVII - Pengakuan Sebagian
49 XLVIII - Gugatan Resmi
50 XLIX - Kembalinya Valerie
51 L - Layar Kaca
52 LI - Ruang Sidang
53 LII - Yang Tercecer
54 LIII - Titik Tanpa Kembali
55 LIV - Di Bawah Sumpah
56 LV - Suara yang Tak Terduga
57 LVI - Yang Runtuh
58 LVII - Jalan Keluar
59 LVIII - Dua Vonis
60 LIX - Jeda
61 LX - Palu Terakhir
62 LXI - Satu Ruang
63 LXII - Pemimpin Baru
64 LXIII - Bocor
65 LXIV - Ruang Kosong
66 LXV - Kabar Terakhir
67 LXVI - Yang Tersisa
68 LXVII - Jawaban
69 LXVIII - Rumah
Episodes

Updated 69 Episodes

1
I - Nama Itu, Lagi
2
II - Delapan Detik
3
III - Sebelum Badai
4
IV - Status yang Ditegaskan
5
V - Beban di Pundak Kirana
6
VI - Bantuan Diam-Diam
7
VII - Konfrontasi Pertama
8
VIII - Basah
9
IX - Luruh
10
X - Jarak yang Dipilih
11
XI - Yang Tak Terucap
12
XII - Satu Meja
13
XIII - Arsip Lama
14
XIV - Kalimat yang Tersimpan
15
XV - Pilihan di Lorong Rumah Sakit
16
XVI - Perang Kecil
17
XVII - Nama yang Hilang
18
XVIII - Dua Sisi
19
XIX - Tekanan
20
XX - Kesepakatan Tak Terduga
21
XXI - Ruang Terlarang
22
XXII - Pilihan Terakhir
23
Announcement
24
XXIII - Semua… Terbuka
25
XXIV - Kerapuhan
26
XXV - Bisikan yang Menyebar
27
XXVI - Jejak Digital
28
XXVII - Ujung Persahabatan
29
XXVIII - Memilih Sisi
30
XXIX - Harga Sebuah Pilihan
31
XXX - Sorotan Tajam
32
XXXI - Ultimatum
33
XXXII - Foto yang Bocor
34
XXXIII - Konferensi Pers Kedua
35
XXXIV - Terasing
36
XXXV - Rapat Darurat
37
XXXVI - Perlawanan
38
XXXVII - Pemungutan Suara
39
XXXVIII - Amplop Cokelat
40
XXXIX - Berdampingan
41
XL - Inisial B.S.
42
XLI - Broto Santoso
43
XLII - Foto Lama
44
XLIII - Menyelinap
45
XLIV - Satu Tujuan
46
XLV - Persiapan
47
XLVI - Terpojok
48
XLVII - Pengakuan Sebagian
49
XLVIII - Gugatan Resmi
50
XLIX - Kembalinya Valerie
51
L - Layar Kaca
52
LI - Ruang Sidang
53
LII - Yang Tercecer
54
LIII - Titik Tanpa Kembali
55
LIV - Di Bawah Sumpah
56
LV - Suara yang Tak Terduga
57
LVI - Yang Runtuh
58
LVII - Jalan Keluar
59
LVIII - Dua Vonis
60
LIX - Jeda
61
LX - Palu Terakhir
62
LXI - Satu Ruang
63
LXII - Pemimpin Baru
64
LXIII - Bocor
65
LXIV - Ruang Kosong
66
LXV - Kabar Terakhir
67
LXVI - Yang Tersisa
68
LXVII - Jawaban
69
LXVIII - Rumah

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!