Pangeran Sampah

Hari-hari berlalu tanpa banyak perubahan dalam kehidupan Ash.

Bulan demi bulan berganti, lalu tahun demi tahun berlalu dengan ritme yang hampir selalu sama. Setelah mendapatkan kembali ingatan tentang kehidupan sebelumnya, ia sempat berpikir bahwa hidup barunya akan dipenuhi hal-hal luar biasa seperti yang sering muncul dalam cerita fantasi yang pernah ia baca.

Namun kenyataannya, sebagian besar waktunya justru diisi dengan rutinitas yang tenang dan cenderung membosankan.

Ash tidak terlalu keberatan dengan itu.

Sebagian besar waktunya ia habiskan di perpustakaan istana. Tempat itu perlahan menjadi ruang favoritnya. Rak-rak buku yang menjulang tinggi dan aroma kertas tua memberinya ketenangan yang sulit ia temukan di tempat lain. Di sanalah ia mempelajari dunia tempat ia kini hidup, mulai dari sejarah Kerajaan Astoria, geografi dunia luar, kisah para raja terdahulu, hingga teori dasar mengenai sihir dan mana.

Bagaimanapun juga, meski tubuhnya kini adalah milik seorang pangeran, jiwanya masih membawa kebiasaan lamanya sebagai seseorang yang selalu mencari jawaban melalui buku.

Di luar kegiatan membaca, Ash tetap menjalani pendidikan yang diwajibkan bagi keluarga kerajaan. Etika, politik, sejarah, hingga latihan pedang harus ia ikuti tanpa terkecuali.

Latihan pedang bukan sesuatu yang ia sukai, tetapi juga tidak ia benci. Ia memang tidak berbakat, namun setidaknya masih mampu mengimbangi latihan dasar.

Berbeda dengan sihir.

Tidak peduli seberapa banyak teori yang ia pelajari atau seberapa keras ia mencoba mengikuti arahan para pengajar, mana di dalam tubuhnya tidak pernah merespons.

Suatu sore, seorang guru sihir kembali menggeleng pelan setelah melihat Ash mencoba mengumpulkan mana.

"Cukup. Istirahatlah untuk hari ini Yang Mulia," ucapnya pelan tampak mengandung kekecewaan.

Ash menatap telapak tangannya yang tetap kosong.

"Maaf," balasnya lirih.

Guru itu menghela napas pelan dan berbicara pelan, "Aku sudah mengajari Anda selama bertahun-tahun, Yang Mulia. Jika tetap tidak ada perubahan..."

Kalimat itu menggantung.

Ash sudah tahu kelanjutannya.

Harapan mereka perlahan menghilang.

Baru saja ia melangkah keluar dari ruang latihan ketika suara tepuk tangan terdengar dari lorong.

"Hebat sekali."

Ash bahkan tidak perlu menoleh untuk mengenali suara itu.

Pangeran Cedric, kakak keduanya, berjalan mendekat bersama dua kakaknya yang lain.

"Masih gagal lagi?" tanya Cedric sambil tersenyum tipis. "Kudengar kau bahkan tidak bisa menyalakan percikan api," lanjutnya.

"Jangan terlalu keras padanya," sahut kakak sulungnya sambil terkekeh. "Bukankah adik kita memang spesial? Mana saja tidak mau mendekatinya."

Ketiganya tertawa pelan.

Ash hanya menundukkan kepala. "Aku masih akan terus berlatih," balasnya lirih.

"Berlatih?" Cedric mendengus. "Kalau memang tidak punya bakat, berlatih seratus tahun pun hasilnya tetap sama."

Saat Ash mencoba melewati mereka, Cedric sengaja menyenggol bahunya cukup keras hingga tubuh Ash kehilangan keseimbangan.

"Bahkan berjalan dengan benar saja tidak bisa," ejeknya.

Ketiga pangeran itu berlalu sambil tertawa kecil.

Ash mengusap bahunya yang terasa nyeri.

"Huft~ emang anak-anak bangsat yang cuma suka nindas orang lemah," gerutunya pelan.

Ia memilih berjalan menuju perpustakaan.

Melawan mereka hanya akan membuat keadaan menjadi lebih buruk.

Hal itu pernah ia coba beberapa tahun lalu.

Saat itu ia membalas ejekan kakaknya dengan satu kalimat. Akibatnya, latihan pedang hari itu berubah menjadi alasan bagi mereka untuk "memberinya pelajaran". Memar di tubuhnya baru benar-benar hilang hampir dua minggu kemudian.

Sejak saat itu Ash belajar satu hal.

Diam jauh lebih mudah.

Setidaknya rasa sakit karena ejekan akan lebih cepat berlalu dibandingkan jika ia mencoba melawan.

Meskipun begitu, bisikan para pelayan tetap terdengar di mana-mana.

"Itu Pangeran Ash."

"Pangeran yang tidak bisa memakai sihir."

"Kasihan Yang Mulia Raja..."

Ash berpura-pura tidak mendengar.

Ia terus berjalan hingga akhirnya tiba di perpustakaan, satu-satunya tempat di istana yang terasa seperti rumah baginya. Tempat ia bisa menenangkan diri dari lelahnya.

Setidaknya, sampai suatu malam ketika seluruh keluarga kerajaan berkumpul untuk makan malam bersama.

.

.

.

Malam itu, aula makan keluarga kerajaan dipenuhi cahaya lampu kristal yang menggantung megah di langit-langit. Meja makan panjang telah dipenuhi berbagai hidangan mewah, sementara para pelayan berdiri berjajar di sepanjang dinding, menunggu perintah dalam diam.

Seperti biasa, seluruh anggota keluarga kerajaan hadir.

Ash duduk di kursinya tanpa banyak bicara. Tangannya bergerak perlahan memotong daging di atas piring, sementara telinganya hanya menangkap potongan-potongan percakapan mengenai pajak wilayah utara, perdagangan dengan kerajaan tetangga, dan laporan para kesatria.

Topik-topik itu sudah sangat akrab baginya.

Ia memilih diam dan makan dengan tenang.

Suasana baru berubah ketika Raja Astoria meletakkan gelasnya.

"Ada satu hal yang perlu kita bicarakan," ucapnya dengan nada tenang.

Seluruh ruangan seketika menjadi hening.

Raja memandang satu per satu putra-putranya sebelum akhirnya berhenti pada Ash.

"Beberapa bulan lagi, kalian yang telah mencapai usia lima belas tahun akan mengikuti Upacara Vassal."

Ash mengangkat kepalanya.

Ia tentu mengetahui upacara itu.

Selama bertahun-tahun ia membaca berbagai buku yang menjelaskan sejarah Senjata Vassal. Setiap orang hanya memperoleh satu Senjata Vassal sepanjang hidupnya. Bentuknya berbeda-beda, mulai dari pedang, tombak, busur, perisai, hingga benda-benda yang bahkan tampak tidak cocok digunakan dalam pertempuran.

Tak seorang pun benar-benar memahami bagaimana pemilihannya bekerja.

Sebagian percaya bahwa itu adalah kehendak dunia.

Sebagian lagi meyakini bahwa para dewa memilih sendiri senjata yang paling sesuai dengan jiwa pemiliknya.

Namun satu hal tidak pernah berubah.

Semakin kuat Senjata Vassal yang diterima, semakin tinggi pula masa depan seseorang. Terlebih bagi anggota keluarga kerajaan.

Cedric kemudian melirik Ash. "Saat upacara nanti kurasa ada seseorang yang mungkin justru cocok mendapat sapu."

Tawa kecil terdengar.

Ash tetap menatap piringnya, ia sudah terbiasa mendengar ejekan dari para saudaranya.

"Jangan bersikap tidak sopan, Cedric," ujar Raja dengan nada datar.

Ruangan kembali sunyi.

Cedric segera menundukkan kepala. "Maaf, Ayah."

Meski ditegur, senyum tipis di wajahnya belum benar-benar menghilang.

Raja kemudian kembali menatap Ash. "Walaupun kau tidak bisa menggunakan sihir..."

Kalimat itu membuat Ash menggenggam garpu sedikit lebih erat.

"Setidaknya dapatkan Senjata Vassal yang kuat."

Tidak ada nada marah atau bentakan, namun juga tidak ada sedikit pun kehangatan seorang ayah. Kalimat itu terdengar lebih seperti harapan terakhir daripada sebuah dukungan.

Ash menundukkan kepala. "Ya, Ayah," balasnya lirih.

Hanya itu yang mampu ia ucapkan.

Pangeran ketiga menyandarkan tubuhnya ke kursi sambil berbisik pelan, cukup keras agar Ash mendengarnya.

"Kalau Vassal pun menolaknya, mungkin dia benar-benar tidak berguna."

Cedric tersenyum kecil. "Jangan bilang begitu. Siapa tahu dia mendapat sendok emas."

"Atau tongkat pel," sambung Pangeran ketiga.

Keduanya kembali tertawa pelan.

Ash mendengar semuanya. Namun ia tidak bereaksi. Ia hanya terus memotong makanan di piringnya seolah tidak terjadi apa-apa.

Di dalam hati, ia sudah terlalu lelah untuk merasa marah. Ia hanya ingin makan malam ini segera berakhir.

Beberapa saat kemudian, Raja kembali membahas urusan kerajaan, seolah percakapan sebelumnya hanyalah bagian kecil dari agenda makan malam.

Tak lama setelah jamuan selesai, Ash berdiri dan memberi hormat.

"Kalau begitu, izinkan aku kembali ke kamar," ucapnya pelan.

Raja hanya mengangguk singkat.

Ash berbalik meninggalkan aula makan tanpa menunggu siapa pun.

Baru ketika pintu besar itu tertutup di belakangnya, ia mengembuskan napas panjang.

"Capek banget rasanya... Padahal cuma makan malam, udah kayak rapat aja," keluhnya.

Ia tersenyum tipis, tetapi senyum itu segera menghilang.

Langkahnya membawanya menuju balkon kamarnya.

Di hadapannya, langit malam terbentang luas, dipenuhi ribuan bintang yang berkilauan. Entah mengapa, hanya saat memandang langit seperti ini ia merasa pikirannya sedikit lebih tenang.

"Upacara Vassal, ya..."

Ia menyandarkan kedua siku di pagar balkon.

"Aku benar-benar penasaran."

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan secercah harapan.

Mungkin... Upacara itu akan menjadi awal dari perubahan dalam hidupnya.

Episodes
1 Terlahir Kembali Sebagai Pangeran
2 Pangeran Sampah
3 Upacara Vassal
4 Dibuang
5 Bangkit Dari Kematian
6 Guru Para Pahlawan
7 Ujian Bintang
8 Trial Of Crux: The Darkest Night
9 Musuh Dunia
10 Pertarungan Di Pagi Hari
11 Manusia Zaman Mana Yang Mau Makan Begituan?!
12 Sesuatu Yang Kenyal
13 Identitas Baru
14 Soal Arah Mah Aman
15 Goa
16 Markas Sementara
17 Berlatih Sedikit
18 Sepertinya Anda Benar-benar Lupa
19 Menjelajahi Goa
20 Dungeon?
21 Astral Energi
22 Jangan Bilang
23 Aku Tetap Tidak Setuju
24 Kita Masih Terjebak
25 Hehe
26 Rumor
27 Trial Of Columba: The Flood's End #1
28 Trial Of Columba: The Flood's End #2
29 Trial Of Columba: The Flood's End #3
30 A-aku Cuma Mau Periksa Suhu Tubuhmu!
31 Keluar Dari Jurang
32 Asap Hitam Yang Mengepul
33 Jangan-jangan... Itu Kamu?
34 Siapa Kau Sebenarnya?!
35 Bantuan Asing
36 Lycoris Noctis Valebryn
37 Sayap Kedamaian
38 Aku Bukan Malaikat!
39 Pagi Yang Terasa Berbeda
40 Kita Pergi Yaa~
41 Kembali Ke Dungeon
42 Perasaan Nostalgia
43 Konstelasi Kuno
44 Pecahan
45 Tolong Teleportasi Aku Ke Tempat Lain
46 Kurasa Itu Benar...
47 Ilustrasi Dan Status Karakter
48 Menuju Kota
49 Kereta Rusak
50 Tolong Jangan Diingat
51 Perjalanan Menuju Kota Agna
52 Sergapan
53 Goblin Champion
54 Gerbang Kota
55 Kota Agna
56 Mendaftar Sebagai Petualang
57 Menatap Langit Malam
58 Di Mataku Sama-sama Hijau
59 Cuma Ngumpulin Tanaman Herbal Aja Ngeluh
60 Kau Akan Membayar Berapapun, Kan?
61 Kenapa...?
62 Dejavu
63 Menuju Desa Raben
64 Jembatan
65 Oh... Lu Nantangin, Ya?!
66 Pokoknya Kita Harus Sampai Ke Sana!
67 Kalo Berani, Coba Saja Menyeberang
68 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #1
69 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #2
70 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #3
71 Tertangkap Juga Kau!
72 Sampai Jumpa Lagi Kelinci Sialan!
73 Ketenangan Singkat Di Desa
74 Kembali Ke Kota Agna
75 Ah, Kalian!
76 Perjalanan Menuju Ibu Kota
77 Berkemah Di Bawah Langit Berbintang
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Terlahir Kembali Sebagai Pangeran
2
Pangeran Sampah
3
Upacara Vassal
4
Dibuang
5
Bangkit Dari Kematian
6
Guru Para Pahlawan
7
Ujian Bintang
8
Trial Of Crux: The Darkest Night
9
Musuh Dunia
10
Pertarungan Di Pagi Hari
11
Manusia Zaman Mana Yang Mau Makan Begituan?!
12
Sesuatu Yang Kenyal
13
Identitas Baru
14
Soal Arah Mah Aman
15
Goa
16
Markas Sementara
17
Berlatih Sedikit
18
Sepertinya Anda Benar-benar Lupa
19
Menjelajahi Goa
20
Dungeon?
21
Astral Energi
22
Jangan Bilang
23
Aku Tetap Tidak Setuju
24
Kita Masih Terjebak
25
Hehe
26
Rumor
27
Trial Of Columba: The Flood's End #1
28
Trial Of Columba: The Flood's End #2
29
Trial Of Columba: The Flood's End #3
30
A-aku Cuma Mau Periksa Suhu Tubuhmu!
31
Keluar Dari Jurang
32
Asap Hitam Yang Mengepul
33
Jangan-jangan... Itu Kamu?
34
Siapa Kau Sebenarnya?!
35
Bantuan Asing
36
Lycoris Noctis Valebryn
37
Sayap Kedamaian
38
Aku Bukan Malaikat!
39
Pagi Yang Terasa Berbeda
40
Kita Pergi Yaa~
41
Kembali Ke Dungeon
42
Perasaan Nostalgia
43
Konstelasi Kuno
44
Pecahan
45
Tolong Teleportasi Aku Ke Tempat Lain
46
Kurasa Itu Benar...
47
Ilustrasi Dan Status Karakter
48
Menuju Kota
49
Kereta Rusak
50
Tolong Jangan Diingat
51
Perjalanan Menuju Kota Agna
52
Sergapan
53
Goblin Champion
54
Gerbang Kota
55
Kota Agna
56
Mendaftar Sebagai Petualang
57
Menatap Langit Malam
58
Di Mataku Sama-sama Hijau
59
Cuma Ngumpulin Tanaman Herbal Aja Ngeluh
60
Kau Akan Membayar Berapapun, Kan?
61
Kenapa...?
62
Dejavu
63
Menuju Desa Raben
64
Jembatan
65
Oh... Lu Nantangin, Ya?!
66
Pokoknya Kita Harus Sampai Ke Sana!
67
Kalo Berani, Coba Saja Menyeberang
68
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #1
69
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #2
70
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #3
71
Tertangkap Juga Kau!
72
Sampai Jumpa Lagi Kelinci Sialan!
73
Ketenangan Singkat Di Desa
74
Kembali Ke Kota Agna
75
Ah, Kalian!
76
Perjalanan Menuju Ibu Kota
77
Berkemah Di Bawah Langit Berbintang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!