Bangkit Dari Kematian

Beberapa hari kemudian, setelah kejadian yang kurang mengenakkan menimpa Ash saat akan dibawa pergi keluar dari penjara. Ia diberikan racun pelumpuh hingga tak sadarkan diri.

Kesadaran Ash mulai kembali. Namun, ia masih tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

"Ini di mana...?" gumamnya lirih, melihat ruangan yang begitu asing.

Ruangan itu terasa bergerak, ada getaran halus yang terasa, bahkan terkadang ada yang besar sehingga tubuhnya terangkat pelan ke atas lalu jatuh kembali ke bawah.

"Apa kita benar-benar harus sejauh ini?" suara seseorang terdengar samar.

"Ini perintah dari raja, kalau tidak dituruti kepala kita bisa dipenggal," balas suara lain.

Ash mulai bisa merasakan tubuhnya, ia bangkit perlahan dengan sedikit gemetar. Dengan susah payah ia akhirnya berdiri dan berjalan perlahan sembari memegang dinding ruangan itu, berjalan menuju ke celah kecil yang memperlihatkan sisi luar dari ruangan.

Ia menggeser pintu kecil—celah yang memperlihatkan sisi luar. Dari sana ia bisa melihat ada di mana sekarang ia berada.

Suara itu menarik perhatian dua orang yang menjadi kusir. "Ah! Anda sudah bangun, Pangeran Ash...?" ucap salah satunya dengan nada canggung.

"Ya... Kita ada di mana?" balas Ash lemah.

Kedua kusir itu saling tatap, mereka terlihat ragu untuk menjawab.

"Kita... Sedang berada di perbatasan wilayah manusia dan iblis... Pangeran," balas mereka bersamaan.

Ash terdiam sejenak untuk mencerna jawaban tersebut. Kepalanya masih terasa sedikit nyeri karena baru terbangun.

"Buat apa kita ke sini?" tanya Ash meminta penjelasan.

"Itu karena..." kedua orang itu ragu untuk menjawab.

Tak lama setelah itu... Kereta itu berhenti di pinggir sebuah jurang yang dasarnya tidak terlihat.

"Pangeran bisa turun sekarang..." ucap salah satunya.

Ash mengerutkan dahinya, namun ia tetap mengikuti apa kata kedua orang itu.

"Jadi, apa alasannya aku dibawa ke sini?" Ash kembali bertanya, ia menatap kedua orang itu lekat-lekat.

Kedua orang itu meneguk ludahnya dan saling tatap sejenak. Hingga akhirnya salah satu dari mereka mengatakan alasannya dengan jujur.

"Kami diperintahkan untuk membuang Anda ke jurang ini... Maaf tapi ini perintah langsung dari raja... kami... Tidak bisa menolaknya..." ucapnya dengan berat hati.

"Kalau kami menolak... Kepala kami bisa melayang," tambah yang satunya dengan nada cemas.

"Kami tidak punya dendam ataupun membenci Anda... kami juga merasa keputusan ini terlalu kejam..." lanjutnya.

Ash menghela nafas pendek, lalu tersenyum pahit. "Begitu yah... Mereka benar-benar membuangku layaknya sampah..."

"Kami minta maaf Pangeran... Tapi—"

"Aku tahu... kalian diawasi oleh familiar kakakku, kan?" potong Ash yang melihat seekor burung elang bertengger di dahan pohon.

"Iya..." angguk mereka berdua.

Ash merenung sejenak sambil melihat sekitar. Lalu ia berjalan perlahan menuju ke pinggir jurang, dan menatap ke bawah. Dasarnya tidak terlihat, hanya kegelapan pekat dengan aura kematian yang kuat.

Sepertinya aku akan mati jika terjun ke bawah sana...

Setelah tahu apa yang akan terjadi, Ash berjalan kembali mendekat ke arah dua orang itu.

"Aku punya permintaan..." ucap Ash pelan.

"A- apa itu...?" keduanya tampak ragu.

"Apa kalian bisa memberikanku sebilah pedang?" Ash menggantung kata-katanya. "Aku tahu ini terdengar aneh... Tapi setidaknya itu bisa membuatku menerima takdir ini," lanjutnya dengan senyum pahit.

Kedua orang itu saling tatap sejenak, lalu salah satunya memberikan pedangnya dengan ragu.

Ash menerima pedang itu dan langsung berbalik, berjalan menuju ke pinggir jurang. Ia terdiam sejenak... Ia tahu kalau dia akan mati kalau terjun ke sana, namun jika ia lari. Kedua orang yang ada bersamanya akan menerima hukuman, dan keluarga mereka juga pasti akan kena.

Saat itu sebuah tangan mendorong tubuh Ash dengan kasar.

"Cepat jatuh ke sana, dasar sampah!" suara itu terdengar kasar dan sangat familiar.

Ash menoleh sedikit saat itu dan melihat wajah yang mendorongnya jatuh. Itu adalah kakaknya sendiri.

Kenapa dia ada di sini...?

Tak lama setelah itu suara teriakan terdengar.

"Ampuni kami Yang Mulia!"

"Arrrgh!"

Apa yang kau lakukan pada mereka!? batin Ash merasa kesal.

Ia menggigit bibirnya. Ada kilatan kemarahan di matanya.

"Kalau aku masih hidup! Kalian akan menerima balasannya!" teriaknya, suara itu bergema di dalam jurang.

"Kau pikir sampah sepertimu bisa apa?" sebuah balasan tajam dari atas terdengar.

Hari itu, Ash van Astoria dikabarkan mati karena penyakit parah. Dan kabar itu telah menyebar ke seluruh penjuru kerajaan.

...----------------...

Di jurang yang dasarnya tidak terlihat, Ash masih jatuh dengan kecepatan tinggi. Tidak sedikit ia bertabrakan dengan dinding jurang dan bebatuan tajam. Tubuhnya penuh dengan luka dan goresan yang dalam.

Segalanya terasa nyeri dan perih. Ia sudah tidak bisa merasakan apapun lagi. Pasrah dengan takdirnya, tulangnya patah, darah terus merembet keluar dari setiap luka yang ada. Tubuhnya mulai pucat, pandangannya mulai buram.

Dan disaat terakhir sebelum ia menghantam dasar jurang. Sebuah sensasi yang mengembalikan semua panca inderanya untuk terakhir kalinya tiba-tiba muncul.

Sebuah batu tinggi dengan ujung runcing menembus perutnya, memberikan sensasi yang sangat kuat hingga menyebar ke seluruh tubuh.

Ah... Akhirnya ini berakhir... batinnya merasa lega.

Dan disaat kesadarannya hampir hilang total sebuah suara terdengar samar.

"Apa kamu menyukai bintang?"

Sudut bibir Ash naik, "Ya... Aku sangat menyukainya," itu adalah kata-kata terakhirnya sebelum nafasnya berhenti.

.

.

.

Kegelapan telah menyelimuti dunia, sang rembulan naik untuk menjadi cahaya. Para bintang mulai bermunculan, menghiasi langit malam yang kelam.

Sebuah konstelasi bercahaya lebih terang dari yang lain. Membentuk sebuah pola menyerupai laki-laki yang memegang ular.

Dalam satu kilatan cepat, sebuah cahaya menyambar tubuh Ash. Batu yang menembus perutnya menghilang seperti debu yang tertiup oleh angin. Menjatuhkan tubuhnya secara perlahan ke tanah yang datar dan dingin.

Cahaya itu berubah bentuk menjadi sosok ular, lalu melilit tubuh Ash secara perlahan.

Lalu sebuah suara muncul, "Apa kau menerima takdir seperti ini?"

Di alam bawa sadar, di sebuah ruangan yang dipenuhi oleh warna hitam. Ash bisa merasakan sebuah sentuhan hangat. Lalu sebuah suara terdengar samar.

"Takdirmu bukan untuk mati di sini, wahai sang pewaris kekuatan para bintang."

Ash melihat sekelilingnya, ia tidak bisa melihat apapun. "Si-siapa di sana...?" ucapnya ragu.

"Sebut namaku jika kau ingin mengubah takdir kelam ini," suara itu kembali terdengar.

Kali ini Ash bisa melihat sesuatu, sebuah cahaya terang yang memiliki bentuk khas. Itu adalah sebuah konstelasi yang ia kenal.

"Ophiuchus..." tanpa sadar Ash mengatakan itu.

Lalu sebuah suara kembali terdengar, "Konstelasi Ophiuchus mengizinkan Anda untuk menggunakan salah satu skillnya. Death Denied—Penolakan Kematian diaktifkan."

Saat itu sesuatu yang mustahil terjadi.

Tubuhnya yang sudah berlubang mulai menutup, darah berhenti mengalir, daging yang robek kembali menyatu dan rasa dingin yang menyelimuti tubuhnya perlahan menghilang. Seolah semua itu tidak pernah terjadi.

Jantungnya mulai berdetak kembali, hembusan nafas pelan muncul. Warna wajahnya perlahan pulih dan beberapa saat kemudian kelopak matanya bergerak, lalu terbuka.

Ash dengan cepat bangun dan mengambil posisi duduk.

"Hah... Hah... Apa yang terjadi padaku?" gumamnya panik. Nafasnya masih tidak beraturan, ia jelas ingat kalau dirinya mengalami banyak luka dan... "Bukannya aku sudah mati...?"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

...----------------...

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Cerita singkat soal rasi bintang atau konstelasi Ophiuchus.

...Konstelasi Ophiuchus...

Rasi bintang ini dilambangkan dengan seorang pria yang memegang seekor ular. Ophiuchus terletak di antara rasi bintang Scorpio dan Sagittarius. Ophiuchus memiliki bintang-bintang yang sangat terang dan tampak jelas di langit sehingga bisa dilihat dari Bumi.

Rasi bintang Ophiuchus menggambarkan Asclepius, putra dari Dewa Matahari Apollo. Dalam mitologi Yunani, Asclepius memiliki kemampuan untuk membangkitkan manusia dari kematian.

Pada suatu hari, seorang pangeran bernama Glaucus jatuh ke dalam bejana raksasa berisi madu dan tenggelam di dalamnya. Asclepius yang melihat ada ular menjalari tubuh Glaucus pun membunuh ular tersebut.

Kemudian datang seekor ular lain dan menempatkan tanaman herbal ke tubuh ular yang sudah mati. Ajaibnya, ular tersebut hidup kembali. Asclepius yang melihat kejadian ini kemudian menaruh tanaman yang sama ke tubuh Glaucus. Setelah itu, Glaucus hidup kembali.

Melihat keajaiban ini, Asclepius memanfaatkannya untuk menyelamatkan banyak orang. Zeus yang mendengar hal ini, menganggap bahwa perbuatan Asclepius bisa menambah banyak masalah di bumi karena manusia tidak bisa mati. Zeus pun mengirimkan petirnya untuk membunuh Asclepius. Untuk mengenang Asclepius, Zeus mengirimnya ke langit sebagai rasi bintang.

Episodes
1 Terlahir Kembali Sebagai Pangeran
2 Pangeran Sampah
3 Upacara Vassal
4 Dibuang
5 Bangkit Dari Kematian
6 Guru Para Pahlawan
7 Ujian Bintang
8 Trial Of Crux: The Darkest Night
9 Musuh Dunia
10 Pertarungan Di Pagi Hari
11 Manusia Zaman Mana Yang Mau Makan Begituan?!
12 Sesuatu Yang Kenyal
13 Identitas Baru
14 Soal Arah Mah Aman
15 Goa
16 Markas Sementara
17 Berlatih Sedikit
18 Sepertinya Anda Benar-benar Lupa
19 Menjelajahi Goa
20 Dungeon?
21 Astral Energi
22 Jangan Bilang
23 Aku Tetap Tidak Setuju
24 Kita Masih Terjebak
25 Hehe
26 Rumor
27 Trial Of Columba: The Flood's End #1
28 Trial Of Columba: The Flood's End #2
29 Trial Of Columba: The Flood's End #3
30 A-aku Cuma Mau Periksa Suhu Tubuhmu!
31 Keluar Dari Jurang
32 Asap Hitam Yang Mengepul
33 Jangan-jangan... Itu Kamu?
34 Siapa Kau Sebenarnya?!
35 Bantuan Asing
36 Lycoris Noctis Valebryn
37 Sayap Kedamaian
38 Aku Bukan Malaikat!
39 Pagi Yang Terasa Berbeda
40 Kita Pergi Yaa~
41 Kembali Ke Dungeon
42 Perasaan Nostalgia
43 Konstelasi Kuno
44 Pecahan
45 Tolong Teleportasi Aku Ke Tempat Lain
46 Kurasa Itu Benar...
47 Ilustrasi Dan Status Karakter
48 Menuju Kota
49 Kereta Rusak
50 Tolong Jangan Diingat
51 Perjalanan Menuju Kota Agna
52 Sergapan
53 Goblin Champion
54 Gerbang Kota
55 Kota Agna
56 Mendaftar Sebagai Petualang
57 Menatap Langit Malam
58 Di Mataku Sama-sama Hijau
59 Cuma Ngumpulin Tanaman Herbal Aja Ngeluh
60 Kau Akan Membayar Berapapun, Kan?
61 Kenapa...?
62 Dejavu
63 Menuju Desa Raben
64 Jembatan
65 Oh... Lu Nantangin, Ya?!
66 Pokoknya Kita Harus Sampai Ke Sana!
67 Kalo Berani, Coba Saja Menyeberang
68 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #1
69 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #2
70 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #3
71 Tertangkap Juga Kau!
72 Sampai Jumpa Lagi Kelinci Sialan!
73 Ketenangan Singkat Di Desa
74 Kembali Ke Kota Agna
75 Ah, Kalian!
76 Perjalanan Menuju Ibu Kota
77 Berkemah Di Bawah Langit Berbintang
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Terlahir Kembali Sebagai Pangeran
2
Pangeran Sampah
3
Upacara Vassal
4
Dibuang
5
Bangkit Dari Kematian
6
Guru Para Pahlawan
7
Ujian Bintang
8
Trial Of Crux: The Darkest Night
9
Musuh Dunia
10
Pertarungan Di Pagi Hari
11
Manusia Zaman Mana Yang Mau Makan Begituan?!
12
Sesuatu Yang Kenyal
13
Identitas Baru
14
Soal Arah Mah Aman
15
Goa
16
Markas Sementara
17
Berlatih Sedikit
18
Sepertinya Anda Benar-benar Lupa
19
Menjelajahi Goa
20
Dungeon?
21
Astral Energi
22
Jangan Bilang
23
Aku Tetap Tidak Setuju
24
Kita Masih Terjebak
25
Hehe
26
Rumor
27
Trial Of Columba: The Flood's End #1
28
Trial Of Columba: The Flood's End #2
29
Trial Of Columba: The Flood's End #3
30
A-aku Cuma Mau Periksa Suhu Tubuhmu!
31
Keluar Dari Jurang
32
Asap Hitam Yang Mengepul
33
Jangan-jangan... Itu Kamu?
34
Siapa Kau Sebenarnya?!
35
Bantuan Asing
36
Lycoris Noctis Valebryn
37
Sayap Kedamaian
38
Aku Bukan Malaikat!
39
Pagi Yang Terasa Berbeda
40
Kita Pergi Yaa~
41
Kembali Ke Dungeon
42
Perasaan Nostalgia
43
Konstelasi Kuno
44
Pecahan
45
Tolong Teleportasi Aku Ke Tempat Lain
46
Kurasa Itu Benar...
47
Ilustrasi Dan Status Karakter
48
Menuju Kota
49
Kereta Rusak
50
Tolong Jangan Diingat
51
Perjalanan Menuju Kota Agna
52
Sergapan
53
Goblin Champion
54
Gerbang Kota
55
Kota Agna
56
Mendaftar Sebagai Petualang
57
Menatap Langit Malam
58
Di Mataku Sama-sama Hijau
59
Cuma Ngumpulin Tanaman Herbal Aja Ngeluh
60
Kau Akan Membayar Berapapun, Kan?
61
Kenapa...?
62
Dejavu
63
Menuju Desa Raben
64
Jembatan
65
Oh... Lu Nantangin, Ya?!
66
Pokoknya Kita Harus Sampai Ke Sana!
67
Kalo Berani, Coba Saja Menyeberang
68
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #1
69
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #2
70
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #3
71
Tertangkap Juga Kau!
72
Sampai Jumpa Lagi Kelinci Sialan!
73
Ketenangan Singkat Di Desa
74
Kembali Ke Kota Agna
75
Ah, Kalian!
76
Perjalanan Menuju Ibu Kota
77
Berkemah Di Bawah Langit Berbintang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!