Upacara Vassal

Hari yang selama ini terus ditunggu akhirnya tiba.

Sejak fajar menyingsing, seluruh Istana Astoria telah dipenuhi kesibukan. Para pelayan berlalu-lalang membawa berbagai perlengkapan upacara, sementara para kesatria berjaga di setiap sudut aula utama. Kereta para bangsawan berdatangan silih berganti, memenuhi halaman istana dengan lambang keluarga masing-masing.

Hari itu adalah Upacara Vassal. Sebuah ritual sakral yang hanya berlangsung sekali seumur hidup dan dipercaya menentukan masa depan setiap orang.

Ash berdiri diam di depan cermin kamarnya. Seorang pelayan tua dengan telaten merapikan kerah jubah kebesaran yang dikenakannya, memastikan tidak ada sedikit pun lipatan yang terlihat.

"Sudah selesai, Yang Mulia," ujar pelayan itu sembari mundur selangkah. "Semoga upacara hari ini berjalan lancar."

Ash menatap pantulan dirinya di cermin selama beberapa saat sebelum tersenyum tipis.

"Terima kasih," balasnya pelan.

Pelayan itu membungkukkan badan, lalu meninggalkan ruangan.

Setelah pintu tertutup, senyum tipis di wajah Ash perlahan memudar. Lalu mengembuskan napas panjang.

Selama beberapa hari terakhir, ia terus berusaha meyakinkan dirinya sendiri agar tidak berharap terlalu tinggi.

Jika ia memperoleh Senjata Vassal yang kuat, mungkin perlakuan keluarganya akan sedikit berubah.

Jika senjatanya biasa saja, setidaknya ia masih memiliki sesuatu yang dapat dibanggakan.

Namun ada satu kemungkinan yang terus menghantui pikirannya.

Gimana kalo aku ga dapet apapun?

Ash segera menggeleng pelan. "Jangan mikir yang aneh-aneh," gumamnya sambil menepuk kedua pipinya perlahan. "Belum ada kejadian kayak gitu."

Meski berusaha menenangkan diri, jantungnya tetap berdegup lebih cepat dari biasanya.

Tak lama kemudian, terdengar ketukan di pintu.

"Yang Mulia Pangeran Ash," panggil seorang pelayan dari luar ruangan. "Upacara akan segera dimulai."

Ash menarik napas dalam-dalam.

"Baik. Aku akan segera ke sana," balasnya.

Ia membuka pintu dan melangkah keluar dengan langkah yang berusaha tetap tenang.

...----------------...

Aula ritual kerajaan jauh lebih megah daripada biasanya.

Langit-langitnya menjulang tinggi dengan ukiran kuno yang menggambarkan para raja Astoria dari generasi ke generasi. Di tengah ruangan terbentang sebuah lingkaran sihir raksasa yang terukir di atas lantai marmer putih, memancarkan cahaya kebiruan yang lembut.

Ratusan pasang mata tertuju ke arah tempat itu.

Para bangsawan memenuhi kursi-kursi yang telah disediakan. Di sisi lain, para kesatria kerajaan berdiri tegak menjaga ketertiban.

Di ujung aula, Raja Astoria duduk di singgasananya dengan wajah tanpa ekspresi. Di sampingnya, sang ratu mempertahankan sikap anggun yang selama ini selalu ia tunjukkan di hadapan publik.

Ketiga kakak Ash berdiri tidak jauh dari mereka.

Begitu melihat Ash memasuki aula, Cedric menyunggingkan senyum tipis.

"Akhirnya datang juga," ujarnya pelan kepada kedua saudaranya.

"Semoga adik kita tidak membuat kejutan," sahut kakak sulungnya sambil terkekeh lirih.

"Kejutan?" Cedric mengangkat sebelah alisnya. "Kalau dia berhasil mendapatkan Vassal saja sudah merupakan keajaiban."

Ketiganya tertawa pelan.

Ash mendengar ucapan itu. Namun seperti biasanya, ia memilih berpura-pura tidak mendengarnya dan berjalan menuju tempat para peserta tanpa menoleh sedikit pun.

Tak lama kemudian, pendeta agung melangkah ke tengah aula.

"Atas restu para leluhur dan kehendak dunia," ucapnya lantang hingga menggema ke seluruh ruangan, "Upacara Vassal Kerajaan Astoria resmi dimulai."

Satu per satu peserta dipanggil maju.

Seorang putra bangsawan melangkah ke dalam lingkaran sihir.

Cahaya putih berkumpul di hadapannya sebelum berubah menjadi sebuah tombak panjang berwarna perak.

Tepuk tangan langsung memenuhi aula.

"Vassal Tombak!"

"Bagus sekali!"

"Anak itu memiliki masa depan cerah."

Peserta berikutnya memperoleh pedang berhias ukiran emas.

Disusul seorang gadis bangsawan yang menerima busur dengan aura sihir yang begitu kuat hingga membuat banyak orang berdecak kagum.

Setiap kemunculan Senjata Vassal selalu disambut sorak kagum.

Ash mengamati semuanya dalam diam.

Ia berusaha mengingat kembali setiap teori yang pernah dibacanya. Tidak ada satu pun catatan yang menyebutkan seseorang gagal memperoleh Senjata Vassal.

Akhirnya, pendeta agung mengangkat suaranya sekali lagi. "Pangeran Ash van Astoria."

Ash menarik napas panjang.

"Inilah saatnya," gumamnya pelan.

Ia melangkah menuju lingkaran sihir. Begitu kedua kakinya menginjak ukiran kuno itu, cahaya kebiruan langsung menyelimuti seluruh tubuhnya.

Ash memejamkan mata.

Ia menunggu sembari berharap, selama itu waktu terus berjalan. Namun tidak terjadi apa-apa.

Ash mulai merasakan sesuatu yang aneh. Hingga akhirnya perlahan membuka matanya. Tatapannya langsung tertuju ke ruang kosong di hadapannya.

Lingkaran sihir yang semula bersinar perlahan kehilangan cahayanya hingga akhirnya kembali menjadi ukiran biasa.

Keheningan memenuhi aula.

Pendeta agung mengernyitkan dahi. Ia menatap lingkaran sihir beberapa saat, seolah memastikan tidak ada kesalahan dalam ritual yang baru saja berlangsung.

"Pendeta Agung..." ujar Ash pelan sambil menoleh kepadanya. "Apa... ritualnya sudah selesai?"

Pendeta itu terdiam cukup lama sebelum akhirnya menganggukkan kepala.

"Ya," jawabnya lirih. "Ritual telah selesai."

Ash menatapnya dengan bingung. "Kalau begitu..." katanya perlahan, "di mana Senjata Vassalku?"

Pertanyaan itu tidak langsung mendapat jawaban.

Pendeta agung hanya menghela napas pelan. "Aku... tidak mengetahuinya, Yang Mulia."

Jawaban singkat itu membuat suasana aula berubah.

Bisikan mulai terdengar dari berbagai penjuru.

"Tidak mungkin..."

"Dia tidak mendapatkan Senjata Vassal?"

"Belum pernah ada kejadian seperti ini."

"Jangan-jangan dunia benar-benar menolaknya."

Suara-suara itu semakin lama semakin keras.

Ash dapat merasakan puluhan tatapan tertuju kepadanya. Tatapan heran, iba dan meremehkan.

Cedric menutup mulutnya, berusaha menahan tawa. "Hebat sekali," ujarnya dengan nada mengejek. "Kupikir kau hanya tidak bisa menggunakan sihir." Lalu ia menggeleng pelan sambil menyeringai. "Ternyata bahkan Senjata Vassal pun tidak mau memilihmu."

Kakak sulungnya ikut tersenyum tipis. "Kurasa kita baru saja menyaksikan sejarah."

"Sejarah yang memalukan," timpal kakak ketiganya sambil terkekeh.

Ash mengepalkan kedua tangannya. Dadanya terasa sesak. Ia mengangkat kepalanya dan menatap ke arah singgasana.

"Ayah..." panggilnya lirih.

Raja Astoria membalas tatapan itu tanpa sedikit pun perubahan ekspresi.

Setelah beberapa saat, ia akhirnya membuka suara.

"Upacara telah selesai," ujarnya datar.

Kalimat itu sederhana. Namun bagi Ash, rasanya seolah seluruh harapan yang selama ini ia genggam runtuh begitu saja.

Ia masih berdiri di tengah lingkaran sihir, sementara bisikan dan tatapan merendahkan dari seluruh penjuru aula terus menghujaninya tanpa henti.

Terpopuler

Comments

Blueria

Blueria

Pakai bahasa formal—kayak sebelum-sebelumnya aja puh, nggak enak bacanya😁 Hanya saran🙏

2026-08-09

1

lihat semua
Episodes
1 Terlahir Kembali Sebagai Pangeran
2 Pangeran Sampah
3 Upacara Vassal
4 Dibuang
5 Bangkit Dari Kematian
6 Guru Para Pahlawan
7 Ujian Bintang
8 Trial Of Crux: The Darkest Night
9 Musuh Dunia
10 Pertarungan Di Pagi Hari
11 Manusia Zaman Mana Yang Mau Makan Begituan?!
12 Sesuatu Yang Kenyal
13 Identitas Baru
14 Soal Arah Mah Aman
15 Goa
16 Markas Sementara
17 Berlatih Sedikit
18 Sepertinya Anda Benar-benar Lupa
19 Menjelajahi Goa
20 Dungeon?
21 Astral Energi
22 Jangan Bilang
23 Aku Tetap Tidak Setuju
24 Kita Masih Terjebak
25 Hehe
26 Rumor
27 Trial Of Columba: The Flood's End #1
28 Trial Of Columba: The Flood's End #2
29 Trial Of Columba: The Flood's End #3
30 A-aku Cuma Mau Periksa Suhu Tubuhmu!
31 Keluar Dari Jurang
32 Asap Hitam Yang Mengepul
33 Jangan-jangan... Itu Kamu?
34 Siapa Kau Sebenarnya?!
35 Bantuan Asing
36 Lycoris Noctis Valebryn
37 Sayap Kedamaian
38 Aku Bukan Malaikat!
39 Pagi Yang Terasa Berbeda
40 Kita Pergi Yaa~
41 Kembali Ke Dungeon
42 Perasaan Nostalgia
43 Konstelasi Kuno
44 Pecahan
45 Tolong Teleportasi Aku Ke Tempat Lain
46 Kurasa Itu Benar...
47 Ilustrasi Dan Status Karakter
48 Menuju Kota
49 Kereta Rusak
50 Tolong Jangan Diingat
51 Perjalanan Menuju Kota Agna
52 Sergapan
53 Goblin Champion
54 Gerbang Kota
55 Kota Agna
56 Mendaftar Sebagai Petualang
57 Menatap Langit Malam
58 Di Mataku Sama-sama Hijau
59 Cuma Ngumpulin Tanaman Herbal Aja Ngeluh
60 Kau Akan Membayar Berapapun, Kan?
61 Kenapa...?
62 Dejavu
63 Menuju Desa Raben
64 Jembatan
65 Oh... Lu Nantangin, Ya?!
66 Pokoknya Kita Harus Sampai Ke Sana!
67 Kalo Berani, Coba Saja Menyeberang
68 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #1
69 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #2
70 Trial Of Lepus: The Endless Hunt #3
71 Tertangkap Juga Kau!
72 Sampai Jumpa Lagi Kelinci Sialan!
73 Ketenangan Singkat Di Desa
74 Kembali Ke Kota Agna
75 Ah, Kalian!
76 Perjalanan Menuju Ibu Kota
77 Berkemah Di Bawah Langit Berbintang
Episodes

Updated 77 Episodes

1
Terlahir Kembali Sebagai Pangeran
2
Pangeran Sampah
3
Upacara Vassal
4
Dibuang
5
Bangkit Dari Kematian
6
Guru Para Pahlawan
7
Ujian Bintang
8
Trial Of Crux: The Darkest Night
9
Musuh Dunia
10
Pertarungan Di Pagi Hari
11
Manusia Zaman Mana Yang Mau Makan Begituan?!
12
Sesuatu Yang Kenyal
13
Identitas Baru
14
Soal Arah Mah Aman
15
Goa
16
Markas Sementara
17
Berlatih Sedikit
18
Sepertinya Anda Benar-benar Lupa
19
Menjelajahi Goa
20
Dungeon?
21
Astral Energi
22
Jangan Bilang
23
Aku Tetap Tidak Setuju
24
Kita Masih Terjebak
25
Hehe
26
Rumor
27
Trial Of Columba: The Flood's End #1
28
Trial Of Columba: The Flood's End #2
29
Trial Of Columba: The Flood's End #3
30
A-aku Cuma Mau Periksa Suhu Tubuhmu!
31
Keluar Dari Jurang
32
Asap Hitam Yang Mengepul
33
Jangan-jangan... Itu Kamu?
34
Siapa Kau Sebenarnya?!
35
Bantuan Asing
36
Lycoris Noctis Valebryn
37
Sayap Kedamaian
38
Aku Bukan Malaikat!
39
Pagi Yang Terasa Berbeda
40
Kita Pergi Yaa~
41
Kembali Ke Dungeon
42
Perasaan Nostalgia
43
Konstelasi Kuno
44
Pecahan
45
Tolong Teleportasi Aku Ke Tempat Lain
46
Kurasa Itu Benar...
47
Ilustrasi Dan Status Karakter
48
Menuju Kota
49
Kereta Rusak
50
Tolong Jangan Diingat
51
Perjalanan Menuju Kota Agna
52
Sergapan
53
Goblin Champion
54
Gerbang Kota
55
Kota Agna
56
Mendaftar Sebagai Petualang
57
Menatap Langit Malam
58
Di Mataku Sama-sama Hijau
59
Cuma Ngumpulin Tanaman Herbal Aja Ngeluh
60
Kau Akan Membayar Berapapun, Kan?
61
Kenapa...?
62
Dejavu
63
Menuju Desa Raben
64
Jembatan
65
Oh... Lu Nantangin, Ya?!
66
Pokoknya Kita Harus Sampai Ke Sana!
67
Kalo Berani, Coba Saja Menyeberang
68
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #1
69
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #2
70
Trial Of Lepus: The Endless Hunt #3
71
Tertangkap Juga Kau!
72
Sampai Jumpa Lagi Kelinci Sialan!
73
Ketenangan Singkat Di Desa
74
Kembali Ke Kota Agna
75
Ah, Kalian!
76
Perjalanan Menuju Ibu Kota
77
Berkemah Di Bawah Langit Berbintang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!